Winter Alzona, CEO termuda dan tercantik Asia Tenggara, berdiri di puncak kejayaannya.
Namun di balik glamor itu, dia menyimpan satu tujuan: menghancurkan pria yang dulu membuatnya hampir kehilangan segalanya—Darren Reigar, pengusaha muda ambisius yang dulu menginjak harga dirinya.
Saat perusahaan Darren terancam bangkrut akibat skandal internal, Winter menawarkan “bantuan”…
Dengan satu syarat: Darren harus menikah dengannya.
Pernikahan dingin itu seharusnya hanya alat balas dendam Winter. Dia ingin menunjukkan bahwa dialah yang sekarang memegang kuasa—bahwa Darren pernah meremehkan orang yang salah.
Tapi ada satu hal yang tidak dia prediksi:
Darren tidak lagi sama.
Pria itu misterius, lebih gelap, lebih menggoda… dan tampak menyimpan rahasia yang membuat Winter justru terjebak dalam permainan berbeda—permainan ketertarikan, obsesi, dan keintiman yang makin hari makin membakar batas mereka.
Apakah ini perang balas dendam…
Atau cinta yang dipaksakan takdir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. N. Aida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 — “Aku Tidak Siap Kehilanganmu”
Pagi itu, kantor pusat Alzona Group tidak lagi terasa seperti benteng kekuasaan bagi Winter. Atmosfernya berubah menjadi medan perang yang sunyi. Kabar tentang "skandal dokumen bocor" yang melibatkan Darren mulai merayap di grup-grup pesan internal karyawan dan beberapa portal berita daring kelas dua. Meskipun belum meledak secara nasional, api itu sudah mulai menjilat fondasi kredibilitas mereka.
Winter duduk di balik meja eksekutifnya, menatap folder biru yang baru saja diletakkan Adrian di hadapannya. Isinya adalah laporan final audit forensik. Kali ini, buktinya bukan lagi sekadar spekulasi. Ada tanda tangan digital Lysandra pada transfer dana gelap ke perusahaan cangkang milik Ethan Wray.
"Nona Winter, dewan direksi sudah mulai meminta penjelasan. Tuan Hendrawan menuntut rapat darurat siang ini," ujar Adrian dengan nada prihatin. "Mereka melihat foto-foto Darren dengan pihak kompetitor yang disebarkan pagi ini. Mereka ingin Darren dinonaktifkan segera."
Winter menutup matanya sejenak. Tangannya gemetar. "Di mana Lysandra?"
"Dia ada di ruang konferensi kecil, sedang menunggu Anda. Dia... dia yang melaporkan temuan foto-foto itu ke dewan direksi secara resmi tadi pagi," jawab Adrian.
Winter bangkit dengan sisa-sisa kekuatannya. "Panggil Darren. Minta dia menemuiku di sana."
Langkah kaki Winter bergema di koridor marmer yang dingin. Saat ia membuka pintu ruang konferensi, ia melihat Lysandra sedang berdiri menghadap jendela, memegang cangkir kopi dengan ketenangan yang memuakkan.
"Kak, kau sudah lihat beritanya? Sudah kubilang sejak awal, Darren itu racun," ujar Lysandra tanpa merasa bersalah. Ia berbalik, memasang wajah penuh empati palsu. "Aku sudah membantu Kakak dengan melaporkannya lebih dulu ke dewan. Kita bisa menyelamatkan Alzona jika kita segera membuangnya."
Winter berjalan mendekat, setiap langkahnya terasa berat. "Kau sangat hebat dalam berakting, Lysandra. Sejak kapan kau belajar mengkhianati darah dagingmu sendiri?"
Wajah Lysandra sedikit menegang, namun ia tertawa kecil. "Apa maksudmu, Kak? Aku justru sedang menyelamatkanmu dari pria yang menghancurkan keluarga kita sembilan tahun lalu."
Winter melemparkan folder biru itu ke atas meja. "Audit forensik, Lysandra. Rekening di Singapura. Penjualan saham ke Ethan Wray. Aku tahu semuanya. Darren tidak mengkhianatiku. Kau yang melakukannya."
Ruangan itu mendadak sunyi senyap. Topeng manis di wajah Lysandra perlahan retak, digantikan oleh ekspresi dingin dan penuh dendam yang belum pernah Winter lihat sebelumnya.
"Jadi kau sudah tahu?" Lysandra meletakkan kopinya di meja dengan kasar. "Ya, memang aku. Tapi kau tahu kenapa, Winter? Karena aku muak hidup di bawah bayang-bayangmu! Ayah selalu memujamu, memberikanmu segalanya, sementara aku hanya dianggap sebagai 'cadangan'. Dan sekarang, kau mendapatkan pria itu kembali? Pria yang seharusnya menjadi milikku?"
Winter terperanjat. "Milikmu?"
"Aku yang pertama kali menyukai Darren di Tokyo! Tapi dia hanya melihatmu! Ayah tahu itu, dan dia menggunakan kecemburuanku untuk membantunya memisahkan kalian," teriak Lysandra, air mata amarah mulai mengalir. "Aku membencimu, Winter. Aku lebih baik melihat Alzona hancur di tangan Ethan Wray daripada melihatmu bahagia dengan Darren."
Tepat saat itu, pintu terbuka. Darren masuk, dikawal oleh dua petugas keamanan perusahaan yang diperintahkan oleh dewan direksi. Wajahnya tetap tenang, seolah ia sudah mengantisipasi momen ini.
"Tuan Reigar, dewan direksi meminta Anda meninggalkan gedung ini segera atas tuduhan spionase industri," ujar salah satu petugas dengan ragu.
Winter maju ke depan, berdiri di antara Darren dan petugas tersebut. "Berhenti! Dia tidak akan pergi ke mana pun."
"Winter, biarkan saja," kata Darren pelan, memegang bahu Winter. "Ini bagian dari rencana mereka. Jika kau membelaku sekarang tanpa bukti publik yang kuat, dewan akan menjatuhkanmu juga."
"Aku tidak peduli!" Winter berbalik, menatap Darren dengan tatapan yang penuh dengan ketakutan akan kehilangan. "Aku sudah kehilanganmu sekali karena kebohongan ayahku. Aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi karena kebohongan adikku."
Lysandra tertawa sinis. "Sudah terlambat, Kak. Ethan sudah memegang semua akses ke sistem keuangan kita. Begitu foto-foto ini menjadi berita utama di media besar satu jam lagi, saham Alzona akan jatuh, dan Ethan akan melakukan pengambilalihan paksa."
"Tidak semudah itu, Lysandra," suara Darren memecah kepuasan adiknya. Pria itu mengeluarkan sebuah flash drive dari sakunya. "Data yang kau kirim ke Ethan selama ini? Itu adalah data arus kas yang sudah aku modifikasi sejak di Tokyo. Ethan berpikir Alzona sedang kekurangan likuiditas, padahal kita sedang memegang surplus terbesar dalam sejarah perusahaan. Dia menghabiskan ratusan juta dolar untuk membeli saham 'sampah' yang sebenarnya tidak ada harganya karena aku sudah memindahkan aset inti Alzona ke perusahaan induk baru yang sepenuhnya milik Winter."
Lysandra memucat. "Apa? Tidak mungkin..."
"Ethan Wray baru saja melakukan bunuh diri finansial," lanjut Darren dingin. "Dan mengenai foto-foto itu? Aku sengaja bertemu dengan 'kompetitor' itu karena mereka adalah agen investigasi swasta yang aku sewa untuk mendokumentasikan setiap pertemuanmu dengan Ethan. Kami memiliki video kalian berdua di hotel itu, Lysandra. Lengkap dengan suara."
Winter menatap Darren, merasa terpana. Di titik terendah hidupnya, saat ia merasa dikhianati oleh seluruh dunianya, pria ini telah menyiapkan jaring pengaman yang begitu luas untuk menangkapnya.
"Petugas, tolong bawa Nona Lysandra ke ruang keamanan. Polisi sedang dalam perjalanan untuk kasus penggelapan dana dan sabotase korporat," perintah Winter, suaranya kini kembali tegas meski hatinya hancur.
Lysandra berteriak dan meronta saat dibawa keluar, meninggalkan keheningan yang menyakitkan di ruang konferensi tersebut. Winter jatuh terduduk di kursi, seluruh kekuatannya seolah hilang terbawa oleh teriakan adiknya.
Darren mendekat, meminta semua orang keluar, termasuk Adrian. Ia berlutut di depan Winter, mengambil tangan wanita itu yang dingin dan gemetar.
"Sudah selesai, Winter. Alzona aman. Kau aman," bisik Darren.
Winter menatap Darren, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah. Ia menarik Darren ke dalam pelukannya, memeluk pria itu dengan sangat erat, seolah takut jika ia melepaskannya sedikit saja, Darren akan menguap seperti mimpi.
"Maafkan aku... maafkan aku untuk semuanya," isak Winter di dada Darren. "Aku begitu buta oleh dendam sampai aku hampir menghancurkan satu-satunya orang yang benar-benar mencintaiku."
Darren membalas pelukan itu, membelai rambut Winter dengan lembut. "Aku tidak pernah menyalahkanmu, Winter. Aku tahu betapa berat beban yang kau pikul sendiri selama ini."
Winter menarik diri sedikit, menatap mata Darren dengan intensitas yang jujur. "Kontrak itu... masa enam bulan itu... aku ingin membatalkannya."
Darren tersenyum tipis, mengusap air mata di pipi Winter. "Kau ingin aku pergi lebih cepat?"
"Tidak!" seru Winter refleks. "Aku... aku tidak siap kehilanganmu lagi, Darren. Jangan pergi. Jangan pernah pergi lagi. Aku tidak peduli dengan Alzona, aku tidak peduli dengan harta ini. Aku hanya ingin kau."
Di ruang konferensi yang menjadi saksi pengkhianatan paling menyakitkan itu, Winter Alzona akhirnya meruntuhkan benteng terakhirnya. Bukan karena kalah dalam bisnis, tapi karena ia menyerah pada kebenaran bahwa tanpa Darren, semua kesuksesannya hanyalah sebuah istana pasir yang sunyi.
Darren mengecup kening Winter, sebuah janji tanpa kata yang lebih kuat dari kontrak mana pun yang pernah mereka tandatangani. "Aku tidak akan ke mana-mana, Winter. Aku sudah menunggu sembilan tahun untuk momen ini. Aku tidak akan membiarkan apa pun memisahkan kita lagi."
Di luar, badai finansial mungkin sedang mengamuk saat Ethan Wray menyadari kehancurannya, dan media mungkin sedang riuh oleh skandal keluarga Alzona. Namun di dalam ruangan itu, untuk pertama kalinya dalam satu dekade, Winter merasakan kedamaian yang sejati. Ia telah kehilangan adiknya, ia telah kehilangan citra ayahnya, tapi ia telah menemukan kembali jiwanya yang sempat hilang di bawah salju Tokyo.