Pengorbanan seorang ibu demi pengobatan anak nya rela menjual diri.
Adakah orang yang rela membayar nya dengan harga yang sangat mahal?
Sedang kan dia hanya seorang janda.
Penasaran yuk ikuti terus kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gentra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 28.
"Apa yang telah terjadi, Sehingga kamu bisa seperti ini,? " Jika belum siap untuk menjawab tidak apa-apa kita pulang sekarang, Jangan di ulangi hal seperti tadi. Itu tidak baik.
"Oh ya,, boleh tahu alamat mu? Saya akan mengantar mu pulang.
Mira memberikan alamat rumah nya, Mobil yang mereka kendari pun mulai melaju dan meninggalkan area pemakaman. Sepanjang perjalanan tidak ada percakapan, Mira hanya melihat ke Sisi jendela.
Sebetulnya jiwa y belum terlalu kuat untuk menerima semuanya, Baru saja mulai merasa tenang setelah pengobatan Zay. Namun kali ini harus di hadapan dengan keadaan seperti ini.
Sesekali Bu Delia melirik ke arah Mira, Entah kenapa hati Delia merasa ikut sakit melihat banyak tersimpan luka di mata Mira. Bu Delia memberanikan diri untuk memegang tangan Mira, Hal itu Mira terlonjak kaget.
" Jangan khawatir ada saya bersamamu sa'at ini", Ucap Delia entah apa yang terjadi dengan dirinya. padahal baru pertama bertemu dengan Mira namun merasa Sudah mengenal Mira dengan baik.
"Terimakasih, " Jawab Mira singkat.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama akhirnya sampai juga di kediaman Mira.
"Sudah sampai, Terimakasih banyak bu atas bantuannya" Mira keluar dari mobil di susul oleh Delia. Delia mengantar Mira sampai masuk ke rumah, Delia tidak mau sesuatu hal terjadi dengan Mira.
Mira pun mengetuk pintu, Setelah berapa sa'at menunggu pintu pun terbuka. Sosok anak kecil yang sangat lucu, Yang membuka pintu.Seketika mengalihkan perhatian Delia, Delia pun tersenyum ke arah Zay. Delia pun menyapa Zay, Sambil mengulurkan tangan nya. "Hai anak ganteng siapa namamu? " Tanya Delia sama Zay.
"Zay, Ucap Zay singkat. "
Mira pun mengajak Delia untuk masuk, Mempersilakan nya untuk duduk. Bibi pun membuatkan minuman hangat untuk mereka, Perbincangan di antara mereka pun mulai terjadi. Mira terlihat sudah lebih tenang dari sebelumnya, Zay yang duduk di samping Mira Namun matanya selalu tertuju pada wanita tua yang sedang duduk di hadapannya. Pada akhirnya Zay bertanya terhadap Mira.
"Ma nenek ini siapa, Zay kan nenek nya cuma ada satu terus yang ini siapa?" Tanya Zay terhadap Mira.
Namun bukannya menjawab Mira, Malah melihat ke arah bu Delia agar bisa menjelaskannya terhadap Zay. Zay orangnya tipe anak yang tidak akan puas dengan jawaban yang menurut nya tidak di mengerti. Delia pun tersenyum ke arah Zay sambil menjawab pertanyaan Zay.
"Jika mau Zay bisa panggil oma aja ya," Delia tersenyum manis ke arah Zay. Entah dorongan dari mana rasanya Ingin sekali Delia memeluk Mira bersama dengan Zay, Ada rasa yang tidak di mengerti.
Andai saja anak ku masih ada pasti sekarang sudah memiliki anak sepertimu, Dan saya sudah di panggil oma. Namun semua itu hanya lah tinggal nama yang hanya bisa di kenang bahwa dia pernah ada. "Delia berkata seperti itu sambil menatap Mira dengan tatapan yang sangat dalam, Bahwa Delia sangat merindukan sosok anak nya yang telah tiada. Delia bertemu Mira di pemakaman, Pada sa'at itu Delia telah berkunjung ke makam putri nya. Ketika hendak pulang melihat seorang wanita sedang menangis sambil memeluk lutut, Hal itu membuat Delia tidak tega melihat nya. Pada akhirnya Delia mendekati dan mengajak nya untuk bicara, Namun tidak ada respon sama sekali. Pada akhirnya entah itu sebuah ikatan atau hanya naluri seorang ibu yang telah kehilangan anak nya, Delia pun memeluk Mira. Delia memberi pengertian terhadap Mira bahwa dia bukan orang jahat. Delia hanya tidak tega melihat keadaan Mira pada sa'at itu.