Dikhianati dan dipermalukan, Nafiza Azzahra, wanita bercadar yang lembut, mendapati pernikahannya hancur berantakan. Dipaksa memulai hidup baru, ia bertemu Zayn Al Malik, CEO muda yang dingin dan tak tersentuh, Namun, sesuatu dalam diri Nafiza menarik Zayn, membuatnya mempertanyakan keyakinannya. Di tengah luka masa lalu, benih-benih asmara mulai bersemi. Mampukah Zayn meluluhkan hati Nafiza yang sedang terluka? Dan bisakah mereka menemukan cinta sejati di tengah badai pengkhianatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Acara resepsi berakhir dengan sukses. Para tamu undangan sudah pulang, menyisakan keluarga inti dan para tamu undangan yang berasal dari luar daerah dan luar negeri saja di hotel mewah itu. Kelelahan tampak jelas di wajah Nafiza, namun kebahagiaan tetap terpancar dari matanya yang berbinar.
Zayn dengan lembut membimbing sang istri menuju lift. Namun, tanpa aba-aba, begitu pintu lift terbuka, ia mengangkat tubuh Nafiza dalam gendongannya ala bridal style.
"Mas! Apa yang kamu lakukan?!" seru Nafiza terlonjak kaget saat tiba-tiba tubuhnya melayang. Refleks, ia melingkarkan tangannya di leher Zayn, matanya membulat sempurna pipinya ikut merona di balik cadarnya. Jantungnya berdegup kencang, antara kaget dan malu. "Mas, turunin! Nanti kalau Mas kecapekan gimana?"
"Aku bisa jalan sendiri!" protes Nafiza pelan. "Lagian, ini berat, lho!" bisiknya.
Zayn tersenyum misterius, tak menghiraukan protes dari sang istri. Ia justru semakin mengeratkan gendongannya, seolah tak ingin melepaskan Nafiza barang sedetik pun. "Kamu makan apa sih sayang, kok badan kamu ringan bangat. Malah lebih berat tas kerjaku dari pada kamu." godanya sambil terkekeh. Dengan langkah tenang, ia melangkah keluar lift menuju pintu kamar pengantin.
Sampai di depan pintu kamar, Zayn menurunkan Nafiza perlahan. Begitu pintu terbuka, Nafiza terpana. Kamar itu didekorasi dengan sangat indah, jauh melebihi ekspektasinya. Kelopak bunga mawar merah bertaburan di atas lantai membentuk jalan setapak menuju tempat tidur yang ditutupi kain sutra putih. Lilin-lilin aromaterapi menyala di setiap sudut ruangan, menciptakan suasana romantis dan hangat. Di atas tempat tidur, rangkaian bunga membentuk hati yang indah, menambah kesan romantis dan sakral.
Nafiza tak menyangka akan melihat kamar pengantin yang begitu indah dan sempurna menurutnya. Ia berjalan perlahan, mengamati setiap detail dekorasi dengan mata berbinar. Meskipun ini bukan pernikahan pertamanya, dulu ia menikah dengan Farhan tanpa pernah merasakan indahnya malam pengantin. Tak ada kamar yang didekorasi, tak ada sentuhan romantis, hanya ada formalitas dan ketidakpedulian. Ia jadi teringat ucapan Zahra, adiknya, "Pasti kamarnya udah di dekor mewah sama Mommy Maya, kan?"
Dan sekarang, bersama Zayn, ia bisa merasakan yang namanya pengantin baru. Air mata haru menggenang di pelupuk matanya.
"Bagaimana, Sayang?" bisik Zayn tepat di telinga Nafiza yang masih terpukau dengan dekorasi kamar pengantin. Suaranya lembut dan penuh cinta, membuat Nafiza merinding.
Nafiza menoleh ke arah Zayn, matanya berbinar-binar. "Ini ... indah sekali, Mas. Aku nggak pernah membayangkan akan seperti ini," ucapnya dengan suara bergetar. Ia masih tak percaya dengan apa yang ada di depan matanya. "Mas ... boleh cubit tangan aku? Ini nyata nggak sih?!"
Zayn tersenyum gemas melihat kepolosan istrinya. Bukannya mencubit, ia malah mengecup lembut punggung tangan Nafiza, membuat Nafiza membulatkan mata sekaligus merona. "Bagaimana, Sayang? Sudah tahu kan kalau ini nyata?" tanya Zayn dengan senyum menggoda.
Nafiza mengangguk pelan, pipinya semakin merona dengan aksi sang suami. Jantungnya berdegup kencang, merasakan sentuhan lembut dari suaminya.
Suasana kembali hening, hanya suara lilin aromaterapi yang terdengar. Zayn menatap Nafiza dengan tatapan penuh cinta, seolah ingin mengungkapkan semua isi hatinya.
Tiba-tiba, Zayn membisikkan sesuatu di telinga Nafiza, membuat Nafiza kaget sekaligus salah tingkah. Namun sejurus kemudian, ia mengangguk pelan, menyetujui permintaan suaminya. Dengan jantung berdebar kencang, ia melangkah menuju kamar ganti.
Namun, sampai di sana, ia berdiri lama. Ia kesulitan membuka resleting gaunnya. Jari-jarinya gemetar, membuatnya semakin sulit untuk bergerak. Zayn yang khawatir memanggil lembut dari luar.
"Sayang, kok lama? Apa kamu baik-baik saja?" tanya Zayn dari luar kamar ganti.
Nafiza menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Ia tak punya pilihan lain selain meminta bantuan Zayn. Tidak mungkin kan ia berdiri semalaman sambil memakai baju pengantin ini?
"Mas ..." panggil Nafiza pelan dari dalam kamar ganti.
Zayn yang mendengar suara lirih istrinya, segera membuka pintu kamar ganti. Matanya langsung membulat sempurna. Ia terpana dengan pemandangan yang ada di hadapannya.
Untuk pertama kalinya, ia bisa melihat jelas wajah Nafiza yang selama ini tertutup cadar. Wajahnya begitu cantik dan mempesona, dengan kulit yang halus dan mata yang berbinar. Bukan hanya itu, rambut panjang Nafiza yang tergerai indah membingkai wajah cantiknya, menambah kesan anggun dan memikat. Zayn merasa seperti melihat bidadari yang turun dari surga.
"Mas! Kamu kok bengong sih!" tegur Nafiza, menyadarkan Zayn dari lamunannya. Pipinya merona karena malu ditatap seperti itu oleh suaminya.
Zayn tersadar, lalu buru-buru bertanya, "Eh, maaf Sayang. Ada apa?" Suaranya sedikit bergetar, masih terpesona dengan kecantikan Nafiza.
"Mas, bantuin aku buka resleting ini," tunjuk Nafiza membelakangi Zayn.
Zayn mendekat perlahan, jantungnya berdegup kencang. Dengan tangan sedikit gemetar, ia meraih resleting gaun pengantin Nafiza. Tatapannya tak lepas dari sana, mengagumi setiap lekuk tubuh istrinya.
Perlahan tapi pasti, resleting itu terbuka. Punggung mulus Nafiza yang putih bersih terlihat tanpa celah, membuat Zayn kesulitan menelan ludahnya. Ia berusaha keras untuk mengendalikan diri.
"Sudah, Sayang. Aku tunggu di luar ya," ucap Zayn dengan suara serak, berusaha menjauhkan diri dari godaan.
"Oh, udah? Makasih, Mas!" ujar Nafiza, heran dengan sikap suaminya yang aneh. Ia tak tahu betapa tersiksanya Zayn saat ini.
Tak berapa lama, Nafiza keluar dari kamar ganti dengan baju tidur satin berwarna putih yang telah disiapkan. Baju tidur itu tampak begitu pas di tubuhnya, menonjolkan lekuk tubuhnya yang indah.
Zayn yang duduk di tepi ranjang dan juga sudah mengganti bajunya dengan baju tidur berwarna senada, ia tak berkedip menatap sosok yang baru keluar dari ruang ganti. Ia merasa seperti mimpi, memiliki istri secantik Nafiza.
"Mas, kok ngeliatinnya gitu banget?" tanya Nafiza malu-malu, menyadari tatapan intens dari suaminya.
Zayn tersenyum lembut, lalu bangkit dari tempat tidur dan mendekati Nafiza. Ia meraih tangan istrinya, lalu mengecupnya dengan lembut.
"Kamu cantik banget malam ini, Sayang. Aku nggak bisa berhenti menatap wajahmu."
Nafiza tersenyum malu di puji sang suami, gegas ia mengalihkannya dengan membuka kotak itu, penasaran dengan kejutan apa yang sudah disiapkan oleh Maya. Zayn duduk di sampingnya, ikut mengamati dengan rasa ingin tahu yang sama.
Begitu kotak terbuka, Nafiza terkejut. Di dalamnya terdapat sebuah lingerie berwarna merah menyala yang sangat seksi, Nafiza membulatkan mata, pipinya langsung merona parah.
"Mas ..." panggil Nafiza lirih, suaranya nyaris tak terdengar. Ia tak tahu harus berkata apa, merasa sangat malu dengan hadiah dari mertuanya.
Zayn yang penasaran ikut melihat isi kotak itu, tersenyum lebar. Ia sudah menduga jika mommy -nya pasti memberikan kejutan. Namun ia tak menyangka jika Mommy-nya akan memberikan kado yang di luar nalar, tapi senyum tipis menghiasi wajah tampanya.
"Wah, Mommy memang tahu aja apa yang kita butuhkan," ujar Zayn dengan nada menggoda, lalu terkekeh pelan, membuat Nafiza semakin salah tingkah.
"Mas, kok malah ketawa sih?" protes Nafiza, berusaha menyembunyikan rasa malunya. "Ini ... ini terlalu terbuka, Mas. Aku nggak mungkin pakaian harem ini," ucapnya sambil menutup kembali kotak itu.
"Kenapa nggak mungkin? Kamu kan cantik, Sayang. Pasti cocok banget pakai lingerie ini," balas Zayn, berusaha meyakinkan istrinya.
"Tapi kan ... aku nggak biasa pakai baju kayak gini," elak Nafiza, masih merasa ragu.
"Nggak apa-apa, Sayang. Sekali-kali coba, yang berbeda di depan suami." goda Zayn sambil mengedipkan mata nakal.
Nafiza memukul pelan lengan Zayn, merasa geli dengan ucapan suaminya. "Mas, ih! Udah ah, jangan bahas itu lagi. Aku beneran malu, tahu?" ucapnya sambil menyembunyikan wajahnya di balik bantal.
Zayn menarik bantal itu perlahan, lalu menatap wajah Nafiza dengan lembut. "Sayang, aku nggak bermaksud membuatmu malu. Aku cuma ingin kamu tahu, aku mencintaimu apa adanya," ucap Zayn tulus.
Nafiza terharu mendengar ucapan suaminya. Ia merasa sangat beruntung memiliki suami yang begitu mencintainya. Dan ia ingat pesan Uminya untuk menjadi istri yang Sholiha untuk suaminya.
"Makasih, Mas," ucap Nafiza lirih, lalu memberanikan diri memeluk Zayn.
Zayn membalas pelukan Nafiza dengan hangat. Ia mencium kening istrinya dengan lembut, lalu berbisik, "Gimana kalau malam ini kita coba pakai lingerie ini? Biar Mommy nggak kecewa," godanya lagi.
Nafiza terkejut mendengar permintaan suaminya. Ia melepaskan pelukannya, lalu menatap Zayn dengan ragu. "Mas ... beneran mau aku pakai baju ini?"
Bersambung ...