Erik, Sorang pemuda dari keluarga miskin sering di hina dan bully. dia tidak taku kalo dirinya adalah orang kaya.
hingga suatu hari ayah angkatnya sakit dan memberitahu Erik kalo dirinya bukanlah anaknya dan kedua orang tuanya memberitahukan dirinya salah orang berada.
sejak saat itu kehidupan Erik berubah, diapun membalas. semua orang yang sudah menghina dan membully nya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon taofik irawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 28 rencana jahat Mira dan ibunya
Hari begitu cepat berlalu, Erik makin betah kerja di rumah nya Radit temanya Eza. Meski kadang mereka memandangi nya dengan tatapan sinis tapi baginya sudah biasa.
Malam hari, ketika Erik duduk sendiri hanya terdengar suara jangkrik di taman. Angin bertiup dengan pelan Suasana begitu sepi di komplek perumahan orang kaya itu.
Hanya sesekali mobil lewat, sambil menatap ponselnya memikirkan Mira. Yang sedang hamil besar di kampung. Dia berfikir bodohnya Sampai bisa terkalahkan nafsunya. Andai itu tidak tejadi mungkin ia masih bisa menabung untuk membeli apa yang ia inginkan.
Tapi nasi sudah menjadi bubur, sebentar lagi dirinya akan menjadi seorang ayah dia saat usianya yang baru 20 tahun. Penyesalan selalu datang belakangan.
"Hey, Lo sedang apa?,"tanya Radit yang tiba-tiba ada di hadapannya. "Eh gue lagi ngadem aja."sahut Erik.
Radit menemani Erik duduk, Radit menatap wajahnya."Lo keren, sebentar lagi punya anak, gue aja masih belum terfikirkan."sambil tertawa.
"Gue pun gak menyangka, tapi mau gimana lagi sudah nasibku."sahut Erik.
"Lo dan Eza temenan sudah lama ya, kata Eza Lo dan dia sudah dari kelas 1 SMA berteman."Ucapnya.
"Iya, gue dan Eza bersahabat hanya dia teman yang gue punya. Tidak ada lagi "sahut Erik.
"Lo pengen kuliah gak?,"tanya Radit , Erik langsung menoleh padanya. "Iya tentu saja lah, tapi tidak mungkin keluarga gue gak seperti seperti kelaurag Lo ."sahut Erik.
"Kalo Lo benar-benar menginginkan pasti ada jalan, di kampus ada kampus terbuka coba ikut"jawab Eza.
Erik hanya tersenyum, baginya tidak mungkin melanjutkan kuliah apalagi sekarang yang sudah berumah tangga rasanya tidak mungkin.
Malam semakin larut, Erik masih duduk di taman. Terlihat mobil datang. Ayahnya Radit pulang . "Eh gue ke dalam dulu ya, "Ucapnya.
Erik langsung beranjak membuka gerbang dan menguncinya kembali, "Erik ya, kau betah di sini..."ucap ayah Radit saat keluar dari mobilnya. "Iya , pak..." sahutnya. "Syukurlah, kalo ada apa-apa bilang saja ya "sahut ayah mau Radit beranjak masuk rumah.
Iapun kembali ke kamarnya, melihat ponsel tidak ada pesan dari Mira. Erik pun menelpon Mira tapi tidak di angkatnya. Erik senang setidaknya kerjanya gak berat Iapun tertidur menutup hari nya yang lelah.
Mira mualai melupakan nya, dia sudah tidak sabar ingin anak ini lahir. Setelah adanya Fadi dalam hatinya.
"Pak, gimana Fandi setuju gak dengan Mira?"tanya ibunya Mira takut dia bersama orang lain begitupun Mira dia takut Fandi berpaling ke orang lain.
"Gak tahu Bu, dia belum menjawab tapi dia tiap hari kerja ke kantornya. "Sahut ayah Mira.
"Emang pak Fandi kerja apa?"tanya Mira.
"Kau gak tahu Mira , Fandi kerja di bank. "Seketika Mira senang sudah tetunya hidupnya terjamin.
"Tuh kan, kalau saja kau dengar kata ibu mungkin kau tidak akan begini "ucap ibunya. ..
Mira Hanya terdiam menyesali apa yang telah dia lakukan selama ini, dia berfikir andai waktu bisa di ulang dia tidak akan mengambil keputusan bodoh ini.
Namun Mira pun merasakan betapa cintanya pada Erik dulu, sampai-sampai mau uang tabungannya di kasihkan padanya.
"Iya Bu, ini salah Mira tapi mau gimana lagi sudah terjadi "keluh Mira menyesali apa yang telah dia lakukan.
"Ya sudah lah, yang terpenting sekarang gimana caranya Fandi bisa mau dengan mu. Itu saja, siapa sih orang tua yang gak mau punya menantu seperti Fandi walau duda dia baik sudah mapan, kejaran jelas.."Ujar ayahnya Mira.
"Ya sudah Bu, Mira capek mau tidur beranjak ke kamar dengan perut buncitnya.
Mira berharap Fandi menerimanya.
Erik, dia tidak tahu kalo dirinya akan di ceraikan Mira ketika anaknya sudah lahir. Mira akan memberikannya anaknya padanya, Sementar Mira akan menikah lagi dengan Fandi. Rencana jahat itu sudah dia atur dengan ibunya.
\*\*\*
Hari masih begitu pagi, Erik bangun karena dia harus membuka gerbang rumah. Setiap hari dia lakukan membuatnya terbiasa.
Pagi hari saat Erik sedang membersihkan halaman, bibi memanggilnya."Erik, sini.."panggil bibi yang sedang bikin sarapan. "Ini sarapan dulu."ucapnya memberikan nasi dan sup.
"Tumben dia baik sekarang" gumam Erik dalam hatinya, "terima kasih bi .." sahut erik sambil sarapan di luar.
Dret.... Dret....ponselnya bergetar. Erik langsung mengangkat berharap itu dari Mira.
"Rik, gimana kabarmu bapak sudah lama gak menelepon mu."ucap ayahnya, rupanya ayahnya yang menelpon.
"Pak, iya baik pak bapak Suka lihat Mira gak keluar rumah."sahut Erik.
"Mira, dia jarang keluar Rik. Tapi sepetinya baik-baik saja kemarin-kemarin bapak lihat dia jalan bersama ibunya. Emang kenapa?" Tanya ayah nya.
Erik ingin memberi tahu kalo hubungannya dengan Mira sudah tidak lagi seperti dulu. Erik merasa Mira cuek Sekarang. Tapi saat akan membicarakan pada ayahnya Erik berfikir takut jadi fikiran ayahnya.
"Gak apa pak, Erik baik-baik saja. Pak ada apa?" Balik bertanya.
"Syukurlah, ia Rik bisa bantu bapak gak. Bapak lagi butuh buat modal lagi "ucapnya sudah tentunya ayahnya minta uang padanya.
"Berapa pak, Erik pun ini nabung buat lahiran Mira." Sahutnya.
"1juta sajat, ada gak. "ucap ayah Erik.
Sambil mendecak Erik bingung, diapun kalo di kasihkan pada ayahnya akan kurang untuk biaya kelahiran istrinya apalagi sebentar lagi lahirnya.
"Pak, ada cuman gimana ya Erik juga bingung ini untuk persalinan Mira. Sebentar lagi dia melahirkan, pak.'ucapnya, Erik merasa tidak enak menolak permintaan ayah nya.
"Ya sudah gak apa, bapak juga mengerti. Ya sudah kau baik-baik di sana ya..."ucap nya sambil menutup teleponnya.
Tiiiiiittttt
Suara klakson mobil bunyi, Erik kaget langsung berlari membuka pintu gerbang majikannya dan Radit akan berangkat.
Iapun kembali kerja pagi itu di luar, cuaca yang begitu cerah seharian kerja di halaman rumah besar Radit. Jenuh kadang Erik rasakan tapi demi uang dia terus bertahan.
\*\*\*\*
Jam menunjukan pukul 8 , Mira masih berleha-leha di tempat tidur. Melihat pesan dari Erik dan telpon yang tidak di jawabnya dia pun melempar ponselnya.
Sudah tidak peduli dengan suaminya di kota yang sedang mencari nafkah untuk biaya persalinannya.
Mira beranjak ke luar, melihat ibunya yang sedang jemur pakaian. "Mira sudah waktunya ya "ucap tetangga saat melihat Mira keluar dengan perut besarnya. Ibu langsung menoleh pada Mira. "Iya, bi..."sahut Mira.
Ibunya melotot, menyuruh dia masuk lagi ke rumah. Dia begitu malu dengan kehamilan Mira karena suaminya Erik.
"Bu, bapak gimana akan bertanya lagi gak sama Fandi?"tanya Mira.
"Gak tahu ah, salah sendiri milih si Erik sudah pusing, malu dengan perbuatan mu . Perempuan bodoh malah ngejar si Erik ke kota. "ibunya terus ngomel dia kesal dengan apa yang sudah di perbuat Mira.
Tok-tok-tok, seseorang mengetuk pintu ibunya Mira beranjak membuka pintu. Ternyata ayah Erik datang.
"Iya, pak ada apa?"tanya ibunya Mira dengan tatapan sinis.
"Mau lihat keadaan Mira, soalnya Erik tadi menanyakannya "sahut ayah Erik melihat Mira sedang duduk di depan tv.
"Dia baik-baik saja , katakan pada si Erik gak usah mengkhawatirkan anakku urus saja dirinya sendiri. Dan dengar ya pak sebentar lagi Mira lahir anak ini bawa sana. kami tidak mau , Mira pun sudah gak mau lagi dengan si Erik dia akan menikah lagi "ucap ibunya Mira.
"Tapi kenapa? Erik sedang berjuang mencari menafkahi buat Mira di kota. "sahut ayah Erik yang kaget dengan perkataan ibunya Mira akan menikah kan Mira dengan orang lain.
Tersenyum sinis, "menafkahi? kapan dia ngasih duit hah kapan? makan saja masih dari kami. Dengar ya setelah melahirkan Mira akan mencarikan Erik dan dan aku gak Sudi punya menantu miskin seperti Erik. heh.." ucap ibunya Mira langsung menutup pintu di depan ayah Erik.
Ayah Erik hanya bisa mengelus dada tidak percaya dengan apa yang di dengarnya. Mira akan menceraikan Erik?
Ayahnya tidak tahu lagi dia begitu kasihan padanya, dia berfikir untuk menyudahinya dan memberi tahu Erik tetang keluarganya yang sebenarnya.