Han Chuan adalah seorang anak desa yang ceria dan penuh semangat. Ia menghabiskan hari-harinya dengan melukis pemandangan dan bermain bersama teman-temannya di bukit kecil dekat desa. Hidupnya sederhana dan bahagia hingga suatu hari, segalanya berubah menjadi mimpi buruk. Saat sedang bermain bola bersama teman-temannya, langit tiba-tiba menggelap. Suara raungan aneh menggema dari hutan, dan makhluk-makhluk iblis menyerang desa tanpa ampun. Anak-anak yang bermain bersamanya menghilang satu per satu, ditelan oleh iblis saat di bersama ibunya. Ketika Han Chuan turun dari bukit, yang tersisa hanyalah pemandangan mengerikan desa hancur, dan jasad para penduduk berserakan. Dalam keputusasaan, ia juga menyaksikan ibunya yang ternyata seorang dewa yang turun tangan melawan para iblis. Namun malang, sang dewa tewas ditusuk dari belakang dan tubuhnya dilahap utuh oleh iblis. Rasa sakit dan amarah yang tak tertahankan membangkitkan kekuatan tersembunyi di dalam diri Han Chuan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FAUZAL LAZI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Sementara itu, Han Chuan masih melesat di atas atap rumah. Tubuhnya bergerak lincah melompat dari satu atap ke atap lainnya. Setelah memastikan arah yang dituju, ia turun ke bawah dan berjalan perlahan sambil memerhatikan sekeliling dengan waspada.
Ia kemudian mengaktifkan kemampuan Mata Langit miliknya. Pandangannya berubah tajam, menembus kegelapan malam. Tak lama kemudian, ia melihat jejak energi yang berkumpul di satu titik, berasal dari sebuah rumah di depannya.
“Jejak energi apa itu?” gumamnya pelan.dengan matanya yang kembali normal. Han Chuan langsung mendekat ke arah rumah tempat jejak energi itu berkumpul. Semakin dekat, indera penciumannya menangkap bau darah yang menyengat dan menusuk hidung.
“bau darah apa ini? Apakah ada seseorang yng terluka?” gumamnya sambil menatap ke arah rumah tersebut.
Tanpa ragu, ia masuk ke dalam. Begitu melangkah masuk, matanya langsung tertuju pada sesosok mayat laki laki yang tergeletak di lantai, tubuhnya bersimbah darah.
“Siapa yang membunuhnya?” ucap Han Chuan yang terkejut sambil menahan napas.Lalu pandangan matanya menyapu seluruh ruangan hingga berhenti pada sebuah pusaran energi berwarna merah yang berputar perlahan di udara.
“Pusaran energi apa ini? Kenapa ada di sini?” ucapnya lirih.
Ia mendekat dengan langkah hati hati. Jempolnya sedikit mendorong gagang pedang, bersiap menariknya kapan saja. Tubuhnya tetap waspada saat jarak dengan pusaran energi itu semakin dekat.
Tiba tiba, dari dalam pusaran tersebut, sesosok iblis melompat keluar. Tubuhnya diselimuti sisik hijau, sementara bagian belakang kepalanya berbentuk seperti kelopak bunga mawar berwarna merah. Iblis itu langsung menerjang ke arah Han Chuan.
Mata Han Chuan menyipit. Ia melompat mundur dengan cepat untuk menghindar, lalu menarik pedangnya. Dalam satu gerakan guntur, tubuhnya melesat ke depan. Tebasan pedangnya langsung memotong kepala iblis itu hingga terpisah dari tubuhnya.
Tubuh iblis itu jatuh ke lantai serta darah hitam terus keluar mengalir dari bekas tebasan Han Chuan “membuatku kaget saja,” gumam Han Chuan dingin.Kemudian ia memasukkan kembali pedangnya ke dalam sarung, lalu melangkah menuju pusaran energi yang masih berputar di udara.
Pandangannya menyapu sekeliling pusaran tersebut dengan penuh kewaspadaan.“Ini sepertinya formasi pemanggil, tapi apakah tidak ada pemicunya?” gumamnya sambil memegang dagunya.
Ia mengamati lebih teliti hingga matanya tertuju pada sebuah benda di lantai. Benda itu sebesar gagang pedang, panjangnya kira kira sejengkal, berbentuk bulat, dan dipenuhi rune rune aneh di seluruh permukaannya.
Han Chuan mengambil benda itu dan kembali menatap pusaran energi di depannya.“Kalau dugaanku benar, ini adalah alat pemicunya. Selama benda ini belum dihancurkan, formasi pemanggilnya tidak akan hilang,” gumamnya pelan.
Ia melempar benda itu ke udara, lalu menarik pedangnya dengan cepat. Satu tebasan bersih membelah benda itu menjadi dua bagian. Kedua potongannya jatuh ke lantai, mengeluarkan sisa energi gelap dari dalamnya.
Pada saat yang sama, pusaran energi di depan Han Chuan perlahan melemah, lalu menghilang sepenuhnya, meninggalkan ruangan itu kembali sunyi.
Han Chuan menatap sekeliling sebentar untuk memastikan tidak ada apa pun yang mencurigakan. Setelah yakin keadaan aman, pandangannya kembali tertuju pada mayat yang tergeletak di lantai.“Orang yang sudah tiada ini nanti saja akan ku laporkan pada penjaga sekitar,” batinnya singkat.
Ia langsung melesat keluar, melompat ke atas atap rumah, lalu berdiri tegak sambil menatap ke arah kota dengan saksama. Han Chuan kembali mengaktifkan Mata Langit miliknya, mencari jejak energi yang sama dengan yang terdapat pada alat pemicu formasi yang baru saja ia hancurkan.
“Menuju rumah hiburan Rembulan Malam,” gumamnya pelan.
Tanpa ragu, ia langsung melesat mengikuti jejak energi itu. Tubuhnya bergerak cepat, melompat dan berlari di antara atap atap rumah dengan kecepatan tinggi.
Sementara itu, di rumah hiburan Rembulan Malam, dua pria berjalan sempoyongan dalam keadaan mabuk, diantar oleh dua wanita cantik yang berpakaian agak terbuka hingga memperlihatkan belahan dada mereka.
“Adik cantik, kapan kapan temani kami main lagi ya,” ucap salah satu pria sambil tertawa dan meneguk araknya.
“Iya, kami pasti akan ke sini lagi, adik manis,” sahut temannya yang berbadan gemuk sambil mengangguk.
Dua wanita itu hanya tertawa kecil dan melemparkan senyum genit.“Kami tunggu kedatangan kalian,” ujar salah satu dari mereka sambil melambaikan tangan.
“Iya, nanti kita bersenang senang lagi,” sahut wanita satunya dengan nada manja.
Kedua pria itu pun pergi sambil saling merangkul bahu, tertawa keras, dan terus meneguk arak mereka. Begitu mereka menjauh, wajah kedua wanita itu langsung berubah sinis.“Dasar pria pecundang,” ucap mereka bersamaan sebelum kembali masuk ke rumah hiburan.
Di sisi lain, kedua pria itu masih tertawa sambil berjalan ke arah gang yang sepi.“Apa yang kubilang, Wei Jong. Wanita di sini memang hebat dan cantik, kan?” ucap pria bernama Hao Shu dengan suara mabuk.
“Iya, kau benar, Hao Shu. Mereka memang cantik cantik,” balas Wei Jong sambil menenggak araknya, lalu tertawa bersama.
Pada saat itu, Han Chuan tiba tiba berhenti di atas atap. Ia kembali mengaktifkan Mata Langit dan mengikuti jejak energi yang telah ia lacak. Pandangannya tertuju pada dua pria mabuk yang berhenti di sebuah gang untuk buang air kecil.
“Jadi mereka dalang yang membunuh pria di tempat formasi pemanggilan tadi. Mereka juga yang memasang formasi yang baru saja kuhancurkan,” batinnya sambil mengamati kedua pria itu dengan saksama.
“Sepertinya aku mengenal salah satu dari mereka,” gumamnya lagi.
Dua pria yang diperhatikan oleh Han Chuan adalah Hao Shu dan Wei Jong. Setelah selesai, mereka kembali berjalan dengan botol arak masih di tangan, tanpa menyadari bahaya yang mengintai.
Han Chuan melihat mereka hendak pergi. Tanpa ragu, ia mencabut pedangnya dan langsung melesat menggunakan gerakan guntur. Tubuhnya bergerak seperti kilat, mendekati Hao Shu dan Wei Jong yang masih terhuyung karena mabuk.
Dalam satu ayunan cepat, pedangnya langsung memotong tangan kanan Wei Jong yang memegang botol arak. Botol itu jatuh dan pecah, sementara tangan Wei Jong terlempar ke samping. Matanya membelalak, namun ia tidak sempat berteriak.
Tanpa memberi kesempatan, Han Chuan langsung menusukkan pedangnya ke jantung Wei Jong. Ia menarik kembali pedangnya dan dalam satu gerakan lanjutan, tebasan berikutnya memotong leher Wei Jong. Tubuhnya roboh ke tanah tanpa sempat melakukan perlawanan apa pun.
Han Chuan melompat mundur beberapa langkah, berdiri dengan tenang, lalu menatap Hao Shu dengan tatapan tajam. Hao Shu masih terpaku, wajahnya pucat Karana mabuk,serta terkejut melihat temannya tewas dalam sekejap.