Demi menjalankan misinya mencari tahu mengenai pelaku pembantaian massal keluarga Anthony, dengan rela Tuan Vigor menikahkan putri tunggalnya dengan seorang mafia yang merupakan putra sahabatnya untuk melancarkan misinya dan mendapatkan harta yang ia inginkan. namun lain halnya dengan si mafia, yang mempunyai tujuan lain dengan adanya ia masuk kedalam keluarga elit itu untuk bisa menguasai dan mengendalikan keluarga itu lewat Calon istrinya yang saat ini mendapat julukan Bloody Queen.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionnaclareta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menemukanmu
Waktu terus berjalan tidak terasa hari semakin gelap dan jam kini telah menunjukkan pukul 6 sore, meskipun hari ini hanyalah perkenalan diri seorang Leonard yang merupakan calon Presdir perusahaan itu pada karyawan disana, namun Luna sudah membuatnya seharian duduk di kursi kerjanya dan memberikan tumpukan buku yang berisi data perusahaan dan harus ia hafalkan serta pahami sebelum ia menjabat menjadi Presdir disana.
Dan kini tepat dipukul 6 sore hari akhirnya Leo pun bisa bebas dari dalam neraka yang sedari tadi menyiksanya, dengan langkah cepat nya dia keluar dari dalam kantor itu dan masuk kedalam mobil yang sedari tadi menunggunya di depan.
Dengan perasaan yang begitu lega dia langsung menghela nafas panjang sembari menyandarkan punggungnya di kursi mobil miliknya. "Hari yang melelahkan." Gumamnya sebab dari pagi dia sudah pusing dengan Yoona yang tiba tiba hilang sekarang dia malah harus pusing dua kali untuk menghafal ribuan kalimat yang ada di dalam buku tadi.
"Bagaimana Luca, apa yang kau dapatkan?" Tanyanya.
"Saya tadi berkeliling hutan dan memang ada satu bar besar disana tuan, letaknya tidak jauh dari jalan raya sehingga tidak terlalu masuk kedalam hutan."
"Lalu? Apa Kau menemukan Yoona disana?"
"Tidak tuan, Noona Yoona tidak ada disana, tapi saya berhasil mendapatkan informasi dan alamat mengenai pemilik bar itu." Jawabnya.
"Pasti Yoona punya hubungan dengannya, ayo pergi kesana, dan jelaskan secara rinci bagaimana pemilik bar itu padaku."
"Baik tuan." Respon Luca singkat dan langsung menyalakan mesin mobil itu dan pergi dari sana.
"Saya juga sudah menyiapkan beberapa bodyguard untuk ikut serta membawa beberapa senjata untuk berjaga jaga di dalam mobil." Ucap Luca dan sontak membuat Leo melirik ke arah kursi belakang dan terdapat sekotak besar yang berisi senjata berapi berbahaya disana.
"Sebenarnya semua itu tidak perlu Luca, dia hanyalah pemilik bar, dan bukanlah orang yang harus di waspadai."
"Tapi tuan, dari semua ancaman yang tuan alami akhir akhir ini itu bukanlah ancaman sepele, dan sepertinya orang itu bukanlah orang biasa." Tangkas Luca mengingat semua serangan yang Leo dapatkan sampai dia harus dirawat di rumah sakit.
"Itu karena Yoona, Yoona pasti meminta bantuan padanya untuk membantunya, jadi cukup bawa dua atau tiga bodyguard, dan suruh yang lainnya kembali." Jawabnya ketika mengetahui ada banyaknya deretan mobil yang mulai mengikutinya.
"Ahh baik tuan." Ucap Luca yang langsung mengambil handphone-nya untuk mengonfirmasikan perintah tuannya itu.
Mobil itu melaju begitu cepat menembus senja yang hampir punah, melewati jalanan aspal yang macet sehingga membuat perjalanan mereka cukup terhambat.
Sementara itu disisi lain, Yoona dan Laurent kini sedang duduk di ruang tengah dengan pikiran benar benar kacau, termasuk Yoona yang kondisinya saat ini benar benar buruk tubuhnya benar benar lemas karena efek racun yang masih menempel padanya di tambah dengan semua rencananya yang sangat gagal total tidak menghasilkan hasil apapun.
"Ahh sial, apa dia benar benar akan kemari" kesal Yoona sembari menatap Laurent yang sedari tadi tidak bisa diam, dia terus mondar mandir sembari berpikir apa yang harus ia lakukan sekarang.
"Dia berhasil menemukan informasi tentang ku dari orang orag di bar Yoona, pasti sebentar lagi dia akan sampai disini." Ucapnya yang membuat Yoona semakin gelisah sebab sudah berbagai cara ia gunakan tapi tidak satupun dari semua itu berhasil.
"Benar benar di luar dugaan ku, dia lebih cerdik dari yang ku bayangkan, sebenarnya siapa dia." Gumam Laurent.
Otak Laurent terus berputar dia terus memikirkan cara untuk keluar dari masalah ini, sebab dia juga sudah kehilangan 55 persen anak buahnya sehingga sulit baginya untuk bertindak jauh.
"Bawa aku pergi Laurent." Ucap Yoona tiba tiba dan sontak memalingkan perhatian nya.
"Apa?"
"Aku benar benar tidak mau menikah dengannya, jadi bawa aku pergi bersama mu dan nikahi aku Laurent, setidaknya aku menikah dengan mu bukan dengan nya." Lanjutnya Yoona yang membuat pria itu tercengang mendengar perkataan yang terdengar di kedua telinganya.
"Apa? Tidak Yoona, aku tidak bisa." Jawabnya.
"Apa? Kenapa? Kau tidak suka denganku? Kita sudah dekat selama lima tahun lamanya."
"Bukan seperti itu, aku memang tidak bisa menikah dengan mu Yoona, maafkan aku." Jawabnya yang membuat Yoona seketika mengerutkan keningnya heran baru pertama kali ada seorang pria yang menolak untuk menikah dengannya.
"Lagi pula, tidak akan baik jika pergi di kondisi mu yang seperti ini, racun itu masih ada di dalam tubuhmu, bagaimana jika terjadi apa apa padamu, di tambah lagi tidak ada yang bisa membuat obat penawarnya."lanjutnya.
"Lalu katakan, apa yang harus ku lakukan sekarang ohh Laurent, aku tidak tahu lagi apa yang harus ku lakukan."
"Menikahlah dengannya Yoona."
"Apa?" Yoona seketika terkejut dengan pernyataan Laurent tiba tiba yang baru saja menyuruhnya menikah setelah menolak lamarannya.
"Hanya dia yang punya obat penawarnya Yoona, itu cara terakhir yang harus kau lakukan, aku yakin dia tidak akan bisa bertindak buruk padamu." Ucap Laurent.
"Kenapa kau bisa seyakin itu, aku bilang aku tidak mau menikah dengannya, bagaimana jika dia berhasil membunuh ku dan merampas semuanya dariku."
"Itu tidak akan pernah terjadi, percayalah selagi aku masih hidup, aku tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi padamu, aku akan selalu melindungi mu Yoona." Tangkasnya dan lagi lagi membuat Yoona terdiam sembari merenungkan perkataan Laurent sembari terus memegangi dadanya yang perlahan sesak dan menyengkal pernafasannya.
Sementara itu disaat yang bersamaan pintu rumah itu tiba tiba terbuka oleh pria besar berpakaian hitam yang merupakan salah satu bodyguard miliknya.
"Maaf tuan Laurent, tuan Leonard sudah sampai di depan."
"Dia sendiri?"
"Iya tuan, dia datang bersama satu asisten pribadinya."
Laurent menghela nafas panjang, "bibi rawat Yoona dan beri dia minum."
"Kau mau kemana Laurent."
"Aku mau menemuinya." Jawabnya singkat dan langsung pergi begitu saja dari dalam rumah itu.
Sedangkan disisi lain Leo dan Luca si asisten pribadinya sedang berdiri di depan gerbang rumah itu sembari menunggu kabar dari pria tadi, pria itu terus menatap kearah pintu masuk yang jauh di sana dan tidak ada tanda tanda kembali nya si bodyguard tadi.
"Kenapa tidak tidak langsung masuk tuan, lagi pula penjagaan disini tidak terlalu ketat." Ucap Luca yang tidak terima dengan perlakuan mereka yang membuat tuan kesayangan nya harus menunggu.
"Tidak Luca, aku ingin tahu keputusan apa yang mereka ambil, kita tidak perlu tergesa gesa." Jawab Leo dan disaat yang bersamaan bodyguard tadi pun kembali.
"Tuan boleh masuk, tuan Laurent hanya mengijinkan tuan masuk sendiri kedalam tanpa membawa senjata." Ucapnya.
"Apa? Yyakk kalian berencana membunuhnya di dalam eoh, tidak aku juga akan ikut masuk." Tegas Luca yang membuat Leo seketika menepuk pundak kirirnya.
"Baiklah aku setuju, lagi pula aku kemari bukan untuk membunuh, melainkan hanya menjemput calon istriku." Timpal Leo.
"Tapi Tuan." Luca berusaha ingin berbicara lagi dengan tuannya itu, tapi Leo sudah keburu masuk bersama bodyguard tadi dan meninggalkan Luca sendirian disana.
Leo terus melangkahkan kaki panjang nya melewati jalanan halaman rumah yang begitu luas bersama dua orang pria besar yang sedari tadi terus mengawalnya hingga beberapa saat kemudian dia melihat seorang pria tinggi yang sedang berdiri di depan rumah sembari menatap tajam ke arahnya.
Melihat hal itu Leo hanya bisa tertawa kecil dengan tatapan yang terus menuju ke arah nya. "Astaga lucu sekali, aku kemari hanya dengan niat baik, tapi kenapa aku di perlakukan seperti tawanan seperti ini."
"Ini adalah wilayah ku, jadi kau harus mematuhi peraturan yang sudah ku buat disini." Tegas Laurent.
"Oke baiklah, sekarang apa aku juga perlu memperkenalkan diri, sepertinya kau belum mengenalku."
"Aku Leonard, senang bertemu denganmu tuan Laurent." Lanjutnya.
"Leonard?" Ucap Laurent seakan akan ia tidak asing dengan nama itu sembari merinci semua inci wajahnya.
"Kenapa, apa kau sudah mengenal ku sebelumnya?"
"Tidak, lagi pula untuk apa aku mengenal pria seperti mu." Jawab Laurent.
"Kenapa kau begitu waspada sekali hmm, aku kemari bukan ingin berperang denganmu, aku kemari hanya untuk menjemput calon istriku, dimana dia?"
Brakk!!!
"Aku disini Leo...."ucap Yoona yang tiba tiba keluar dari dalam rumah dengan beberapa pengawal dan maid di sampingnya dan membuat dua pria itu sontak menatapnya.
Leo perlahan berjalan mendekat ke arah nya dan meraih pergelangan tangan kanan Yoona. "Ayo pulang." Ucapnya singkat lalu menarik Yoona untuk pergi dari tempat itu.
Namun ketika mereka ingin pergi tiba tiba saja sebuah benda tajam manghalau dan mengarah tepat di pergelangan tangan Leo yang saat ini sedang menggandeng tangan Yoona.
" aku tidak mengijinkan mu untuk membawanya pergi kau mau apa." Ucap Laurent sembari menekan pisau kecilnya hingga berhasil menembus kulit Leo.
"Untuk apa aku memerlukan ijin darimu, dia akan menjadi milikku setelah ini."
Darah perlahan keluar dari pergelangan tangan Leo dan menetes ke tanah "posisimu bagus juga, kau bisa langsung mengarah ke nadi, tapi aku tidak pernah menyangka kau sepengecut ini yang berani menyerang orang yang tidak bersenjata." Ucapnya sebab kurang sedikit tekanan saja Laurent bisa memutus urat nadi itu, sementara Yoona hanya bisa diam sebab pandanganya dari tadi sudah benar benar pudar di tambah lagi dadanya yang begitu sesak.
Leo melirik sekilas ke arah Yoona yang terlihat begitu pucat namun masih berusaha untuk tidak tumbang disana. "Apa kau tidak lihat dia sedang sekarat sekarang jadi minggir." Lanjutnya.
"Aku tidak akan membiarkan mu membawanya pergi sebelum kau bisa memastikan akan memberikan obat penawar itu untuk nya."
"Dengar dia adalah milikku, aku tidak akan membiarkannya mati meskipun takdir yang menyuruhnya." Tekannya yang langsung meraih tubuh Yoona kedalam gendongan nya dan membawanya pergi dari tempat itu, sementara Laurent hanya bisa diam menatap kepergian mereka berdua.
Dengan langkah nya yang begitu cepat, Leo bergegas membawa Yoona keluar dari rumah itu, "Tuan, apa semuanya baik baik saja?" Tanya Luca ketika melihat tuannya baru saja keluar dari pintu gerbang itu.
Leo mengangguk "kau bisa pulang Luca, aku akan membawa mobilku sendiri." Jawab Leo yang langsung masuk begitu ke dalam mobil setelah berhasil membawa Yoona masuk kedalam.
"Baik tuan." Ucap Luca singkat, sementara disisi lain kini Leo sedang sibuk mencari keberadaan pil penawar kemarin yang ia letakan di dalam laci mobil, setelah Berhasil menemukannya seperti biasa di langsung menggerus atau menghaluskan satu pil dengan tujuan bisa mengembalikan kondisi Yoona semula.
Setelah berhasil menghaluskan nya, dia pun langsung memasukan pil itu kedalam mulut Yoona berselingan dengan air putih agar serbuk obat itu bisa masuk sempurna kedalam.
"Bagaimana? Sudah lebih baik?" Tanya Leo pada Yoona yang memang kini sudah setengah sadar.
"Bersabarlah, lima belas menit lagi kau pasti akan baik baik saja." Lanjut Leo sembari menatap Yoona dengan begitu lekat, sementara pandangan Yoona sektika tertuju pada darah yang terus menetes dari pergelangan tangan Leo.
"Seharusnya kau membiarkanku mati, bukankah itu kemauanmu." Ucap Yoona tiba tiba.
"Apa seperti itu caramu pada orang yang sudah menyelamatkan nyawamu Yoona, saat ini belum waktunya untukmu mati mengerti." Jawab Leo yang kemudian menyalakan mesin mobilnya dan pergi dari tempat itu.
Mobil sport milik Leo melaju begitu cepatnya menembus kabut malam di tengah pepohonan yang rindang, di sepanjang jalan dia sama sekali tidak melihat satupun lampu jalan sehingga membuat tempat itu benar benar begitu gelap, hanya ada sorot lampu mobil Leo yang menerangi nya.
"Cihh bisa bisanya dia membangun rumah sebesar itu di sebrang hutan seperti ini." Gumam Leo yang kesal sebab tidak hanya jauh namun membutuhkan waktu yang begitu lama untuk sampai di tempat keramaian, seakan akan tempat itu memang di bangun untuk menghindari keramaian kota.
Setelah satu jam lamanya, akhirnya mobil Leo pun berhasil melintas di aspal jalan raya perkotaan, lampu lampu jalan mulai terlihat dan udara yang tadinya begitu dingin kini terasa sedikit lebih hangat dibanding sebelumnya, Leo memutar setir mobilnya dan memarkirkan mobilnya di depan sebuah restoran barbeque yang memang kini sudah terlihat cukup sepi sebab hari yang sudah begitu malam.
"Kenapa kau berhenti disini?" Tanya Yoona ketika mobil itu tiba tiba berhenti,
"Ayo turun dan makan." Jawab Leo singkat sembari melepas sabuk pengamannya.
"Aku tidak lapar." Sahut Yoona.
"Benarkah, lalu cacing siapa yang terus berbunyi di sepanjang jalan tadi hmm." Tangkas nya yang membuat Yoona seketika terdiam mendengarnya.
"Kau sedang apa?" Tanyanya ketika melihat pria itu tiba tiba sibuk mencari sesuatu di kursi belakang.
Leo mengambil sebuah jaket hitam tebal miliknya. "Ini pakailah."
"Apa?"
"Apa kau tuli?"
"Kalau aku tidak mau kau mau apa." Tegas Yoona menolak.
"Lalu apa kau ingin masuk kedalam dengan pakaian seperti ini? Aku sampai heran dengan mu, apa kau tidak kedinginan hmm, apa lagi kau berpakaian di rumah pria yang tidak ada hubungan darah ataupun lebih denganmu" Cetus Leo yang memang saat ini Yoona sedang dress silver sexy dengan panjang di atas lutut dan hanya ada tali yang mengikat ke kedua bahunya.
"Laurent maksudmu, memangnya kenapa, dia juga tidak mempermasalahkan nya, tidak seperti dirimu, cihh apa penampilan ku begitu menganggumu." Ucap Yoona.
"Apa? Tidak, dengar Yoona, tidak semua pakaian itu pantas di perlihatkan di depan umum Yoona, sudah pakai ini, dan ayo turun, jangan sampai restoran ini tutup karena mu." Jawab Leo yang langsung turun dari dalam mobilnya begitu saja tanpa harus menunggu gadis itu mengambil keputusan.
Dengan helaan nafas yang panjang dia dengan pasrah memakai jaket tebal itu dan turun dari dalam mobil menyusul perginya pria pemilik jaket itu.
Mereka berdua mulai menapakan jejak kakinya di atas lantai restoran hingga perlahan tercium dengan jelas betapa harumnya aroma daging yang sedang di panggang serta aroma sup yang begitu kuat disana sehingga menciptakan cita rasa restoran itu.
Mereka berdua duduk di salah satu bangku kosong yang ada disana, meskipun kini sudah menunjukan hampir pukul 10 malam namun masih ada yang singgah di tempat itu, walaupun tempatnya terletak cukup terpencil.
Setelah 25 menit memesan akhirnya makanan mereka pun sampai diatas meja. "Kau memesan sup?" Tanya Yoona ketika melihat semangkuk sup di depannya.
"Untukmu."
"Untukku?"
Leo mengangguk yang membuat Yoona seketika langsung menyodorkan mangkuk sup itu ke arah Leo. "Kau saja aku tidak mau." Tolaknya melihat itu Leo kembali menyodorkan mangkuk itu ke arah Yoona kembali
"Makan sup nya, setelah itu minum obatnya lagi, aku yakin kau belum makan nasi seharian, jadi setidaknya kau makan sup tidak hanya daging." Celotehnya sembari memotong daging panggang miliknya.
"Aku tidak mau."
"Jangan keras kepala, kau mau memakannya sendiri atau ku suapi hmm." Tegasnya tanpa menatap ke arah Yoona sama sekali.
Mendengar hal itu raut wajah Yoona seketika kesal seakan akan baru kali ini ada yang memaksanya makan makanan yang tidak dia sukai, gadis itu hanya diam tanpa menyentuh makanannya sembari menatap tajam ke arah Leo.
"Kau ingin ku suapi, sup itu tidak akan habis jika hanya kau lihat." Ucap Leo sehingga mau tidak mau Yoona mulai meraih sendok dan memakan sup itu.
Sesendok demi sesendok sup itu perlahan masuk kedalam mulutnya, meskipun lidahnya terus menolak tapi tangannya tidak bisa berhenti memasukan sup itu kedalam mulutnya, sementara Leo masih menikmati daging miliknya. Kedua sorot mata Yoona terus tertuju pada pria yang sedari tadi sedang makan dan luka yang masih sesekali mengeluarkan darah di sana.
Yoona meletakan sendok yang sedari tadi ia pegang dan meraih pisau daging miliknya, gadis itu menarik kain putih yang sedari tadi berperan sebagai taplak meja disana, dan merobek beberapa senti menggunakan pisau milik nya.
"Yoona,,,,kau gila, apa yang kau lakukan." Leo terkejut begitu juga dengan pelanggan lain yang ada disana, sementara Yoona tidak menghiraukan semua itu dan langsung meraih pergelangan tangan Leo kemudian melilitkan kain putih tadi sehingga menutupi luka nya itu.
"Aku memang suka darah, tapi aku sangat benci jika harus melihatnya saat makan." Ucap Yoona seusai mengikat kain nya itu.
Leo tersenyum kecut sembari menatap wajah gadis yang saat ini benar benar terlihat begitu kesal dan marah terhadapnya. "Kenapa kau bisa semarah itu hmm, aku hanya menyuruhmu makan sup Yoona,,,lagi pula jika kau membencinya kenapa kau terus melihatnya." Ujarnya sementara Yoona sama sekali tidak mengubris sama sekali.
Setelah menghabiskan semua makanan nya, mereka pun kembali ke dalam mobil untuk melanjutkan perjalanan pulang mereka. Sepanjang perjalanan mereka sama sekali tidak membahas satu topik pun sehingga suasana mobil itu terlihat cukup suram untuk beberapa menit, setelah menempuh perjalanan yang begitu melelahkan, akhirnya mobil Leo pun sampai di tempat tujuannya.
"Tunggu kenapa berhenti disini?" Tanya Yoona ketika melihat lingkungan rumah yang cukup asing di matanya.
"Ini adalah rumahku, dan untuk malam ini kau akan menginap disini, aku juga sudah beritahu paman mengenai hal ini."
"Apa? Wahh aku tidak menyangka kau lebih licik dari yang ku bayangkan, apa kau ingin membubuhkan diam diam di dalam rumah ini?"
"Kenapa otakmu itu sempit sekali uhh, jika aku berniat membunuhmu aku sudah melakukannya sejak tadi, apa ka tahu di dalam mobil ini ada banyak senjata yang bisa ku gunakan untuk mengambil paksa jantungmu tanpa aku harus mengotori rumahku." Jawab Leo.
"Bagaimana aku bisa percaya dengan orang sepertimu."
Leo tersenyum smirik sembari menatap ke arah wanita yang sedari tadi terus menatapnya dengan tatapan penuh dengan kebencian. "Dengar sayang, aku bukan orang sepertimu, aku tidak akan menggunakan cara yang kekanak-kanakan seperti yang sudah kau lakukan padaku "
"Kau kira aku bisa mati dengan hal seperti itu, kau salah besar, saranku ketika kau ingin membunuh seseorang akan lebih baik kau mengenalnya terlebih dahulu mengerti."lanjutnya lalu tersenyum begitu manis terhadap nya.
"Benarkah? Ternyata perkiraan ku memanglah salah, maafkan aku dan terimakasih untuk sarannya." Jawab Yoona.
"Tentu saja, ayo masuk." Ajaknya yang kemudian langsung turun dari dalam mobilnya, sementara Yoona yang mendengar hal itu hanya bisa diam sembari menatap kepergiannya dengan tatapan yang penuhbdengan kebencian.
'kau benar, aku memang salah, seharusnya aku tidak menyepelekan mu dari awal Leo. Lihat saja jika aku tidak bisa membunuhmu dengan cara yang kasar, maka akan ku pastikan suatu hari nanti kau akan mati diatas pelukan ku Leo, atau mungkin malam ini.' Batin Yoona yang kemudian akhirnya turun dari dalam mobil itu.