Suamiku punya dua identitas? Mana yang benar?
Demi adik yang sedang tertidur panjang dalam komanya, Ellena akhirnya memutuskan menerima ajakan menikah dari seorang pria yang paling dia benci. Namun, apakah lelaki itu memang sejahat itu? Seiring berjalannya waktu, Ellena mulai meragukan itu. Akan tetapi, kehadiran sosok Darren yang tak pernah Ellena ketahui keberadaannya selama ini, seketika membuat keraguan Ellena kembali menguap. Mana sosok asli yang sebenarnya dari suaminya? Bima atau Darren?
Selamat datang di dunia percintaan yang bertabur intrik perebutan harta dan tahta!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28
Pagi yang ceria untuk gadis berkuncir kuda yang sedang asyik menyiapkan sarapan untuk keluarga barunya. Di iringi senandung ria yang bergema di seisi dapur membuat kegiatan memasak El semakin nampak meriah. Bibi Laila dan 2 pembantu lainnya hanya bisa tersenyum menyaksikan menantu majikannya yang entah mengapa terlihat sangat bahagia di dapur. Dengan teliti ia memperhatikan gadis manis yang sebentar lagi berusia 21 tahun itu terlihat amat sangat sudah terbiasa di dapur. Sedangkan dia dan 2 pembantu lainnya hanya menjadi penonton dan sesekali mendapat tugas hanya memotong sayuran atau mencucinya.
"Non El sudah biasa ya kerja di dapur ?." Tanya Bi Laila penasaran.
Ellena menoleh dan menyunggingkan senyum manis di bibirnya. "Eh, iya bi ! Dari kecil Ellena sudah di ajari mama buat kerja di dapur. Jadi, kalau buat sekarang sih udah kebiasaan banget." Ellena kembali melanjutkan kegiatan memasaknya. Meski hanya memasak nasi goreng, tetapi Ellena sengaja memasak porsi banyak agar semua yang tinggal di rumah besar ini kebagian. Tidak terkecuali pembantu , security dan juga supir. Ellena sudah menjelaskan kepada Bi Laila bahwa ia ingin memasak sendiri sebagai tanda perkenalan untuk semua penghuni rumah yang tinggal di sini.
"Wah, gak heran Non El kelihatan lincah banget. Pasti mama Non El bangga banget punya anak cantik, baik, dan pintar ngurus rumah kayak Non El. Bibi jadi iri." Kata Bi Laila seraya menyiapkan beberapa piring untuk di tata dua pembantu lainnya di meja makan.
"Semoga aja Bi. El juga berharapnya kayak gitu."
"Memangnya mamanya Non El gak pernah bilang bangga ke Non ?." Bi Laila kembali bertanya penasaran.
Ellena tertawa kecil sambil mematikan kompor. Nasi gorengnya sudah matang sekarang.
"Dulu sih, sering. Tapi sekarang udah nggak."
"Memangnya kenapa gitu, Non ?".
"Mama sama papa saya udah meninggal, Bi. Kecelakaan 4 tahun lalu." Ellena meraih tempat nasi untuk meletakkan nasi gorengnya.
"Maaf, Non ! Bibi gak tahu." Ucap Bi Laila prihatin. Ada nada bersalah dalam ucapan wanita paruh baya itu.
El melambaikan tangannya. "Sudah, Bi. Gak apa-apa." Ellena kemudian menyendok nasi goreng ke piring lalu menyodorkan kepada Bi Laila untuk di coba.
"Cobain Bi !".
Bi Laila mengangguk dan menyendok sesuap nasi goreng di hadapannya. Satu detik. Dua detik. Senyum kagum terpancar di wajah wanita paruh baya itu.
"Enak banget, Non ! Ini sih berasa kayak nasi goreng di restoran. Non El jago banget masaknya. Hebat." Puji Bi Laila.
Dua pembantu lainnya mendekat. Penasaran juga ingin mencoba masakan dari menantu majikannya. El menyodorkan dua piring lagi untuk dua pembantu tersebut.
"Beneran enak, Non ! Kalo kayak gini sih, Non El buka restoran aja. Saya jamin pasti laku." Ningsih, salah satu pembantu yang usianya lebih tua 6 tahun dari Ellena mengacungkan jempolnya. Memuji masakan Ellena yang memang benar-benar enak.
"Non El, kalau habis saya boleh tambah ?". Tanya Lala malu-malu, pembantu satunya lagi yang bertubuh agak gempal yang berusia 3 tahun lebih tua dari El.
Ellena tertawa mendengar pertanyaan malu-malu Lala. "Boleh, tapi jangan lupa bagi ke yang lainnya juga."
"Siap Non ! Biar Lala yang urus." Kata Lala senang. Bibi Laila dan Ningsih hanya menggeleng melihat kelakuan Lala yang memang tidak pernah merasa puas jika hanya makan seporsi makanan.
Ellena mulai menata Nasi goreng di meja makan untuk kedua mertuanya dan suami menyebalkannya. Ellena tersenyum manis melihat makanan yang sudah tersaji di atas meja. Sangat sempurna dan tidak kurang suatu apa pun.
"Wah, kelihatan enak nih ! Kamu yang masak, El ?". Suara Nyonya Puspa terdengar sangat heboh di meja makan. Tuan Satya mengikutinya dari belakang dan duduk di kursi tunggal, khusus kepala keluarga.
"Baunya harum sekali, El. Ini kamu bikin sendiri ?".Tuan Satya ikut bertanya. Lupa jika pertanyaan yang sama baru saja di lontarkan oleh istrinya 10 detik yang lalu.
"Iya, Ma. Pa ! Ini Ellena yang bikin. Semoga mama sama papa suka, ya !". Ellena menyendok beberapa nasi goreng buatannya ke piring Tuan Satya dan Nyonya Puspa bergantian.
"Tuh, kan beneran enak ! Mama jadi ingat rasa nasi goreng langganan kita dulu, Pa. Mirip nggak sih?" Sahut Nyonya Puspa setelah sendok pertama masuk ke dalam mulutnya.
Tuan Satya belum menjawab. Ia masih memasukkan sendok kedua ke dalam mulutnya. Sejenak ia memejamkan mata lalu tersenyum kecil.
"Iya Ma ! Ini benar-benar persis kayak rasa restoran langganan kita. Sudah lama sekali papa baru ngerasain rasa nasi goreng ini lagi." Tuan Satya seolah-olah larut dalam nostalgia masa lalu.
"Ada apa nih ? Kok heboh banget ?". Tanya Bima yang baru saja datang. Lelaki itu berjalan ke meja makan seraya mengancingkan lengan kemejanya. Setelahnya, ia berjalan menghampiri Ellena, lalu menghadiahi kecupan ringan di pipi istrinya itu. Kemudian Bima mengambil posisi duduk tepat berhadapan dengan mamanya dengan sikap biasa-biasa saja. Berbeda dengan Bima yang tampak tenang seolah tak terjadi apa-apa, lain halnya dengan Ellena. Mata gadis itu mengerjap beberapa kali, berusaha mengembalikan kesadarannya setelah aksi tak terduga dari pria jangkung yang kini duduk tepat di sebelahnya. Sekali. Dua kali. Bahkan sudah tiga kali Ellena berusaha, namun tetap saja aliran darah ke otaknya nampak masih membeku. Jantung kurang ajarnya bahkan berdetak dua kali lebih cepat di banding jika ia berlari mengejar bis. Astaga, apa pria di sampingnya ini tidak merasakan apa-apa ?
"El, kamu kenapa ?". Suara Nyonya Puspa berhasil menarik kesadaran Ellena kembali. Sepertinya aliran darah yang sempat membeku tadi perlahan mulai mencair sekarang.
Dengan cepat, Ellena menggeleng. " Nggak, nggak apa-apa, Ma !". Jawabnya dengan terbata-bata.
"Suami kamu ambilin nasinya juga dong, sayang !". Perintah Nyonya Puspa lembut.
"Eh,,, Maaf !"
Sadar akan kelupaannya, Ellena dengan sigap meraih piring di depan Bima lalu menyendokkan nasi goreng ke dalamnya. Setelah di rasa cukup, ia kembali meletakkan piring yang sudah terisi itu di hadapan Bima.
Bima hanya melirik Ellena sekilas kemudian memakan makanan di hadapannya dengan lahap.
"Bim, gimana rasanya ? Mirip sama nasi goreng langganan kita nggak sih ?". Tanya Nyonya Puspa penasaran. Ia sangat yakin bahwa Bima akan sependapat dengannya.
Bima hanya mengangguk. "Iya Ma." Kemudian ia melirik Ellena di sampingnya." Mama yakin, bocah ini yang masak ? Jangan-jangan cuma beli di restoran itu doang kali !". Bima melempar tatapan sinis penuh keraguan pada Ellena yang lagi-lagi di sambut dengan tatapan galak oleh Ellena.
"Ih, Bima ! Masa' sama istri sendiri gak percayaan sih ? Kalau kamu gak percaya, tuh tanyain ke Bi Laila, sana !". Seru Nyonya Puspa yang kini memandang ke arah Bi Laila yang tengah sibuk merapikan dapur. Bibi Laila hanya mengangguk sopan saat Bima ikut berbalik melihatnya.
"Setahu Papa, rasa nasi goreng di sana udah gak seenak dulu lagi, Bim ! Mungkin karena koki di sana udah di ganti kali." Sahut Tuan Satya.
Ellena yang sedari tadi mendengar percakapan mereka mulai penasaran.
"Memangnya, resto langganan Papa sama mama di mana ?". Celetuk Ellena.
Nyonya Puspa meletakkan sendoknya. Menatap Ellena dengan ingatan yang menjelajah mencari nama jalan tempat restoran itu berada.
"Kalo gak salah, di jalan Cempaka. Namanya Restoran Rasa Cinta."
Seperti batu yang menindih dadanya, rasa sesak kembali mendera Ellena. Sekelabat ingatan masa kecilnya tentang bagaimana ia, Ellio dan mamanya berlarian di dapur restoran itu sambil saling melempar adonan tepung terasa baru kemarin terjadi. Ellena tertegun, matanya berkaca-kaca.
"Kenapa ?". Tanya Bima bingung seraya menggoyangkan lengan Ellena.
Gadis itu menggeleng, lalu menatap ketiga orang itu satu per satu. Setelahnya, satu senyuman yang sulit di artikan tersungging di bibirnya.
"Nggak apa-apa ! Restoran itu dulu punya mama. Tapi sekarang sudah di ambil alih dan di kelola keluarga Mahardika."
Ketiga orang itu sontak terkejut dan kompak menatap Ellena tak percaya. Kebetulan yang sangat hebat, bukan ?
**Hai para pembaca setia Pernikahan Kontrak, Author mengucapkan Selamat Hari raya Idul Fitri 1441 H. Mohon Maaf lahir & batin ya ... Maafin kalau ceritanya kurang joss di hati kalian. Maafin juga kalau ada typo dan kesalahan tanda baca ya ...
Jangan Lupa vote, comment & like sebanyak-banyaknya untuk memberikan semangat bagi Author untuk terus update setiap harinya.
Thank you. Tetap semangat dan stay di rumah ya !!!!😊 😊 😁**