Zivara Amaira adalah gadis yatim piatu yang tinggal bersama paman dan bibinya. Tempat yang seharusnya menjadi perlindungan justru berubah menjadi luka. Sebuah fitnah yang direncanakan oleh sepupunya membuat Zivara harus pergi. Tanpa diberi kesempatan membela diri, Zivara diusir dan dipaksa menelan hinaan atas kesalahan yang tak pernah ia lakukan.
Di sisi lain, Arga Aksara Wisesa adalah pria dingin dan misterius, yang tak memikirkan cinta. Ia hanya fokus pada pekerjaan dan keponakan kecilnya yang harus kehilangan kedua orang tuanya akibat kecelakaan setahun yang lalu.
Dua jiwa yang berbeda dipertemukan oleh takdir. Namun masa lalu, ambisi orang-orang di sekitar mereka, dan rahasia yang perlahan terkuak mengancam kebahagiaan yang baru saja tumbuh.
Akankah cinta mampu menyembuhkan luka yang terlalu dalam, atau justru membuka pintu bagi pengkhianatan yang lebih menyakitkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra za, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 Pemintaan Luna
Pagi itu terasa berbeda bagi Zivara.
Ia berdiri di depan cermin kecil di kamar sederhananya, memastikan penampilannya rapi. Bukan kemewahan yang ia kenakan, hanya pakaian sederhana yang pantas untuk melamar pekerjaan. Namun di balik kesederhanaan itu, ada tekad yang mulai tumbuh.
Hari ini, ia akan menuju perusahaan yang kemarin disebutkan Mona.
Zivara menarik napas dalam-dalam. Ia tak ingin kembali larut dalam bayang-bayang kejadian kemarin. Air mata, pengkhianatan, dan rasa sakit itu harus ia tinggalkan. Jika terus bersedih, ia hanya akan kalah.
“Aku harus bangkit,” gumamnya lirih.
Bukan sekadar untuk bertahan hidup, Zivara bertekad menjadi lebih baik, cukup kuat untuk membalas semua perlakuan yang telah melukainya. Bukan dengan kebencian, melainkan dengan keberhasilan.
“Semoga hari ini menjadi awal yang baik… untuk sekarang dan seterusnya,” bisiknya sebelum melangkah pergi.
Gedung Wisesa Group menjulang megah di hadapannya. Begitu Zivara tiba, suasana sibuk langsung menyambut. Para karyawan tampak hilir mudik dengan langkah cepat, sementara beberapa orang lain berdiri di sudut lobi dengan map di tangan penampilan mereka tak jauh berbeda dengannya.
Zivara yakin, mereka datang dengan tujuan yang sama, melamar pekerjaan.
Sekilas, rasa minder menyelinap ke hatinya. Ia merasa kecil di antara gedung besar dan orang-orang berpenampilan profesional itu. Namun bayangan wajah Mona terlintas di benaknya, bersama pesan sederhana yang begitu berarti.
Percaya sama diri lo sendiri. Jangan menyerah sebelum berjuang.
Zivara mengepalkan tangannya pelan. Ia tidak boleh mundur.
Saat pikirannya masih dipenuhi kegelisahan, tiba-tiba terdengar suara kecil yang bergetar.
“Maaf, Kak… aku nggak sengaja.”
Zivara menoleh ke arah suara itu. Ia melihat seorang gadis kecil berdiri tertunduk, sementara seorang wanita dewasa di depannya tampak marah.
“Maaf-maaf? Makanya jangan lari-lari!” bentak wanita itu kesal. “Lihat nih rok aku kotor gara-gara terkena cokelat kamu!”
Gadis kecil itu kembali meminta maaf dengan suara hampir menangis.
Zivara tak tega. Ia pun melangkah mendekat.
“Permisi, Nona,” ucapnya sopan. “Adiknya sudah minta maaf. Lagipula dia juga tidak sengaja.”
Wanita itu melirik Zivara dengan tatapan sinis. Namun ia segera mengalihkan pandangannya, seolah menahan diri. Ia jelas tak ingin membuat keributan di tempat umum dan merusak citranya.
“Ya sudah,” katanya ketus. “Bawa dia pergi sana. Anak kecil kok dibiarkan bermain bebas di sini.”
Tanpa menunggu jawaban, wanita itu melangkah pergi.
“Terima kasih, Kak,” ucap gadis kecil itu tulus, menatap Zivara dengan mata berbinar.
“Sama-sama,” balas Zivara lembut. “Kamu kenapa di sini sendirian?”
Gadis kecil itu menunduk sebentar, lalu menjawab pelan, “Tadi aku mau ketemu Om, tapi Om lagi sibuk. Aku turun ke bawah, terus nggak sengaja nabrak kakak tadi.”
Zivara tersenyum. Meski masih kecil, gadis itu terlihat berani dan jujur.
“Oh begitu. Kalau boleh tahu, nama kamu siapa?” tanya Zivara. “Kenalin, nama kakak Zivara. Panggil saja Kak Vara.”
“Aku Aluna,” jawabnya ceria. “Panggil aku Luna.”
“Nama yang bagus,” ucap Zivara tulus.
Ia melirik jam di pergelangan tangan nya dan tersadar waktu terus berjalan.
“Kakak harus pergi dulu, sepertinya sudah hampir terlambat,” ucap Vara. “Kamu hati-hati ya, jangan lari-lari lagi.”
“Siap, Kak!” jawab Luna sambil tertawa kecil. “Kakak juga semangat ya. Hati-hati… bos di sini galak,” tambahnya sambil tersenyum.
Zivara terkekeh pelan. “Terima kasih.”
Ia melangkah pergi dengan senyum tipis di wajahnya. Entah mengapa, pertemuan singkat dengan Luna membuat hatinya terasa lebih hangat.
---
Benar saja, Zivara benar-benar terlambat.
Langkahnya terhenti di depan pintu ruang wawancara. Jantungnya berdegup kencang, telapak tangannya terasa dingin. Dengan sisa keberanian yang ia miliki, Zivara mengetuk pintu.
“Masuk.”
Suara dari dalam terdengar tegas.
Zivara menarik napas dalam-dalam, lalu masuk. Ia langsung menundukkan kepala.
“Maaf, Tuan. Saya terlambat,” ucapnya, berusaha menahan gugup.
Arga Aksara Wisesa pria dengan aura dingin dan sorot mata tajam, menatap Zivara tanpa senyum. Seolah menguliti setiap ketakutan yang ia sembunyikan. Di sampingnya, Erik, tangan kanan Arga, hanya mengamati dalam diam.
“Kamu tahu,” ujar Arga datar, “aku paling tidak suka orang yang membuang waktu.”
Zivara menelan ludah.
“Belum apa-apa kamu sudah terlambat. Lalu apa yang membuatmu berpikir layak bekerja di perusahaanku?” lanjut Arga tajam.
“Saya mohon maaf, Tuan. Keterlambatan ini tidak disengaja,” jawab Zivara lirih, hendak menjelaskan.
“Aku tidak menerima alasan apa pun,” potong Arga cepat.
Harapan Zivara nyaris runtuh. Namun ia menolak menyerah.
“Tolong beri saya satu kesempatan saja, Tuan,” ucapnya dengan suara bergetar namun penuh tekad.
Arga hendak membuka mulut untuk menyuruhnya keluar.
Tiba-tiba pintu terbuka.
“Om!”
Suara kecil itu membuat Zivara refleks menoleh.
Seorang gadis kecil berusia lima tahun berdiri di ambang pintu dengan senyum ceria.
“Hai, Kak Vara! Kita ketemu lagi!” sapa Luna riang.
Wajah Zivara seketika melunak. “Hai, Luna,” balasnya lembut.
Arga tertegun.
Ia menatap keponakannya, lalu menatap Zivara kembali. Selama ini, Luna tidak mudah dekat dengan orang asing. Bahkan Julia, wanita yang sering datang ke rumah tak pernah mendapat sambutan sehangat itu.
“Om,” Luna mendekat dan memegang tangan Arga, “Om marahin Kak Vara, ya?”
Arga terdiam.
“Jangan dimarahin, Om. Kak Vara nggak salah,” lanjut Luna polos. “Tadi Kak Vara terlambat karena nolong Luna. Luna dimarahi orang, dan Kak Vara bantuin Luna.”
Dahi Arga mengernyit.
“Luna yang salah, Om,” tambah Luna memelas.
Hati Arga melunak tanpa ia sadari.
“Baik,” ucap Arga akhirnya. “Sekarang Luna main dulu. Om mau lanjut wawancara.”
“Yeay! Makasih, Om!” seru Luna bahagia.
Luna berlari menuju ruang khusus yang memang disiapkan Arga untuknya setiap kali ia ikut ke kantor.
Wawancara pun dilanjutkan.
Meski sempat gugup, Zivara perlahan menemukan ritmenya. Ia menjawab setiap pertanyaan dengan jujur, lugas, dan penuh keyakinan. Erik beberapa kali mengangguk kecil, terkesan.
Sesi wawancara berakhir.
“Terima kasih atas kesempatan nya, Tuan,” ucap Zivara sambil menunduk hormat.
Ia melangkah keluar ruangan dengan perasaan campur aduk, harapan dan kecemasan berjalan beriringan.
Sementara itu, Arga melangkah menuju ruang bermain Luna.
“Om sudah selesai tanya-tanya, dengan kak vira?” tanya Luna polos sambil memeluk bonekanya.
“Sudah,” jawab Arga, duduk di sampingnya.
“Kak Vara bisa kerja di sini, kan, Om?” tanya Luna penuh harap.
Arga menatap keponakannya. “Kenapa Luna ingin dia bekerja di sini?”
“Karena Kak Vara baik,” jawab Luna mantap. “Dan Luna yakin Kak Vara pantas. Kalau Kak Vara kerja di sini, setiap Luna ke kantor, Luna punya teman.”
“Bukannya di rumah ada Tante Julia yang menemani Luna?” tanya Arga pelan.
Luna menggeleng. “Tante Julia nggak sebaik Kak Vara.”
Ucapan itu membuat Arga terdiam.
“Apa maksud Luna?” tanya Arga hati-hati. “Apa selama ini Tante Julia berbuat sesuatu?”
Luna terdiam. Ia menunduk, lalu kembali memainkan bonekanya tanpa menjawab.
Arga menatap Luna dalam-dalam.
Ada sesuatu yang selama ini luput dari perhatiannya.
Dan tanpa ia sadari, sejak hari itu nama Zivara mulai tinggal di benaknya.