Shen Yu hanyalah seorang anak petani fana dari Desa Qinghe. Hidupnya sederhana membantu di ladang, membaca buku-buku tua, dan memendam mimpi yang dianggap mustahil: menjadi kultivator, manusia yang menentang langit dan mencapai keabadian.
Ketika ia bertanya polos tentang kultivator, ayahnya hanya menegur jalan itu bukan untuk orang seperti mereka.
Namun takdir tidak pernah meminta izin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CH.11
Tiga hari setelah insiden "penyakit misterius" Gou San, reputasi Shen Yu di Asrama Kayu Hitam berubah. Tidak ada yang tahu pasti apa yang ia lakukan, tetapi ketakutan adalah guru terbaik. Tidak ada lagi yang berani menagih uang perlindungan padanya.
Sore itu, Shen Yu memanfaatkan waktu luangnya untuk pergi ke Paviliun Kitab.
Bangunan itu tua dan berbau kertas lapuk, tempat ribuan gulungan teknik tingkat rendah dan catatan sejarah tersimpan. Tujuan Shen Yu bukan mencari teknik baru ia sudah punya Tinju Penghancur Batu yang dimodifikasi melainkan mencari tahu tentang Giok Retak di dadanya.
Ia melangkah masuk. Suasana di dalam sunyi senyap, hanya terdengar bunyi halaman dibalik.
Di meja resepsionis, duduk seorang gadis muda mengenakan jubah murid pelayan berwarna abu-abu. Matanya terpejam, dan tangannya bergerak perlahan di atas sebuah buku yang permukaannya dipenuhi lubang-lubang kecil (huruf braille kuno).
Shen Yu meletakkan lencana muridnya di meja. "Aku ingin mencari bagian Sejarah Artefak Kuno."
Gadis itu tidak membuka matanya. Ia menghentikan gerakan jarinya. Wajahnya cantik namun pucat, dengan ekspresi datar seperti boneka porselen.
"Lorong ketiga, rak paling bawah," jawab gadis itu. Suaranya lembut, namun memiliki gema aneh yang membuat bulu kuduk Shen Yu meremang. "Tapi kau tidak akan menemukan apa yang kau cari di sana."
Shen Yu mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"
Gadis itu akhirnya membuka matanya. Tidak ada pupil hitam di sana, hanya selaput putih keruh. Dia buta.
"Namaku Su Ling," ujarnya pelan. Ia memiringkan kepalanya sedikit ke arah dada Shen Yu. "Jantungmu memiliki ritme yang aneh. Ada dua detak. Satu milikmu... dan satu lagi gema dari sesuatu yang tua dan lapar."
Tangan Shen Yu refleks menyentuh dadanya, menutupi posisi Giok Retak di balik bajunya. Jantungnya berdegup kencang. Bagaimana dia bisa tahu?!
"Kau salah dengar," kata Shen Yu dingin, berusaha menyembunyikan kepanikannya.
"Telingaku tidak pernah salah," balas Su Ling tenang. "Kau datang membawa bau darah kering dari asrama, dan niat membunuh yang kau tekan dalam-dalam. Kau berbahaya, Shen Yu."
Shen Yu menatap gadis buta itu dengan waspada. Indera gadis ini melampaui Indra Roh biasa. Apakah dia mata-mata sekte? Atau musuh?
"Apa yang kau inginkan?" desis Shen Yu.
Su Ling kembali memejamkan matanya dan melanjutkan membaca bukunya. "Tidak ada. Aku hanya penjaga buku. Tapi ingat ini: Benda yang memiliki kesadaran biasanya menuntut bayaran dari pemiliknya. Hati-hati, atau kau akan dimakan oleh takdirmu sendiri."
Shen Yu terdiam lama. Peringatan itu menusuk tepat di kekhawatirannya selama ini. Ia mengambil kembali lencananya dan bergegas masuk ke lorong rak buku, menjauh dari gadis misterius itu.
Ia menghabiskan dua jam membolak-balik buku sejarah tentang "Giok Jiwa", "Pecahan Surga", dan "Artefak Pengikat", namun hasilnya nihil. Tidak ada catatan tentang giok hijau retak yang bisa memodifikasi teknik bela diri.
Dengan kecewa, Shen Yu keluar dari paviliun saat senja mulai turun.
Baru beberapa langkah ia meninggalkan gedung perpustakaan, sebuah kipas lipat menghalangi jalannya.
"Kau sulit sekali ditemui akhir-akhir ini, Saudara Shen," suara itu familiar, namun nadanya tidak lagi jenaka.
Shen Yu mendongak. Jin Bo berdiri bersandar di batang pohon plum, wajahnya serius. Tidak ada senyum pedagang licik yang biasa ia pasang.
"Aku sibuk berlatih, Jin Bo," jawab Shen Yu singkat, mencoba melangkah pergi.
Jin Bo menggeser tubuhnya, kembali menghalangi jalan. "Sibuk berlatih? Atau sibuk menyembunyikan jejak?"
Suasana menegang. Angin sore yang menerbangkan daun kering terasa lebih dingin.
"Aku memeriksa catatan ujian," kata Jin Bo pelan, matanya menatap tajam ke mata Shen Yu. "Kau masuk ke gerbang finis lima menit sebelum aku. Padahal di tangga ke-500, kau hampir pingsan dan aku meninggalkanmu jauh di belakang. Secara matematis, mustahil kau menyusulku lewat jalur utama tanpa aku melihatmu."
Shen Yu mengepalkan tangannya di dalam lengan baju. Jin Bo terlalu pintar.
"Mungkin kau terlalu lelah sampai berhalusinasi," elak Shen Yu.
"Jangan bohong padaku!" bentak Jin Bo tiba-tiba, menutup kipasnya dengan keras. "Aku menganggapmu teman, Shen Yu! Aku membantumu di hutan, aku membawamu ke kota, aku memberimu uang untuk teknik pertamamu! Dan kau... kau bersekutu dengan siapa? Tetua Mo?"
Nama itu membuat Shen Yu tersentak.
"Darimana kau tahu?"
Jin Bo tertawa getir. "Keluargaku pedagang informasi. Aku tahu siapa saja anjing-anjing Tetua Mo di sekte ini. Dan cara masukmu yang 'ajaib' itu... itu gaya khasnya. Jalur tikus."
Jin Bo melangkah mendekat, mencengkeram kerah baju Shen Yu. "Dengar, bodoh. Tetua Mo itu lintah darat. Dia akan memerasmu sampai kering lalu membuang mayatmu ke parit. Kau pikir kau pintar mengambil jalan pintas? Kau baru saja menggali kuburanmu sendiri!"
Shen Yu menepis tangan Jin Bo kasar. Kemarahan dan rasa malu bercampur aduk di dadanya.
"Kau tidak tahu apa-apa tentang hidupku, Tuan Muda Jin!" geram Shen Yu, suaranya bergetar. "Kau lahir di atas tumpukan emas. Jika kau gagal ujian, kau tinggal pulang dan mewarisi bisnis ayahmu! Tapi aku? Jika aku gagal, aku kembali jadi petani yang diinjak-injak sampai mati!"
"Aku tidak punya pilihan!" lanjut Shen Yu, matanya berkilat liar. "Ya, aku mengambil jalan pintas! Ya, aku berhutang pada iblis! Karena hanya itu satu-satunya cara orang sepertiku bisa berdiri di tempat yang sama dengan orang sepertimu!"
Jin Bo tertegun. Ia melihat keputusasaan yang rawat dan nyata di mata Shen Yu.
Keheningan yang menyakitkan membentang di antara mereka.
Perlahan, ekspresi marah di wajah Jin Bo melunak, digantikan oleh kekecewaan yang mendalam. Ia mundur selangkah, membuka kipasnya lagi, tapi kali ini gerakannya kaku.
"Baiklah," ucap Jin Bo pelan. "Setiap orang punya Dao-nya masing-masing. Jika Dao-mu adalah jalan kegelapan dan tipu daya... maka aku tidak bisa berjalan di sampingmu lagi."
Jin Bo berbalik, memunggungi Shen Yu.
"Hati-hati, Shen Yu. Mulai sekarang, kita bukan teman. Kita hanya sesama murid. Dan di dunia kultivasi... itu artinya kita adalah saingan."
Jin Bo berjalan pergi, jubah sutra birunya melambai ditiup angin, meninggalkan Shen Yu berdiri sendirian di bawah bayang-bayang pohon plum yang mulai meranggas.
Shen Yu menatap punggung itu menjauh. Ada rasa sakit di dadanya—rasa kehilangan teman pertama yang ia miliki. Tapi ia menelannya bulat-bulat, mengeraskan hatinya seperti batu kali.
"Maaf, Jin Bo," bisiknya pada angin. "Tapi aku akan terus mendaki, meski harus sendirian."