Mikhasa tidak pernah menyangka jika cinta bisa berakhir sekejam ini. Dikhianati oleh pacar yang ia cintai dan sahabat yang ia percaya, impian tentang pelaminan pun hancur tanpa sisa.
Namun Mikhasa menolak runtuh begitu saja. Demi menjaga harga diri dan datang dengan kepala tegak di pernikahan mantannya, ia nekat menyewa seorang pelayan untuk berpura-pura menjadi pacarnya, hanya sehari semalam.
Rencananya sederhana, tampil bahagia dinikahan mantan. Menyakiti balik tanpa air mata.
Sayangnya, takdir punya selera humor yang kejam. Pelayan yang ia sewa ternyata bukan pria biasa.
Ia adalah pewaris kaya raya.
Mikhasa tidak bisa membayar sewa pria itu, bahkan jika ia menjual ginjalnya sendiri.
Saat kepanikan mulai merayap, pria itu hanya tersenyum tipis.
“Aku punya satu cara agar kau bisa membayarku, Mikhasa.”
Dan sejak saat itu, hidup Mikhasa tak lagi tenang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon F.A queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu
Prolog.
🍀🍀🍀
Entah sudah berapa lama dia tidak merasakan tubuhnya benar-benar miliknya. Rasanya sulit mengingat hari terakhir ia bangun tanpa nyeri yang menusuk sumsum dan tanpa rasa lelah yang tidak masuk akal.
Ruangan ini selalu dingin. Lampu putih pucat menggantung tanpa belas kasihan. Bau antiseptik menyengat, mengingatkan bahwa tempat ini bukan untuk hidup, tetapi untuk bertahan. Jarum infus menjadi teman yang setia menempel di lengannya, sementara perawat datang dan pergi, mencatat angka-angka yang setiap hari terasa semakin mengecilkan kesempatan.
Dokter bilang, penyakit ini menyerang dari dalam, diam-diam, seperti musuh yang tahu di mana titik paling rapuh.
Leukemia, kata yang sederhana, tapi cukup untuk mengguncang seluruh jalan hidupnya hanya dalam satu detik.
Hari ini, ia datang ke ruangan dokter. Duduk berhadapan di ruangan itu.
"Dokter," suaranya pelan, retak di ujung napas. "Jika suatu hari nanti … terjadi sesuatu pada saya, bolehkah saya meminta sesuatu?"
Dokter mengangguk, menatap. Membalas tatapannya. "Boleh. Silakan. Jika saya bisa, saya akan bantu."
Dia mengangguk pelan lalu mengeluarkan sebuah kartu identitas yang sudah lama ia simpan dalam dompetnya.
"Dokter, saya ingin mendonorkan jantung saya untuk seseorang."
Hening sejenak. Sang dokter tertegun, menatap identitas yang pelan-pelan diletakkan di meja depannya. Tatapannya berubah, terkejut, sekaligus penuh rasa yang sulit diterjemahkan.
"Itu adalah orang yang saya inginkan menerima donor jantung saya, Dokter," lanjutnya pelan. "Tapi tolong, jangan beritahu dia. Jangan beritahu siapa pun. Biarkan hanya kita yang tahu."
Dokter mengangguk meskipun jelas keputusan itu membebani hatinya.
Setelah dari ruang dokter, ia pergi menuju tempat di mana mereka pertama bertemu dulu.
Tempat yang kini hanya menyisakan kenangan dan seseorang yang tidak pernah tahu bahwa nyawa yang berdenyut lemah ini masih memilihnya, bahkan untuk yang terakhir kalinya.
🍀🍀🍀
DUA TAHUN YANG LALU.
"Maaf, Kak, cafe kami sudah tutup. Silahkan kembali lagi besok," ucap seorang pelayan pria bernama Armin sambil tersenyum sopan.
Gadis berambut acak-acakan mengangkat wajah, matanya sayu dan sembab karena habis menangis.
"Sudah tutup ya. Terus aku harus kemana. Masa' ke jembatan, terus lompat. Kan nggak asik kalau besok nggak bisa petantang-petenteng."
Armin mengerutkan kening. Merasa aneh. "Pulang ke rumah, lah. Tidur."
"Mana bisa tidur kalau hati ini lagi hancur sehancur-hancurnya. Yang ada, aku pengen lompat ke sungai."
Armin tertawa kecil. "Yaelah, patah hati ya?" Akhirnya ia memutuskan untuk duduk di depan pelanggan patah hati ini. Menyandarkan tubuhnya santai. "Ayo ku anter," ucap Armin tiba-tiba.
Gadis itu bernama Mikhasa. Ia menatap bingung, "Kemana?"
"Ke jembatan."
Mata Mikhasa membelalak mendengar jawaban itu. Rasanya ia ingin menangis darah. Dia pikir, pelayan ini, setidaknya akan menghibur dirinya, tetapi malah setuju jika ia mengakhiri hidup.
"Tapi sebenarnya aku belum mau mati," jawab Mikhasa rendah, setengah frustasi.
Armin tertawa lagi. Dia merasa gadis ini lucu sekali. Katanya mau bunuh diri tapi takut mati. Namun sedetik kemudian ia terdiam, karena tiba-tiba Mikha menangis terisak. Menunduk dalam dan terdengar begitu menyayat.
Armin bukan tipe cowok yang pandai membujuk seorang gadis atau berkata manis, jadi dia tidak tahu harus berkata apa.
Perlahan, ia mengambil tissu dan menyerahkannya pada Mikhasa. "Jangan nangis di sini, nanti dikira aku nyakitin pelanggan."
Mikhasa tak menerimanya. Dia masih menunduk dan semakin hanyut dalam kesedihan.
"Namaku Armin. Aku bukan psikolog tapi kalau kamu butuh teman malam ini, aku bisa temenin sampai kamu berhenti nangis."
Eh gilaaa, Armin sendiri heran kenapa kata itu begitu mudah meluncur dari mulutnya. Mungkin karena, gadis di depannya ini cantik. Mungkin karena gadis ini terlihat rapuh. Atau mungkin, gadis ini ... Mirip seseorang di masa lalunya.
Mikhasa mengangkat wajah perlahan, matanya sembab, hidungnya merah.
"Serius?" Tanyanya. Menatap Armin tak percaya, orang asing yang sudi duduk menemaninya.
Armin mengangguk, mengangkat bahu pelan. "Ya, itu kalau kamu butuh temen. Kalau kamu butuh donat, aku nggak punya."
Mikhasa tersenyum tipis. Menyeka sisa air matanya. Menatap lekat-lekat wajah Armin. Memindai setiap garis wajah Armin yang tegas. Hidungnya yang mancung. Bibirnya yang merah, matanya yang tajam tapi kelem, alisnya yang tebal, kulitnya yang bersih. Ini sih gambaran cowok-cowok webtoon. Kayaknya lebih cocok jadi Tuan muda dari pada pelayan kafe. Eh kok ngelantur. Oke, balik ke masalah.
"Aku butuh kamu bukan sebagai temen," kata Mikhasa pada akhirnya. Lalu melanjutkan, "aku butuh kamu buat jadi pacarku."
jd si axel secara tdak lgsg di samain sma kucing birahi dong🤣🤣🤣.
rebahan bentar, scroll toktok, ig dll tau²dah jam mepet buat mandi🤣.
axel sini aku bisikin ke si Mikha jgn terlalu memaksa ksian dia punya trauma.
sembuhin dlu traumanya km kan kaya 🤭
astaghfirullah pantesan di cium dia ngamuk dll.
biasa nya klau cwek di sosor kan mlah nambahhh.
ehhhh🙊🤣🤣🤣