NovelToon NovelToon
Pesona Gadis Malam

Pesona Gadis Malam

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: novia_dwi

Alitza Zeefanya Bella, atau sering disapa Zee adalah seorang gadis cantik yang ceria. Seperti nama yang diberikan oleh orang tuanya yang berarti gadis cantik yang ceria yang selalu ada dalam lindungan Tuhan.


Hidupnya baik-baik saja, terlahir cantik serta besar di lingkungan keluarga kaya yang harmonis membuat dirinya tumbuh menjadi gadis ceria dan penuh kepedulian.


Semua baik-baik saja sampai dirinya harus kehilangan seluruh alasan kebahagiaan nya. Membuat dirinya harus bekerja untuk menghidupi dirinya dan seorang wanita tua yang menjadi pengasuhnya sejak bayi.

Bekerja didunia malam membuat dirinya dipandang miring oleh semua orang. Namun dirinya tak peduli, hanya dirinya yang tahu seperti apa sesungguhnya yang ia jalani.

Akankah nasib baik kembali berpihak padanya? atau justru kehidupannya semakin sulit?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novia_dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kondisinya tidak baik-baik saja

"Terimakasih banyak pak Ben. Saya tidak akan melupakan pertolongan bapak ini". Zee turun dari motor saat sampai diparkiran rumah sakit.

Ia berdiri di samping motor dan membungkuk kan tubuhnya berulang kali sebagai tanda terimakasih nya yang begitu besar pada Ben.

" Maaf tapi saya harus permisi dulu pak Ben". Ben masih diam menatap wajah Zee yang sembab.

"Sekali lagi terimakasih banyak pak Ben.. " Zee berbalik dan langsung berlari meninggalkan Ben yang rupanya tidak pergi dari sana. Lelaki itu melangkahkan kaki jenjangnya untuk mengikuti Zee yang berlari cukup jauh di depan nya.

"Awas!! ". Seru Ben saat melihat Zee terjatuh, namun belum sempat ia menyusul, gadis itu sudah kembali bangkit dan bahkan kembali berlari lagi.

" Astaga.. " Gumam Ben yang kembali melanjutkan langkahnya mengikuti Zee yang kini sudah jauh di depannya.

"Bu.. " Seru Zee saat melihat haji Ida tengah duduk di depan ruang IGD rumah sakit.

"Astagfirullah nak. Ini kenapa.. " Bu Ida terkesiap melihat lutut Zee yang berdarah bekas jatuh tadi, celana panjangnya pun robek. Bagaimana tidak luka, Zee dalam posisi berlari dan terjatuh dengan kencang ke atas pelataran parkir rumah sakit yang masih kasar.

"Aku nggak apa-apa bu.. " Zee mencium punggung tangan tetangga nya itu.

"Emak.. emak gimana bu? ". Tanya Zee menatap bu Ida dan ruang IGD bergantian. Hatinya kalut dan tak menentu memikirkan hal-hal buruk.

" Duduk dulu.. " Bu Ida dengan lembut menarik Zee agar duduk disamping nya. Bahkan nafas gadis itu masih terengah. Bu Ida yakin Zee berlari untuk cepat sampai disini.

"Emak sedang ditangani dokter. Kita tunggu dulu ya.. " Dengan lembut bu Ida mengelus punggung Zee. Meskipun banyak berita buruk tentang Zee dan pekerjaannya, namun bu Ida tidak percaya itu. Ia meyakini Zee adalah gadis baik-baik.

Zee duduk dengan gelisah, tangannya saling meremas satu sama lain. Setiap detik terasa lama bagi Zee yang menunggu kabar kepastian kondisi emak.

Tak lama seorang perawat memanggil keluarga emak. Zee bangkit dan segera masuk ke ruang igd.

Sementara Zee menemui dokter, bu Ida memilih menemani emak yang belum sadar. Bahkan di tubuhnya sudah terpasang berbagai alat medis.

Tak dapat bu Ida bayangkan bagaimana reaksi Zee jika melihat kondisi emak saat ini.

"Bagaimana kondisi emak, dok? ". Tanya Zee pada dokter spesialis jantung yang biasa menangani emak. Zee yakin kondisi emak tidak baik-baik saja jika sampai dokter spesialis saja dipanggil malam-malam begini.

" Kondisinya memburuk Zee". Sahut dokter yang sudah sangat mengenal Zee. Bertahun-tahun ia menangani kondisi jantung emak. Dan malam ini, jantung emak hampir berhenti berdetak.

"M-maksudnya dok?? ". Tanya Zee bergetar, bukan hanya suaranya. Namun hampir seluruh tubuhnya bergetar menahan ketakutan.

" Emak harus segera dioperasi Zee. Paling tidak dalam minggu ini.. " Jelas dokter lagi.

"Tapi ada beberapa yang tidak tercover Zee.. " Dokter menatap prihatin gadis muda didepannya itu. Ia merasa iba pada perjalanan hidup nya.

"Berapa biayanya dok? ". Tanya Zee lirih.

" Kamu bisa tanyakan di bagian informasi Zee, saya tidak tahu pastinya berapa biaya yang harus kamu siapkan ". Zee mengangguk kan kepalanya pelan.

" Kamu harus kuat Zee. Emak butuh dukunganmu saat ini, jangan terlihat lemah di depan emak. Meskipun saat ini emak mungkin tidak menyadari keadaan sekitar nya". Kepala Zee semakin tertunduk dalam.

"Kami akan pindahkan emak ke ICU". Zee hanya mengangguk saja. Tak ada kata yang terucap dari bibir kecilnya.

Selesai menemui dokter, Zee beralih mencari keberadaan emak. Airmata yang ia tahan akhirnya luruh saat melihat berbagai alat medis menempel pada tubuh tua emak.

Mata emak tertutup, terlihat damai dalam tidurnya. Perlahan Zee mendekat, duduk disamping ranjang emak dan menggenggam tangan emak yang terasa dingin.

" Emak yang kuat ya.. " Lirih Zee disertai isakan kecil.

"Emak pasti kuat dan baik-baik aja kok. Zee disini sama emak.. " Tangan gemetar Zee mengelus punggung tangan emak yang keriput.

"Zee akan lakuin apapun untuk selamatin emak.. " Setelahnya tak ada lagi kalimat yang keluar dari mulut Zee kecuali isakan.

Bu Ida menghapus air matanya. Mendekati Zee dan mengelus pundak gadis muda yang saat ini terlihat rapuh itu.

"Kamu harus kuat nak.. inshaAllah emak akan baik-baik saja. Kita berdoa untuk kesembuhan emak ya.. " Hanya kata-kata penyemangat dan penghiburan yang saat ini Zee butuhkan.

"Terimakasih bu. Terimakasih banyak karena ibu selalu baik pada kami.. " Ucap Zee disela tangisnya

Bu Ida pamit pulang pada Zee saat emak hendak dipindahkan ke ruang Icu. Gadis itu berulang kali mengucapkan terimakasih pada tetangganya itu.

Kini Zee seorang diri. Duduk dengan kepala tertunduk di depan ruang ICU. Kepalanya berkecamuk dengan segala pikirannya.

"Pak Ben!! ". Seru Zee saat tiba-tiba Ben berjongkok didepannya.

" Bapak kenapa disini? ". Tanya Zee

" Eh.. bapak mau apa? ". Ben tak menanggapi ocehan Zee yang bertanya ini itu padanya.

" Ini akan infeksi kalau dibiarkan". Ben tidak mempedulikan Zee yang menatapnya dengan wajah bingung. Ia fokus membersihkan luka di lutut Zee dan mengobati serta memasang perban.

Zee diam, ia menatap dalam pada Ben yang tengah fokus pada lukanya. Ia pikir Ben sudah pulang sejak tadi. Lalu kemana lelaki itu sedari tadi?

"Selesai.. " Ben menatap puas hasil kerja nya. Luka Zee sudah ia bersihkan dan ia obati.

"Terimakasih pak.. ". Lirih Zee menatap lututnya yang sudah tertutup perban.

" Kemarikan tanganmu". Zee menoleh menatap Ben yang juga tengah menatapnya.

Lama menunggu Zee tak kunjung memberikan tangannya, Ben meraih tangan Zee yang telapaknya juga terluka.

"Pak Ben.. " Lirih Zee dengan suara bergetar.

Ben diam saja, tak menatap Zee dan fokus pada luka Zee. Tadinya ia hanya ingin memastikan Zee sampai dirumah sakit dengan selamat. Namun hatinya tak tenang melihat bagaimana hancurnya Zee melihat kondisi keluarganya itu.

Ben memutuskan berdiam diri dirumah sakit sambil terus mengikuti Zee dari jarak yang aman. Dan setelah orang yang tadi menemani Zee pulang, Ben memutuskan menemui Zee yang terlihat begitu terpuruk dan rapuh.

 Gadis itu bahkan tidak merasa luka yang ada pada tubuhnya.

"Simpan ini, sering ganti perban nya dan jangan lupa bersihkan". Titah Ben memberikan kresek berisi obat dan perban yang ia beli sebelumnya.

" Pak.. " Airmata Zee kembali menggenang melihat perhatian yang Ben berikan. Ia tiba-tiba merasa rapuh saat merasa ada orang yang peduli tengah ada disamping nya.

Ben menghela nafas panjang. Tak tahu juga apa alasannya begitu peduli pada Zee. Ia duduk disamping Zee dan menarik gadis itu kedalam pelukannya.

"Jangan ditahan. Nangis aja kalau itu bisa buat perasaan kamu lega.. " Dan setelah kalimat itu meluncur, Ben mendengar tangisan Zee untuk pertama kalinya.

Ben tak menyela, tak juga memberi nasihat pada Zee. Ia tahu Zee butuh meluapkan semua rasa sesak yang tengah membelenggu perasaannya.

Lama Zee menangis dalam pelukan Ben. Hingga dengan sisa isakan kecilnya, Zee menjauhkan diri dari Ben. Wajahnya memerah sisa menangis dan juga malu.

Bagaimana bisa dirinya menangis begitu lama dalam pelukan seseorang yang bahkan tidak dekat dengannya.

"Ma-af pak.. " Ucap Zee tersengal. Gadis itu menatap Ben dengan tatapan canggung, kemudian matanya melihat kemeja Ben yang basah.

"Ba-ju ba-pak jadi basah". Zee mengusap kemeja Ben yang basah karena airmata nya.

Ben menangkap tangan Zee. Karena sejujurnya jantungnya tak bekerja dengan baik saat Zee menyentuhkan tangannya tadi.

" Tidak apa-apa. Hanya baju Zee.. " Ben menurunkan tangan Zee yang ia genggam.

Keduanya kembali diam. Tatapan mata keduanya lurus menatap pintu ruang ICU yang terlihat menyeramkan.

"Bagaimana kondisinya? ". Ben membuka suara setelah diam cukup lama.

" Tidak baik pak.. " Lirih Zee yang kembali teringat ucapan dokter tadi.

"Yakin saja kalau semua akan baik-baik saja. Mensugesti diri sendiri dengan hal-hal baik itu penting Zee.. " Terang Ben bijak membuat Zee menoleh ke samping.

"Iya pak.. " Hanya itu jawaban Zee. Kondisi kembali hening karena keduanya memilih bungkam.

...¥¥¥°°°¥¥¥...

...Selamat malam readers kuu, 🫰🥰🌹...

...Happy reading semua 🫰🫰 saranghae readers ❤❤❤❤😍😍💋💋💋🌹🥰🌹🌹😘😘😘🤩...

1
Astrid Fera
seru kok kak cuma Zee dbuat yg lbih tangguh lgi kak,,kyg pinter bela diri gtu kn tmbh seru nnti,,itu saran aku j SC kak😄😄tetap smngt kak💪💪
amma_iKiss: hihi.. tenang kak, pemeran perempuan di novel aku semua strong kok🤭 Btw makasih dukungannya ka😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!