"Apakah kamu kira tempurung pantas merangkai permata? Mana mungkin anakku pantas bersanding dengan gadis miskin tak berpunya seperti dirimu!"
Runi ternhenyak menahan segala rasa akit di hatinya atas hinaan yang di lontarkan oleh nenek dari bayi yang di kandungnya.
"Mas, kamu akan bertanggung jawab 'kan?" tanya runi pada lelaki yang telah menodai dirinya. meskipun ia sangat mencintai lelaki itu, tetapi tak pernah ada niat sedikitpun untuk melakukan perbuatan dosa. semua yang terjadi karena paksaan oleh lelaki itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Risnawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhirnya mereka menikah
Runi memilih tidur untuk menepi dari segala masalah yang tengah ia hadapi saat ini. Semua ia lakukan demi janin yang ada di rahimnya. Karena begitu lelahnya hati dan pikirannya, maka dalam sejenak ia sudah berada di alam mimpi.
Pagi-pagi sekali Runi sudah di bangunkan oleh suara ketukan pintu dari luar. Ternyata Bik Sumi yang di perintahkan oleh tuan Saga untuk membangunkan dirinya.
"Ada apa, Bik?" Tanya Runi dengan kepala masih pusing.
"Bibik di suruh Pak Saga untuk memanggil kamu, Runi. Karena kedua orangtua kamu sudah datang," ujar Bibik membuat Runi terkesiap.
"Ibu dan ayah sudah datang?" Tanyanya tidak percaya. Bagaimana bisa sepagi ini kedua orangtuanya sudah datang.
"Iya, barusan datang di jemput oleh Pak Iwan," jelas Bibik.
Runi mengangguk paham. "Baik, Bik, aku bersiap sebentar ya."
Bibik kembali ke dapur. Sementara itu Runi lanjut mandi sebentar dan bersiap untuk menemui kedua orangtuanya. Sebenarnya ia sangat rindu pada mereka, tetapi dengan keadaannya yang seperti ini, rasanya ada yang berbeda. Takut akan membuat ayah dan ibu kecewa. Tetapi semua bukanlah kesalahan yang ia sengaja lakukan, ia hanya di paksa.
Setelah merasa sedikit lebih segar, Runi segera menghadap pada kedua orangtuanya. Terlihat ayah dan ibu sedang bicara dengan tuan Saga. Tetapi tak terlihat Nyonya Emeli ikut hadir di sana.
Kedatangan Runi membuat Bu Siti segera berdiri, lalu menatap sang putri dengan netra berkaca-kaca. Ia tidak menyangka bahwa saat ini putri kesayangannya akan mendapatkan cobaan seberat ini. Sebagai seorang ibu, ia sangat takut bila Runi tidak bisa di terima oleh keluarga kaya raya itu. Sadar sekali putrinya tak berpendidikan tinggi, bahkan ia dan suami sedang mengusahakan untuk biaya pendidikan Runi ke jenjang yang lebih tinggi. Namun, semua usahanya terasa pupus dan sia-sia. Kini Runi harus mengandung dari hasil kesalahan semalam yang di lakukan oleh anak majikannya.
"Ibu...." Lirih Runi tak kuasa sudah menjatuhkan air matanya.
"Jangan bicara apapun, Nak," ucap Bu Siti seraya meraih tubuh Runi, lalu mendekapnya erat. "Ini semua sudah terjadi. Ibu tahu kamu tidak bersalah. Jangan menangis lagi ya," ujar wanita itu menguatkan sang anak. Padahal hatinya tak kalah hancur dengan kenyataan ini.
Runi semakin terisak memeluk erat sang Ibu. Hanya kasih sayang ibu yang mampu menenangkan dirinya. Ia tidak tahu bagaimana jika tidak ada ibu dan ayah di dunia ini. Biarkan saja semua orang membenci dirinya, asalkan ayah dan ibu masih menyayangi dan mencintainya. Maka dunianya akan baik-baik saja.
"Ayo duduklah, Nak," ucap tuan Saga mempersilahkan Runi untuk duduk.
"Sebentar, saya panggil Yandra dan juga istri saya," ujar lelaki itu lagi.
Pak Ali dan Bu Siti hanya mengangguk. Mereka masih berusaha menangkan Runi.
"Jangan bersedih ya. Ada ayah dan ibu. Kamu tidak perlu merasa takut," ucap ayah sembari mengusap kepala Runi.
Runi hanya mengangguk sembari menghapus air matanya. "Maaf jika Runi sudah menghancurkan segala harapan ayah dan ibu. Hiks hiks...."
"Ssshhttt.... Jangan berkata seperti itu, Nak. Semua bukanlah kesalahan yang kamu sengaja lakukan. Sudahlah, jangan bahas hal itu lagi. Sekarang pikirkan saja janin yang ada di rahim kamu. Bagaimanapun juga dia berhak untuk mendapatkan cinta dan kasih sayang dari semua orang," ucap Ayah begitu menyayangi putrinya.
Sementara itu tuan Saga mendatangi kamarnya setelah menyuruh Yandra untuk menemui kedua orangtua Runi.
"Ma, ayo bangun dan temui orangtua Runi," titah lelaki paruh baya itu.
"Aku ngantuk, Pa. Sana papa saja yang mengurus mereka," jawab wanita itu enggan bangkit dari tempat tidurnya.
"Jangan keterlaluan kamu, Ma. Runi itu adalah korban dari Yandra. Kita harus meminta maaf atas prilaku Yandra!" Sanggah tuan Saga menatap kesal.
"Jika dengan meminta maaf bisa mengubah keputusan Papa untuk menikahkan mereka, maka mama akan meminta maaf pada kedua orangtuanya," jawab nyonya Emeli membuat tuan Saga semakin murka.
"Jangan membuat kesabaranku semakin habis, Emeli. Disini aku kepala keluarga, dan akulah yang berkuasa. Aku tidak pernah mendidik anak dan istriku untuk bersikap kurang ajar pada orang lain. Sekarang bersiaplah, jangan membuatku bertindak lebih tegas lagi!" Tekan lelaki itu membuat nyonya Emeli tak mampu berkata-kata.
Nyonya Emeli terpaksa bangun dari tidurnya. Ia sangat kesal sekali dengan Runi dan keluarganya.
"Ck, kenapa wanita itu harus masuk dalam kehidupan anakku. Sampai kapanpun aku tidak sudi memiliki menantu seperti dirinya," batin wanita itu.
Yandra datang terlebih dahulu menemui kedua orangtua Runi. Lelaki itu berusaha untuk menekan egonya. Bagaimanapun juga ia harus menghormati.
Yandra menyalami tangan Bu Siti dan Pak Ali. Ia duduk berhadapan dengan keluarga kecil tersebut.
"Pak, Bu, aku minta maaf atas segala kesalahan yang telah aku lakukan terhadap Runi. Dan aku akan bertanggung jawab," ujar Yandra.
Pak Ali dan Bu Siti tak bisa bicara banyak. Jika sudah seperti ini, mereka bisa apa? Semoga pernikahan Yandra dan Runi bisa membawa kebahagiaan.
"Semua sudah terjadi. Jika Nak Yandra benar-benar ingin bertanggung jawab, maka kami sebagai orangtua hanya bisa memberi restu dan mendoakan kebaikan untuk Runi dan nak Yandra.
"Tetapi ada syaratnya!" Seru Nyonya Emeli membuat semua orang yang ada di ruang keluarga menoleh.
"Pernikahan Yandra dan Runi hanya sebatas status saja. Agar kedua belah pihak keluarga tidak menanggung malu. Nanti setelah anak itu lahir, maka Yandra berhak untuk memilih kebahagiaannya," ujarnya lagi.
Bu Siti dan Pak Ali saling pandang dengan tatapan khawatir. Apakah itu artinya Runi akan menjanda setelah anaknya lahir?
"Apa-apaan kamu, Emeli?" Sanggah tuan Saga geram sekali dengan sikap istrinya.
"Apa yang aku katakan demi kebaikan mereka berdua, Pa. Karena Yandra dan Seruni tidak saling mencintai," jawabnya seakan menyimpulkan sendiri.
"Cinta atau tidak mereka, kita sebagai orangtua tidak boleh ikut campur dalam urusan rumah tangga mereka. Biarkan mereka yang akan memutuskan. Jangan pernah menganggap pernikahan ini untuk mainan." Tuan Saga menatap tajam pada nyonya Emeli.
"Yandra, jangan dengarkan ucapan Mama kamu. Karena kamu sebagai seorang suami di wajibkan untuk bertanggung jawab atas anak dan istrimu untuk selamanya. Papa sangat berharap diantara kalian bisa saling mencintai setelah menikah dan hidup serumah," ujar tuan Saga pada sang putra.
"Aku akan mencoba untuk menjalaninya, Pa. Tetapi setelah menikah, aku ingin fokus dengan pendidikanku terlebih dahulu. Aku minta Runi pulang ke kediaman orangtuanya terlebih dahulu. Nanti setelah pendidikanku selesai, aku akan menjemputnya," jawab Yandra membuat Runi terkesiap.
"Aku tidak mau. Aku tetap bersama mas Yandra. Jangan khawatir, aku tidak akan merepotkan mas Yandra," jawab Runi tak rela memberi kesempatan Gracia untuk bisa bersama dengan Yandra.
"Ya, Papa setuju dengan Runi. Kamu tidak perlu khawatir. Runi ini adalah wanita yang mandiri, jadi dia tidak akan mungkin merepotkan kamu."
Nyonya Emeli menatap muak pada Runi. Ia merasa Runi sudah mulai berkuasa, di tambah suaminya yang selalu membelanya.
"Dasar pembantu tidak tahu di untung. Kita lihat saja nanti, apakah kamu masih betah tinggal di rumah ini?" Batin nyonya Emeli tersenyum licik.
Runi tampak santai melihat ekspresi nyonya Emeli dan juga Gracia. "Aku tidak akan membiarkan kalian menguasai mas Yandra. Aku berusaha untuk mendapatkan cintanya. Aku tidak akan takut dengan kalian," batin Runi tersenyum samar.
Setelah membuat kesepakatan bersama, akhirnya malam itu juga Runi dan Yandra di nikahkan. Tentunya tuan Saga tetap melegalkan pernikahan Yandra dan Runi. Sempat kembali berdebat dengan istrinya yang menginginkan pasangan itu menikah secara siri. Tetapi tuan Saga menolak keras, sehingga membuat nyonya Emeli tak bisa berkutik. Karena semua kuasa ada di tangan tuan Saga.
Pernikahan itu hanya di hadiri oleh keluarga terdekat saja. Tentu saja sebagian keluarga ada yang pro dan kontra. Yang jelas dari keluarga Nyonya Emeli yang paling julid.
Pernikahan mereka juga di hadiri oleh istri pertama dari tuan Saga. Yaitu nyonya Amira dan kedua putranya.
"Selamat ya, Yan. Di jaga istrimu dengan baik. Jangan pernah menyakiti hati seorang wanita, karena kamu terlahir dari seorang wanita juga. Mommy lihat istrimu ini gadis yang baik," ujar nyonya Amira.
"Terimakasih ya, Momm," jawab Yandra datar.
"Tidak perlu di jelaskan, karena Yandra sudah paham akan hal itu. Jadi Mbak nggak usah repot-repot mengingatkan," jawab nyonya Emeli pada kakak madunya.
Nyonya Amira hanya tersenyum tenang. Ia sudah tidak heran lagi dengan sikap adik madunya itu. Seharusnya ia yang bersikap acuh dan julid, karena Emeli adalah orang ketiga dalam rumah tangganya. Namun, ia yang terlalu mencintai tuan Saga, maka ia terpaksa mengizinkan lelaki itu menikah lagi.
Bersambung....