Noval seorang putra pertama dari keluarga Mahesa yang kaya dan ternama di kota Y, Tapi Noval memiliki kebiasaan buruk berjudi, mabuk, bermain wanita, bahkan mengedarkan obat-obatan terlarang.
Demi menutupi keburukan putra pertama keluarga Mahesa, mereka terpaksa menikahkan putra pertamanya dengan gadis yang tidak memiliki latar belakang keluarga kaya. Sampai akhirnya datang adiknya dari luar negeri yang bernama Sam, dan mereka tinggal bersama dalam satu rumah yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Momoxi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rapat
Sudah satu bulan hari-hari Riyu mulai sibuk, ia sangat menlateni dan berkosentrasi pada pekerjaannya. Kakek Darma juga selalu mengajaknya pergi rapat supaya Riyu bisa belajar bagaimana cara menghadapi dan mengatasi permasalahan kantor.
Suatu hari perusahaan Darma mengadakan pertemuan di luar kota, Riyu sudah mulai terbiasa menghadapi tamu penting tanpa rasa canggung, bahkan bisa menerangkan grafik di depan mereka. Kini Darma hanya tinggal duduk mengawasi dan Riyu yang mewakilinya berbicara.
Darma telah memesan beberapa kamar hotel untuk dirinya, Riyu dan juga anak buah kepercayaannya. Bayu. Malam itu mereka tiba di hotel berbintang, kamar Riyu terletak tepat di seberang kamar yang ditempati Darma.
"Riyu, ini kunci kamarmu" ucap darma menyerahkan kunci ke tangan Riyu.
"Terimakasih kek, oh iya apa kakek capek?"
"Tidak terlalu, ada apa memangnya?"
"Bisakah kita bicara? Aku ingin ngobrol banyak denganmu"
Darma terdiam sesaat memandangi wajah Riyu yang tampak tertekan, "Baiklah, aku akan pesan tempat. Kita akan ngobrol sambil makan makan" ucap Darma tersenyum.
"Terimakasih kek, kalau begitu akan langsung bersiap" ekspresi Riyu langsung berubah ceria.
Darma telah memesan ruangan VVIP di hotel, ruangan yang memiliki desain khusus, klasik, dengan pencahayaan lembut yang tidak terlalu silau, hanya ada 3 ruangan di hotel yang seperti itu.
Riyu datang ke ruangan, Darma sudah ada di sana. Ia memandang kolam renang dari balik jendela.
"Maaf telah membuat kakek menunggu" ucap Riyu sungkan.
"Tidak apa-apa Riyu, aku sengaja datang lebih awal. Duduklah"
Riyu mengangguk lalu duduk di sofa.
"Ada apa Riyu? Kau terlihat tidak tenang!" Darma menatap Riyu dalam.
"Em... Kakek, aku mau minta bantuanmu" Riyu memberanikan diri meskipun tidak tau harus berbicara dari mana.
"Bantuan apa yang kau butuhkan?"
"Aku ingin kau membantuku untuk mencari kakekku, Meskipun aku tidak pernah bertemu dengannya selama ini tapi aku yakin dia masih hidup" ucap Riyu penuh dengan keyakinan. "Sejak aku bertemu denganmu, aku benar merasa bahagia. Bahkan aku sering berfikir kalau kakek Darma adalah kakekku tapi... Mau bagaimanapun juga, aku tetap ingin tau kakek kandungku"
Darma terdiam, "Riyu... Kakek kandungmu ada di hadapanmu, tapi aku hanya bisa melindunginmu sebagai orang luar sementara ini"
"Meskipun aku sudah tidak memiliki orang tua setidaknya, aku masih memiliki kakek untuk menjadi penopang ku" Riyu tertunduk meremat kain bajunya.
"Baiklah, aku akan membantumu Riyu" ucap Darma.
"Benarkah?" Riyu tersenyum menahan mata yang berkaca-kaca.
"Bayu!" Darma manggil Bayu yang berjaga di luar ruangan. Tidak lama kemudian ia pun masuk menghadap Darma.
"Ada perlu apa tuan memanggilku?"
"Nona Riyu memerlukan bantuan kita untuk mencari kakeknya, kau bisa memulainya mulai sekarang"
"Apa? Tapi bukankah tuan Darma Sen...." Bayu berhenti bicara ketika melihat isyarat dari tangan Darma.
"Baiklah nona Riyu, aku akan membantumu sepenuh kemampuan" Jawab Bayu lalu melirik Darma yang mengangguk dan tersenyum.
"Kau dengar Riyu? Bayu sudah bersedia, Sekarang kau pergilah istirahat besok kita harus datang pagi-pagi untuk pertemuan"
Riyu merasa sangat lega, ia tersenyum "Terimakasih kakek."
"Mau berapa banyak lagi kau ucapkan terimakasih padaku! Dasar kau bocah cengeng" ledeknya.
"Sebanyak yang aku mau kek! Baiklah, Riyu akan kembali ke kamar sekarang tapi kau juga tidak boleh tidur terlalu larut"
"Haha baiklah, sekarang pergi sana"
"Okey okey... Daah kek" Riyu beranjak pergi dari ruangan itu dengan hati yang senang.
Setelah Riyu jauh, Bayu mulai membuka suaranya "Apa yang terjadi tuan? Bukankah tuan sendiri adalah kakek kandungnya? Kenapa kau tidak berterus terang saja!"
"Belum waktunya Bayu, jika aku mengakuinya sekarang maka Riyu akan dalam bahaya. Selagi dia masih dalam cengkeraman keluarga Mahesa, biarlah seperti ini"
Bayu tau pemikiran tuan Darma tidak sesederhana itu, tapi Darma juga ingin memberi pelajaran pada orang-orang yang telah membuat Riyu menderita secara perlahan.
**Keesokan harinya**
Perjamuan di ruangan khusus telah di siapkan untuk menyambut para tamu, Riyu sangat memperhatikan percakapan di sana. Dia benar-benar mendengarkan dengan seksama.
Perwakilan dari berbagai perusahaan besar kota Y semuanya hadir, Mahesa, Mangsur dan beberapa tokoh penting lainnya.
Untuk kali pertama pertemuan ini di pimpin langsung oleh Darma setelah sekian lama. Kini pembahasan serius telah usai l, tinggal Mahesa, Mangsur, dan Darma yang tinggal. Mereka merencanakan makan siang bersama.
"Aku sangat beruntung bisa melihat langsung tuan Darma di lpertemuan ini, dan aku tidak menyangka Riyu bisa menyesuaikan diri dengan tuan Darma" ucap Mangsur.
Darma menatap Mangsur dengan tajam, seperti anak panah yang siap menusuk jantungnya.
"Apa maksudmu, kau pikir Riyu tidak layak?" ucap Darma.
"Ah bukan begitu, melihat dia yang kurang pendidikan dan datang dari keluarga yang biasa saja, sangat luar biasa bisa berdiri di bawah naungan Darma union. Apa kau masih butuh asisten lagi? Aku rasa putriku bisa lebih baik menjalankan tugas!" ucap Mangsur melirik Riyu sinis.
Mahesa hanya diam menutupi rasa malu di hatinya, dia tidak menyangkal apa yang di ucapkan Mangsur, karena benar Riyu kurang pendidikan dan datang dari keluarga biasa.
Darma tersenyum, sikapnya sangat santai. Darma tau Mangsur ingin mempermalukan Riyu di depan orang-orang.
"Ya. Kau benar Mangsur, Di banding putrimu itu Riyu memang tidak ada apa-apanya. Dia miskin, tidak berpendidikan juga" Ucap Darma memandang Riyu dari ujung kaki hingga ujung kepala.
Riyu tertunduk menggenggam jarinya, dia tidak enak hati pada Darma dan Mahesa karena statusnya yang membuat malu dan di rendahkan. Mangsur tersenyum puas karena dia kira berhasil membuka mata orang tua itu tapi, Darma melanjutkan ucapannya....
"Tapi. Gadis kampung yang tidak berpendidikan ini bisa membuktikan diri, apa kau tidak lihat? Meskipun pendidikannya tidak tinggi dia bahkan bisa berdiri sejajar di sampingku, dia bahkan lancar berbicara di depan tamu penting yang hadir hari ini. Kau tau tujuanku mengadakan pertemuan hari ini? Karena Riyu, Riyu yang mengajukan ide untuk mengembangkan perusahaan. Putrimu. berpendidikan tinggi, hidup mewah dari keluarga terpandang, tapi hanya bisa mengandalkan ketiak orang tuanya. Kau harus paham kualitas seseorang sebelum berkomentar Mangsur!"
Jawaban Darma mampu membungkam orang-orang yang ada di sana,
"Mahesa, kau beruntung memiliki Riyu sebagai menantumu. Jangan pernah kau menginjaknya karena esok bisa saja kau yang akan berada di bawah kakinya!" ucap Darma lagi menatap Mahesa yang mulai gugup.
"Apa maksudmu Tuan Darma!" Bisik Mahesa dalam hati.
"Ayo Riyu, antar aku ke ruanganku" Ucap Darma meninggalkan orang-orang yang mendadak bisu sambil menatapnya dengan kening yang berkeringat. Riyu merengkuh lengan Darma dan membantunya berjalan.
"Kakek. Apa tadi tidak berlebihan?" ucap Riyu lirih.
"Hemh. Merekalah yang berlebihan! Berani-beraninya mereka menghina orang yang sudah menjadi cucuku"
"Tapi kek..."
"Sudah sudah, Aku ingin cerutuku. Kau pergilah jika tidak mau batuk karena asapnya"
"Baiklah, sekalian Riyu minta ijin kakek untuk berjalan-jalan di sekitar sini"
"Hemm..." jawab Darma mengangguk lalu membakar cerutunya.
sedangkan di sisi lain, Mahesa dan Mangsur masih bercakap cakap di meja makan...
"Aku tidak menyangka bahwa Tuan Darma akan melindungi Riyu, bahkan berani menghina kita demi menantu kampunganmu Mahesa!" ucap Mangsur
"Jelas-jelas kau yang memulai terlebih dahulu" bisik Mahesa dalam hati.
"Sudahlah Mangsur, jangan di ambil hati. Orang tua memang terkadang sulit mengontrol emosinya" ucap Mahesa mencoba menenangkan Mangsur.
*****
Setelah berganti baju santai Riyu memandangi ponselnya untuk membaca GPS yang menunjukkan arah tempat tujuannya.
Riyu pergi ke suatu mall dengan taksi padahal bayu sudah siap mengantarnya, tapi rasanya tidak akan bebas kalau Riyu pergi bersamanya. Ia berencana membelikan hadiah untuk Siti dengan gaji pertamanya.
"Senangnya... Akhirnya aku bisa membelikan hadiah untuk bude dengan uang gajiku" gumam Riyu tersenyum sambil menatap bag yang berisi belanjaan.
"Oh iya. Bagaimanapun juga Mas Agi juga saudaraku. Baiklah, aku akan membeli sesuatu untuknya juga" Riyu berbalik mencari toko arloji.
Setelah mendapatkan arloji yang cocok ia berencana untuk kembali ke hotel, tapi pada saat Riyu berada di eskalator tiba-tiba matanya menangkap sosok yang dia kenal.
"Noval?" ucap Riyu menajamkan penglihatan.
Ia bergegas menyusul orang yang mirip Noval. Riyu semakin yakin dia tidak salah lihat, tapi pada saat itu Noval sedang berjalan bersama dengan seorang wanita yang terlihat familiar. Namun pada saat di loby dirinya kehilangan jejaknya. "Kemana mereka pergi?" ucap Riyu sambil melihat ke semua arah.
Sebenarnya Riyu hanya penasaran, dengan siapa lagi Noval berkencan, karena wanita itu tidak terlihat seperti Dewi. Orang yang pernah menamparnya dan mengusirnya dari kamarnya. Namun Karena Riyu tidak berhasil menemukan Noval iapun langsung mencari taxi untuk pulang ke hotel.
pernah berhubungan juga???
wah wah... ini kisah menarik....