Alyssa hidup dalam pernikahan yang hancur bersama Junior, pria yang dulu sangat mencintainya, kini menolaknya dengan kebencian. Puncak luka terjadi ketika Junior secara terang-terangan menolak Niko, putra mereka, dan bersikeras bahwa anak itu bukan darah dagingnya. Di bawah satu atap, Alyssa dan Niko dipaksa berbagi ruang dengan Maureen, wanita yang dicintai Junior dan ibu dari Kairo, satu-satunya anak yang diakui Junior.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melon Milk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7
Junior tak ingin memikirkan apa pun lagi. Tak ada lagi yang akan mengusik harinya. Tak ada lagi yang mengingatkannya betapa ia telah dikhianati oleh perempuan yang dulu begitu ia cintai.
Junior tenggelam dalam pikirannya sendiri, hampir saja larut terlalu dalam hingga rasanya ingin menenggelamkan diri. Ia menenggak minuman sendirian. Jika ada yang mengganggunya sekarang, ia yakin akan tersulut emosi.
Dan seolah dipanggil oleh pikiran itu, ponselnya berdering.
"Tsk!"
Ia merogoh saku dan mengambil ponselnya. Kerutan di dahinya mengendur saat melihat nama sang ibu tertera di layar.
Sudah lama ia tak menghabiskan waktu bersama orang tuanya. Kesibukan bisnis membuatnya jarang pulang.
"Ibu?"
"Sayang, Ibu ingin mengumpulkan semua orang untuk makan malam keluarga," ujar ibunya. Tubuhnya sedikit bergeser di kursi.
Ia memang belum memberi tahu orang tuanya soal perpisahannya dengan Alyssa, tetapi ia tahu keluarga besar sudah menduganya. Pernikahan mereka telah memasuki tahun kelima. Dua bulan terakhir, surat perceraian sudah disiapkan, dan baru sekarang ia mengajukannya pada Alyssa.
"Kapan, Bu?" tanyanya.
Ia menoleh ke lantai atas dan melihat Maureen berjalan menuju salah satu kamar.
Tentu saja ia tak bisa membawa Maureen, meski keluarganya tahu tentang keberadaan perempuan itu. Seluruh keluarga juga tahu bahwa ia memiliki seorang anak dari perempuan lain.
"Aku ingin melihat Maureen dan cucuku, Kairo. Tidak perlu membawa Alyssa. Aku sudah muak melihatnya," ujar ibunya ketus. "Kalau menurutku, kamu seharusnya menikahi Maureen. Dia baik, pintar, dan Ibu menyukainya."
Pilihan sang ibu selalu jatuh pada Maureen. Ia tak pernah menyukai Alyssa. Jika bukan karena keinginan ayah dan mendiang kakeknya, ia tak akan menikahi perempuan dari keluarga Asveil. Ia hanya butuh warisan, dan tugas Alyssa seharusnya selesai di situ.
Namun yang tak ia duga, mereka justru saling mencintai. Dari cinta itu, lahirlah Niko. Itulah sebabnya mereka bertahan selama itu.
"Kami akan berpisah," ucapnya lirih. Ia menuang bir lagi dan meneguknya.
"Bagus. Tapi satu hal yang harus kamu lakukan," lanjut ibunya. "Kita harus mengambil Niko. Aku tidak mau cucuku tumbuh di luar keluarga kita."
Demi reputasinya, Junior tak pernah mengatakan pada orang tuanya bahwa Niko bukan anak kandungnya.
Bagaimana ia bisa menjelaskan bahwa Niko bukan darah dagingnya? Kebencian orang tuanya pada Alyssa akan semakin besar, dan itu akan memalukan baginya.
Tak ada yang bisa menyalahkannya mengapa ia mengambil simpanan dan menanam benih yang kemudian tumbuh menjadi Kairo.
"Bu, aku tidak bisa membawa Maureen dan Kairo. Ibu tahu keluarga ayah tidak menyukainya."
Berbeda dengan ibunya, Keluarga Brixton justru menyukai Alyssa dan membenci Maureen. Mereka membenci perempuan perebut suami.
Itulah sebabnya Keluarga Brixton juga membenci ibunya. Dulu, ibunya pun seorang simpanan sebelum akhirnya menikah dengan ayah Junior setelah istri pertama pria itu pergi.
Sebagai hukuman, kakek Junior tak memberikan warisan pada ayahnya. Warisan itu baru akan diberikan pada Junior jika ia menikah dan memiliki keturunan. Ironisnya, Junior justru mengulangi kesalahan ayahnya.
"Oh, para keluarga suci itu," dengus ibunya. "Kalau bukan karena keluarga, aku tak akan mengundang mereka."
"Bu, jangan dipikirkan. Bisa-bisa Ibu cepat tua," ucap Junior setengah bercanda.
Itulah alasan ia jarang pulang ke rumah besar keluarga, ketegangan keluarga selalu terasa.
"Bagaimanapun, seperti yang kukatakan, Alyssa dan aku sudah menandatangani surat perceraian. Dia sudah meninggalkan rumah," ucapnya. Tenggorokannya terasa sesak saat mengatakan itu.
"Benarkah? Dia pergi bersama Niko?"
"Iya, Bu."
Ia harus fokus pada keluarganya sekarang. Merawat Kairo dan menikahi Maureen.
"Aku akan menghubungi keluarga Asveil untuk makan malam keluarga. Jam delapan malam besok. Sampai nanti," ujar ibunya sebelum menutup telepon.
Ia juga perlu menjelaskan perpisahan itu pada keluarga Alyssa, jadi undangan makan malam keluarga dirasa tepat.
Junior mengirim pesan pada sahabatnya, Victor, mengajaknya bermain golf di lapangan terbuka milik keluarga Brixton. Sudah lama ia tak bermain. Stres yang menumpuk menuntut pelarian.
Ia tak berpamitan pada Maureen. Ia mengendarai Lamborghini-nya menuju lapangan golf. Di ruang ganti, ia berganti pakaian, kemeja polo biru dan celana pendek putih sepanjang dua jari di atas lutut, dengan sepatu putih.
Junior memiliki pesona misterius, daya tarik yang membuat banyak perempuan bertekuk lutut, terpaku pada wajah tampan, rahang tegas, dan tubuh atletisnya.
Termasuk mantan istrinya.
Ia mengernyit.
Nama Alyssa tiba-tiba muncul di benaknya. Ia menghela napas kesal. Mengapa ia memikirkannya? Ia menyalahkan Alyssa atas segalanya. Perempuan itu telah menyia-nyiakannya.
"Kamu kelihatan kacau," sapa Victor saat tiba di lapangan.
Junior menyeringai dan melempar stik golf ke arah sahabatnya. Victor menangkapnya sambil tersenyum.
"Aku mau kamu mengalahkanku. Alihkan pikiranku dua jam," ujar Junior sambil mulai bermain. Ia memerintahkan pengawal membawa camilan.
Victor adalah sahabat terlamanya sekaligus partner bisnisnya. Mereka menyatukan kekuatan untuk memperbesar kekayaan. Bahkan, ada rencana menjodohkan anak-anak mereka kelak demi melanjutkan garis keturunan dan kekuasaan bisnis.