NovelToon NovelToon
SILENCE OF JUSTICE

SILENCE OF JUSTICE

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Karir / Duniahiburan / Bullying di Tempat Kerja / Cinta Murni / Balas Dendam
Popularitas:81
Nilai: 5
Nama Author: Black _Pen2024

"Ketika kebenaran dibungkam paksa, ketika keadilan dipaksa untuk diam, beberapa orang terpaksa beraksi. "

Cinta rahasia Xiao Fei dengan Yu, aktor papan atas yang dipuja, berakhir dengan tragis. Publik meratapi "kematian karena overdosis" yang menyayat hati, namun duka Fei berubah menjadi teror murni saat sebuah kiriman video anonim tiba. Di dalamnya, Yu bukan hanya dibunuh—ia disiksa, dilecehkan secara keji, dan dikorbankan dalam sebuah ritual mengerikan oleh sekelompok individu bertopeng. Kematian Yu bukanlah akhir, melainkan awal dari neraka yang nyata.

Didorong oleh cinta dan dahaga akan kebenaran, Fei harus meninggalkan identitasnya yang aman dan menyusup ke dalam dunia glamor industri hiburan yang beracun. Akhirnya Xiao Fei dengan beberapa orang yang bertemu secara tak sengaja mengambil peran utama sebagai penegak keadilan. Mampukah aksi mereka menunjukkan keadilan yang kini berubah menjadi Keheningan Keadilan. Silence of Justice akan menuntun kita pada aksi mereka. Berhasilkah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Black _Pen2024, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 Sang Predator Pesta

Hari kedua penyamaran.

Kilauan lampu sorot menerangi panggung dansa yang berputar perlahan, diiringi dentuman musik elektronik yang memekakkan telinga. Pesta itu jauh lebih riuh dan modern dibandingkan lelang seni yang elegan. Ini adalah pesta mewah di penthouse salah satu hotel bintang lima paling eksklusif di kota, tempat para bintang, sutradara, produser, dan sosialita berkumpul untuk memamerkan kekayaan dan status mereka. Aroma parfum mahal bercampur dengan bau alkohol dan asap rokok premium, menciptakan atmosfer yang memabukkan sekaligus menyesakkan.

Meylie, mengenakan gaun koktail perak yang berkilauan tipis, meminum sampanye di tangannya. Gelembung-gelembung dingin itu terasa hambar di lidahnya, seperti kekosongan yang ia rasakan di sekelilingnya. Setiap wajah yang ia lihat, setiap tawa yang ia dengar, terasa seperti topeng yang terbuat dari kebohongan. Mata mereka berkilat dengan ambisi, kecemburuan, dan rahasia yang tersembunyi. Ini adalah sarang predator yang sesungguhnya.

"Mereka semua serigala," bisik Meylie dalam hati, menekan amarah yang membara di dadanya. "Dan aku harus menjadi salah satu dari mereka untuk bisa membongkar kebusukan kalian."

Ia telah berhasil mendapatkan undangan ke pesta ini melalui Tuan Chen, yang dengan bangga memperkenalkannya sebagai "investor seni yang menjanjikan dari Paris." Chen mengira ia telah menemukan mangsa baru, seorang investor kaya yang bisa ia manfaatkan. Meylie membiarkan Chen menikmati ilusi itu, karena itu memberinya akses.

Meylie bergerak perlahan di antara kerumunan, matanya memindai setiap sudut. Ia melihat beberapa wajah familiar dari majalah hiburan—aktris-aktris dengan gaun minim, aktor-aktor dengan senyum palsu, produser-produser gemuk dengan cerutu di tangan. Lingkaran sosial Yu. Di sinilah ia akan menemukan petunjuk-petunjuk selanjutnya.

Tujuannya adalah mengamati. Siapa yang paling diuntungkan dari kematian Yu? Siapa yang memiliki dendam kuat? Siapa yang tampak terlalu lega, terlalu bahagia, atau terlalu takut?

Ia memperhatikan sekelompok aktris yang sedang bergosip di sudut. Salah satu dari mereka, seorang wanita dengan rambut pirang ikal dan gaun merah menyala, tampak sangat bersemangat. Meylie mengenalinya dari foto-foto lama Yu: Nyonya Xu, seorang aktris yang diisukan pernah ditolak cintanya oleh Yu beberapa tahun lalu, yang kemudian karirnya meredup setelah skandal itu. Ada motif dendam pribadi di sana.

Meylie melatih senyum tipis, lalu mendekati kelompok itu, berpura-pura tertarik pada dekorasi dinding di dekat mereka. Ia mendengarkan dengan seksama.

"Aku dengar film baru Sutradara Lee akan dibintangi oleh Alex," kata salah satu aktris. "Padahal dulu Yu yang akan memerankan peran utama itu."

"Ah, Yu," Nyonya Xu mendengus, matanya berputar. "Kasihan sekali. Tapi ya, dia memang terlalu... sombong. Merasa paling hebat. Siapa suruh menolak tawaran dari orang-orang penting?"

"Maksudmu tawaran dari Nyonya Xu?" aktris lain menggodanya, dan mereka semua tertawa.

Nyonya Xu memutar matanya. "Bukan hanya itu. Dia punya kebiasaan buruk membuat musuh. Dia pikir dia bisa menantang siapa pun." Ada nada cemburu dan dendam yang jelas dalam suaranya.

Meylie merasakan amarahnya kembali membara. Mereka berbicara tentang Yu seolah ia hanyalah sebuah objek, sebuah hambatan yang kini telah disingkirkan.

Saat Meylie hendak menjauh, Nyonya Xu tiba-tiba melirik ke arahnya. Mata mereka bertemu. Nyonya Xu, dengan senyum genit, mendekatinya.

"Halo, cantik," sapa Nyonya Xu, suaranya sedikit serak karena alkohol. Ia mengukur Meylie dari atas ke bawah, dengan tatapan yang penuh perhitungan. "Aku belum pernah melihatmu di pesta-pesta seperti ini. Siapa namamu?"

"Meylie. Meylie Ling," Meylie menjawab, suaranya dingin namun sopan. "Saya investor seni. Baru kembali dari Paris."

"Investor seni? Oh, menarik sekali," Nyonya Xu tersenyum lebih lebar, tangannya menyentuh lengan Meylie dengan sentuhan yang terlalu akrab. "Kau punya aura yang berbeda. Sangat misterius. Aku suka."

Meylie tersenyum tipis, menjaga jarak. "Terima kasih."

"Aku Nyonya Xu," katanya, mengayunkan rambutnya. "Kau pasti belum lama di sini, ya? Kalau tidak, kau pasti sudah tahu siapa aku." Ada nada kesombongan yang jelas.

"Saya memang baru kembali. Saya lebih banyak menghabiskan waktu di galeri dan lelang, bukan di pesta," Meylie membalas, sedikit menyindir.

Nyonya Xu tertawa, tidak menyadari sindiran itu. "Ah, dunia seni memang berbeda. Lebih... berkelas, mungkin? Tapi di sini juga banyak seni, Meylie. Seni bertahan hidup." Ia menyesap sampanyenya. "Jadi, kau berinvestasi di seni? Atau di... orang?"

"Saya berinvestasi pada potensi," Meylie menjawab, tatapannya tenang. "Baik itu kanvas atau bakat."

"Bakat, ya?" Nyonya Xu mengerling. "Seperti... Yu? Dia punya banyak bakat, kan? Sayang sekali dia menyia-nyiakannya."

"Saya rasa dia tidak menyia-nyiakannya," Meylie berkata, nadanya tetap datar. "Dia hanya... terlalu jujur untuk dunia ini."

Nyonya Xu mendengus. "Jujur? Atau bodoh? Dia menolak tawaran besar dari Tuan Z, produser film papan atas itu. Siapa yang akan menolak tawaran itu? Itu bisa membuatnya menjadi bintang internasional. Tapi dia bilang dia tidak akan 'menjual jiwanya'. Bodoh, kan?"

Meylie merasakan sebuah sengatan. Tuan Z. Nama itu penting. Yu pernah menyebutkannya dalam bisikan paranoidnya, menghubungkannya dengan "orang-orang yang haus darah."

"Mungkin dia punya prinsip," Meylie berkomentar.

"Prinsip itu tidak bisa mengisi perut, sayang," Nyonya Xu tertawa sinis. "Aku mencoba mendekatinya, memberinya nasihat. Tapi dia... dia terlalu dingin. Terlalu fokus pada 'rahasia' dan 'kebenaran' omong kosongnya. Aku bahkan mencoba merayunya, Meylie. Kau tahu, untuk membantunya. Tapi dia menolakku mentah-mentah. Dia bilang dia hanya mencintai satu orang."

Kata-kata itu, "hanya mencintai satu orang," menusuk hati Meylie. Yu memang setia. Dan itu adalah salah satu alasan ia mencintai Yu.

"Memang begitu. Beberapa orang terlalu idealis," Meylie membalas, mencoba menjaga fokus pada misinya. "Tapi bukankah aneh, seorang aktor yang begitu menjanjikan, tiba-tiba... pergi begitu saja?"

Nyonya Xu mengedikkan bahu. "Dunia hiburan memang kejam, Meylie. Banyak yang depresi, banyak yang terjerumus. Overdosis itu sudah biasa. Apalagi dengan tekanan yang dia hadapi. Dia kan punya banyak musuh, tahu."

"Musuh?" Meylie bertanya.

"Ya, musuh. Dia itu kan suka mengoleksi 'rahasia' orang. Dia punya semacam 'daftar hitam' yang dia bangga-banggakan. Dia bilang itu bisa menjatuhkan banyak orang. Bodoh sekali, kan? Siapa yang mau menyimpan bom waktu seperti itu?" Nyonya Xu tertawa lagi, kali ini lebih keras, seolah menganggap kebodohan Yu adalah hal yang lucu.

Meylie merasakan tubuhnya menegang. Daftar hitam. Itu dia. Konfirmasi dari sumber yang tidak ia duga.

"Daftar hitam?" Meylie mengulang, berpura-pura penasaran dengan gosip, bukan dengan informasi vital. "Seperti apa isinya?"

"Entahlah. Gosipnya sih tentang korupsi, skandal, dan hal-hal kotor lainnya. Dia bahkan bilang dia punya bukti tentang 'ritual aneh' yang dilakukan para petinggi. Gila, kan? Yu itu suka sekali berhalusinasi," Nyonya Xu bergidik, berpura-pura jijik. "Dia selalu mengunci diri di apartemennya yang kecil di pinggir kota. Yang sekarang disegel polisi itu. Dia bilang di sana dia bisa merasa aman dari 'mata-mata'."

Sebuah bom informasi. Apartemen Yu yang sederhana. Disegel polisi. "Tempat yang aneh" yang disebut Chen. Semua terhubung.

Meylie harus menahan diri agar tidak menunjukkan reaksi apa pun. Jantungnya berdebar kencang, namun ia berhasil menjaga ekspresinya tetap tenang. Ini adalah petunjuk paling konkret yang ia dapatkan sejauh ini.

"Jadi, dia punya apartemen lain selain yang mewah itu?" Meylie bertanya, mencoba terdengar seperti sedang bergosip tentang gaya hidup Yu.

"Oh, tentu saja! Yu itu kan aneh. Dia punya apartemen mewah untuk pencitraan, tapi dia lebih suka mengunci diri di apartemennya yang sederhana di Jalan Merpati Nomor 17. Katanya lebih... 'otentik'. Sekarang sih disegel polisi. Kasihan. Mungkin dia memang terlalu kesepian di sana." Nyonya Xu menghela napas, lebih karena dramatisasi daripada simpati.

Jalan Merpati Nomor 17. Meylie mengulang alamat itu dalam benaknya, mencatatnya dengan sempurna.

"Ngomong-ngomong, Meylie," Nyonya Xu tiba-tiba mengubah topik, matanya menatap Meylie dengan intens. "Kau ini investor seni, kan? Kenapa kau tertarik dengan gosip murahan seperti ini? Atau... kau punya motif lain?"

Sebuah konflik. Nyonya Xu, yang licik, mencoba menguji integritas Meylie. Ia pasti melihat ada sesuatu yang 'terlalu tenang' atau 'terlalu fokus' pada diri Meylie.

"Motif?" Meylie mengangkat alisnya, tersenyum tipis. "Saya hanya penasaran dengan orang-orang yang memiliki potensi besar. Yu adalah salah satunya. Saya selalu percaya bahwa seni dan kehidupan saling berhubungan, Nyonya Xu. Kisah tragis Yu adalah sebuah karya seni tersendiri, bukan?"

"Kau sangat filosofis," Nyonya Xu tertawa, tangannya kembali menyentuh lengan Meylie, kali ini lebih lama. "Kau ini sangat menarik, Meylie. Kau tahu, aku punya beberapa ide investasi yang mungkin cocok untukmu. Bagaimana kalau kita bertemu besok? Kita bisa bicara lebih banyak. Mungkin makan malam?" Ada nada merayu yang jelas dalam suaranya, mencoba menguji apakah Meylie bisa diayunkan atau dimanipulasi.

Meylie harus terlibat dalam permainan mental untuk menghindari perhatian yang tidak diinginkan. Ia tidak bisa menolak terlalu kasar, agar tidak menimbulkan kecurigaan.

"Saya sangat tersanjung, Nyonya Xu," Meylie menjawab, menarik tangannya perlahan dari sentuhan Xu. "Tapi jadwal saya besok sangat padat. Saya harus bertemu dengan beberapa kolektor penting dari luar negeri. Mungkin lain kali, setelah saya menyelesaikan beberapa urusan."

"Oh, ayolah," Nyonya Xu mengerutkan bibirnya, tampak sedikit kesal. "Hanya makan malam? Atau mungkin kita bisa minum-minum di tempatku? Aku punya koleksi anggur yang luar biasa. Kita bisa bicara tentang Yu, tentang investasi, tentang apa saja."

Meylie tersenyum, senyum yang tidak mencapai matanya. "Saya menghargai tawaran Anda, Nyonya Xu. Tapi saya tidak mencampuradukkan bisnis dengan kesenangan terlalu sering. Saya lebih suka menjaga profesionalisme."

Ini adalah batas yang ia tetapkan. Dingin, berjarak, namun tidak ofensif. Ia berhasil menjaga jarak sambil mengumpulkan informasi. Nyonya Xu tampak sedikit kecewa, namun tidak ada yang bisa ia katakan.

"Baiklah, kalau begitu," Nyonya Xu berkata, nadanya sedikit masam. "Tapi jangan bilang aku tidak mencoba. Kau tidak tahu apa yang kau lewatkan."

"Saya yakin begitu," Meylie membalas, lalu menunjuk ke arah panggung dansa. "Saya rasa musiknya memanggil. Saya harus pergi. Senang bertemu dengan Anda, Nyonya Xu."

Tanpa menunggu balasan, Meylie berbalik dan berjalan menjauh, menyatu dengan keramaian. Ia tidak lagi melihat Nyonya Xu. Ia telah mendapatkan apa yang ia inginkan.

Di sebuah sudut yang lebih tenang, Meylie menyesap sampanyenya, merasakan sedikit kemenangan yang dingin. Nyonya Xu, dengan segala kecemburuan dan dendamnya, telah menjadi sumber informasi yang tak terduga. Ia telah mengonfirmasi keberadaan "daftar hitam" Yu, ritual-ritual aneh yang Yu pernah sebutkan, dan yang paling penting, alamat apartemen sederhana Yu di Jalan Merpati Nomor 17 yang kini disegel polisi.

Ini adalah "tempat yang aneh" yang disebut Tuan Chen. Ini adalah tempat di mana Yu mungkin menyembunyikan bukti-bukti paling krusial.

Meylie merasakan tekadnya semakin mengeras. Ia telah melewati lapisan pertama dari jaring laba-laba ini. Ia telah berinteraksi dengan para serigala, dan ia berhasil keluar dengan mangsanya—sebuah alamat yang akan membawanya selangkah lebih dekat ke kebenaran.

Ia tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Menggunakan persona Ling, ia akan mencari cara untuk menyusup ke apartemen Yu yang disegel itu. Di sanalah, ia yakin, tersembunyi rahasia yang menjadi motif pembunuhan kekasihnya.

Meylie menatap pantulan dirinya di jendela gelap. Wajahnya, dihiasi riasan sempurna, tampak dingin dan tanpa emosi. Tetapi di balik mata itu, Xiao Fei yang berduka telah berubah menjadi sang predator, siap untuk menyerang. Perburuan ini terus berlanjut.

1
Ita Xiaomi
Menegangkan. Kasihan Yu😢
Ita Xiaomi: Berharap keadilan bs ditegakkan.
total 2 replies
Ita Xiaomi
Saat ini hanya Fei sendirian yg menolak utk percaya pd berita yg tersebar.
Ita Xiaomi: Sama-sama kk. Semangat berkarya. Berkah&Sukses selalu.
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!