hai semua ini novel pertama Rayas ya🤭
kalau ada saran atau komentar boleh tulis di kolom komentar ya. lopyouuuu 😘😘
Dalam keputusasaan, sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawanya di tahun 2025. Namun, maut ternyata bukan akhir. Safira terbangun di tubuhnya yang berusia 17 tahun, kembali ke tahun 2020—tepat di hari di mana ia dikhianati oleh adik tirinya dan diabaikan oleh saudara kandungnya hingga hampir tenggelam.
Berbekal ingatan masa depan, Safira memutuskan untuk berhenti. Ia berhenti menangis, berhenti memohon, dan yang terpenting—ia tak lagi berharap pada cinta keluarga Maheswara.
kalau penasaran jangan lupa mampir ke novel pertama Rayas 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26
Pagi itu, suasana di apartemen baru Raka dan Bima terasa canggung. Unit mereka hanya terpaut beberapa lantai dari tempat Safira, sebuah keputusan yang diambil si kembar agar bisa bergerak cepat jika sesuatu terjadi. Raka sedang berkutat dengan mesin kopi ketika Bima masuk ke dapur dengan wajah kusut, masih mengenakan kaos oblong.
"Gue nggak nyangka, Bang, rasanya aneh banget bangun tidur tanpa denger teriakan Maya yang nyari barangnya atau denger Papa yang lagi marah-marah di telepon," gumam Bima sambil menarik kursi makan.
Raka meletakkan cangkir kopi di depan adiknya. "Itu namanya ketenangan, Bim. Sesuatu yang selama ini kita beli pakai harga diri Safira."
Bima terdiam, ia menyesap kopinya perlahan. "Tadi gue ketemu Safira di lobi bawah. Dia mau keluar sebentar katanya ada urusan. Gue tawarin buat nemenin, tapi dia cuma bilang 'fokus aja sama urusan audit kalian'. Dia masih dingin banget ya?"
"Wajar, Bim. Luka tiga tahun nggak sembuh dalam tiga hari," balas Raka datar. "Tapi lo perhatiin nggak? Safira itu nggak pernah kelihatan takut. Bahkan waktu kita bilang Papa bisa meledak kapan aja, dia cuma natap kita kayak kita ini semut."
Sementara itu, Safira berjalan kaki menyusuri trotoar menuju sebuah minimarket yang agak jauh dari apartemen. Ia sengaja ingin menjernihkan pikiran. Namun, langkahnya melambat ketika instingnya menangkap sesuatu yang tidak beres. Sebuah mobil van abu-abu telah mengikutinya sejak ia keluar dari gerbang kompleks.
Di sebuah gang yang cukup sepi namun merupakan jalan pintas, mobil itu tiba-tiba memacu kecepatannya dan berhenti melintang di depan Safira. Dua pria berbadan tegap dengan jaket hitam turun, wajah mereka tertutup masker.
"Nona Safira? Ikut kami sebentar. Ada seseorang yang ingin bicara," ucap salah satu pria itu dengan nada mengancam. Tangannya bergerak menuju pinggang, seolah memberi tahu bahwa ia membawa senjata.
Safira tidak mundur. Ia justru meletakkan kantong belanjanya di aspal dengan sangat perlahan. "Ratih yang kirim kalian? Atau Maya?"
"Nggak perlu tahu. Masuk sekarang atau kami pakai cara kasar," bentak pria lainnya sambil mencoba mencengkeram lengan Safira.
Dalam hitungan detik, suasana berubah. Safira menangkap pergelangan tangan pria itu, memutarnya dengan teknik penguncian yang sangat presisi hingga terdengar bunyi krak yang memuakkan. Sebelum pria satunya sempat bereaksi, Safira melayangkan tendangan memutar yang telak menghantam rahang lawan.
Pria pertama mengerang kesakitan di tanah. Pria kedua, yang tampak lebih senior, mengeluarkan sebilah pisau lipat. "Sialan! Ternyata kamu bisa main kasar juga ya?"
Safira memasang kuda-kuda rendah, matanya yang biasanya tenang kini berkilat tajam seperti mata elang.
Pria itu menerjang dengan tusukan membabi buta. Safira menghindar dengan gerakan yang sangat lincah, seolah ia sudah tahu ke mana arah serangan itu. Ia memukul titik saraf di leher pria itu, lalu menyambungnya dengan bantingan pundak yang keras hingga pria itu terkapar tak berdaya di atas beton.
"Baliklah ke majikan kalian," ucap Safira sambil merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan. Ia berdiri di atas pria yang masih meringis kesakitan. "Katakan pada Ratih, kalau dia mau main-main, kirim seseorang yang setidaknya tahu cara memegang pisau dengan benar. Ini memalukan."
Safira kembali ke apartemen seolah tidak terjadi apa-apa. Di depan pintu unitnya, ia mendapati Raka sedang menunggu sambil membawa sekotak martabak manis—makanan kesukaan Safira saat kecil.
"Dari mana, Fir? Kok telapak tanganmu merah?" tanya Raka dengan nada cemas begitu melihat adiknya mendekat.
"Hanya olahraga sedikit, Kak," jawab Safira pendek sambil mengambil kunci akses.
Raka mengerutkan kening. Ia mengikuti Safira masuk. "Tadi aku dapet telepon dari orang rumah. Mama Ratih pergi entah ke mana, dan Maya mengurung diri. Aku punya firasat mereka ngerencanain sesuatu yang nekat."
"Mereka sudah melakukannya, Kak Raka," ucap Safira sambil menuangkan air minum. "Dua orang suruhan Ratih baru saja mencoba menyeretku ke dalam mobil di gang depan."
Raka tersentak, martabak di tangannya hampir jatuh. "Apa?! Kamu nggak apa-apa? Kita harus lapor polisi sekarang!"
"Nggak perlu. Mereka sudah aku urus," sahut Safira tenang. "Kalau Kakak lapor polisi sekarang, Papa akan pakai koneksinya buat nutupin kasus ini lagi. Aku mau mereka merasa menang dulu, sampai nanti saat audit itu keluar, mereka nggak punya tempat lagi buat sembunyi."
Bima tiba-tiba muncul di ambang pintu, ia rupanya baru saja turun dari unitnya. "Ada apa sih? Ribut-ribut?"
"Ada yang nyoba nyulik Safira, Bim!" seru Raka panik.
Bima langsung menghampiri Safira, memeriksa bahu dan tangan adiknya. "Mana pelakunya? Siapa? Gue bakal cari mereka sekarang juga!"
Safira menepis tangan Bima dengan lembut. "Duduk, Kak Bima. Jangan emosi. Kalau kalian mau bantu, fokus aja sama pengacara Haryo. Pastikan dokumen dari brankas Papa itu diproses malam ini. Aku mau besok pagi Ratih dapet surat panggilan dari kepolisian soal dana yayasan, bukan soal penculikan."
"Tapi Fir, ini bahaya! Kamu bisa celaka," ucap Bima dengan nada penuh penyesalan. "Gue bener-benar minta maaf... kalau aja dulu gue nggak sebodoh itu biarin mereka berkuasa di rumah..."
"Penyesalan nggak akan nangkis pisau, Kak," potong Safira. "Tapi dukungan kalian sekarang sangat membantu. Sekarang, keluar dulu. Aku mau istirahat."
...****************...
Guyssss jangan lupa like nya ya, kalau ada yang kurang atau typo coment aja nanti, biar jadi pelajaran buat Rayas soal nya ini novel pertama rayas