"Sepertinya aku mengenalnya, dia sangat tampan dan wajah putih bersih itu, dia sungguh seperti malaikat." Batin Xela.
Tiba-tiba lelaki tampan itu menciumnya di bawah air yang masih jauh dengan permukaan. Xela bisa merasakan sentuhan bibir mereka, lelaki tampan itu memeluknya dengan erat dan mencium bibirnya, ini terasa seperti mimpi. Xela menganggapnya mimpi karena tubuhnya terlalu lemah dan tidak bisa melakukan penolakan. Ciuman di dalam air dengan sosok lelaki tampan adalah mimpi bagi Xela, matanya yang sudah melihat dengan pandangan kabur memaksanya untuk terpejam.
Namun Xela bisa merasakan ciuman ini, ciuman yang sangat dalam bahkan sangat dalam dari danau ini.
Penasaran untuk melihat siapa sosok itu, Xela membuka matanya lagi berusaha fokus memandang sosok lelaki itu dan ia menemukan lelaki itu mirip Alfarel.
"Oh tidak apakah dia kak Alfarel? Tuan possesif itu?" batin Xela lalu menutup matanya lagi tidak kuasa menahan perih matanya, ia tidak bisa Melepaskan dirinya dan ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marlita Marlita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dikira Kerasukan
"Apa ... aaaaa ...."
Teriakan Xela yang hampir menembus gendang telinga Dafi sangat membuatnya terkejut, disusul dengan hal tidak terduga, Xela memukulnya dengan sapu sehingga secepat mungkin ia berlari ke luar kamar.
"Aaa ... tidak tolong, siapapun tolong ada yang kerasukan."
Dafi melantangkan suaranya sambil terbirit-birit berlari keluar kamar, seketika itu Xela tersadar dengan apa yang telah ia lakukan.
"Astaga kak Dafi, ya ampun aku susah memukuli kak Dafi, gimana ini. Aduh kok bisa kaya gini sih."
Xela segera pergi keluar mengejar Dafi bermaksud untuk meminta maaf atas kesalahannya.
"Kak Dafi tunggu."
Xela berusaha untuk mempercepat langkah kakinya namun Dafi sudah terlanjur keluar dari pintu utama meninggalkan Xela sendirian.
\*\*\*
Di kampus, Alfarel dan teman-temannya terlihat sedang berdiskusi di sebuah lapangan. Biasalah mungkin karena tugas kelompok atau memang urusan laki-laki, teman-temanAl diantaranya bernama Wisnu, Van, dan Cano.
"Kak Al."
Dari kejauhan, seseorang memanggil Alfarel, siapa lagi kalau bukan Cika yang selama ini selalu saja mencari perhatian Alfarel. Tetapi karena Alfarel memang tidak memiliki perasaan terhadapnya, Alfarel cuek saja, tidak mau menghiraukan mahasiswi itu.
"Cie Al kayanya Lo beruntung deh dekat sama Cika. Sana lo hampiri mumpung dia datang sendiri."
Ucap Wisnu setengah bergurau, karena ia tahu sendiri bagaimana reaksi Alfarel ketika Cika selalu menunjukkan dirinya.
"Selalu begitu. Gue gak sudi respon."
Ketus Alfarel kemudian pergi meninggalkan mereka bertiga.
"Al ya kali lo pergi ninggalin kita, apa lo cari tempat yang sepi biar Cika datang ke sana lalu kalian ngobrol mesra hehe ..."
Ucap Van yang juga pandai bergurau, ia berhasil membuat Alfarel menghentikan langkahnya dan menoleh dengan wajah kesal sampai akhirnya Cika berhasil berada di sampingnya.
Cika langsung memeluk lengan Alfarel layaknya seorang kekasih, padahal tidak, ia hanya memiliki misi sendiri untuk mengejar Alfarel.
Ya kali cewek ngejar cowok.
"Kak Al, siang ini kan kita udah tahu kalau kita cepat pulangnya. Aku mau ajak kak Al ke restoran yang sangat aku impiannya, mau ya."
Ajak Cika sambil mengguncangkan tangan Alfarel.
"Ekhhm makan siang ceritanya nih."
Kata Van, Wisnu dan Cano berbarengan menggoda Alfarel.
Alfarel terlihat gerah, berulang kali ia melepaskan tautan tangannya dari Cika, namun Cika tidak berhenti meraih tangannya kembali.
"Cika Lo yang sopan ya, lepasin tangan gue. Gue nggak suka sama Lo."
Alfarel menepis tangan Cika kemudian berlalu pergi begitu saja.
Tidak di sangka ada seseorang dari kejauhan mengintai pergerakan Alfarel dengan sebuah pisau tajam yang siap di lemparkan, orang tersebut berada di dibalik tembok, anehnya tidak ada orang yang tahu tentang keberadaannya yang misterius mengunakan topeng jauh dari kata kentara.
Orang itu terlihat sedang membidik bagian dada Alfarel dan hendak menikam Al dari kejauhan, dan pisau itupun dilemparkan setelah merasa pas dengan sasarannya.
Alfarel tidak tahu sama sekali apa yang terjadi sehingga ia berjalan lurus kedepan saja.
"Kak Al a ..."
Cika mengejar Alfarel dan menepikan tubuh Alfarel sedikit ke samping agar langkah mereka seimbang, tidak disangka suara Cika yang awalnya lantang kini melemah setelah merasakan sesuatu menusuk pundak kanannya.
Sesuatu yang sangat sakit membuat Cika menoleh lalu terkejut karena pisau hitam telah tertancap di pundaknya menembus kulinya yang ditutupi pakaian sehingga mengeluarkan darah yang membasahi bajunya merubah warna bajunya.
"Aaaa ..."
Cika berteriak dalam waktu singkat kemudian pingsan karena shock.
Semua mahasiswa termasuk seorang dosen yang melihat kejadian tersebut kini berlari menghampiri Cika dan Alfarel disertai sorakan histeris mahasiswa yang ikut shock.
\*\*\*
Di rumah kediaman Alfarel, Xela yang berusaha menghampiri Dafi untuk meminta maaf malah tidak bisa keluar, ia terkurung didalam rumah sementara Dafi sedang berdiri dengan tubuh gemetar di luar, Xela dapat melihatnya dari kaca sebelah pintu, sayangnya kaca tersebut tidak bisa dibuka karena bukan kaca jendela.
"Aduh angkat dong bang Al ini darurat, gimana kalau Xela ntar bunuh gue. Cepat bang Al angkat ... haaa ...."
Rintih Dafi, ia menelepon Alfarel tetapi tidak diangkat padahal teleponnya sedang aktif.
"Kak Dafi aku minta maaf kak. Jangan salah paham kak,buka pintunya." Teriak Xela dari dalam rumah sambil menggedor pintunya, bukannya Dafi menghiraukan nya, Dafi malah hanya melihatnya sebentar kemudian membalikkan badannya ketakutan.
"Ada apa ini. Kenapa kak Dafi ketakutan banget lihat gue. Atau jangan-jangan ini ..."
Xela melirik ke belakangnya memerhatikan situasi rumah yang sangat sepi, hanya ada dirinya saja didalam rumah yang luas itu.
Xela menelan salivanya, ia merasakan takut melihat ruangan yang sepi itu.
"Kak Dafi buka pintunya. Kak Dafi aku minta maaf."
Teriak Xela, kali ini ia hanya menggedor kaca yang ada dihadapannya dengab telapak tangannya. Sayangnya mungkin Dafi tidak mendengar suaranya lagi, Dafi terlihat ragu untuk berbalik ke arahnya.
Xela melirik lagi ke belakang, jauh dari tempatnya berdiri, disisi tangga sebelah kanan terdapat cermin yang tinggi dan besar, Xela memandangi cermin tersebut, pantulan dirinya dari sana terlihat begitu menyeramkan sehingga Xela berpikir yang tidak-tidak.
Ia memandang pangtulan dirinya yang begitu sangat jauh, dan dengan samar alias kentara ia melihat di sisinya berdiri sesosok yang perempuan menggunakan baju putih dan wajah yang cantik, dan itu seperti yang ia lihat di dalam foto bersama Alfarel tadi, namun ketika ia melirik ke sampingnya, tidak ada orang disampingnya. Perasaanya mulai tidak enak jantungnya berdebar tidak beraturan.
"Kak Dafi tolong aku kak. Kak tolong buka pintunya, aku takut."
Xela berteriak sekuat mungkin mengeluarkan suaranya, namun Dafi bukannya mau mengantarkannya, Dafi malah terlihat sibuk menghubungi seseorang dengan smaerphone yang di tempelkan di daun telinganya, ia malah ketakutan melihat Xela yang sudah menangis di balik kaca bening, tidak ada keberanian dalam diri Dafi, ia terus mengira jika Xela sedang kerasukan, maka ia ketakutab bahkan menghampirinya dan memandangnya dari balik kaca saja takut.
Xela yang berada didalam rumah merasakan suatu reaksi didalam tubuhnya, ia enggan untuk menoleh ke belakang lagi, sungguh ia tidak menyukai cermin yang berukuran besar dan tinggi di sisi tangga.
Xela merasakan panas di tubuhnya, namun saat ia meraba kulitnya, kulitnya terasa sangat dingin, tubuhnya semakin melemas dan ia kesulitan untuk bernapas.
Ya Tuhan mengapa aku merasa ketakutan yang berlebihan ini, aku bahkan sulit bernapas, ada apa denganku.
Batin Xela sambil menangis sambil megap-megap, ia tidak bisa lagi berteriak untuk meminta pertolongan kepada Dafi karena merasa lemas dan energinya habis, lagipula selama apapun ia berteriak meminta pertolongan kepada Dafi, Dafi tetap tidak mau karena mengira ia kerasukan.
bersambung ....
aku benci wanita lemah..
dan juga benci laki" yg tidak tegas pembawa bencana...