Follow IG @Lala_Syalala13
Anya, seorang gadis miskin yang bekerja sebagai pelayan, tak sengaja menyelamatkan Marco Valerius, bos mafia kejam yang sedang sekarat akibat pengkhianatan.
Terpikat oleh kemurnian Anya yang tulus, Marco yang posesif memutuskan untuk "membeli" hidup gadis itu.
Ia menghancurkan dunia lama Anya dan mengurungnya dalam kemewahan sebagai bentuk perlindungan sekaligus kepemilikan.
Di tengah ancaman maut dari musuh-musuh Marco, Anya terjebak dalam sangkar emas, berjuang antara rasa takut dan ketertarikan pada pria yang terobsesi menjadikannya milik selamanya.
Bagaimana kelanjutan ceritanya???
Yukkkk kepoin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OSRM BAB 5_Tamu di Balik Bayangan
Sambil menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya, Anya duduk di meja kecilnya.
Dia membuka buku catatan keuangannya yang kusam, di sana tertulis rincian pengeluaran harian yaitu makan 20 ribu, bensin 10 ribu, cicilan motor... Banyak yang harus dia keluarkan dan ketambahan satu beban lagi yaitu Marco membuat Anya pusing.
Dia menyadari bahwa rincian hidupnya yang sederhana ini mungkin tidak akan pernah sama lagi.
Obsesi Marco bukan hanya tentang membayar hutang budi tapi Marco mulai melihat Anya sebagai satu-satunya hal yang murni di dunianya yang kotor.
Dan bagi seorang mafia, hal yang murni tidak boleh dibiarkan bebas, hal yang murni harus dikurung dalam sangkar emas.
Suasana di dalam rumah petak Anya terasa sangat kaku pagi itu.
Setelah percakapan singkat namun berat tadi, Marco kembali memejamkan mata, tapi Anya tahu pria itu tidak benar-benar tidur.
Marco seperti seekor harimau yang sedang menghemat tenaga, telinganya tetap tajam mendengarkan setiap suara kecil yang ada di sekitar mereka.
Anya sendiri merasa serba salah, dia ingin berangkat kerja ke kedai kopi, tapi kata-kata Marco yang melarangnya pergi tanpa izin terus terngiang di kepalanya.
Belum lagi urusan dengan Bu Ratna yang membuat perutnya mulas.
Sekitar satu jam berlalu dalam keheningan yang menyesakkan, sampai tiba-tiba terdengar suara mesin mobil mewah yang berhenti tepat di depan gang sempit itu.
Di lingkungan seperti ini, suara mobil halus adalah hal yang langka.
Biasanya yang lewat hanyalah motor-motor tua yang knalpotnya menembak-nembak atau gerobak sampah.
Tok, tok, tok.
Ketukan kali ini berbeda, bukan ketukan kasar seperti Bu Ratna, melainkan ketukan yang berirama, pelan tapi tegas.
Anya menatap Marco, pria itu membuka matanya, tidak ada rasa terkejut sedikit pun di wajahnya.
"Buka pintunya, Anya. Itu orang-orang ku," perintah Marco tenang.
Dengan tangan gemetar, Anya membuka kunci pintu.
Di depannya berdiri dua pria mengenakan setelan jas hitam yang sangat rapi bahkan terlalu rapi untuk cuaca Jakarta yang lembap.
Mereka mengenakan kacamata hitam dan memiliki tubuh yang tegap seperti atlet.
"Selamat pagi, Nona," salah satu dari mereka membungkuk sedikit, membuat Anya mundur selangkah karena kaget.
"Kami diperintahkan untuk mengantarkan beberapa keperluan." serunya lagi.
Tanpa menunggu izin lebih lanjut dari Anya, mereka masuk dengan membawa beberapa tas besar dan sebuah koper perak.
Mereka langsung menuju ke arah Marco dengan begitu hormat sekali padanya.
"Tuan Valerius," ucap mereka serempak sambil membungkuk hormat di depan sofa butut milik Anya.
Pemandangan itu sungguh surealis dimana dua pria tangguh bersujud di depan pria yang sedang terbaring di sofa yang pernya sudah keluar-keluar.
"Laporannya?" tanya Marco singkat.
Pria yang satu lagi memberikan sebuah tablet canggih kepada Marco.
"Situasi di markas pusat sudah terkendali sebagian, Tuan. Antonio sedang kami lacak, dia menghilang setelah penyerangan semalam. Mengenai pemilik bangunan ini..." Pria itu melirik Anya sebentar.
"...semuanya sudah diselesaikan sesuai instruksi Anda." ucapnya lagi.
Anya yang berdiri di sudut ruangan hanya bisa bengong. "Selesai? Maksudnya apa?"
Marco menoleh ke arah Anya, ekspresinya melunak sedikit.
"Bu Ratna bukan lagi pemilik tempat ini, Anya. Aku sudah membeli seluruh bangunan ini lewat perusahaan cangkang tadi pagi. Mulai sekarang, kau tidak punya utang sewa pada siapa pun. Dan jika kau mau kau bisa mengusir siapa pun yang tidak kau sukai dari gedung ini." ucap Marco dengan tenang.
Mulut Anya terbuka lebar. "Apa? kamu membeli... seluruh gedung ini? Hanya karena aku ditagih satu juta?"
"Aku tidak suka ada orang yang berteriak padamu," jawab Marco santai, seolah-olah dia baru saja membeli sebungkus permen, bukan sebuah properti.
"Dan di koper itu, ada pakaian untukku, obat-obatan yang layak dan... beberapa hal untukmu." ucapnya lagi.
Salah satu anak buah Marco membuka koper perak itu, di dalamnya terdapat tumpukan uang tunai yang sangat banyak, ponsel baru keluaran terbaru dan beberapa kotak perhiasan yang terlihat sangat mahal.
"Ini berlebihan Marco! aku tidak bisa menerima ini!" seru Anya.
Dia merasa pusing melihat tumpukan uang yang nilainya mungkin bisa membiayai hidupnya selama sepuluh tahun ke depan.
"Ini bukan hadiah, Anya. Ini adalah bentuk perlindunganku," kata Marco.
Dia mencoba duduk tegak, meringis sedikit saat lukanya tertarik, tapi dia tetap menatap Anya dengan intens.
"Dunia luar saat ini sedang tidak aman bagiku, dan karena kau yang menyelamatkanku, mereka mungkin akan mengincar mu juga. Ponsel itu sudah dilengkapi pelacak GPS. Jangan pernah mematikannya."
Anya merasa seperti baru saja masuk ke dalam film aksi yang sering dia tonton di TV toko elektronik.
Bedanya, ini nyata dan dia bukan penontonnya, melainkan pemeran utamanya yang tidak tahu naskah.
"Tapi aku harus kerja Marco, aku punya sif jam sepuluh ini." kata Anya mencoba tetap rasional di tengah kegilaan ini.
"Kau tidak akan bekerja di kedai kopi itu lagi," potong Marco cepat.
"Kenapa? Itu satu-satunya pekerjaan ku!"
"Karena mulai hari ini kau adalah asisten pribadiku dan tugasmu hanya satu yaitu pastikan aku sembuh, dan untuk gajinya? Sebutkan saja berapa yang kau mau pasti akan ku tambah sepuluh kali lipat." ucap Marco dengan sombongnya.
Anya merasa ingin menangis, bukan karena senang, tapi karena dia merasa kebebasannya perlahan-lahan dirampas.
"Kamu tidak bisa mengatur hidup ku seperti ini Marco, aku menolong mu karena aku peduli, bukan karena aku ingin dibeli!" seru Anya tidak terima dengan ucapan Marco tadi.
Keheningan kembali melanda ruangan itu, dua anak buah Marco tampak tegang karena mungkin mereka belum pernah melihat ada orang yang berani membentak bos mereka seperti itu.
Marco menatap Anya dalam-dalam, ada kilatan aneh di matanya yaitu campuran antara kekaguman dan keinginan untuk mendominasi.
"Kau punya prinsip dan aku hargai itu, tapi Anya mengertilah musuh-musuhku bukan orang baik, jika mereka tahu kau yang menyembunyikan ku, mereka tidak akan bertanya berapa gajimu sebelum menyiksamu. Tetap di sini adalah cara agar kau tetap bernapas." ucap Marco memperingati Anya.
Anya terdiam, logika Marco memang benar tapi hatinya merasa sesak.
Dia melihat ke arah anak buah Marco yang berdiri seperti patung.
"Kalian keluar." perintah Marco pada anak buahnya.
"Taruh semua barang itu di meja, jaga di depan gang, jangan biarkan siapa pun masuk kecuali aku yang panggil." ucap Marco.
"Baik, Tuan."
Setelah kedua pria itu keluar, ruangan terasa lebih luas tapi juga lebih mengintimidasi.
Marco mengulurkan tangannya, mengisyaratkan Anya untuk mendekat.
Anya berjalan ragu-ragu dan duduk di kursi di samping sofa dengan sedikit gugup.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
tapi di sini yg bikin aku kesel Anya ngk mau dengerin omongan Marco
ceritanyabagus
ibu kasih bunga wes Thor 🌹lanjut lg seru nih salam👍💪