NovelToon NovelToon
Queenora, Ibu Susu Bayi CEO Dingin

Queenora, Ibu Susu Bayi CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / CEO / Hamil di luar nikah / Ibu susu / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Realrf

Queenora kehilangan bayinya sebelum sempat menimangnya, dia difitnah, dan dihancurkan oleh keluarga yang seharusnya melindungi.

Namun di ruang rumah sakit, tangisan bayi yang kehilangan ibunya menjadi panggilan hidup baru.

Saat bayi itu tenang di pelukannya, Queenora tahu, cinta tak selalu lahir dari darah yang sama, tapi dari luka yang memilih untuk mencinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Realrf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jangan sentuh anakku

Jari Queenora yang menunjuk layar laptop itu gemetar hebat, ujung kukunya memutih karena tekanan. Suara Darian, penuh kebingungan, terdengar seperti gema dari dunia lain.

“Kau kenal dia?”

Queenora tidak bisa menjawab. Tenggorokannya seolah tersumbat oleh pecahan kaca. Wajah itu.

Wajah yang sama yang tersenyum mengejek di atas tubuhnya, napasnya berbau alkohol, kekuatannya melumpuhkan setiap perlawanan. Di foto itu, ia tampak begitu normal, begitu… terhormat. Merangkul Darian dengan akrab, tawa lebar menghiasi wajahnya, seolah ia adalah manusia biasa, bukan monster yang menyelinap dalam gelap.

“Queenora?” Darian bangkit dari sofa, suaranya kini diwarnai kepanikan. Ia berlutut di depan Queenora, mencoba menarik perhatian gadis itu dari layar laptop yang menyala.

“Sayang, ada apa? Katakan padaku.”

Adreine juga berdiri, wajahnya pias melihat perubahan drastis pada Queenora.

Queenora akhirnya menarik napas, sebuah isakan kering yang menyakitkan. Matanya, yang terpaku pada foto itu, kini beralih menatap Darian.

Di dalam sorot matanya, Darian tidak melihat kesedihan atau kemarahan, melainkan teror murni yang begitu dalam hingga membuatnya ikut merasa dingin.

“Dia…” bisik Queenora, suaranya serak dan nyaris tak terdengar.

“Di...dia salah satunya.”

Darian mengerutkan kening, tidak mengerti.

“Salah satu apa?”

“Salah satu dari mereka,” desis Queenora, setiap kata keluar seperti racun yang ia paksa telan kembali.

“Pria ... Pria ...yang… yang memperkosaku.”

Waktu di ruang keluarga itu berhenti. Detak jam kakek di sudut ruangan terdengar seperti dentuman lonceng kematian.

Darian menatap Queenora, lalu kembali ke layar laptop, ke wajah temannya, Bima Suryo, yang sedang tertawa riang. Ketidakpercayaan melintas di wajahnya, sebuah penolakan instingtif terhadap kebenaran yang terlalu mengerikan untuk diterima.

“Tidak mungkin,” gumam Darian, lebih pada dirinya sendiri.

“Bima? Queenora, kau… kau yakin?”

Pertanyaan itu, meski diucapkan dengan nada ragu, terasa seperti tamparan bagi Queenora. Air mata yang sejak tadi membeku di pelupuk matanya akhirnya jatuh.

“Apa wajah seperti itu bisa aku lupakan, Darian?” tanyanya lirih, getar dalam suaranya cukup untuk meretakkan hati siapa pun yang mendengarnya.

“Apa menurutmu aku bisa salah mengenali iblis yang menghancurkan hidupku?!”

Rasa bersalah langsung menghantam Darian. Ia segera meraih tangan Queenora yang dingin.

“Tidak, tidak, maafkan aku. Aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya… aku…” Darian tidak bisa menyelesaikan kalimatnya. Dunia yang ia kenal, dunia bisnis yang terstruktur, persahabatan yang didasari aliansi, semuanya baru saja terbalik.

Bima. Putra dari Suryo Wijoyo. Mitra bisnis terbarunya dalam proyek properti senilai triliunan rupiah.

“Aku akan mengantarmu ke kamar,” kata Adreine dengan sigap, suaranya lembut namun tegas. Ia membantu Queenora berdiri, yang kakinya terasa seperti agar-agar.

“Kau harus istirahat, Nak.”

Queenora membiarkan dirinya dituntun, tatapannya kosong. Saat ia melewati Darian, ia berhenti sejenak.

“Jangan lakukan apa pun,” bisiknya lemah. “Aku mohon, Darian. Lupakan saja.”

Darian hanya bisa menatap punggung Queenora yang menjauh, dibawa pergi oleh ibunya.

Permohonan Queenora bergema di telinganya, tetapi yang ia dengar bukanlah permintaan, melainkan sebuah tantangan. Lupakan? Setelah mengetahui bahwa salah satu monsternya adalah orang yang ia sebut teman?

Tidak akan pernah.

Begitu derap langkah mereka menghilang di lantai atas, Darian membanting layar laptopnya hingga tertutup. Amarah yang dingin dan terkalkulasi mulai menjalari pembuluh darahnya.

Pria penuh amarah itu berjalan cepat menuju ruang kerjanya, mengunci pintu di belakangnya, dan menyalakan komputernya. Ruangan yang biasanya menjadi pusat kendali bisnisnya kini berubah menjadi markas perang.

Selama dua jam berikutnya, Darian bekerja dalam keheningan yang mematikan. Ia tidak lagi Darian yang sedang jatuh cinta atau ayah yang berduka. Ia adalah predator yang sedang melacak mangsanya.

Jari-jarinya menari di atas papan ketik dengan kecepatan brutal, membuka arsip lama, surel, dan data dari penyelidik swasta yang pernah ia sewa.

Darian menarik data penelusuran awal tentang keluarga Queenora. Nama Arya Pratama terpampang di layar. Darian mulai membangun jaring laba-laba digital di sekelilingnya, melacak setiap interaksi, setiap unggahan media sosial, setiap nama yang ditandai dalam foto-foto lama yang buram.

Pukul satu dini hari, ponselnya bergetar. Panggilan dari Tirtayasa, pengacara utamanya.

“Ada apa, Darian? Ini sudah larut,” suara Tirtayasa terdengar serak.

“Aku butuh informasi, Pak Tirta. Cepat dan rahasia,” kata Darian tanpa basa-basi.

“Aku mau semua data transaksi dan catatan aktivitas dari seorang Bima Suryo, putra Suryo Wijoyo. Fokus pada tiga hingga empat tahun terakhir. Cari apa saja yang mencurigakan. Transfer uang ke orang-orang seperti Arya Pratama, catatan telepon, apa pun.”

Hening sejenak di seberang sana.

“Bima Suryo?” ulang Tirtayasa, nada terkejut terdengar jelas.

“Darian, kita baru saja menandatangani kesepakatan terbesar tahun ini dengan ayahnya. Apa kau yakin mau menggali lubang ini?”

“Aku tidak peduli dengan kesepakatan itu,” desis Darian, matanya menatap tajam ke layar yang menampilkan foto Bima yang tersenyum.

“Lakukan saja. Aku bayar dua kali lipat.”

Telepon ditutup. Darian menyandarkan punggungnya ke kursi, memijat pelipisnya. Di mejanya, tergeletak draf final proyek ‘Nusa Sentosa’, sebuah megaproyek yang akan melambungkan perusahaannya ke level internasional.

Di sampingnya, kontrak kerja sama dengan Wijoyo Corp. yang baru ditandatangani kemarin. Puluhan triliun rupiah, ratusan lapangan kerja, reputasi seumur hidupnya. Semua itu kini terasa seperti abu.

Satu jam kemudian, sebuah surel masuk dari penyelidik pribadinya. Isinya singkat, tetapi dampaknya seperti ledakan bom.

Subjek: Re: Arya Pratama - Koneksi

Darian,

Konfirmasi positif. Bima Suryo tercatat beberapa kali melakukan transfer dana ke rekening Arya Pratama dalam kurun waktu tiga tahun lalu. Jumlahnya tidak besar, cukup untuk menutupi utang judi kecil. Lebih penting lagi, data lokasi dari ponsel mereka menunjukkan keduanya berada di area yang sama pada malam kejadian yang Anda sebutkan. Saksi mata (seorang penjaga bar yang berhasil kami temukan) mengonfirmasi Bima pergi bersama Arya dan dua pria lain malam itu. Mereka membawa seorang gadis muda yang tampak ketakutan.

Ini tautannya, Darian. Tautannya nyata.

Darian membaca surel itu tiga kali. Setiap kata menusuknya lebih dalam. Jadi benar. Kebenaran yang paling buruk, yang paling rumit, yang paling merusak, ternyata adalah kenyataan.

Darian bangkit dari kursinya dan berjalan ke jendela, menatap taman yang gelap di bawah. Pilihan di hadapannya begitu jelas, namun begitu berat.

Ia bisa mengabaikan ini. Menelan pil pahit, melindungi bisnisnya, dan membiarkan monster itu tetap bebas berkeliaran di dunianya. Atau, ia bisa membakar semuanya hingga rata dengan tanah demi satu hal, keadilan untuk Queenora. Keadilan untuk bayi mereka yang tak pernah lahir.

Darian teringat wajah Queenora yang pucat pasi, bisikannya yang putus asa.

“Jangan lakukan apa-apa.”

Tidak. Bukan mereka yang terlalu kuat. Selama ini, Queenora hanya sendirian. Sekarang tidak lagi.

Darian kembali ke mejanya, tatapannya mengeras menjadi baja. Ia mengambil ponselnya, mencari sebuah nama di kontaknya.

Suryo Wijoyo

Darian menatap nama itu selama beberapa detik, napasnya tertahan. Menekan tombol panggil ini berarti menyatakan perang. Perang yang mungkin tidak bisa ia menangkan. Perang yang akan menghancurkan semua yang telah ia bangun.

Ia memejamkan mata, bayangan Queenora yang tersenyum sambil menggendong Elios melintas di benaknya.

Ia menekan tombol panggil.

Nada sambung berbunyi sekali… dua kali…

“Darian? Tumben menelepon selarut ini. Ada masalah dengan draf akhir?” Suara Suryo terdengar berat namun ramah, suara seorang kolega, seorang sekutu.

“Selamat malam, Pak Suryo,” balas Darian, suaranya tenang dan dingin.

“Langsung saja, saya tidak menelepon untuk urusan bisnis.”

Ada jeda singkat. Suryo pasti bisa merasakan perubahan nada dalam suara Darian.

“Oh? Lalu ada apa?”

“Ini tentang putra Anda,” kata Darian lugas. “Tentang Bima.”

Keheningan di seberang sana kini terasa berbeda. Bukan lagi keheningan karena bingung, melainkan keheningan yang tegang dan waspada.

“Bima?”Suara Suryo menjadi lebih tajam.

“Anakku kenapa?”

“Saya ingin kita bertemu besok. Ada hal yang sangat serius yang perlu kita bicarakan mengenai perilakunya tiga tahun lalu. Sesuatu yang melibatkan seorang gadis bernama Queenora.”

Hening

Selama hampir sepuluh detik, Darian hanya bisa mendengar deru napasnya sendiri. Ia tahu Suryo sedang memproses informasi itu, menghubungkan titik-titik, dan membangun dinding pertahanannya.

Ketika Suryo akhirnya berbicara, keramahan dalam suaranya telah lenyap seluruhnya, digantikan oleh lapisan es yang mengancam.

“Aku tidak tahu apa permainanmu, Darian. Tapi aku peringatkan kau…” Suaranya menurun menjadi bisikan berbahaya.

“Jauhi anakku. Apa pun yang kau pikir kau tahu, kubur dalam-dalam.”

“Ini bukan sesuatu yang bisa dikubur, Suryo.”

“Kalau begitu, kau yang akan terkubur bersamanya,” balas Suryo dingin.

“Sentuh Bima, dan aku akan pastikan kau kehilangan segalanya. Bukan hanya proyek Nusa Sentosa. Aku bicara tentang reputasimu, bisnismu, bahkan gadis malang yang coba kau bela itu. Kau tidak tahu siapa yang sedang kau lawan.”

1
Nar Sih
lanjutt kakk 💪💪
Nar Sih
ahir nya queen up lgi
Nar Sih
💪💪kak lanjutt
Nar Sih
ya ampun. kasihan luna waktu itu ya ,punya ibu yg jht banget
Nar Sih
semangatt queen 💪tunjukan klau kebenaran tentang diri mu yg jdi korban bisa menang melawan kejhtn mereka
Nar Sih
ahir nya rencana mu berhasil queenora kakakdan ibu mu tertangkap sdh
Nar Sih
lanjutt kakk ,cerita smakin seru👍
Realrf: 😍😍😍😍😍
total 1 replies
Nar Sih
💪💪darian dan queen
Nar Sih
ini pasti ulah si mantan ibu mertua jht mu darian
Jj^
semangat update Thor 🤗
Realrf: ma aciwww 😍😍😍😘
total 1 replies
Nar Sih
biarkan darian membatu mu queen ,kasih semagatt sja dan doa kan smoga mslh mu cpt selesai
Nar Sih
jujur sja queen ,biar semua terungkap
Nar Sih
darian mulai jatuh cinta dgn mu queen
Harmanto
miskin dialog terlalu banyak menceritakan suasana hayalan
Sumarni Ukkas
sangat bagus..
Realrf: makasih kak
total 1 replies
Harmanto
ceritanya terlalu banyak fariasi hayalan yg sangaaat pamjang jarang sekali dialog yg menghidupkam cerita. sering tidak kubaca fariasi2 itu
Realrf: baik kaka trimakasih masukannya
total 1 replies
Harmanto
Nora diberi makan apa untuk memproduksi asi tdk diceritakan, diberi sandang apa. dia dianggap mahluk bukan manusia yg punya rasa emosi
Harmanto
ceritanya membingungkan apa iya tadinya menawarkan berapa uang kau minta. dia tdk butuh uang .kok dia malah membelenggu dg seribu atran yg robot
Nar Sih
seperti nya darian udh mulai suka dng mu queen
Indah MB
di tunggu selalu bab selanjutnya 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!