Kakek Robert memang orang yang senang melucu, saking lucunya sampai membuat surat wasiat yang mensyaratkan musuh bebuyutan, Jenson dan Rachel, harus tinggal dalam satu atap dan mereka harus menikah.
Padahal setiap kali mereka bertemu, kata-kata setajam pisau akan melesat dan menusuk harga diri mereka. Enam bulan bukan waktu yang singkat dan 150 miliar bukan jumlah yang sedikit. Apalagi warisan sebesar itu hanya diturunkan kepada mereka berdua, bukan kepada saudara-saudara kakek Robert.
Bulan pertama merupakan bulan yang terberat di mana mereka harus saling bertoleransi. Di bulan itu pula juga mereka mulai menyadari percikan gairah yang muncul. Tapi tidak semuanya berjalan lancar karena ternyata ada seseorang yang menginginkan kematian mereka berdua dan memperoleh warisan Kakek Robert…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28
“Kau masih menginginkan pangeran berkuda putih dalam imajinasimu?” padahal Jenson menyukai Rachel terlebih di saat wanita itu sedang berbaring seperti ini beralas bantal dan seprai dengan rambut terurai bagai api berkobar, pipi agak merona, mulut di ujung cemberut. “Aku menginginkanmu, Rachel."
Kata-kata itu merasuki kulitnya dan membuat otot-ototnya lemas. Jenson tidak bersungguh-sungguh. Tak mungkin Jenson bersungguh-sungguh. “Menjadi sepasang suami istri adalah sesuatu yang memerlukan banyak pemikiran. Kita jarus membicarakannya lebih dalam lagi."
“Aku tidak ingin membicarakannya.” Jenson menempelkan bibirnya ke bibir Rachel sampai ia bisa merasakan tubuh wanita itu melunak. “Kita tidak sedang mengadakan penggabungan perusahaan, Rachel, kita akan bercinta sebagai sepasang suami istri.”
“Sudah cukup.” Rachel berupaya melawan gejolak hasratnya. Bersikaplah praktis. Itulah peraturan utamanya. “Kita ini mitra bisnis, Jenson. Setidaknya selama beberapa bulan yang akan datang. Jika kita mengubahnya sekarang, kita bisa...”
“Jika,” sela Jenson. “Jika kita bisa. Apa kau selalu membutuhkan jaminan?”
Alis Rachel bertaut kala kejengkelan berpadu dengan gairah. “Untuk melihat dari semua sudut pandang diperlukan akal sehat.”
“Aku rasa kau bakal menyuruh calon kekasihmu mengisi formulir pendaftaran dulu.”
“Kau sendiri tidak pernah berpikir dengan akal sehat,” cerca Rachel.
“Kau tidak akan mengenali cinta seandainya saja cinta itu jatuh menimpa kepalamu. Menurutmu bijaksana ya, kalau sepasang suami istri lantas berpura-pura tidak melakukannya? Yang ingin kau sebut kehati-hatian, aku sebut kemunafikan.”
“Ingat perjanjian kita, kita hanya nikah pura-pura. Jadi simpan na*sumu untuk penari-penari dan gadis-gadis paduan suaramu.”
“Aku tidak pernah bercinta dengan wanita yang tidak aku sayang dan kuhormati.” Sebelum bertindak melampaui batas dan melakukan sesuatu yang lebih dari sekadar mengguncang Rachel, ia bangkit dan berjalan ke arah pintu sementara Rachel duduk di tengah-tengah tempat tidur sambil mencengkeram seprai dan kelihatan marah besar.
“Tampaknya kau mudah sekali menebar sayang pada orang.”
Jenson hanya melirik sekilas, pikiran Rachel salah tentangnya, apa yang ia kini rasakan kepada Rachel berbeda dari perasaannya kepada wanita lainnya. Namun ia tak memberikan argumenya, ia memilihnuntuk kembali ke kamarnya.
...****************...
Suatu perang dingin mungkin tidaklah semenarik perang terbuka, tapi dengan peserta yang tepat, perang semacam itu bisa menjadi sama merusaknya. Selama berhari-hari Rachel dan Jenson saling mengawasi. Jika yang satu mengeluarkan komentar sarkastis, yang lainnya bersiap-siap dan membalas dengan kekasaran yang sama. Tak ada seorang pun yang mengeluarkan bendera merah sebagai tanda serangan penuh, mereka malah saling mencela sementara para pelayan memutar-mutar bola mata mereka dan menunggu pertumpahan darah.
“Bodoh,” cerca Jesica saat menutup adonan dua pai apel. “Anak-anak manja,” ucapnya pada Nyoman. “Mereka berdua perlu diberi pelajaran.”
“Mereka masih perlu melewati empat bulan lagi.” Nyoman duduk dengan muram di balik meja dapur, menikmati secangkir teh. “Mereka tidak akan berhasil jika seperti ini terus. Padahal Tuan Robert ingin mereka memiliki rumah ini. Selama mereka menjadi pemiliknya, kita tidak akan kehilangan rumah ini.”
“Apa yang akan kita lakukan di rumah besar kosong ini kalau mereka berdua kembali ke rumah mereka masing-masing? Seberapa sering masing-masing dari mereka berkunjung kalau Tuan sudah tidak ada?” Jesica meletakkan adonan penutup itu ke sebuah panci dan menipiskannya dengan ahli.
“Tuan ingin mereka memiliki rumah ini, itu betul. Dan dia ingin mereka saling memiliki. Rumah ini membutuhkan sebuah keluarga. Tergantung pada kita untuk mewujudkannya.”
“Kau tidak mendengar percakapan mereka sewaktu makan pagi.” Nyoman menyeruput tehnya dan mengamati Jesica menuangkan campuran apel basah ke adonan penutup tadi. “Itu tak ada hubungannya dengan ini. Aku sudah melihat cara mereka memandangi satu sama lain ketika mereka berpikir yang lainnya tidak memperhatikan. Yang mereka perlukan hanyalah sedikit dorongan.”
Dengan sebuah gerakan cepat dan praktis, Jesica mengisi adonan kedua. “Kita akan mendorong mereka, agar rukun kembali.”
Nyoman meregangkan tungkai kakinya. “Kita terlalu tua untuk mendorong-dorong orang muda agar berbaikan.”
Jesica bersungut-sungut singkat sambil berbalik. Tangannya gempal, dan tangan itu dikacakkannya di pinggang. “Menjadi tua adalah kuncinya. Akhir-akhir ini kau merasa agak kepayahan.”
“Tidak, sebenarnya, aku malah sudah merasa lebih baik minggu ini.”
“Kau merasa kepayahan,” ulang Jesica, merengut padanya. “Sekarang Rachel, sedang mendekat untuk makan siang. Ikuti saja petunjukku. Cobalah untuk kelihatan agak pucat.”
selamat kk irma, sukses selalu 🥰🥰🥰