NovelToon NovelToon
Kontrak Hati Seorang CEO

Kontrak Hati Seorang CEO

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:141
Nilai: 5
Nama Author: Akmaluddinl

Nareswari (18), gadis desa peraih beasiswa, dipaksa menerima perjodohan dengan Arjuna Bhaskara (27), CEO dingin yang sinis terhadap cinta karena trauma masa lalu. Pernikahan mereka hanyalah kontrak kaku yang didasari janji orang tua. Di apartemen yang sunyi, Nares berjuang menyeimbangkan hidup sebagai mahasiswi baru dan istri formal. Mampukah kehangatan dan kepolosan Nares, yang mendambakan rumah tangga biasa, mencairkan hati Juna yang beku dan mengubah ikatan kontrak menjadi cinta sejati, di tengah kembalinya bayangan masa lalu sang CEO?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akmaluddinl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2 KHSC

Jam dinding di ruang kerja Arjuna Bhaskara menunjukkan pukul sepuluh malam. Jakarta, yang biasanya bising dan penuh hiruk pikuk, tampak seperti permadani bercahaya yang terbentang di bawahnya, sunyi dan terkendali dari ketinggian lantai ke-30 gedung Bhaskara Corp. Namun, keheningan itu tidak membawa kedamaian bagi Arjuna. Ia tidak pernah mencari kedamaian; ia mencari kendali.

Arjuna, atau Juna, dikenal di kalangan industri sebagai sosok yang brilian namun dingin. Di usianya yang baru 27 tahun, ia telah memimpin perusahaan ayahnya menjadi raksasa teknologi yang disegani di Asia Tenggara. Ia adalah arsitek utama di balik keberhasilan tersebut. Matanya tajam, tatapannya langsung menembus inti masalah, dan ia tidak pernah membuang waktu untuk basa-basi atau emosi. Bagi para karyawannya, Juna adalah Dewa Bisnis yang tak tersentuh, bekerja 16 jam sehari, hidup hanya untuk angka, investasi, dan inovasi.

Di balik jas mahal yang selalu membungkus tubuh atletisnya, tersembunyi sebuah benteng. Benteng yang ia bangun kokoh tujuh tahun lalu, ketika cinta mengkhianatinya dengan cara yang paling menyakitkan.

Ia meletakkan pulpen emasnya. Di hadapannya, terhampar laporan keuangan kuartal ketiga yang sempurna. Namun, pikirannya melayang ke laporan yang sama sekali tidak sempurna: laporan perjodohan.

Ayahnya, Pak Baskara, baru saja kembali dari pertemuan dengan keluarga Kirana di desa. Pertemuan itu membahas detail teknis pernikahan yang harus disegerakan, seiring dengan jadwal kuliah Nares yang semakin dekat.

“Gadis itu baik, Juna. Harjo dan Lastri adalah orang-orang sederhana yang tulus. Dia akan menjadi istri yang baik,” kata ayahnya siang tadi, wajahnya penuh harapan.

Juna hanya menanggapi dengan anggukan formal. “Dia akan menjadi formalitas yang baik, Ayah. Tidak lebih.”

Ia memejamkan mata, membiarkan ingatan pahit itu mengalir. Tujuh tahun. Angka yang terasa sakral dan penuh laknat dalam hidupnya. Tujuh tahun lalu, ia bukan Juna yang sekarang. Ia adalah seorang pemuda ambisius, idealis, dan, yang paling fatal, jatuh cinta.

Ia mencintai Maya, kekasihnya selama lima tahun, sedalam ia mencintai mimpinya membangun Bhaskara Corp. Saat itu, Juna baru lulus, sedang merintis perusahaan dari nol, berdarah-darah. Ia menjanjikan masa depan cerah, rumah, dan kehidupan mewah bagi Maya. Maya adalah inspirasinya, penyejuk hatinya di tengah badai pekerjaan.

Namun, cinta ternyata memiliki harga, dan harga itu jauh lebih tinggi daripada yang bisa ia tawarkan saat itu.

“Maaf, Juna. Aku tidak bisa menunggumu menjadi sukses. Aku butuh kepastian sekarang. Dan Bimo bisa memberikannya.”

Kalimat itu, diucapkan Maya dengan mata kosong sambil memamerkan cincin berlian seharga mobil yang melingkar di jarinya, menghancurkan Juna. Bimo adalah rival bisnisnya, pria yang jauh lebih tua, jauh lebih mapan saat itu. Maya memilih uang, kemapanan instan, dan meludah di atas janji lima tahun mereka.

Juna bukan hanya dikhianati sebagai kekasih, tetapi juga dihina sebagai pria yang berjuang.

Sejak saat itu, hati Juna membeku, terkunci rapat. Ia memutuskan bahwa emosi adalah kelemahan, dan cinta adalah ilusi yang hanya membawa kehancuran dan kerugian. Ia mengubah dirinya menjadi mesin, membuang semua kelembutan, dan hanya fokus pada satu hal: kesuksesan tak terbatas, sehingga tidak ada lagi yang bisa meremehkan atau meninggalkannya karena alasan materi. Ia memang berhasil. Dalam tujuh tahun, ia melampaui Bimo dan Maya. Namun, ia membayar harga mahal: jiwanya terasa mati rasa.

Perjodohan ini. Kenapa ia menyetujuinya?

Alasan itu terukir jelas di bingkai foto perak di sudut mejanya: foto dirinya bersama Kakek Haris, sang pendiri Bhaskara Corp.

Kakek Haris adalah satu-satunya orang yang tahu betapa hancurnya Juna saat ditinggalkan Maya. Kakeknya, di ranjang terakhirnya, memohon Juna untuk menepati janji lama dengan sahabatnya. Janji untuk menyatukan dua keluarga melalui pernikahan.

“Jangan mati sendirian, Cucu Ku. Bisnis hebat, tapi kehangatan keluarga itu pelabuhan,” bisik Kakek Haris sebelum menghembuskan napas terakhirnya, setahun lalu.

Permintaan terakhir itu adalah sebuah beban, tetapi juga sebuah kewajiban yang tidak bisa Juna tolak. Ia berutang segalanya pada Kakeknya.

Maka, Juna setuju, tetapi dengan caranya sendiri: Kontrak.

Ia memerintahkan pengacara pribadinya untuk menyusun perjanjian pranikah yang sangat detail. Ini bukan pernikahan romantis, melainkan kemitraan bisnis berjangka waktu.

Poin-poin dalam kontrak itu jelas:

Pernikahan berlangsung selama Nares menempuh pendidikan S-1.

Tidak ada tuntutan nafkah batin atau keterlibatan emosional.

Kewajiban Juna hanya menafkahi secara materiil dan menyediakan tempat tinggal.

Juna dan Nares akan memiliki kamar terpisah (setidaknya, di awal).

Status pernikahan akan disembunyikan dari publik kantor Juna, dan disembunyikan di kampus Nares.

Ia melihat Nares sekilas saat pertemuan formal itu. Gadis desa yang sangat muda, lugu, dan tampak kebingungan dengan segala kemewahan di sekitarnya. Pakaiannya sederhana, tangannya memegang tas kain yang tampak usang.

Dia polos. Terlalu polos, pikir Juna dengan nada meremehkan.

Ia melihat bayangan dirinya yang dulu dalam kepolosan Nares—penuh harapan yang mudah dihancurkan. Juna tidak mau ada drama. Ia tidak mau ada air mata. Ia ingin pernikahan ini berjalan senyap, seperti mesin yang beroperasi tanpa emosi, dan berhenti tepat waktu.

“Dia akan beradaptasi dengan kampus dan kota. Dia akan menyadari bahwa dunia ini kejam. Dia akan sibuk dengan dunianya, dan aku dengan duniaku. Sesederhana itu,” gumam Juna, mencoba meyakinkan dirinya sendiri.

Namun, ada sedikit ganjalan yang mengganggu pikirannya. Ketika Nares menatapnya, matanya tidak menunjukkan ketamakan atau ambisi yang biasa ia lihat dari wanita-wanita kota yang mencoba mendekatinya. Mata Nares menunjukkan kesedihan, dan yang paling membuat Juna terusik, ada secercah kehangatan yang aneh, kontras dengan aura dingin apartemennya.

Kehangatan. Juna sudah lama sekali tidak merasakan sensasi itu.

Ia menarik napas panjang, membuka laci mejanya, dan mengambil sebuah kotak beludru hitam. Di dalamnya ada dua buah cincin kawin yang sangat sederhana, tanpa berlian berlebihan, sesuai permintaan Ayahnya yang menginginkan kesederhanaan.

Juna menatap cincin itu. Sebuah ikatan. Ikatan yang ia tahu pasti akan ia lepaskan dalam empat tahun. Baginya, cincin ini bukan simbol cinta, melainkan sebuah rantai kewajiban yang akan ia potong begitu waktu kontraknya habis.

Ia tahu, Nares datang dari latar belakang yang menghargai ikatan suci pernikahan, bukan kontrak. Hal ini membuatnya sedikit merasa bersalah, tetapi rasa bersalah itu cepat-cepat ia tutupi dengan jubah sinisnya.

Ini demi kebaikan kita berdua. Aku tidak bisa mencintai lagi, dan dia tidak boleh berharap lebih. Dengan begitu, tidak akan ada yang terluka parah ketika kontrak ini berakhir.

Juna meraih telepon interkomnya. “Rio, pastikan semua persiapan legal untuk acara besok sudah selesai. Dan minta sopir membersihkan kamar tamu utama di apartemen. Gadis itu… Nares, akan tinggal di sana.”

“Kamar tamu utama, Pak? Bukan kamar yang di sebelah kamar Bapak?” tanya Rio, sekretaris pribadinya, terdengar sedikit terkejut.

Juna menekan tombol interkom lagi, nadanya datar dan dingin, tidak menyisakan ruang untuk pertanyaan. “Ya. Kamar tamu utama. Batas-batas harus jelas, Rio. Sejak awal.”

“Baik, Pak Arjuna.”

Juna menutup interkom. Ruangan itu kembali hening. Ia berdiri, mendekati jendela, menatap ke bawah. Ia adalah Juna Bhaskara, CEO muda yang sukses, pemilik segalanya, kecuali kehangatan dan hati yang utuh.

Dan besok, ia akan menikahi seorang gadis lugu yang ia yakini akan membawa kehangatan yang tak ia butuhkan, dan yang ia bersumpah untuk tidak akan pernah ia biarkan masuk ke dalam benteng hatinya. Ia hanya akan menjadi suami di atas kertas, pelindung formal, dan penafkah. Selebihnya, Juna akan tetap menjadi CEO berhati es. Ia sudah pernah hancur sekali; ia tidak akan pernah membiarkan dirinya hancur lagi.

Ia kembali ke mejanya, membuka laptop, dan kembali menyelami angka-angka. Hanya di dunia bisnis, di antara data dan grafik, ia merasa aman. Dunia pernikahan yang akan ia masuki adalah zona bahaya emosional, dan ia akan melintasinya tanpa emosi.

Satu-satunya pertanyaan yang tidak bisa ia jawab malam itu, adalah: kenapa ia merasa sedikit gelisah saat membayangkan gadis desa itu berada di bawah atap yang sama dengannya, hanya beberapa langkah dari kamarnya?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!