Satu surat pemecatan. Satu undangan pernikahan mantan. Dan satu warung makan yang hampir mati.
Hidup Maya di Jakarta hancur dalam semalam. Jabatan manajer yang ia kejar mati-matian hilang begitu saja, tepat saat ia memergoki tunangannya berselingkuh dengan teman lama sekaligus rekan sekantornya. Tidak ada pilihan lain selain pulang ke kampung halaman—sebuah langkah yang dianggap "kekalahan total" oleh orang-orang di kampungnya.
Di kampung, ia tidak disambut pelukan hangat, melainkan tumpukan utang dan warung makan ibunya yang sepi pelanggan. Maya diremehkan, dianggap sebagai "produk gagal" yang hanya bisa menghabiskan nasi.
Namun, Maya tidak pulang untuk menyerah.
Berbekal pisau dapur dan insting bisnisnya, Maya memutuskan untuk mengubah warung kumuh itu menjadi katering kelas atas.
Hingga suatu hari, sebuah pesanan besar datang. Pesanan katering untuk acara pernikahan paling megah di kota itu. Pernikahan mantan tunangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Pusat Pelatihan Rempah Jati
"Mbak Maya, ini beneran piringnya harus ditaruh miring begini? Nanti kalau kuahnya tumpah gimana?"
Suara cemas itu datang dari Yu Nah, salah satu ibu janda dari kampung yang baru saja bergabung di Pusat Pelatihan Rempah Jati. Dia menatap piring porselen putih di depannya seolah-olah itu adalah bom waktu yang siap meledak.
Maya tertawa kecil sambil terus mengaduk kuah santan di kuali besar. "Enggak akan tumpah, Yu. Itu namanya seni menata makanan. Kita mau tunjukkan kalau masakan kampung bisa kelihatan mewah kayak di hotel bintang lima. Ayo, semangat! Hari ini peresmian gedung baru kita!"
Di sudut lain ruangan yang dulu milik Restoran Intan Permata, Arlan sedang sibuk dengan tablet di tangannya. Dia tidak lagi memakai seragam pelayan magang, melainkan kemeja kasual yang lengannya digulung hingga siku. Dia sedang memasang sebuah alat pemindai kecil di dekat meja kasir.
"Maya, sistem pesanan lewat aplikasi sudah sinkron. Jadi, mulai sekarang, orang kantor di gedung sebelah nggak perlu teriak-teriak atau kirim SMS lagi. Tinggal klik dari HP, pesanan masuk ke dapur kamu," ujar Arlan tanpa menoleh, jemarinya lincah menari di atas layar.
"Canggih banget ya, Lan. Apa nggak kemahalan buat ibu-ibu ini?" Maya mendekat, mengintip layar tablet Arlan yang penuh dengan grafik pesanan.
"Teknologi itu buat mempermudah, bukan buat pamer. Dengan ini, kamu bisa fokus ke rasa, biarkan mesin yang urus administrasinya," Arlan menoleh, menatap Maya dengan binar bangga. "Gimana? Siap jadi 'Ibu Bos' di pusat pelatihan ini?"
"Siap nggak siap harus siap. Lihat tuh, Yu Nah sama yang lain sudah semangat banget pakai seragam barunya," Maya menunjuk ke arah barisan ibu-ibu yang memakai celemek seragam berwarna cokelat tua dengan logo bordir emas.
Namun, keceriaan itu mendadak terhenti saat pintu dapur samping terbuka dengan bantingan keras. Budi, si remaja bagian logistik, masuk dengan wajah yang pucat pasi dan napas yang tersengal-sengal.
"Mbak... Mbak Maya! Gawat, Mbak!" Budi berteriak sambil memegang lututnya yang gemetar.
Maya langsung meletakkan sodetnya. "Ada apa, Bud? Jangan teriak-teriak, nanti yang lain panik."
"Supplier daging dari pasar induk... mereka mendadak batalin kiriman, Mbak! Katanya truknya rusak, tapi saya lihat sendiri tadi truk mereka malah jalan ke arah restoran sebelah! Saya nggak tahu itu truk yang untuk kita atau bukan," Budi mengusap keringat dingin di dahinya. "Terus saya dapet kabar, Burhan ancam semua jagal di kota. Siapa pun yang berani kirim daging ke gedung ini, lapaknya bakal diacak-acak!"
Dapur yang tadinya riuh dengan suara tawa mendadak sunyi sesunyi kuburan. Yu Nah dan ibu-ibu lainnya saling pandang dengan wajah ketakutan.
"Tuh kan, Mbak... Burhan beneran main kotor. Kita harus masak apa buat pesanan makan siang orang kantor? Mereka pesennya paket Empal Gentong semua!" keluh Yu Nah lemas.
Arlan berdiri tegak, wajahnya berubah dingin dalam sekejap. Dia meraih ponselnya. "Saya telepon supplier-nya sekarang. Mereka nggak tahu sedang berurusan dengan siapa."
"Jangan, Lan," Maya menahan tangan Arlan. "Kalau kamu paksa mereka sekarang, besok-besok mereka makin ditekan sama Burhan. Kita nggak bisa terus-terusan pakai kekuasaan kamu buat urusan pasar bawah."
"Terus kamu mau gimana? Masak Empal tanpa daging? Itu namanya kuah kosong, Maya," Arlan mengerutkan kening.
Maya terdiam sejenak, matanya menyapu stok bahan di gudang yang baru saja masuk. Ada tumpukan nangka muda, tahu, tempe, dan berbagai macam rempah sisa kompetisi kemarin. Sebuah ide gila muncul di kepalanya.
"Kita ganti menunya. Semuanya," ujar Maya mantap.
"Ganti? Pesanan sudah masuk lewat aplikasi, Maya. Kamu nggak bisa asal ubah tanpa komplain dari pelanggan," Arlan mencoba mengingatkan secara logika bisnis.
"Percaya sama aku. Kita nggak butuh daging buat bikin mereka kenyang. Yu Nah! Ambil semua nangka muda di gudang! Kita bikin Gudeg Rempah Jati. Pakai santan paling kental, bumbunya dikuatkan dua kali lipat!" perintah Maya dengan nada memerintah yang sangat berwibawa.
"Tapi Mbak, orang kota mana mau makan nangka kalau sudah bayar harga daging?" Yu Nah ragu.
"Kasih mereka rasa yang bikin mereka lupa kalau itu cuma nangka. Arlan, tolong kirim notifikasi ke semua pemesan. Bilang: 'Menu Spesial Pembukaan: Keajaiban Rempah Jati Tanpa Daging'. Kasih mereka diskon sepuluh persen untuk pesanan berikutnya sebagai kompensasi," Maya menatap Arlan penuh keyakinan.
Arlan menatap Maya cukup lama, lalu dia tersenyum tipis dan mulai mengetik di tabletnya. "Oke, Bos. Instruksi dilaksanakan."
Dapur pun berubah jadi medan perang. Maya memimpin ibu-ibu itu dengan cekatan. Aroma nangka yang direbus dengan gula merah, daun salam, lengkuas, dan bumbu rahasia warungnya mulai menyeruak keluar dari jendela dapur, tertiup angin menuju gedung perkantoran di sebelah.
Aroma itu begitu kuat, begitu gurih, hingga beberapa orang kantor yang tadinya mau marah karena menunya diganti, malah turun ke lantai bawah dan mengintip dari pagar.
"Bau apa itu? Wangi banget! Lebih wangi dari bau daging bakar biasanya!" teriak salah satu pegawai bank dari balik pagar.
Maya sengaja membuka semua jendela dapur lebar-lebar. Dia tahu, di dunia kuliner, hidung adalah pintu masuk pertama menuju dompet pelanggan.
Benar saja, saat paket Gudeg Rempah itu dibagikan, tidak ada satupun yang protes. Mereka justru lahap memakan nangka muda yang teksturnya empuk dan bumbunya meresap sampai ke serat terdalam.
"Gila! Ini nangka tapi rasanya kayak daging wagyu!" puji seorang pelanggan yang sengaja datang ke kasir cuma buat tanya bumbunya.
Maya mengelap peluh di dahinya, merasa lega. Krisis pertama berhasil dilewati dengan kreativitas. Namun, dia tahu ini baru permulaan. Burhan tidak akan berhenti hanya di sini.
Saat Maya sedang mencuci tangan di wastafel belakang, pintu belakang terbuka lagi. Kali ini bukan Budi, tapi si Garong.
Mantan preman itu sekarang memakai seragam parkir yang rapi, tapi wajahnya tampak sangat beringas. Napasnya memburu, bajunya basah oleh keringat.
"Mbak Maya! Sini, Mbak! Penting!" panggil si Garong dengan suara rendah yang tertahan.
Maya mendekat, diikuti Arlan yang tampak waspada. "Ada apa, Garong? Ada yang bikin rusuh lagi di depan?"
Si Garong menggeleng cepat. Dia menarik Maya dan Arlan sedikit menjauh dari kerumunan ibu-ibu. "Bukan, Mbak. Saya baru saja dapet info dari anak buah saya yang masih mangkal di pasar induk. Truk daging yang harusnya buat kita... itu nggak rusak!"
"Terus di mana?" tanya Arlan tajam.
"Disembunyiin sama orang-orangnya Burhan di gudang tua dekat pemotongan hewan jalur timur, Mbak! Burhan sengaja nahan di sana supaya dagingnya busuk dan Mbak rugi besar karena sudah bayar DP!" si Garong mengepalkan tangannya. "Sopir truknya juga disekap di dalam gudang, diancam nggak boleh keluar kalau nggak mau keluarganya kena masalah."
Maya terbelalak. "Dia beneran mau main kasar sampai segitunya?"
"Mbak Maya, saya tahu jalan tikus ke sana. Nggak banyak orang jagain karena mereka pikir kita nggak bakal tahu tempatnya," si Garong menatap Maya dengan mata yang membara. "Mbak, saya sudah janji mau setia sama Mbak karena Mbak sudah kasih saya kerjaan bener. Kasih izin saya, Mbak. Saya tahu di mana Burhan nyembunyiin truk dagingnya. Kita serbu sekarang? Biar saya hajar mereka semua!"
Maya menoleh ke arah Arlan. Dia bisa melihat kemarahan yang sama di mata pria itu.
Namun, Maya juga tahu, jika mereka salah langkah, rencana besar mereka untuk membangun pusat pelatihan ini bisa hancur karena masalah hukum.
Arlan melonggarkan kerah kemejanya, sebuah kode yang Maya tahu artinya pria itu sudah siap untuk melakukan sesuatu yang tidak "rapi".
"Maya, pilihannya di tangan kamu," bisik Arlan. "Mau main cantik lewat polisi, atau mau kita ambil hak kita sekarang juga dengan cara kita sendiri?"
Maya mengepalkan tangannya, menatap si Garong yang sudah siap tempur.
vote untuk mu👍