Queenora kehilangan bayinya sebelum sempat menimangnya, dia difitnah, dan dihancurkan oleh keluarga yang seharusnya melindungi.
Namun di ruang rumah sakit, tangisan bayi yang kehilangan ibunya menjadi panggilan hidup baru.
Saat bayi itu tenang di pelukannya, Queenora tahu, cinta tak selalu lahir dari darah yang sama, tapi dari luka yang memilih untuk mencinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Realrf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Karma
Napas Darian tercekat di tenggorokan. Nama itu,
Arya Pratama.
Terpampang di layar ponsel Queenora, sebuah undangan ke neraka yang baru saja gadis itu tinggalkan.
Untuk sesaat, seluruh amarah dan keputusasaannya menguap, digantikan oleh ketakutan yang dingin dan menusuk. Ketakutan untuk Queenora.
“Apa yang mau kamu lakukan?” desis Darian, suaranya serak.
Matanya beralih dari ponsel ke wajah Queenora yang pucat namun bertekad.
“Jangan bilang kamu mau menghubungi mereka. Queenora, jangan gila.”
“Aku harus,” jawab Queenora, suaranya terdengar asing di telinganya sendiri, tenang, mantap, tanpa getar.
“Aku tidak bisa terus lari. Aku tidak bisa membiarkan mereka terus menjadi hantu yang mengejarku, mengejar kita.”
Darian bangkit dari posisi berlututnya, meraih bahu Queenora dengan lembut namun mendesak.
“Biar aku yang urus. Aku punya pengacara, aku punya kuasa. Aku bisa hancurkan mereka di pengadilan tanpa kamu harus melihat wajah mereka lagi.”
Queenora menggeleng pelan, matanya tidak pernah lepas dari tatapan Darian.
“Ini bukan tentang menghancurkan mereka, Darian. Ini tentang membangun diriku kembali. Setiap kali aku melihat bayanganku di cermin, aku masih melihat gadis lemah yang mereka injak-injak. Aku harus menghadapi mereka, dengan kekuatanku sendiri, untuk membuktikan pada diriku kalau aku bukan lagi orang itu.”
Ada sesuatu dalam suaranya yang membuat Darian terdiam. Ini bukan lagi permintaan tolong dari seorang korban. Ini adalah deklarasi perang dari seorang penyintas.
Ia melihat api di mata Queenora, api yang selama ini padam oleh trauma, kini menyala terang karena cinta dan harga diri yang baru ia temukan.
“Aku tidak akan membiarkanmu pergi sendirian,” kata Darian tegas, nadanya tidak bisa ditawar.
“Aku tidak memintamu,” balas Queenora, “tapi aku juga tidak akan menolakmu. Aku akan kembali ke rumahmu, Darian. Aku akan kembali ke sisi Elios. Tapi setelah ini selesai. Setelah aku mengambil kembali apa yang mereka curi dariku, keberanianku.”
Darian menelan ludah, menatap gadis di hadapannya dengan campuran antara kekaguman dan ketakutan yang luar biasa. Ia mengangguk pelan.
“Baik. Apa rencanamu?”
Queenora tersenyum tipis lalu berkata....
***
Setengah jam kemudian, di kamar motel yang sama, Darian berdiri di sudut ruangan seperti seekor macan kumbang yang gelisah, mengamati Queenora yang duduk di tepi ranjang, dengan ponsel menempel di telinganya.
Jantung Darian berdebar begitu kencang hingga ia bisa merasakannya di pangkal tenggorokannya. Queenora menarik napas dalam-dalam, lalu menekan tombol panggil.
Nada sambung berbunyi sekali, dua kali, lalu sebuah suara kasar dan malas menjawab.
“Halo?”
“Kak Arya?” Suara Queenora sengaja dibuat sedikit bergetar, rapuh. Ada jeda di seberang sana, lalu tawa mengejek yang membuat darah Darian mendidih.
“Wah, wah, lihat siapa yang menelepon. Si jalang kecil yang kabur dari rumah. Kenapa? Uangmu sudah habis? Majikan kayamu sudah menendangmu keluar?”
Queenora memejamkan matanya sejenak, menahan gelombang mual yang naik.
“Aku… aku butuh bantuan, Kak.”
“Bantuan?”Arya tertawa lagi, lebih keras.
"Aku ...."
“Setelah semua yang kau lakukan? Setelah kau mempermalukan keluarga? Kau pasti mau uang, pikir kami ini apa? Bank?”
“Aku punya sedikit uang,” Queenora berkata lagi dengan lirih, memainkan perannya dengan sempurna.
“ Aku… aku tidak punya siapa-siapa lagi, apa Kakak bisa membantu.”
Darian bisa mendengar keserakahan yang terselubung di balik nada Arya saat kakaknya itu menjawab.
“Berapa banyak?”
“Kita harus bertemu. Aku tidak bisa bicara di telepon,” jawab Queenora.
“Cih, merepotkan.”
Terdengar suara gemerisik dan bisikan di latar belakang, mungkin suara ayah mereka.
“Oke. Di mana?”
"Kedai Sedati," Queenora menyebut nama sebuah kedai kopi tua di pinggiran kota, tempat yang cukup ramai untuk membuatnya merasa aman, tetapi cukup kumuh sehingga keluarganya tidak akan curiga.
“Besok siang. Jam dua, bawa uangnya, dan kau harus mengikuti keinginan ku, kalau tidak, jangan harap bisa melihat wajah kami lagi,” kata Arya sebelum menutup telepon tanpa salam.
Queenora menurunkan ponselnya, tangannya gemetar hebat. Darian segera menghampirinya, berlutut di depannya sekali lagi, dan menggenggam kedua tangan yang dingin itu lalu mengecup lembut.
“Kamu hebat,” bisik Darian, suaranya penuh kekaguman.
“Kamu sangat kuat.” Queenora menatapnya, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
“Aku takut, Darian.”
“Aku tahu,” jawabnya lembut, mengusap punggung tangan Queenora.
“Makanya aku tidak akan membiarkanmu sendirian. Besok, aku akan ada di sana. Mereka tidak akan bisa menyentuhmu. Aku janji.”
Queenora mengangguk paham.
***
Keesokan siangnya, udara terasa berat dan lembap. Queenora duduk sendirian di sudut sebuah kedai kopi yang remang, aroma kopi gosong dan asap rokok kretek bercampur di udara.
Gadis itu mengenakan pakaian sederhana, rambutnya diikat seadanya, berusaha terlihat persis seperti gadis putus asa yang ia perankan di telepon. Di dalam tas selempangnya, sebuah alat perekam kecil, hadiah dari Darian pagi tadi.
Semua sudah dalam posisi siaga. Di seberang jalan, di dalam sebuah mobil dengan kaca gelap, Darian mengamati pintu masuk kedai itu dengan tatapan setajam elang. Di kursi belakang, dua orang pengawal berbadan tegap duduk dalam diam, siap bergerak dalam hitungan detik.
Hatinya berpacu dengan setiap detik yang berlalu. Ini adalah ide gila. Mempercayakan Queenora sebagai umpan adalah hal tersulit yang pernah ia lakukan. Tepat pukul dua, dua sosok yang ia kenali dari foto-foto investigasinya muncul.
Arya Pratama, dengan postur angkuh dan senyum sinis, dan ayahnya, seorang pria paruh baya dengan perut buncit dan mata licik yang terus bergerak liar.
Mereka masuk ke kedai, mata mereka langsung menemukan Queenora.
Queenora merasakan jantungnya seperti akan melompat keluar dari dadanya saat mereka mendekat dan duduk di hadapannya tanpa diundang.
“Jadi, di mana uangnya?” tanya Arya tanpa basa-basi, menyandarkan tubuhnya ke kursi dengan angkuh.
Ayahnya hanya diam, menatap Queenora dengan tatapan menilai yang selalu membuat kulitnya merinding.
“Aku tidak bawa uang,” jawab Queenora pelan, tangannya di bawah meja bergerak perlahan ke arah tasnya.
"Sial!" Arya mendengus kasar.
“Kau membuang-buang waktu kami, hah? Kami datang jauh-jauh ke tempat kumuh ini untuk mendengar omong kosong?”
“Aku ke sini untuk menuntut sesuatu dari kalian,” lanjut Queenora, suaranya kini lebih tegas. Ia menatap lurus ke mata kakaknya, lalu beralih ke ayahnya.
“Aku mau kalian mengakui apa yang sudah kalian lakukan padaku. Kepada bayiku.”
Keheningan melanda meja mereka selama beberapa detik, sebelum tawa ayahnya meledak. Tawa serak dan kejam yang menghantui mimpi buruk Queenora selama bertahun-tahun.
“Mengakui?” Ayahnya menyeringai, memperlihatkan gigi yang menguning karena nikotin.
“Mengakui apa? Mengakui kalau aku sudah mendisiplinkan anak perempuan tidak tahu diri yang tidur dengan sembarang pria dan pulang membawa aib?”
“Aku tidak tidur dengan sembarang pria!” balas Queenora, suaranya bergetar karena amarah yang tertahan.
“Aku diperkosa! Oleh teman-teman Kakak! Dan Ayah memukulku sampai aku kehilangan bayiku!” Tangannya berhasil masuk ke dalam tas, jarinya menemukan tombol kecil pada alat perekam itu dan menekannya.
Sebuah lampu merah kecil berkedip sekali, lalu padam. Rekaman telah dimulai. Arya mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya menyipit penuh ancaman.
“Jaga mulutmu, Queenora. Tidak ada yang memperkosamu. Kau sendiri yang mengundang mereka. Kau selalu jadi jalang murahan.”
Rasa sakit yang familier menusuk dada Queenora, tetapi ia tidak akan membiarkannya menang kali ini.
“Kalian yang menghancurkan hidupku.”
Ayahnya tertawa lagi, kali ini lebih pelan, lebih mengerikan. Ia menatap Queenora dengan sorot mata yang dingin dan tanpa penyesalan sedikit pun.
“Kami tidak menghancurkan apa pun,” katanya dengan nada ringan yang memuakkan.
“Kematian anakmu itu karma, Queenora. Karma yang pantas kau terima.”