NovelToon NovelToon
Mr Billioneire Wife

Mr Billioneire Wife

Status: tamat
Genre:Romantis / CEO / One Night Stand / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Percintaan Konglomerat / Tamat
Popularitas:16.4M
Nilai: 4.9
Nama Author: evii_

plagiat dilarang mendekat!🔥🔥

aku tidak tahu apakah ini depresi. maksudku aku tidak sedih,tapi aku juga tidak bahagia. di saat langit terang aku tertawa dan bercanda gurau. dan disaat malam aku lupa cara untuk tersenyum. ~ Grace Elisha Elard

aku akan menyembuhkan semua lukamu dengan cinta yang kumiliki. ~ Damian Efrat Wilson.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon evii_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gaun macam apa ini? (Revisi)

Milan, 18:00 PM.

Jarak dari Milan ke New York membutuhkan waktu tempuh sekitar 10 jam lebih. Alhasil pesawat mereka tiba di kota milan, di sore hari.

Pesta ulang tahun di adakan di malam hari. Karena itu, Damian mengajak Grace singgah di sebuah hotel bintang lima untuk beristirahat selama beberapa jam ke depan.

Mereka bersiap-siap satu jam sebelum pesta di mulai. Damian menyewa make up artis profesional untuk mendadani Grace. Malam ini, Grace harus menjadi pusat perhatian. Agar seluruh keluarga tau, Grace adalah istrinya.

Ya, Damian merahasiakan alasan lain di balik di selenggarakannya pesta ini. Selain untuk merayakan ulang tahun Ara, pesta ini juga bertujuan untuk memperkenalkan Grace pada keluarga besar Wilson.

Dua tahun berlalu, tidak pernah sekalipun Damian membawa Grace pulang ke mansion utama. Bahkan menunjukkan foto Grace saja tidak pernah. Karena itu, Damian membawa Grace pulang. Hendak memperkenalkannya pada keluarga, malam ini.

"Silahkan duduk nona, saya akan mendandani anda!" seorang wanita muda berambut kecoklatan mempersilahkan Grace duduk di kursi depan meja rias. Sempat ragu, sebelumnya Grace tidak pernah memakai make up. Takut wajahnya terlihat semakin tua.

Sebenarnya tanpa make up pun Grace terlihat cantik. Namun, perias itu ingin memermak sedikit supaya pori-pori Grace tidak terlihat. Hanya make up tipis, bukan make up bold yang menor.

Selama 30 menit Grace duduk dengan posisi tegak. Lelah, tetapi hasil yang di peroleh tidak mengecewakan. Kecantikan Grace bertambah dua kali lipat. Membuat siapapun yang melihatnya terpesona.

"Ini pakaian anda nona!" menyerahkan dress hitam dengan belahan kaki sampai ke paha. Sedikit terbuka, tetapi cocok ditubuh ramping Grace.

"Bagaimana penampilan ku?" Grace bertanya sembari memutar tubuhnya ke kanan dan ke kiri. Menatap perias itu dengan tatapan intens. Tidak sabar mendengar pendapatnya.

"Sangat cantik nona!" pujinya diiringi senyum tulus.

Grace senang dengan penampilannya sekarang, tetapi tidakkah gaun ini terlalu terbuka. Grace yakin, Damian pasti marah setelah melihatnya memakai gaun kekurangan bahan ini.

Tok! tok! tok! ketukan tiga kali terdengar dari luar sana. Grace berjalan mendekat, membuka pintu itu. Terlihat Damian berdiri dengan tegap seraya menggendong Xavier.

"Sudah siap?" tanyanya. Mata keabu-abuan itu memperhatikan penampilan Grace dari atas sampai ke bawah. Wajahnya berubah suram kala menangkap belahan gaun yang cukup tinggi.

"Gaun macam apa ini, siapa yang memilih?" tanya Damian marah. Lantas, sang perias terdiam di tempat. Tubuhnya bergetar hebat, takut dengan pertanyaan Damian.

"Ganti," perintah Damian. Satu kata, namun terdengar tegas dan tidak bisa di sepelekan. Grace memutar bola matanya malas, pesta akan segera di mulai. Dan Damian menyuruhnya berganti pakaian, apa dia bercanda. ?Mereka tidak memiliki banyak waktu yang tersisa.

"Ef, kita sudah terlambat!" kata Grace malas. Damian tidak menyangkal, karena seharusnya mereka sudah sampai di tempat acara sekarang.

"Ck, ayo!" dengan terpaksa menyetujui. Sedikit tidak rela, namun masalah ini masih bisa di tolerir. Lagi pula pesta ini hanya di hadiri oleh anggota keluarga saja. Jadi memberi sedikit kebebasan tidak masalahkan.

...🦋🦋🦋🦋...

Sampai di mansion utama, Damian menyuruh Grace merangkul lengan kirinya. Sedangkan lengan kanannya, ia pakai untuk menggendong Xavier. Ketiganya masuk dengan langkah beriringan.

Dan entah kenapa Grace merasa gelisah. Sedikit gugup, karena baru pertama kali Damian mengajaknya pulang setelah mereka menikah. "Akhirnya kau datang juga, sayang!"

Seorang wanita paruh baya berpenampilan sederhana berjalan cepat menghampiri mereka. Wanita itu tersenyum sampai memperlihatkan kerutan di sekitar mata.

"Aku merindukan mu mom!" ujar Damian tanpa merubah ekspresi sedikitpun. Ya, wanita itu adalah Agatha Wilson. Istri dari Hans Wilson sekaligus ibu kandung Damian.

Melihat ekspresi Damian, Agatha mengulum senyum. Sudah berpuluh-puluh tahun lamanya. Tetapi Damian masih sama, hemat ekspresi dan bicara. Persis seperti ayahnya.

"Ini.. ?" menatap Grace dengan tanda tanya. Yang di tatap langsung gugup. Tersenyum kaku tanpa mengeluarkan sepatah kata.

"Ini Grace mom, istri ku dan ini Xavier cucu mu!" seketika senyum cerah tercetak di wajah keriputnya. Agatha menarik tubuh Grace dan memeluknya dengan erat.

"Selamat datang di keluarga kami sayang!" serunya. Awalnya Grace terkejut, tapi Grace membalas pelukan Agatha dan mengucapkan terimakasih.

"Grace? kalau tidak salah, kau putri bungsu Daniel Elard huh?" Seorang pria paruh baya menyahut dari belakang sana. Entah sejak kapan, Hans Wilson berdiri di belakang Agatha.

"Iya paman, aku putri putri bungsu Daniel Elard!" menjawab setelah melepaskan pelukan. Mendengar Grace memanggilnya dengan embel-embel paman, Hans Wilson melepaskan tawanya.

Baginya Grace sangat lucu dan konyol, "panggil aku dad, nak. Aku ayah mertua mu!" mengusap puncak kepala Grace beberapa kali. Perasaan hangat menyelimuti hati, Grace tidak menyangka mendapat perlakuan menyenangkan dari keluarga Damian.

"Kemari sayang, aku akan memperkenalkan mu pada keluarga kami!" Agatha menarik Grace masuk, meninggalkan Damian bersama dengan ayahnya. Terlalu senang dengan kedatangan Grace, membuat Agatha lupa akan kehadiran Xavier.

"Mereka melupakan kita boy!" gumam Damian. Lalu mengikuti langkah ibu dan istrinya dari belakang.

Agatha memperkenalkan Grace pada adiknya, yaitu Kanaya. Ya, Kanaya dan Dominic selalu datang setiap Ara berulang tahun. Bisa di bilang Ara sudah seperti anak kandung mereka sendiri.

"ini Kanaya adik ku dan ini Dominic adik ipar ku!" Grace mengangguk pelan, lalu tersenyum tipis dan menyapa mereka.

"Menantu mu sangat cantik kak!" puji Kanaya membuat Grace salah tingkah. "Kau juga memiliki menantu yang cantik, jadi tidak usah iri!" sarkas Agatha di iringi tawa renyah.

"Di mana Peter, apa dia belum datang?" menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Mencari keberadaan sang keponakan. Nihil, batang hidung Peter masih belum terlihat.

Damian duduk di samping Grace, menyimak pembicaraan antara ibu dan bibinya. Sedikit was-was, takut Kanaya menyebut nama Rachel. Sampai hari ini Damian masih belum memberitahu Grace perihal pernikahan Peter dan Rachel.

Tap! tap! tap! suara heels menggema di seluruh penjuru ruangan. Pembicaraan mereka terhenti, semua pandangan tertuju ke arah tangga. Seorang gadis cantik berjalan menuruni tangga dengan anggunnya.

Melihat betapa cantiknya Ara membuat Grace terpesona. Grace rasa keturunan Hans Wilson tidak ada yang cacat. Semuanya cantik dan tampan. Ara memiliki warna bola mata yang sama seperti milik Damian.Tetapi wajah mereka tidak mirip sama sekali.

Grace menjadi tujuan utama Ara. Gadis itu menghampiri Grace dan menyapa dengan antusias. "Hai kakak ipar, akhirnya aku bisa bertemu dengan mu!" Ara memeluk Grace tanpa meminta izin. Grace terperanjat kaget, namun menyambut pelukan Ara.

"Hai Ara," Grace menyapa balik. Ara terlihat senang dengan kehadirannya. "Ini untuk mu!" menyerahkan bingkisan kotak bewarna emas.

"Terimakasih kak!" kegirangan karena mendapatkan hadiah. Ini kali pertama, Grace memberi Ara hadiah ulang tahun setelah menikah. Tentu saja Ara menerimanya dengan senang hati.

Kini tatapannya beralih pada bayi yang duduk di pangkuan Damian. "Keponakan ku, boleh aku menggendongnya kak?" izin Ara pada Grace. Sungguh, gadis ini membuat Damian geram sejak tadi. Bagaimana tidak, Ara seolah melupakan kehadirannya di sini.

"Tentu saja, kau bisa menggendongnya. Tidak perlu minta izin," jawab Grace. Semakin membuat Ara gembira. Tanpa membuang-buang waktu, Ara menyahut Xavier dari pangkuan Damian dan membawanya menjauh dari meja makan.

Agatha, Kanaya, dan Grace sibuk mengobrol bersama. Berbagi cerita mengenai kehidupan rumah tangga. Sedangkan Hans, Dominic, dan Damian saling diam dan memperhatikan. Ketiga pria menyedihkan itu tampak di landa kebosanan. Namun, ketiganya juga tidak tahu harus melakukan apa.

"Mau bermain catur?" tawar Hans pada akhirnya. Dominic dan Damian saling melemparkan tatapan, seolah beradu pendapat lewat tatapan itu.

Karena tidak ada kegiatan yang bisa mereka lakukan di sini. Alhasil keduanya mengangguk secara bersamaan. Menyetujui ajakan Hans Wilson.

Hans mengajak Dominic dan Damian masuk kedalam ruang kerja. Karena tidak ada tempat yang lebih tenang selain ruang kerjanya. Dulu, ruang ini di penuhi dengan berbagai macam dokumen dan benda elektronik.

Tapi sekarang, ruang ini berubah menjadi Museum benda-benda antik. Ya, setelah Damian mengambil alih perusahaan. Hans mulai menikmati masa tuanya. Dengan mengoleksi benda-benda antik yang di jual di pelelangan.

"Kalian bermain saja," ujar Damian. Memutuskan mengalah dan membiarkan teman lama itu bermain. Hans maupun Dominic Sama-sama tidak menolak.

Keduanya duduk di tempat berseberangan. Mulai menata rapi bidak di atas papan. "Ngomong-ngomong soal Grace, apa kau sudah memberitahunya tentang pernikahan Peter dan Rachel?"

Dominic melontarkan pertanyaan, seraya menggerakkan bidak di atas papan. Permainan di awali oleh Hans karena pria itu memilih bidak bewarna putih.

"Aku masih belum memberitahu Grace paman!" jawab Damian. Matanya fokus memperhatikan papan catur.

"Seharusnya kau memberitahunya dari awal boy. Mungkin masalah mu tidak akan serumit ini." sahut Hans, mengerti situasi sulit yang Damian alami.

"Aku tidak ingin Grace merasa bersalah dad. Karena itu, aku menyembunyikan kebenaran." Hans maupun Dominic sama-sama tertawa lepas setelah mendengar jawaban Damian.

"Yang ada Grace semakin marah pada mu, Ef! aku yakin itu," ujar Dominic. Menggelengkan kepalanya heran, tidak percaya Damian jadi budak cinta dalam waktu yang singkat.

"Aku tahu uncle, tapi tidak masalah. setelah lelah dia akan berhenti marah!" sahut Damian. Ketiganya kembali fokus pada permainan. Sesekali membicarakan bisnis yang mereka jalankan sekarang.

...🦋🦋🦋🦋...

Setelah pesta usai, Agatha mengajak Grace ke kamar. Di sana ia memberi Grace perhiasan warisan turun temurun keluarga sebagai hadiah pernikahan. Grace sempat menolak, namun Agatha memaksa dan berkata jika itu sudah tradisi keluarga.

"Grace, bisa aku menanyakan sesuatu?" Agatha duduk di samping Grace. Sempat ragu, tetapi rasa penasarannya lebih besar dari rasa ragu yang menggerogoti hati.

"Tentu mom, tanyakan saja!" Grace menatap ibu mertuanya intens. Melihat kegelisahan yang tersirat di mata Agatha, Grace yakin pertanyaan itu tidak jauh dari masalah rumah tangganya dengan Damian.

"Apa kau mencintai Putra ku?" tepat sasaran. Sudah Grace duga, cepat atau lambat Agatha menyadari perasaan bencinya pada Damian.

Lantas Grace mengatupkan bibirnya rapat. Tidak tahu harus menjawab apa. Cinta? perasaan itu masih belum muncul. Untuk sekarang Grace masih berusaha menerima kehadiran Damian.

"Jawab pertanyaan mommy dengan jujur, sayang. Apapun jawaban mu nanti, mom tidak akan membenci ataupun memarahi mu!" lanjutnya meyakinkan. Tidak ingin membuat Grace tertekan karena perasaan yang membingungkan.

"Aku masih belum memiliki perasaan padanya mom. Maaf!" ucap Grace pelan. Sorot matanya menyiratkan rasa bersalah. Sungguh, Grace tidak ingin menyinggung perasaan Agatha. Namun, itulah yang sebenarnya. Grace masih belum mencintai Damian.

Mendengar Grace mengutarakan perasaan yang sebenarnya, Agatha mengulas senyum tipis. Dugaannya benar, Damian menikahi Grace secara paksa.

"Tapi jangan khawatir mom. Aku memutuskan membuka hatiku untuknya, aku akan belajar mencintainya mulai dari sekarang." Grace meraih kedua tangan Agatha, lalu menggenggamnya dengan erat.

Melihat keseriusan di mata Grace membuat Agatha senang. Terlepas dari bagaimana cara Damian dan Grace menikah, Agatha meyakini bahwa semua itu sudah ditakdirkan oleh sang Pencipta. Tunggu dan lihat saja, pernikahan mereka akan berakhir bahagia.

"Mom, tahu itu. Malam ini biarkan Xavier tidur di sini. Habiskan waktumu bersama suami mu." Grace mengangguk pelan. Menundukkan kepala, menatap lantai marmer yang di pijaknya.

Semburat kemerahan mulai bermunculan di kedua pipi lebarnya. Grace malu.

"Aku pergi ke kamar mom, kau istirahat saja. Selamat malam!"

"Selamat malam!"

TBC

1
ollyooliver🍌🥒🍆
hmmm.apakah nanti akan seperti cerita novel yg membosankan lainnya yang ujung"nya bapaknya dimaafkan lalu diterima kembali..😌
Asih Sudarsih
aku curiga peter yg membuat belle hamil dan punya anak
Aba Bidol
Kerennnnn 👍❤️
Jessica Xie
halo othor
apakah dh boleh d rilis novel barunya
koq dari tahun 2022 sampe tahun 2024 masih belum liris sih
muhammad daffa: kak kpn update novel baru nya versi anak anak " damiyan & Peter
total 1 replies
PANJUL MAN
alurnya menarik
PANJUL MAN
bagus
PANJUL MAN
menarik
PANJUL MAN
apa obat peransangnya bereaksi koq gak kita gak tau ,tiba2 saja udah selesai, ada adegan yg hilang?
PANJUL MAN
lanjut komandan !
PANJUL MAN
lanjut
G.Lo
Cerita bagus...sangat bagus cuman kok sosok Damian kasar yach...harusnya istri disayangi bukan dikasarin kecuali perbuatannya melanggar itu baru terserah anda...
Imam Sutoto Suro
mantap thor lanjut
Imam Sutoto Suro
top deh lanjut thor
Imam Sutoto Suro
wooow keren lanjut thor
Imam Sutoto Suro
beneran super duper novel lanjutkan thor
Imam Sutoto Suro
beneran keren thor lanjutkan
Imam Sutoto Suro
amazing story
Imam Sutoto Suro
joosss tenan lanjutkan thor
Imam Sutoto Suro
wooow amazing story thor lanjutkan
Imam Sutoto Suro
good luck thor lanjutkan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!