Selesai membaca biasakan tekan LIKE ya.
Seorang perempuan cantik bernama Nindi harus menikah dengan pria pilihan orang tuanya yang tak lain adalah seorang pengusaha muda yang sukses.
Nindi tak bisa menolak permintaan sang papa dengan alasan balas budi, dia dengan terpaksa menerima pernikahan itu karena tak ingin membuat kedua orang tuanya bersedih.
Akankah hidup Nindi bahagia dengan pria pilihan orang tuanya itu atau justru berakhir dengan kesedihan??
Yuk simak kelanjutan kisah mereka berdua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ismiati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28
Pagi menjelang...
2 orang masih asyik tertidur pulas di bawah hangatnya selimut. Sinar matahari mulai menampakkan dirinya, melalui celah-celah jendela kaca karena tirai yang tak tertutup dengan rapat membuat cahaya itu menerpa wajah Nindi.
Merasa tidurnya terusik, Nindi menggeliat namun...
"Emmmmm ....."
"Kok berat," batin Nindi.
Nindi pun berusaha mengerakkan tubuhnya namun seperti ada sesuatu yang menindih dirinya.
Merasa ada yang menganggu tidurnya, Tristan pun akhirnya bangun. Namun saat Tristan membuka sedikit matanya, dia melihat istrinya itu masih memejamkan matanya. Apalagi saat Nindi menyentuh tubuhnya, Tristan berusaha sekuat tenaga menahan diri agar tak bangun karena sentuhan Nindi yang membuatnya geli. Tristan hanya ingin melihat bagaimana reaksi istrinya itu saat tahu apa yang terjadi, Tristan pun akhirnya menutup matanya kembali.
Nindi berusaha menyingkirkan sesuatu yang menindih dirinya, tangannya meraba-raba dan menyentuh sesuatu yang hangat dan aneh menurutnya.
"Apa ini," batin Nindi.
"Keras, hangat," gumamnya di dalam hati.
"Sial...." Umpat Tristan di dalam hatinya saat ini.
"Harusnya guling itu empuk," batinnya lagi.
Ya Nindi tanpa sengaja menyentuh perut sang suami. Dengan malas dan penasaran, Nindi pun membuka matanya.
Pertama membuka mata, matanya langsung menatap ke arah langit-langit kamar. "Ini bukan kamar ku," batinnya.
Nindi pun menoleh ke samping karena ingat dia tadi menyentuh sesuatu yang aneh menurutnya. Harusnya kan empuk seperti guling yang biasanya Nindi peluk saat tidur namun ini berbeda, keras, hangat dan berat.
Deg
Deg
Deg
Matanya langsung melotot saat melihat pemandangan indah namun mendebarkan.
"Tristan...."
Nindi baru ingat kalau dia berbulan madu dan menginap di hotel. Namun apa ini.... Sang suami sedang tertidur disampingnya dan memeluk dirinya dengan erat. "Kok dia tidak pakai baju sih," lirih Nindi.
Sesaat Nindi masih belum bereaksi apapun, namun kemudian Nindi pun panik dan langsung melirik ke arah tubuhnya bagian atas ternyata tak memakai baju. Nindi tertegun sejenak. "Jangan-jangan...." Nindi menebak dalam hati.
Deg
Deg
Deg
Dengan pelan dan hati-hati berdebar Nindi memberanikan diri untuk mengintip tubuhnya yang ada di balik selimut, matanya melotot kaget melihat keduanya sama-sama dalam keadaan polos. Nindi sempat melirik ke arah tubuh Tristan di balik selimut.
''Hah...." Nindi terbengong kaget.
"Dia .... Dia.... Tidak memakai baju." Nindi tergagap menutup mulutnya dengan cepat agar tak berteriak karena kaget.
"Apa kita melakukannya tadi malam," lirih Nindi.
Nindi lemas seketika, dia terdiam lama lalu mencoba untuk mengingat-ingat kejadian kemarin malam.
Nindi ingat dirinya dan Tristan sedang makan di restoran tak jauh dari tempatnya menginap. Dia makan makanan yang membuatnya kepedasan dan....
Nindi mendadak binggung, cemas, malu, sedih, kecewa. Semua rasa bercampur menjadi satu.
"Sabar Nindi, kamu harus tenang," kata Nindi menguatkan.
Tiba-tiba Nindi merasa ingin buang air kecil.
"Duh gak tahan," guman Nindi menahan ingin buang air kecil.
Dengan susah payah Nindi pun bangun dari tidurnya setelah menyingkirkan tubuh suaminya yang sempat menindihnya tadi.
Nindi binggung harus ke kamar mandi menggunakan apa, kalau dia menggunakan selimut yang dia pakai tadi otomatis tubuh Tristan akan terpampang jelas dalam artian tubuh polos Tristan akan terlihat olehnya. Terus kalau Nindi tidak menggunakan selimut dia harus menggunakan apa? Sedangkan baju miliknya sudah tak berbentuk dan itupun berserakan jauh dari tempat tidur.
"Aku harus pakai apa, mana sudah tak tahan lagi," gerutu Nindi.
Nindi melihat Tristan masih memejamkan matanya. "Apa aku lari dengan cepat menuju kamar mandi ya?" Pikir Nindi.
"Ah kalau dia lihat bagaimana? Apa aku pake selimut saja, ah kalau dia nanti bangun bagaimana?" Nindi dilanda kebingungan.
Dia menatap Tristan, Nindi pun akhirnya memilih untuk berlari saja atau berjalan pelan menuju kamar mandi tanpa menggunakan apapun.
Nindi pun turun dari ranjang, dia berdiri dan menatap Tristan. Dirasa aman Nindi mulai berjalan dengan tenang menahan rasa sakit di area sensitifnya. "Sttt sakit," lirihnya.
"Kamu sengaja ingin menggoda ku," suara serak itu membuat Nindi kaget dan menoleh dengan cepat.
"Ahhh dasar mesum," teriak Nindi kaget, panik bercampur malu, tangannya binggung menutup bagian tubuhnya yang mana.
"Siapa yang mesum, kamu kan sengaja berlenggak-lenggok menggoda ku," kata Tristan dengan tenang namun dalam hati menahan tawa melihat reaksi panik Nindi yang menggemaskan baginya.
"Si-siapa yang menggoda mu," protes Nindi dengan tergagap.
Nindi pun langsung malu saat sang suami masih memperhatikan dirinya tanpa berkedip.
"Hei tutup mata mu, cepat," pinta Nindi.
"Kalau aku tidak mau," tantang Tristan.
"Ahhhh...." Nindi kesal dan memilih lari ke masuk ke dalam kamar mandi sambil menahan rasa perih.
"Ha ha ha ha ha ha, lucu banget sih. Jadi pengen gigit," kata Tristan melihat Nindi lari masuk ke dalam kamar mandi.
Di dalam kamar mandi.
"Dasar, sudah tahu aku tidak pakai baju malah bilang aku menggodanya. Harusnya tuh dia pura-pura tidur saja. Gini kan aku jadi malu," gerutu Nindi.
"Dasar mesum..."
"Ah lebih baik aku sekalian mandi saja, nanti baru bicara dengan dia," kata Nindi. Yang dimaksud dia adalah Tristan.
Nindi segera buang air kecil meskipun sedikit perih, karena merasa lengket Nindi juga mandi sekalian.
"Kenapa dia lama sekali," kata Tristan menatap ke arah pintu kamar mandi yang tak kunjung terbuka.
"Apa dia baik-baik saja, mengingat tadi malam aku terlalu bersemangat," guman Tristan dengan senyum mengembang setiap mengingat kegiatan panasnya bersama sang istri.
Saat Tristan ingin bangun dan menghampiri sang istri memastikan keadaannya baik-baik saja.
Ceklek.... Pintu kamar mandi terbuka.
Nindi memegang handuk di kepalanya sedangkan tubuhnya sudah berbalut dengan handuk kimono.
Aroma wangi sabun membuat Tristan tak tahan ingin mendekat.
"Hei kamu mau apa?" Teriak Nindi saat Tristan menghampiri dirinya.
"Tentu saja memeluk istriku," jawab Tristan percaya diri.
Glekkkk....
"Besar," batin Nindi, tiba-tiba pikirannya berubah mesum membayangkan benda itu yang telah merenggut yang selama ini Nindi jaga kemarin malam. Nindi pun langsung tersadar.
Tristan tersenyum lebar melihat reaksi istrinya. "Apa kamu ingin mencobanya lagi?" Tawar Tristan.
"Ish dasar mesum...."
"Tak tahu malu....."
"Cepat tutupi tuh pusaka kamu...."
Nindi berteriak ke arah Tristan namun bukannya marah, sang suami justru tertawa.
"Ha ha ha ha ha ha....."
"Cepat pakai baju," pinta Nindi yang saat ini sudah menutupi mata nya dengan kedua tangannya.
Tristan pun menyambar celana pendek yang ada di bawah tak jauh darinya.
"Buka saja, aku kan sudah pakai baju,"
"Hah? Apa, kamu bohong," kesal Nindi saat membuka matanya masih melihat Tristan bertelanjang dada tetapi Tristan sudah memakai celana pendek.
"Nih aku sudah pakai celana," Tristan menunjukkan celana pendek yang dia pakai.
Tristan mendekati Nindi dengan cepat.
"Mau apa kamu?" Tanya Nindi.
Tristan terdiam...
Greeeeep....
Tubuh Nindi menegang saat sang suami tiba-tiba memeluknya dengan erat. Mencium leher dan punggungnya membuat Nindi merinding.
"Ka-kamu mau apa?" Tanya Nindi terbata. Tubuhnya terasa kaku.
"Terimakasih karena tadi malam kamu sudah mengijinkan ku untuk mendapatkan hak ku, terimakasih lagi kamu menjaganya untuk ku. Aku sungguh puas kemarin malam, I love you," bisik Tristan di telinga Nindi.
Tak lupa mengecup pipi sang istri.
Bluss....
Awalnya Nindi risih namun mendengar ucapan terima kasih dari sang suami membuat Nindi meleleh, tak menyangka pria datar seperti suaminya mampu berbicara seperti itu.
Bersambung....