Kehidupan Nana berubah total saat sang ibu tiada. Nana terpaksa tinggal bersama ayah dan ibu tiri yang memiliki dua anak perempuan. Perlakuan saudara tiri dan ibu tiri membuatnya menderita. Bahkan saat dirinya akan menikah, terpaksa gagal karena fitnah sang ibu tiri.
Setelah semua kegetiran itu, Nana memilih untuk bangkit. Dia bersumpah akan membalas semua perbuatan jahat yang dilakukan oleh ibu dan saudara tirinya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kumi Kimut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 - Dimas Memaksa Menikah Dengan Nana
Jordan menatap Zahra sejenak, matanya setengah tertutup, mencoba menimbang kata-kata yang tepat. Ia ingin bersikap tegas, ingin mengatakan bahwa dia sedang sibuk, bahwa Zahra harus pulang dan memberinya ruang. Tapi ada sesuatu di mata Zahra—campuran rasa rindu dan penasaran—yang membuatnya terdiam.
“Aku… lagi sibuk, Zahra,” ucap Jordan akhirnya, suaranya datar tapi terdengar lelah. Ia mencondongkan tubuh ke arah meja, mencoba mengalihkan perhatian ke tumpukan dokumen yang menunggu. “Kalau nggak penting, lebih baik kamu pulang dulu.”
Zahra menggeleng cepat, tak mau mundur. “Aku nggak bisa, Kak. Aku… aku pengen ngobrol sama kakak. Nggak penting nggak penting banget sih, cuma… pengen lihat kakak, ngobrol dikit.” Suaranya lembut tapi penuh tekad, menatap Jordan seolah menantang.
Jordan menghela napas panjang, menurunkan tubuh ke kursi. Matanya menatap Zahra dengan pandangan campur aduk—antara ingin mengusir tapi juga… tak tega. “Zahra… aku serius. Aku harus nyelesaiin ini,” katanya sambil menunjuk map di meja. Tapi kata-kata itu terdengar lemah bahkan bagi dirinya sendiri.
Zahra menyandarkan dagu ke telapak tangannya, tersenyum kecil. “Kakak selalu serius banget kalau di rumah. Aku cuma pengen lihat kakak santai. Sekali aja. Nggak minta lama-lama.”
Jordan menatapnya, merasakan hati yang aneh. Ada sedikit rasa lega, tapi juga rasa bersalah. Ia tahu Zahra sudah lama menganggapnya sebagai adik sekaligus teman dekat—seorang yang bisa ia percaya. Ia ingin menolaknya, ingin menutup pintu itu, tapi bagaimana bisa ketika Zahra duduk di sana dengan senyum polosnya, menunggu jawaban yang hangat?
“Zahra…” Jordan mulai, suaranya lebih rendah. “Aku nggak bisa lama. Aku ada hal penting yang harus diselesaikan. Kalau kamu tetap di sini, jangan heran kalau aku nggak bisa fokus.”
Zahra mengangguk, tapi senyumnya tak pudar. “Aku ngerti, Kak. Tapi… boleh nggak aku duduk sebentar aja? Nggak ganggu kok. Aku cuma… pengen nemenin kakak. Nggak usah ngomong apa-apa.”
Jordan menatapnya lama. Ada rasa lelah yang menumpuk di pundaknya, tapi juga rasa hangat yang sulit dijelaskan. Akhirnya, ia mengalah. “Baik. Tapi cuma sebentar, Zahra. Aku nggak mau distraksi terlalu lama.”
Zahra tersenyum lebar, matanya berbinar. “Yeay! Makasih, Kak. Aku janji nggak ganggu!"
Sementara itu di rumah Dimas ...
Di rumah Dimas, suasana jauh lebih panas. Dimas duduk di ruang tamu dengan wajah memerah, tangan terkepal di pangkuan. Ibunya berdiri di depannya, wajahnya merah padam, nada suaranya menusuk.
“Dimas! Sudah berapa kali ibu bilang, jangan main-main dengan urusan hati! Kamu terlalu muda untuk bicara soal menikah!” teriak ibunya, suaranya nyaris pecah.
Dimas menatap ibunya dengan mata yang sama kerasnya. Ada kemarahan, tapi ada tekad yang tak tergoyahkan. “Ibu… aku nggak main-main. Aku serius. Dan aku nggak akan berhenti sampai Nana setuju menikah sama aku.”
Ibunya menggeleng cepat, napasnya tersengal. “Kamu… kamu gila! Kamu nggak bisa begitu saja memaksa perasaan orang! Apa kamu pikir ini mainan? Apa kamu pikir cinta itu bisa dipaksakan?!”
Dimas tidak mundur. Matanya menyala, menatap lurus ke arah ibunya. “Aku nggak memaksa, Bu. Aku cuma… nggak mau menyerah. Aku tahu apa yang aku rasakan. Dan aku tahu, Nana itu orang yang tepat buat aku. Aku nggak akan diam sampai semuanya jelas!"
"Dasar anak tidak tahu diri!"
Plak!
Plak!
***
Bersambung...