NovelToon NovelToon
MASALALU YANG MENGANTAR KEBAHAGIAAN

MASALALU YANG MENGANTAR KEBAHAGIAAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: zanita nuraini

Naya percaya cinta cukup untuk mempertahankan pernikahan.

Namun tekanan dari ibu mertua yang terus menuntut keturunan, ditambah kemunculan masa lalu suaminya dengan sebuah kenyataan pahit, membuat hidup Naya perlahan runtuh.
Ini bukan kisah perempuan yang kalah, melainkan tentang Naya—yang pergi, bangkit, dan menemukan bahagia yang benar-benar ia pilih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6. Kepergian Yang Tidak Pernah Dijelaskan

Langkah Ratna berikutnya tidak datang dengan suara keras atau amarah terbuka. Ia justru memilih cara yang lebih tenang, lebih rapi, dan jauh lebih menyakitkan. Ratna tahu, menghadapi perempuan seperti Naya secara langsung hanya akan membuatnya terlihat kasar. Dan ia tidak ingin itu. Ia ingin Naya pergi dengan sendirinya, tanpa perlu ia sentuh sedikit pun.

Pagi itu, gosip mulai bergerak pelan di Desa Sukamerta.

Bukan kabar yang diucapkan terang-terangan, bukan pula tuduhan yang jelas. Cerita itu mengalir dari satu percakapan ke percakapan lain, dibungkus kalimat samar dan nada prihatin. Tentang seorang gadis desa yang terlalu berharap pada lelaki kota. Tentang batas yang dilanggar tanpa disadari. Tentang mimpi yang dianggap terlalu tinggi untuk seseorang yang seharusnya tahu diri.

Tidak ada nama yang disebut.

Namun semua orang tahu, cerita itu mengarah ke siapa.

Ratna memahami betul cara kerja desa kecil. Ia tahu, satu cerita kecil yang dibiarkan tumbuh akan menjadi tekanan yang lebih efektif daripada seribu ancaman. Ia tidak perlu muncul di tengah-tengah warga. Ia cukup memastikan cerita itu sampai ke telinga yang tepat, lalu membiarkannya hidup sendiri.

Dan cerita itu hidup.

Naya merasakan dampaknya bahkan sebelum ada satu pun kata yang diarahkan kepadanya. Pagi itu, saat ia berjalan ke warung kecil di ujung desa, suasana terasa berbeda. Dua orang ibu yang sedang berbincang mendadak terdiam begitu ia mendekat. Senyum yang biasanya hangat kini terasa kaku.

Naya membalas dengan anggukan kecil, lalu cepat-cepat membeli keperluannya.

Di jalan pulang, ia bisa merasakan tatapan-tatapan yang mengikuti langkahnya. Tidak ada yang berani menegur. Tidak ada yang mencela. Tetapi keheningan itu jauh lebih menusuk. Ia merasa seperti berdiri di tengah ruang terbuka, tanpa benar-benar terlihat sebagai dirinya sendiri.

Ia pulang dengan dada sesak.

Di kebun, Naya mencoba menenangkan diri. Ia mencabut rumput liar, menyiram tanaman, melakukan semua hal yang biasanya membuatnya merasa utuh. Namun kali ini, setiap gerakan terasa berat. Tangannya bekerja, tetapi pikirannya terus berputar.

Apa mereka membicarakanku?

Apa aku sudah sejauh itu dinilai salah?

Ia berhenti, duduk di tepi bedengan, memeluk lututnya. Untuk pertama kalinya sejak tinggal sendiri, Naya merasa tidak aman di tempat yang paling ia kenal.

Bu Sulastri mendengar kabar itu dari beberapa warga yang masih berani berbicara jujur. Tidak ada yang menyebut nama Naya, tetapi arah ceritanya terlalu jelas. Hatinya langsung panas. Tanpa banyak bicara, ia mendatangi Ratna.

“Kak sudah keterlaluan,” ujar Bu Sulastri begitu mereka berhadapan. Suaranya bergetar, antara marah dan kecewa.

Ratna menatapnya datar. “Aku tidak melakukan apa-apa.”

“Kakak membuat orang-orang bicara,” balas Bu Sulastri. “Ini desa kecil. Cerita seperti itu bisa menghancurkan hidup seseorang.”

Ratna tersenyum tipis. “Aku tidak menyebut nama.”

“Itu sama saja,” kata Bu Sulastri tegas. “Naya tidak salah.”

Ratna berdiri, merapikan bajunya dengan gerakan tenang. “Kalau dia merasa tidak kuat, mungkin memang bukan tempatnya berada di situasi seperti ini.”

Jawaban itu membuat dada Bu Sulastri terasa kosong. Ia akhirnya menyadari satu hal pahit: Ratna tidak berniat berhenti. Semua ini memang dirancang agar Naya pergi.

Sementara itu, Adit mulai merasakan perubahan yang tidak bisa ia abaikan.

Panggilan teleponnya masih dijawab, tetapi tidak lagi dengan suara hangat seperti dulu. Jawaban Naya singkat, seolah ingin segera menutup percakapan. Terkadang, teleponnya tidak diangkat sama sekali. Pesan-pesannya dibalas lama, atau hanya dengan kalimat pendek yang tidak membuka ruang bicara.

“Naya, kamu kenapa?” tanyanya suatu malam.

“Aku capek, Mas,” jawab Naya pelan. “Aku mau istirahat.”

Tidak ada keluhan. Tidak ada cerita. Hanya kelelahan yang terdengar di suaranya.

Adit memandang ponselnya lama setelah sambungan terputus. Ada perasaan tidak enak yang tumbuh di dadanya. Ia mengenal Naya cukup baik untuk tahu, diamnya bukan karena tidak peduli, melainkan karena terlalu banyak yang ia simpan sendiri.

Hari itu, Adit datang ke Desa Sukamerta tanpa memberi kabar. Ia tidak ingin memberi ruang bagi Naya untuk menghindar. Perasaan tidak tenang yang selama ini ia abaikan kini berubah menjadi dorongan kuat yang memaksanya bertindak. Ada sesuatu yang salah, dan ia tidak bisa lagi menunggu.

Namun begitu mobilnya berhenti di depan rumah Naya, langkahnya terhenti.

Pintu rumah itu tertutup rapat. Tidak ada suara. Tidak ada tanda kehidupan. Kebun di samping rumah yang biasanya rapi kini tampak berbeda. Rumput liar mulai tumbuh di sela bedengan, daun-daun menguning dibiarkan jatuh begitu saja. Semua terlihat seperti ditinggalkan dengan tergesa.

Adit menelan ludah. Dadanya terasa berat.

Ia berdiri lama di sana, berharap pintu itu akan terbuka, berharap Naya muncul dengan senyum kecil yang selalu ia rindukan. Namun yang datang justru Bu Sulastri, dengan wajah yang tampak lelah.

“Adit,” sapa Bu Sulastri pelan.

“Tante,” jawab Adit, suaranya serak. “Naya…?”

Bu Sulastri menarik napas panjang sebelum berkata, “Naya pergi.”

Dua kata itu terasa seperti pukulan keras.

“Pergi ke mana?” tanya Adit, nadanya meninggi tanpa ia sadari.

“Entahlah,” jawab Bu Sulastri jujur. “Dia tidak memberi alamat. Dia hanya bilang ingin menenangkan diri. Dia titip pesan agar tidak dicari dulu.”

Adit menggeleng pelan, seolah tidak percaya. “Kenapa Tante membiarkannya pergi?”

Bu Sulastri menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Karena kalau dia tetap di sini, dia akan hancur.”

Kata-kata itu membuat Adit terdiam. Ia menatap kebun yang terbengkalai, seolah melihat jejak kelelahan Naya di setiap sudutnya. Untuk pertama kalinya, ia menyadari betapa besar tekanan yang selama ini dipikul Naya sendirian.

Di tempat lain, jauh dari Sukamerta, Naya duduk di sebuah kamar kecil yang sederhana. Dindingnya polos, jendelanya menghadap ke kebun sempit milik rumah yang ia tumpangi. Ia menatap luar tanpa benar-benar melihat apa pun.

Ia pergi tanpa pamit.

Bukan karena ingin melarikan diri, melainkan karena ia sudah tidak sanggup bertahan.

Setiap langkah meninggalkan desa terasa seperti mengoyak hatinya sendiri. Rumah yang ia tinggali sejak kecil, kebun yang ia rawat dengan tangannya sendiri, semua ia tinggalkan tanpa tahu kapan bisa kembali. Ia tidak membawa banyak barang. Hanya pakaian seperlunya dan mushaf kecil yang selalu ia bawa.

Di dalam hatinya, ada luka yang tidak berhenti berdarah.

Aku tidak cukup kuat, batinnya berbisik.

Bukan karena aku lemah, tapi karena aku sendirian.

Setiap malam, Naya menangis tanpa suara. Ia menutup mulutnya dengan bantal, menahan isak agar tidak terdengar. Ia takut jika ia membiarkan dirinya menangis keras-keras, hatinya akan pecah.

Ia mematikan ponselnya hampir sepanjang waktu. Bukan karena tidak ingin mendengar suara Adit, tetapi karena ia tahu, satu panggilan saja bisa membuatnya kembali ragu. Ia takut jika ia mendengar suara itu, semua tekad yang susah payah ia bangun akan runtuh seketika.

“Aku mencintaimu,” bisik nya dalam gelap. “Dan justru karena itu aku pergi.”

Ia tidak ingin menjadi sumber konflik yang lebih besar. Ia tidak ingin Adit harus memilih antara dirinya dan keluarganya. Ia tidak ingin namanya terus menjadi bahan perbincangan yang melukai banyak pihak.

Namun keputusan itu tidak membuatnya tenang.

Setiap kali ia mengingat wajah Adit, dadanya terasa sesak. Ia bertanya pada dirinya sendiri, apakah ia pengecut karena pergi tanpa penjelasan, atau justru ini satu-satunya keberanian yang ia punya.

Sementara itu, di kota, Adit pulang ke rumah orang tuanya dengan perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Wajahnya dingin, langkahnya berat.

“Apa Mama puas sekarang?” tanyanya begitu melihat Ratna.

Ratna terdiam. “Kamu menyalahkan Mama?”

“Aku kehilangan dia,” jawab Adit tegas. “Dan Mama tahu itu.”

“Aku hanya melindungi mu,” balas Ratna.

“Aku tidak minta dilindungi dengan cara seperti ini,” kata Adit. “Aku tidak akan menikah dengan perempuan pilihan Mama.”

Rangga yang sejak tadi diam akhirnya angkat bicara, “Kalian terlalu emosional.”

Adit menoleh tajam. “Ayah tidak pernah benar-benar peduli.”

Rangga hanya tersenyum tipis, seolah konflik itu tidak menyentuhnya.

Ratna menatap Adit lama. “Kalau kamu tetap memilih jalan ini, kamu harus siap berdiri sendiri.”

Ancaman itu menggantung di udara.

Adit mengangguk pelan. Dalam hatinya, ia tahu satu hal: kehilangan Naya jauh lebih menyakitkan daripada kehilangan kenyamanan hidup yang selama ini ia kenal.

Adit tidak langsung pulang ke kota malam itu. Ia berdiri lama di depan rumah Bu Sulastri, menatap jalan desa yang sepi. Lampu-lampu rumah warga sudah banyak yang padam. Angin malam membawa bau tanah basah, mengingatkannya pada sore-sore ketika Naya menemaninya berjalan tanpa banyak bicara.

Kini semua terasa kosong.

“Adit,” panggil Bu Sulastri pelan. “Kalau kamu benar-benar ingin dia, kamu harus berani mengambil keputusan besar.”

Adit menoleh. “Keputusan apa, Tante?”

“Keluargamu tidak akan berhenti,” jawab Bu Sulastri jujur. “Dan Naya tidak akan kembali selama ancaman itu masih ada.”

Kata-kata itu seperti palu yang menghantam kesadarannya. Selama ini, ia mencoba berdiri di tengah—meyakinkan dirinya bahwa waktu akan menyelesaikan segalanya. Namun kini ia sadar, sikap setengah-setengah justru membuat Naya terluka paling dalam.

“Aku lelah melihat dia selalu mengalah,” lanjut Bu Sulastri dengan suara lirih. “Dia pergi bukan karena tidak cinta. Dia pergi karena tidak ingin hancur.”

Selamat Pagi Readers Selamat Membaca,

Tinggalkan Jejak Kalian Ya...

Like,Komen, Vote,Subscribe,dan Hadiah nya

Adit mengangguk perlahan. Tenggorokannya terasa kering. Untuk pertama kalinya, ia memahami bahwa cinta tidak cukup jika tidak disertai keberanian.

Malam itu, Adit kembali ke kota dengan pikiran berkecamuk. Di dalam mobil, ia menggenggam ponselnya erat. Puluhan pesan yang belum pernah terkirim memenuhi layarnya. Semua kata terasa tidak berguna ketika ia bahkan tidak tahu di mana Naya berada.

Ia hanya tahu satu hal: ia tidak boleh berhenti.

Di tempat yang jauh, Naya duduk di beranda rumah kecil yang ia tumpangi. Lampu temaram menerangi wajahnya yang tampak pucat. Udara malam terasa dingin, menyusup ke dalam tulang. Ia memeluk lututnya, membiarkan kesunyian menyelimutinya.

Setiap hari di tempat itu berjalan lambat. Tidak ada pertanyaan, tidak ada tuntutan. Namun ketenangan itu tidak serta-merta menyembuhkan lukanya. Justru dalam diam, kenangan datang tanpa ampun.

Ia teringat senyum Adit, caranya menatap seolah dunia bisa berhenti sejenak. Dan setiap kali ingatan itu muncul, dadanya terasa seperti diremas kuat-kuat.

Apakah aku egois karena pergi?

Atau justru egois jika aku bertahan?

Naya tidak punya jawabannya.

Ia hanya tahu, ia terlalu lelah untuk terus menjadi kuat di hadapan orang-orang yang tidak pernah benar-benar ingin memahaminya. Ia ingin berhenti menjelaskan dirinya sendiri. Ia ingin berhenti membuktikan bahwa ia layak.

Di balik ketenangan yang ia cari, ada rasa bersalah yang terus menghantuinya. Ia tahu, kepergiannya menyisakan luka pada Adit. Namun ia juga tahu, jika ia tetap tinggal, luka itu akan semakin dalam dan mungkin tidak pernah sembuh.

“Aku hanya ingin bernapas,” bisik nya lirih, nyaris tak terdengar.

Hari-hari berlalu. Tidak ada kabar. Tidak ada jejak. Naya memilih menghilang sepenuhnya dari dunia yang pernah ia kenal. Ia menutup diri, membangun tembok tinggi di sekitar hatinya—bukan untuk selamanya, tetapi untuk bertahan.

Sementara itu, Adit mulai mengambil jarak dari keluarganya. Sikapnya dingin, pembicaraannya seperlunya. Ia tidak lagi mencoba menjelaskan perasaannya pada Ratna. Ia tahu, kata-kata tidak akan mengubah apa pun saat ini.

Yang ia lakukan hanyalah satu: bersiap.

Bersiap menghadapi konsekuensi dari pilihan yang akan ia ambil.

1
sherapine
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!