NovelToon NovelToon
The Nick'S Life

The Nick'S Life

Status: tamat
Genre:Cinta Murni / Tamat
Popularitas:635.7k
Nilai: 5
Nama Author: D'Adrianz

Nick, usia 24 tahun. Memiliki wajah tampan, otak encer dan karir cemerlang. Namun semua itu tak membuat hidupnya bahagia. Hidupnya mulai terasa indah ketika bertemu dengan seorang gadis bernama Azizah.

Bersama Azizah dia merasakan artinya cinta. Namun sayang, orang tua Azizah tak merestui hubungan mereka. Demi bisa bersama, keduanya nekad melakukan hal terlarang yang berbuah petaka.

Nick dan Azizah berpisah dengan cara tak terduga. Kecelakaan tragis yang menimpa dirinya juga Azizah telah mengubah hidup pria itu seratus delapan puluh derajat.

Mampukah Nick menata hidupnya kembali? Apakah dia akan bersatu kembali dengan Azizah atau menemukan tambatan hati yang baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'Adrianz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kang Gombal

“Saya tunggu kamu sekarang.”

TUT

TUT

TUT

Panggilan diputuskan sepihak oleh wanita tersebut. Diah pun melangkahkan kakinya menuju lift. Dia cukup penasaran akan wanita yang menelponnya tadi. Jari telunjuknya memijit tombol G. Lift pun bergerak turun.

High heels Diah terdengar mengetuk lantai rumah sakit saat wanita itu berjalan menuju kantin yang terletak di bagian selatan rumah sakit. Matanya memandang berkeliling saat memasuki area kantin. Lalu terlihat seorang perempuan dengan kacamata hitam bertengger di hidungnya melambaikan tangan padanya.

Diah mendekati meja wanita tersebut kemudian menarik kursi di hadapannya. Wanita itu membuka kacamatanya. Diah memandang lekat pada wanita yang tak dikenalnya itu. Kemudian wanita itu mengeluarkan beberapa lembar foto dan melemparkannya ke meja. Diah melihat foto dirinya bersama dengan Sakurta.

“Sejak kapan kamu menjadi simpanan Sakurta?”

“Siapa kamu? Apa urusannya denganmu?”

“Tentu saja ada. Dia adalah suamiku, dasar pel*c*r!”

“Hahaha.. pel*c*r? Aku rasa julukan itu kurang tepat untukku. Yang benar adalah aku adalah wanita terindahnya.”

Wanita itu ternyata adalah Widya adalah istri sah dari Sakurta. Dari pernikahannya dengan Sakurta, Widya dikaruniai seorang anak perempuan yang baru saja menyelesaikan studi masternya di Amerika. Rencananya anaknya itu akan memegang tampuk kepemimpinan di hotel tempat Nick bekerja.

“Cih.. wanita terindah. Kamu tidak lebih hanya wanita pemuas n*fsu suamiku. Jika dia bosan, maka dia akan membuangmu.”

“Kalau begitu apa yang kamu takutkan dariku?”

“Aku tidak takut padamu, hanya saja aku tak sudi berbagi suamiku denganmu. Apalagi kamu ikut menikmati uang hasil keringatnya.”

“Itu bayaran yang harus dia berikan atas servis yang kuberikan, nyonya Sakurta.”

Widya begitu geram mendengar jawaban demi jawaban yang keluar dari mulut Diah. Ternyata wanita simpanan suaminya itu sama sekali tidak terintimidasi dengan kata-kata dan sikapnya. Dengan kesal tangannya hendak mengambil gelas di depannya, namun gerakannya kalah cepat dengan Diah. Wanita itu menyambar gelas berisi orange juice kemudian meneguknya sampai habis.

“Minuman manis seperti ini lebih cocok masuk ke tenggorokanku dari pada mengenai wajahku yang mulus ini.”

“Dasar wanita murahan!!”

“Aku anggap itu sebagai pujian.”

Widya semakin dibuat kesal dengan sikap arogan Diah. Dia kembali mengambil selembar foto dari dalam tas lalu menaruhnya di atas meja. Diah cukup terkejut melihat foto sang anak, namun sebisa mungkin wanita itu tetap bersikap tenang.

“Dia anakmu bukan? Nickolas Armando Littrell atau yang lebih dikenal dengan panggilan Nick. Bagaimana keadaannya sekarang? Apa dia mengalami cedera parah?”

“Kau!!!”

“Hmm.. ya aku yang sudah mengirimkan orang untuk memberinya pelajaran... ups.. maaf, maksudku untuk memberimu pelajaran.”

“Brengsek!! Beraninya kamu menyentuh anakku!!” emosi Diah mulai terpancing.

“Itu baru permulaan. Aku jamin kejutan-kejutan berikutnya akan semakin menarik,” Widya memainkan kuku-kuku tangannya. Kini dirinya mulai berada di atas angin.

“Apa maumu?”

“Tinggalkan Sakurta. Jangan pernah menemuinya lagi atau anakmu yang akan menerima akibatnya. Aku merelakan semua uang dan barang yang sudah diberikan suamiku padamu. Anggap saja itu sedekah untuk fakir miskin. Sekali lagi aku peringatkan, putuskan hubunganmu dengan Sakurta!”

Widya memakai kembali kacamatanya kemudian berdiri dari duduknya. Kemudian dengan langkah bak peragawati, wanita itu berlalu pergi. Diah mengepalkan kedua tangannya erat. Kemarahan begitu menguasai hatinya.

“Kamu sudah berani menyentuh Nick-ku, maka aku akan membuatmu lebih menderita lagi. Aku akan membuat Sakurta membencimu dan menceraikanmu.”

🍂🍂🍂

Iza masih setia menemani Nick di rumah sakit. Kesempatan ini mereka manfaatkan untuk mengenal lebih dalam lagi. Gadis itu juga mengatakan hal apa saja yang disukai dan tidak disukai abinya. Nick mengingat baik-baik apa yang dikatakan gadis tercintanya itu. Begitu dengan Nick, dia menceritakan tentang Diah. Dibalik predikatnya sebagai wanita simpanan, sebagai seorang ibu, wanita itu tetap melakukan tugasnya dengan baik. Percakapan kemudian berlanjut tentang impian mereka merajut masa depan bersama.

“Aku lagi nabung sekarang supaya bisa beli rumah buat kita nanti. Kamu mau rumah yang seperti apa Zi?”

“Aku suka tipe minimalis. Rumah ngga harus besar, cukup tiga kamar aja tapi ada tamannya, jadi aku bisa menanam bunga kesukaanku nanti.”

“Siap nyonya Littrell.”

Iza tersenyum mendengar panggilan untuknya. Perasaan Iza pada Nick semakin tumbuh subur melihat kesungguhan pria itu. Ditambah perlakuan manis padanya membuatnya semakin yakin untuk menghabiskan sisa hidup bersama.

“Tapi aku ngga bisa masak,” ujar Iza.

“Ngga masalah, kan kamu bisa belajar pelan-pelan. Boleh ngga sesekali kamu buatin makanan buatku?”

“Telor ceplok gosong mau?”

“Mau aja asal kamu yang buat.”

“Ish gombal banget sih kamu.”

“Mending gombalin kamu kan dari pada aku gombalin cewek lain.”

“Awas aja berani gombalin perempuan lain.”

“Ciee cemburu ya.”

“Kamu tuh lagi sakit tapi mulut kamu tetap ngga bisa diem.”

“Kan yang sakit badanku bukan mulutku.”

“Ish ngeles aja kaya bajaj.”

Nick tergelak mendengarnya. Percakapan terus mengalir di antara keduanya. Terkadang terdengar gelak tawa mereka atau pipi Iza yang kemerahan mendengar gombalan receh pria itu.

“Zi.. aku bosen di kamar. Jalan-jalan yuk, kita ke roof top. Ada taman di sana.”

“Tapi pake kursi roda ya. Lambung kamu masih memar jadi belum boleh banyak gerak.”

“Iya sayang.”

“Nick iiihh,” Iza memprotes pria itu yang terus menggodanya dengan panggilan sayang.

“Kenapa humaira?”

“Kok humaira? Kamu suka sama Mai ya.”

“Humaira kan panggilan Rasulullah untuk istrinya, Siti Aisyah yang artinya pipi putih yang kemerahan. Persis seperti pipi kamu sekarang, jadi ngga salah kan kalau aku panggil kamu humaira, meminjam panggilan Rasulullah untuk Aisyah.”

Iza memalingkan wajahnya ke arah lain untuk menyembunyikan semburat merah di pipinya. Dia berjalan menuju pojok ruangan dan menarik kursi roda yang memang disediakan untuk Nick.

Nick turun dari bed kemudian duduk di kursi roda tersebut. Perlahan Iza mendorong kursi keluar dari ruangan.

Sementara itu, Denis yang baru kembali dari agensi tempatnya bernaung bergegas memasuki lift, di saat bersamaan, Teresa keluar dari kotak besi tersebut. Wanita itu terkejut bertemu dengan Denis di sini.

“Denis.”

“Tante,” ujar mereka bersamaan.

“Kamu ngapain di sini? Sakit?”

“Ngga tan, temenku lagi dirawat di sini. Tante sendiri ngapain?”

“Abis suntik KB. Kamu mau jenguk temen kamu?”

“Iya tan.”

“Tante ikut ya.”

“Boleh tan.”

Teresa kembali masuk ke dalam lift disusul oleh Denis. Tak lama lift bergerak naik. Pintu lift terbuka ketika tiba di lantai lima. Denis terkejut melihat Iza dan Nick tengah menunggu di depan lift.

“Loh kalian mau kemana?”

“Mau ke roof top, Nick katanya mau jalan-jalan di luar.”

“Kamu Nick ya, sahabat Denis.”

Teresa menyela pembicaraan Iza dengan Denis. Teresa mengulurkan tangannya pada Nick yang langsung dibalas oleh Nick. Kemudian Denis juga mengenalkan Iza pada Teresa. Pikiran Iza menerka-nerka apa hubungan Denis dan Teresa.

“Yaah tan, yang dijenguk malah mau jalan-jalan,” ujar Denis.

“Balik ke kamar lagi aja, Zi.”

“Eh kalau mau jalan-jalan dulu, silahkan saja.”

“Beneran tan? Aku jadi ngga enak.”

“Ngga apa-apa. Saya bisa nunggu di ruangan kamu.”

“Maaf ya tan. Kita ngga lama kok.”

Teresa hanya mengangguk seraya melemparkan senyuman. Iza mendorong kursi roda masuk ke dalam lift kemudian memencet tombol lantai teratas. Perlahan pintu lift menutup. Denis mengajak Teresa menuju kamar perawatan Nick.

Suasana roof top cukup ramai. Ada beberapa pasien yang juga memilih menikmati semilir angin sore di sini. Iza menghentikan kursi roda di dekat sebuah pohon, kemudian dia mendudukkan diri di bangku yang tersedia.

“Roof top nya bagus ya.”

“Iya.”

Mata Nick memandang berkeliling, kemudian pandangannya menetap pada sepasang suami istri yang telah berusia lanjut. Nampak seorang suami tengah menemani istrinya melihat pemandangan dari ketinggian gedung. Sesekali tangan pria itu mengusap punggung tangan sang istri yang terdapat jarum infusan.

“Lihat mereka Zi. Biar sudah tua tapi masih mesra. Aku harap kita bisa seperti mereka.”

Mata Iza mengikuti arah pandang Nick. Senyumnya mengembang saat melihat bagaimana pasangan itu berinteraksi. Sang suami dengan setia menemani istrinya yang tengah sakit. Walau sudah berumur, dia tak sungkan menunjukkan kemesraan pada istri tercinta.

“Apa yang membuatmu menyukaiku, Nick?”

“Semua yang ada dalam dirimu membuatku menyukaimu. Sejak awal aku melihatmu, aku seperti tertarik untuk selalu mendekat padamu. Kamu memiliki magnet yang terus menarikku.”

“Ish gombal lagi.”

“Bukan gombal tapi kenyataan. Kamu sendiri, apa yang membuatmu yakin mau menjalani proses taaruf denganku?”

“Karena kamu jujur, kamu bersikap apa adanya. Kamu tetap menjadi dirimu sendiri, dan tanpa ragu mengungkapkan sisi negatifmu padaku. Kamu bisa saja melakukan hal sebaliknya untuk menarik simpatiku. Tapi kamu tidak melakukannya, aku suka itu. Dan yang paling membuatku kagum, kamu mau berusaha menjadi pribadi yang lebih baik.”

“Aku kira kamu suka karena aku ganteng,” Nick terkekeh mendengar ucapannya sendiri.

“Kalau ganteng itu bonusnya.”

Keduanya tertawa bersamaan. Nick memandangi wajah Iza yang tengah tertawa tanpa berkedip. Jangan tanya bagaimana perasaannya, sudah pasti bahagia. Nick kemudian mengajak Iza kembali ke kamar. Tak enak rasanya meninggalkan tamu yang hendak menjenguknya.

Di kamar, Denis juga tengah berbincang dengan Teresa. Pria itu menceritakan apa yang telah terjadi pada Nick. Teresa mendengarkan dengan seksama, seraya mengusap-usap paha Denis.

“Mau tante bantu mencari pelakunya? Tante punya banyak kenalan yang bisa bantu.”

“Makasih tan. Abe udah ngelacak plat mobil pelaku. Kan papanya anggota DPR. Nanti kalau kita mentok, aku pasti bilang ke tante kok.”

“Hmm.. tante kenapa? Kayanya sedih banget, abis ribut lagi sama om Dharma?”

Teresa menatap Denis sejenak. Inilah yang membuatnya nyaman bersama Denis. Pria itu peka akan orang-orang di sekitarnya. Rasa sakit hati dan kecewa yang dirasakannya dulu sedikit demi sedikit berkurang lewat perhatian yang Denis berikan.

“Ya begitulah Den. Walau tante berusaha untuk tegar dan menerima semuanya. Tetap aja melihat dia bersama perempuan lain dengan mata kepala sendiri itu menyakitkan. Kemarin tante baru mergokin dia bercinta dengan rekan bisnisnya di ruang kerjanya. Sesak rasanya Den. Harus tante akui kalau tante masih cinta sama dia. Andai dia mau berubah, tante juga akan berusaha berubah.”

“Sabar ya tante. Aku selalu mendoakan yang terbaik buat tante. Aku harap tante dan om bisa harmonis lagi seperti dulu.”

“Entahlah Den, tante ngga yakin. Tapi kalau itu terjadi, tante bakal ninggalin kamu.”

“Ngga masalah tan. Toh selama ini aku kan cuma betadine buat tante hahaha...”

“Kamu tuh..”

Teresa ikut tertawa mendengar ucapan Denis. Hubungannya dengan Denis memang hanya teman ranjang saja, sebagai bentuk pelepasan rasa sakit hati atas perlakuan suaminya. Denis memuaskan kebutuhan batinnya yang sudah lama tak diberikan oleh sang suami.

Mengingat sang suami lebih senang berbagi keringat dengan wanita lain dibanding dirinya, membuat Teresa kembali meradang. Diraihnya rahang Denis, kemudian wanita itu me**mat bibirnya dengan ganas. Denis membalas ciuman Teresa tak kalah panas. Ciuman mereka semakin dalam dan menuntut. Teresa naik ke pangkuan Denis tanpa melepaskan pagutannya.

CEKLEK

Iza mendorong kursi roda Nick masuk ke kamar. keduanya terpaku melihat Denis dan Teresa yang masih asik berciuman dan tak menyadari kehadiran mereka. Iza langsung menundukkan pandangannya.

“EHEM!!!”

Nick berdehem kencang mengejutkan dua insan yang tengah dimabuk hasrat. Teresa turun dari pangkuan Denis, kemudian bergegas pergi. Dia cukup malu terpergok oleh Nick juga Iza. Begitu pula dengan Denis, pria itu nampak salah tingkah. Bukan pada Nick tapi pada Iza. Dia mengusap tengkuknya saking groginya.

Pintu kembali terbuka, kali ini Rivan bersama dengan Meta yang masuk. Keduanya menghampiri Nick yang masih duduk di kursi roda. Denis dapat bernafas lega, dirinya tidak berlama-lama terjebak dalam perasaan canggung.

“Gimana bro keadaannya?” tanya Rivan.

“Alhamdulillah udah baikan.”

“Siapa yang mukulin kamu Nick?”

“Orang yang sirik sama kegantenganku kayanya Met,” jawab Nick asal yang langsung mendapat cibiran dari Rivan.

“Bro.. beneran mau belajar ngaji di sini? Kalau masih sakit mah istirahat aja dulu.”

“Ngga apa-apa. Gue wudhu dulu ya.”

“Gue anter.”

Rivan mendorong kursi roda sampai ke depan pintu. kemudian memapah Nick masuk ke dalamnya. Tak lama keduanya kembali. Rivan menyarankan Nick kembali ke bed. Mereka pun memulai pelajaran mengaji. Iza dan Meta duduk di sofa memperhatikan Nick yang sudah mulai lancar bacaannya. Denis memperhatikan tanpa berkedip, sahabatnya itu benar-benar ingin berubah.

Selesai Nick belajar mengaji, Arnav dan Fahrul tiba. Arnav terkejut sekaligus senang melihat keberadaan Meta. Bergegas dia menghampiri gadis pujaannya itu.

“Assalamu’alaikum ukhti..”

“Waalaikumsalam..”

“Heleh teh celup sosro beraksi,” ledek Denis.

“Sirik aja lo, Tong Tji,” balas Arnav sewot.

“Bang, mau belajar ngaji kaga?” tanya Rivan.

“Oh iya dong. Mumpung gurunya di sini.”

“Kemarin aja lo bilang mau cuti, nunggu gue sembuh,” sembur Nick.

“Ya kan gurunya ke sini, sayang kalau ngga belajar mah.”

“Modus aja lo. Dia Cuma pengen ambil hati kamu aja Met,” celetuk Denis.

“Jangan dengerin dia, Met. Dia itu sirik, sirik karena mukanya ngga seganteng aku.”

Denis melengos mendengar ucapan Arnav. Meta hanya tersenyum melihat perdebatan unfaedah antara kedua orang itu. Arnav bergegas menuju kamar mandi untuk berwudhu. Tak lama dia keluar lalu bergabung bersama Rivan.

“Yang lain mau sekalian ikutan ngga?” Rivan melihat pada Fahrul dan Denis.

“Si bahlul mah udah bisa ngaji. Kalo Denis, atheis dia, ngga usah diajakin,” Arnav terkekeh.

“Lagian dia juga belum disunat,” lanjut Arnav.

“Serius bang? Lo belum disunat?”

“Mana gue tau kampret!” sewot Denis.

“Ayok bang kita ke kamar mandi.”

“Ngapain?”

“Nyamain bentuk. Kan yang belum disunat sama yang udah ada bedanya.”

“OGAH!!! Rugi banget gue harus lihatin benda pusaka sama lo.”

Jawaban Denis langsung disambut gelak tawa lainnya. Arnav sampai memegangi perutnya karena tak berhenti tertawa.

CEKLEK

Semua yang ada di kamar langsung mengalihkan pandangan ke arah pintu. nampak Abe memasuki ruangan. Dan di belakangnya, Sansan mengikuti. Semua orang terkejut melihat Sansan, terkecuali Denis.

“Sapa tuh Be?” tanya Arnav.

“Calon bininya Abe,” celetuk Denis. Abe langsung menendang kaki Denis.

“Seriusan lo mau nikah? Ama nih bocil?” Fahrul menunjuk Sansan.

“Biasa aja kali om, ngga usah nunjuk-nunjuk emang sih aku cantik seperti bintang di langit malam, tapi ngga usah segitunya kali,” Fahrul melongo mendengar ucapan Sansan.

“Katanya ngga mau dijodohin, tapi buktinya nempel mulu kaya perangko,” ledek Denis.

“Kalau bukan demi nyari orang yang udah ngeroyok Nick, gue juga ogah kali. Demi elo ya Nick, tiap hari gue harus antar jemput nih bola bekel.”

Sansan menginjak kaki Abe dengan keras mendengar julukan pria itu untuknya. Abe mengaduh kesakitan, ternyata tenaga Sansan kuat juga. Namun Sansan tak peduli, dia memandangi satu per satu teman Abe.

“Wah teman kak Abe cakep-cakep ya. Yang itu kaya babang bule,” menunjuk pada Nick.

“Yang itu kaya artis India,” menunjuk pada Arnav.

“Itu kaya oppa-oppa Korea,” menunjuk pada Denis.

“Kalau dia kaya apa?” Arnav menunjuk pada Fahrul.

“Burung Onta.”

“Hahahaha...”

Lagi suara tawa bergema di ruang rawat tersebut. Fahrul mendengus kesal, kalau bukan calon istri Abe, mungkin sudah dijitaknya gadis itu.

“Dia bukan burung onta, tapi burung pelatuk. Sukanya matuk-matuk ampe bolong huahahaha...” Denis puas sekali meledek Fahrul.

“Bangke lo! Ikut gue!!”

🍂🍂🍂

**Widih teh celup sariwangi ama Tong Tji mau gelud nih kayanya.

Denis, kasih satu tante buat gue ya😎

O iya.. lupa nih... buat readers kece semua, aye mau promoin novel temen, nih. Karyanya bro Rama Ramles yg katanya ganteng tapi gue yakin masih gantengan gue lah😎

Ceritanya abegeh banget deh, kaya yang buat. Kalau ada yg berkenan mampir ya, jangan lupa tinggalkan jejaknya. Makasih ya😘😘😘**

1
Kas Mi
d rendang thor😄🤣🤭
Kas Mi
apalagi aku thor g mungkin..nope bu diah aj aku g punya😄🤣
Kas Mi
/Good//Good//Good/
Kas Mi
kan g d ksih sodium nick mnis.y🤣😄
Kas Mi
aku baru engeh klw bca kisah bpk.y zayn..thor aku lp klw arnav bpk.y siapa?
Kas Mi
buseet dah jadwal mma.y kya dokter praktek aj thor🤣😄
sri murlini
kpn bikin karya lg tor
🅵🆉🆁 αժɾíαղ: Cek akun Ichageul. aku banyak bikin karya di akun itu
total 1 replies
🌸ReeN🌸
bener2 bagus bgt ceritanya, sahabat sejati yg bener2 setia apapun yg terjadi, recomended bgt
🌸ReeN🌸
aku kira namanya jarvis, bukan anak pertama meta sama ridho namanya jarvis ya
Oky Uchy
aku baru baca novel ini krna penasaran dg kisah cinta org tuanya attar,zayn dan kawan2 ternyata seru ya kak....
Intan Pakpahan
The Ramadhan😁
Intan Pakpahan
ohhh disini awal ktmu keluarga Ramadhan yach...
Intan Pakpahan
mampir sini abis dr Azzam, lannjjottt Nick😁
Euis Sri
ada,.jadi kangen ama Rizal Poppy Sarah Regan
Nabila hasir
akhirnya arnav souldout juga.
Nabila hasir
author sedihnya itu nick ma iza kenapa nyesek banget.
padahal nabila cuman baca.padahal cuman crita.
sampek anakku nanya di sampingku.
emak nangisi apa.nangis kenapa??
ini baca crita online.
heheheheh
Nabila hasir
di antara sahabat nick.hanya arnav yg gak sejodoh ma pasangannya.arnav ma meta berpisah
Nabila hasir
kok sedih ma arnav
Nabila hasir
ternyata meta ma ridho.
arnav kasik jodoh pasangan juga donk .
Nabila hasir
author piye iki.
nbila nangis trus bacanya ini.
😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!