NovelToon NovelToon
Fragmen Yang Tertinggal

Fragmen Yang Tertinggal

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa / Enemy to Lovers / Cintapertama / Cinta Murni / Berbaikan / Tamat
Popularitas:345
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

​Di antara debu masa lalu dan dinginnya Jakarta, ada satu bangunan yang paling sulit direnovasi: Hati yang pernah patah.
​Lima tahun lalu, Kaluna Ayunindya melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya: meninggalkan Bara Adhitama—pria yang memujanya—dan cincin janji mereka di atas meja nakas tanpa sepatah kata pun penjelasan. Ia lari ke London, membawa rasa bersalah karena merasa tak pantas bersanding dengan pewaris tunggal Adhitama Group.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Kopi Dingin dan Pesan Terlarang

​Bara terbangun karena suara gorden otomatis yang terbuka, membiarkan sinar matahari Jakarta yang terik menampar wajahnya.

​Ia mengerjap, meraba sisi ranjang di sebelahnya. Kosong. Dingin. Spreinya rapi, seolah tidak ada yang tidur di sana semalam.

​Bara duduk, kepalanya berdenyut nyeri akibat kurang tidur dan stres. Ingatan tentang Anniversary yang terlewat menghantamnya lagi. Ia melirik jam dinding digital: pukul 07.30.

​Bara menyeret langkahnya keluar kamar menuju ruang makan.

​Pemandangan di sana tampak normal, namun terasa asing. Arka dan Luna sudah duduk di kursi makan mereka, sibuk dengan sereal. Kaluna berdiri di dekat meja pantri, sudah rapi dengan setelan kerja jumpsuit krem yang elegan. Rambutnya diikat ponytail tinggi, wajahnya dipoles make-up tipis yang menyembunyikan mata sembabnya dengan sempurna.

​"Pagi, Pa!" sapa Arka ceria, tidak menyadari ketegangan di udara.

​"Pagi, Jagoan," Bara memaksakan senyum, mencium puncak kepala Arka dan Luna.

​Ia berjalan mendekati Kaluna. Istrinya itu sedang menuang susu ke gelas Luna.

​"Lun..." panggil Bara pelan, mencoba menyentuh bahu Kaluna.

​Kaluna bergeser selangkah ke samping dengan gerakan halus, seolah hendak mengambil tisu, namun efeknya membuat tangan Bara menggantung di udara.

​"Kopimu ada di meja," ucap Kaluna datar, tanpa menoleh. "Tapi mungkin sudah dingin. Aku buatkan dari jam enam tadi."

​Bara menelan ludah. Ia melihat cangkir kopi hitam di meja makannya. Tidak ada uap yang mengepul.

​"Kaluna, soal semalam..." Bara mencoba lagi. "Aku benar-benar minta maaf. Situasi di Bali chaos. Pos keamanan dibakar. Aku panik dan—"

​"Tidak perlu dijelaskan, Bara," potong Kaluna. Akhirnya ia menoleh. Tatapannya tenang, terlalu tenang. Seperti permukaan danau yang membeku. "Aku mengerti. Kamu CEO. Ribuan orang bergantung padamu. Wajar kalau makan malam konyol itu jadi prioritas terakhir."

​"Itu bukan makan malam konyol," bantah Bara cepat. "Itu hari pernikahan kita."

​"Ya. Dan sudah lewat," Kaluna melirik jam tangannya. "Sekarang sudah tanggal 25. Topik ditutup."

​Kaluna mengambil tas kerjanya dan tas bekal anak-anak.

​"Ayo, Arka. Nanti terlambat sekolah. Luna, ayo sama Mama."

​"Kamu... nggak sarapan sama aku?" tanya Bara, merasa seperti anak kecil yang ditinggalkan.

​"Aku ada site visit pagi ini," jawab Kaluna singkat. Ia menggandeng kedua anaknya menuju pintu lift pribadi.

​Sebelum pintu lift tertutup, Kaluna menatap Bara sekali lagi.

​"Oh ya, kado jam tangannya dipakai ya. Fitur pengukur stresnya bagus. Sepertinya kamu butuh itu supaya tahu kapan harus berhenti menyakiti dirimu sendiri... dan orang lain."

​Pintu lift tertutup.

​Bara berdiri mematung di ruang makan yang luas dan sunyi. Ia menatap cangkir kopi dingin di depannya. Ia menyesapnya sedikit.

​Pahit. Dan asam. Persis seperti perasaannya saat ini.

​Di dalam mobil Alphard yang membawanya membelah kemacetan Kuningan, Kaluna duduk diam menatap jalanan.

​Anak-anak sudah di-drop di sekolah dan daycare. Kini ia sendirian dengan pikirannya.

​Kaluna tidak marah. Ia lelah.

Ia lelah menjadi pihak yang selalu "mengerti".

Ia lelah menjadi pendukung yang setia di belakang layar, sementara Bara bersinar di panggung dan melupakan siapa yang menyiapkan lampunya.

​Kaluna mengeluarkan ponselnya. Ia membuka pesan dari Elang yang semalam tidak ia balas.

​Elang:

Saya punya lahan kosong di tebing Uluwatu untuk museum itu. Konturnya menantang. Butuh arsitek gila yang berani main struktur kantilever. Saya pikir cuma kamu yang bisa.

​Tangan Kaluna melayang di atas layar.

​Jika ia membalas ini, ia membuka pintu bagi masa lalunya. Ia tahu Elang punya motif lain selain bisnis. Tapi di sisi lain, kalimat Elang tentang "struktur kantilever" dan "tebing Uluwatu" memantik api di otak arsiteknya yang sudah lama padam karena kesibukan mengurus desain standar hotel bintang lima.

​Kaluna butuh validasi. Ia butuh merasa dirinya adalah Kaluna si Arsitek, bukan cuma Nyonya Bara.

​Dengan jari gemetar, Kaluna mengetik balasan.

​Kaluna:

Kirimkan data kontur tanahnya ke email pribadiku. Aku akan lihat apakah itu layak atau tidak. Ini murni profesional, Elang.

​Sent.

​Detik setelah pesan itu terkirim, Kaluna merasakan campuran rasa bersalah dan kepuasan yang aneh. Ia baru saja membuat keputusan kecil untuk dirinya sendiri, tanpa melibatkan Bara.

​Sementara itu, di Kantor Adhitama.

​Suasana rapat pagi itu mencekam. Bara membanting laporan harian ke meja, membuat seluruh manajer divisi menunduk takut.

​"Kenapa rilis pers soal Bali belum naik di portal utama? Julian, tim kamu kerja apa tidur?" bentak Bara.

​Julian, yang duduk di sampingnya, menghela napas sabar. "Sudah naik di tiga portal besar, Bar. Sisanya sedang proses review redaksi. Sabar sedikit."

​"Kita nggak punya waktu buat sabar! Elang terus menggoreng isu ini di media sosial!" Bara memijat pelipisnya kasar. Emosinya tidak stabil.

​Zara, yang duduk santai di ujung meja sambil memutar-mutar pulpen, berdeham keras.

​"Woi, Bos," panggil Zara. "Lo kenapa sih? Masuk kantor mukanya kayak orang abis diputusin pacar. Jangan bawa masalah rumah tangga ke meja rapat dong. Nggak profesional."

​Semua orang menahan napas. Hanya Zara yang berani bicara begitu pada Bara.

​Bara menatap Zara tajam, siap meledak. Tapi kemudian bahunya merosot. Zara benar. Dia melampiaskan kekesalannya pada Kaluna ke timnya.

​"Rapat bubar. Kecuali Julian dan Zara," perintah Bara lelah.

​Para manajer berhamburan keluar secepat kilat.

​Begitu pintu tertutup, Julian menatap sahabatnya dengan prihatin.

​"Lo lupa anniversary semalam, kan?" tembak Julian.

​Bara tidak menjawab, hanya menyandarkan punggungnya ke kursi dan menutup wajah dengan tangan. "Gue kacau, Jul. Gue sampai rumah jam sebelas. Dia udah tidur."

​"Dan lo nggak bangunin dia?"

​"Gue nggak berani. Gue lihat dia nyiapin makanan dari Amuz. Dingin semua."

​Julian meringis. "Parah. Makanan dingin itu simbol hati yang beku, Bro."

​"Terus tadi pagi?" tanya Zara kepo. "Dia ngamuk? Lempar piring?"

​"Nggak," jawab Bara suara parau. "Dia tenang. Dia bikinin kopi, urus anak, terus pergi kerja. Dia bilang 'nggak perlu dijelasin'. Itu lebih nyeremin daripada dia teriak."

​"Itu namanya fase numb (mati rasa)," analisis Zara sok tahu. "Cewek kalau udah di tahap itu bahaya. Artinya dia udah capek berharap sama lo."

​Bara menegakkan tubuhnya. Kata-kata Zara menohoknya. Capek berharap.

​"Gue harus perbaiki ini," gumam Bara. "Gue akan ajak dia dinner ulang malam ini. Gue akan kosongkan jadwal."

​"Semoga berhasil," kata Julian ragu. "Tapi saran gue, jangan cuma dinner. Lo harus kasih sesuatu yang nunjukin kalau lo menghargai dia. Bukan barang mahal, tapi waktu."

​Ponsel Bara berbunyi. Pesan dari Pak Hamengku.

​Pak Hamengku:

Saya dengar ada masalah keamanan di Bali. Saya mau meeting darurat nanti malam jam 19.00. Wajib hadir.

​Bara menatap layar ponsel itu dengan putus asa.

Lagi.

Dilema yang sama.

​"Pak Hamengku minta rapat jam tujuh malam," lapor Bara lemas.

​Zara dan Julian saling pandang.

​"Lo pergi rapat," kata Zara tegas. "Biar gue sama Julian yang urus Elang sementara ini. Tapi Bar, lo harus kasih tahu Kaluna sekarang. Jangan mendadak kayak kemarin."

​Bara mengangguk. Ia mengambil ponselnya untuk menelepon Kaluna.

​Tapi jarinya terhenti.

Bagaimana dia bilang pada istrinya bahwa dia akan membatalkan janji makan malam (yang baru dia rencanakan di kepalanya sendiri) untuk kedua kalinya berturut-turut?

​Bara meletakkan ponselnya.

Nanti saja, pikirnya. Nanti siang gue telepon.

​Sebuah keputusan penundaan yang akan ia sesali, karena di saat yang sama, notifikasi email masuk ke ponsel Kaluna.

​From: Elang Pradipta

Subject: Tanah Uluwatu & Tiket Penerbangan

​Data tanah terlampir. Saya akan ke Bali lusa untuk survei. Kalau kamu mau melihat potensinya langsung, saya sudah siapkan tiket atas namamu. Penerbangan jam 10 pagi. Pikirkanlah.

****************

Bersambung...

Terima kasih telah membaca📖

Jangan lupa bantu like komen dan share❣️

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!