Balada cinta rumah tangga memang tidak selamanya mulus, terkadang walau dari luar nampak indah dan mesra, namun siapa sangka akan hancur begitu saja.
Moment aniversary pernikahan tahun kelima Gemintang hancur berantakan, disaat William suami yang sangat dia banggakan beradu des@h@n dengan kakak iparnya sendiri didalam kamarnya, bahkan disaat pesta masih berlangsung. Padahal selama ini keluarga mereka hidup rukun dalam satu atap, karena kakak kandung Gemintang bekerja sebagai pelayar yang jarang pulang, dan kasihan jika istrinya harus tinggal dirumah sendirian, ternyata rasa kasihan itu malah menjadi duri dalam hubungan adeknya dan juga dirinya sendiri.
Akankah Gemintang mampu bertahan, atau lebih memilih rela melepaskan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iska w, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Bungkam.
...Happy Reading...
Apa yang dirasakan dihati Gemintang tidak seperti dulu lagi, saat dirinya hanya terpaut dengan satu hati, walau dia tadi malam sempat melihat suaminya tidak menggunakan satu helai benangpun yang melekat di tubuhnya, namun kekhawatirannya akan tergivr ternyata tidak terjadi sama sekali.
Rasa itu kini mulai melebur sedikit demi sedikit, mungkin karena rasa bencinya mampu mengalahkan segalanya, walaupun itu tidak baik, namun Gemintang hanyalah manusia biasa, bukan Malaikat yang bisa memaafkan kesalahan orang begitu saja.
" Apa aku sudah mati rasa ya? kenapa aku tidak se exited seperti dulu lagi saat bermajaan dengan suamiku ya?" Gemintang masih berdembunyi dibawah selimut tebalnya, misinya tadi malam sukses berat, William sama sekali tidak memaksanya, bahkan dia menemani Gemintang sepanjang malam sampai pagi tiba.
" Apa rasaku sudah pudar dengannya?" Pikirannya masih melayang entah kemana.
" Dan jantungku kenapa tidak berdebar-debar lagi saat mendengar suara pencapaian mas William?" Gemintang pun merasa aneh sendiri, ketika tubuhnya tidak bereaksi heboh seperti dulu lagi.
" Eh... tapi kenapa saat aku tanpa sengaja beradu pandang dan berdekatan dengan Bos datar itu aku malah deg-degan ya?" Tiba-tiba dia teringat saat kebersamaanya dengan Chris akhir-akhir ini.
" Woah... nggak beres ini, jangan sampai aku ikut menghianati janji pernikahanku juga!" Dia menggelengkan kepalanya, seolah mengusir syaiton-syaiton jahat yang berusaha mengelabuhi dirinya.
" Aku harus menghindarinya, setidaknya sampai aku benar-benar sudah bisa melepasnya." Gemintang mencoba bertekad didalam hati, namun entah kedepannya seperti apa, dia pun tidak bisa menebaknya.
" Tapi aku kan masih terikat perjanjian dengannya, gimana mau menghindar coba?" Kepalanya langsung berdenyut, rasanya terlalu lelah menghadapi kejutan-kejutan di hidupnya yang penuh dengan drama.
" Owh Tuhan.. aku harus bagaimana dan melakukan apa?"
Segala umpatan Gemintang ucapkan sendiri didalam hati, dia masih terbaring di kasur empuk miliknya, sedangkan William masih membersihkan diri di kamar mandi.
" Sayang... kamu nggak mandi?" William terlihat sudah segar, dengan hanya melilitkan sebuah handuk putih di pinggangnya, juga rambutnya yang masih sedikit basah, membuat Gemintang sejenak tertegun sambil memandang kearah suaminya.
Kamu memang ganteng mas, sempurna dalam bentuk fisik, tidak ada yang kurang darimu, tapi Pria sejati bukan dia yang punya banyak wanita dalam hidupnya, namun dia yang menolak banyak wanita hanya demi wanita yang dicintai, kenapa kamu tidak bisa melakukan itu mas? apa aku tidak pantas menjadi wanita yang hanya satu-satunya dihatimu?
" Sayang, hei... kenapa pagi-pagi sudah melamun? ada apa? cerita dong sama mas, sekarang kamu jarang loh curhat sama mas?" William berjalan mendekat kearah istrinya dan duduk disampingnya dengan penuh pesona seperti biasa.
" Owh... nggak papa mas, karena emang nggak ada bahan curhatan sih." Gemintang mencoba terus bersikap tenang dalam segi apapun.
" Em... bagaimana kalau akhir pekan nanti kita pergi jalan-jalan yuk?" Tanya William sambil mengacak rambut istrinya.
" Kayaknya nggak usah deh mas, kita istirahat saja dirumah, soalnya mas kan juga sudah capek bekerja, trus aku juga sudah ada janji duluan sama si Sabrina?" Gemintang langsung saja menolaknya.
Padahal dulu Gemintang yang selalu merengek agar suaminya kalau akhir pekan meluangkan waktu seharian penuh dengannya, hari inilah untuk yang pertama kalinya Gemintang menolak diajak pergi jalan-jalan di akhir pekan oleh William.
" Kamu itu kenapa sih yank? kenapa akhir-akhir ini sibuk terus?" William langsung mendengus kesal, dari raut wajahnya dia memang terlihat kecewa berat.
" Mana ada sibuk, aku cuma kasihan saja kalau melihat mas nanti jadi kecapekkan." Gemintang kembali beralasan.
" Dulu kamu selalu memintaku mengosongkan jadwal di akhir pekan, kenapa sekarang malah menolaknya?" Kecurigaan William kembali bertambah.
" Hmm... dulu memang aku seperti bocah ya mas, selalu merengek denganmu, mengajak mas pergi kesana kemari sesuka hatiku, tanpa memperdulikan keadaan mas capek atau tidak." Gemintang malah jadi teringat dengan sikapnya dulu.
" Sayang."
Akhirnya William melembutkan suaranya.
" Maaf ya mas, kalau selama ini aku selalu merepotkan dan menyusahkan kamu." Walau benci memenuhi hatinya, namun terkadang saat William lembut seperti ini dia merasa ikut bersalah.
Karena perpecahan sebuah rumah tangga pasti ada sebab akibatnya, walau sebenarnya bisa diatasi asalkan dengan komunikasi yang lancar, bukan sebuah pengkhianatan.
" Ada apa ini yank? kok malah jadi melow begini?" William mengusap pipi istrinya perlahan.
" Boleh aku tanya satu hal dengan kamu mas?" Tanya Gemintang dengan mata yang sudah hampir memerah, entah mengapa suasana hatinya menjadi sendu pagi ini.
Gemintang hanya mencoba untuk mengkoreksi diri, seberapa banyak kesalahannya dimasa lalu, sehingga suami yang paling dia sayangi dan yang paling dia prioritaskan didalam hidupnya tega mencari bunga lain dihatinya.
" Tentu, tanyakan saja sayang, anything." Jawab William sambil mengusap lengan istrinya.
" Apa kurangnya aku sebagai istri mas?" Tanya Gemintang yang langsung menyurutkan senyum dari wajah William.
Hening!
Bahkan kalau disekitar mereka ditumbuhi rumput ilalang pun suara jangkrik pasti akan terdengar, mereka diam dengan fikiran masing-masing.
" Emm... nothing." Jawab William seolah tersadar dari lamunan.
" Tolong katakan yang jujur mas, siapa tahu aku bisa memperbaiki diri agar bisa menjadi istri yang terbaik dan tidak terkalahkan oleh wanita manapun." Gemintang menundukkan pandangannya, mencoba menutupi kesedihan yang menyelimutinya.
Walau mungkin nanti tidak lagi denganmu.
" Emang nggak ada kok yank, kamu itu... emm... sempurna dimata aku." Jawab William sambil tersenyum dengan lebar.
Sempurna kok masih jajan dikamar kakak ipar?
" Masak sih? jangan bohong deh mas." Sangkal Gemintang.
Sampai kapan kamu akan bungkam mas?
" Kamu itu ngomong apa sih yank, semua yang ada pada dirimu mas suka, beneran yank." Jawab William yang langsung memalingkan wajahnya sejenak.
Lalu kenapa kamu masih membutuhkan orang lain? apa kamu sama sekali tidak memikirkan hati dan perasaanku saat kamu sedang selingkuh?
" Apa sangat sulit saat kita harus mengatakan sebuah kejujuran?" Ucap Gemintang dengan pandangan kosong.
" Mas jujur loh yank, ayolah... nggak usah kayak gitu, mas nggak mau berantem sama kamu ya, apalagi cuma karena masalah sepele seperti ini?" William tidak mau diabaikan lagi oleh istrinya.
" Jangan pernah menyepelekan sesuatu hal yang kecil menurut mas, karena biasanya dari situlah masalah besar akan muncul." Ucap Gemintang yang hanya bisa menghela nafasnya yang panjang.
Situasinya sudah menjadi sangat rumit dan sulit untuk mencari jalan penyelesaian, jika ada pun jalan keluarnya pasti akan menyakiti salah satu dari mereka atau bahkan keduanya.
" Sebenarnya kamu ada masalah apa sayang? makanya cerita dong, jangan buat mas bingung seperti ini?" William mengenggam kedua jemari Gemintang dan membawanya kedalam pangkuan.
Cerita pun percuma mas, hatiku sudah retak, airnya pun sudah keruh, terlalu sulit untuk bisa kembali seperti semula.
" Sudahlah... jangan dipikirkan mas, mungkin aku cuma lapar saja, jadi ngomongnya sedikit ngelantur, hehe..." Saat tidak ada jawaban pasti, lebih baik dia menyerah, karena mustahil juga suaminya akan berkata jujur tentang semua ini.
" Astaga yank... bilang dong kalau lapar, kita turun sarapan yuk? pasti bibi sudah menyiapkan sarapannya." William akhirnya bisa tersenyum kembali.
Biarlah waktu yang akan menjawab semuanya mas, karena mungkin hatimu sudah tertutup dengan kebiasaan burukmu dan juga egomu mas.
" Okey, baiklah."
Luka dibalik senyuman sudah menjadi hal yang biasa untuk Gemintang dalam menjalani kehidupannya akhir-akhir ini.
..." Yang sukit adalah instropeksi diri, yang mudah adalah menghakimi dan mengintimidasi....
...Jalani hidup dengan menyadari bahwa setiap manusia memiliki kekurangan, terutama diri sendiri."...
TO BE CONTINUE...
gak suka skip
hargai karya org lain
dpt suami krja dkt rumah dpt duet lbh sikit tp pikiran tenang krna tiap hr ada
pilih yg mana???
sabrina bru liat tuyul diatas genderuwo dibawah