kisah tentang kekuasaan, pengorbanan, dan perjuangan seorang ratu di tengah dunia yang penuh dengan intrik politik dan kekuatan sihir serta makhluk mitologi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anang Bws2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diskusi di Ambang Kehancuran
Matahari baru saja menyembul di ufuk timur, namun aura di dalam istana Atlas sudah terasa sedingin es. Ratu Layla, dengan jubah kebesarannya yang berwarna merah darah, melangkah memasuki aula utama dengan raut wajah yang lebih kejam dari biasanya. Sisa-sisa pemandangan akar hitam yang menyergap Griffon semalam masih membekas di benaknya, membakar harga dirinya sebagai penguasa. Hari ini, ia memanggil seluruh petinggi militer dan penyihir untuk sebuah rapat besar yang akan menentukan nasib kerajaan.
Di meja bundar yang terbuat dari batu obsidian, telah duduk Penyihir Petir dengan wajah pucatnya, Delta sang panglima yang tampak gelisah namun tetap tegap, serta para pemimpin satuan Centaur dan Minotaur. Keheningan yang mencekam pecah saat Layla menggebrak meja.
"Aku tidak ingin mendengar laporan kekalahan lagi," suara Layla rendah namun tajam, "Pasukan faramis sudah mulai menyentuh dinding istanaku. Bagaimana mungkin armada udara kayu milik Gris bisa terbentuk tanpa kita sadari?"
Penyihir Petir berdehem, mencoba merapikan jubahnya yang agak berantakan. "Yang Mulia, sihir hutan milik penasehat Gris adalah jenis sihir purba yang tumbuh dalam kesunyian. Mereka menggunakan energi tanah untuk menyamarkan keberadaan mereka. Armada itu bukan dibangun, tapi ditumbuhkan."
"Argumen yang lemah!" potong Layla sinis. "Kau selalu punya alasan untuk ketidaktahuanmu."
Perdebatan antara Ratu dan penasehatnya mulai memanas. Penyihir Petir bersikeras bahwa mereka harus memperkuat perisai energi di sekitar istana menggunakan elemen petir, sementara Layla menginginkan serangan balik total menggunakan Naga Api untuk membakar habis wilayah perbatasan. Di tengah ketegangan itu, seorang pemimpin Centaur mencoba memberanikan diri.
"Yang Mulia Ratu, jika saya boleh memberi saran," ucap sang Centaur dengan nada ragu. "Mungkin kita bisa mengirim pasukan Minotaur untuk menggali kanal air di sekitar perbatasan agar akar-akar itu tidak bisa merayap lebih jauh"
"Diamlah, bodoh!" bentak Delta dengan suara menggelegar. Panglima itu menatap sang Centaur dengan tatapan menghina. "Logika jalananmu tidak berguna di sini. Akar itu digerakkan oleh sihir hitam, bukan sekadar tanaman yang butuh air untuk merambat. Kembali ke barisanmu sebelum aku memenggal kepalamu!"
Seketika, sang Centaur terdiam , menundukkan kepala dengan wajah memerah karena malu dan takut. Delta kemudian beralih menatap Penyihir Petir, matanya menyipit penuh selidik.
"Katakan padaku, Penyihir," ujar Delta dengan nada menantang. "Apa sebenarnya kelemahan dari sihir hutan ini? Kau adalah penasehat agung, mustahil kau tidak tahu titik lemah dari musuh bebuyutanmu sendiri."
Penyihir Petir tampak ragu. Ia mengelus jenggotnya yang tipis, matanya melirik ke arah bola kristal yang ia bawa. "Kelemahan mereka... secara teori adalah api yang tidak berasal dari alam, api yang dicampur dengan energi penghancur. Namun, meramu sihir semacam itu membutuhkan waktu yang tidak sedikit."
Layla hanya terdiam. Ia menyandarkan tubuhnya di takhta, memperhatikan dengan saksama bagaimana dua orang kepercayaan yang paling ia andalkan saling beradu argumen. Ada sedikit rasa muak di hatinya melihat ketidaksiapan mereka. Di tengah diskusi yang mulai buntu, pintu aula terbuka. Beberapa pelayan masuk membawa baki-baki besar berisi potongan daging babi yang dipanggang dengan rempah-rempah kuat, aroma gurih segera memenuhi ruangan.
Daging babi itu disajikan di hadapan Layla, Penyihir Petir, dan Delta. Tanpa membuang waktu, Delta menarik sepiring besar daging dan mulai makan dengan lahap, seolah-olah rasa lapar adalah satu-satunya hal yang tidak bisa ia kendalikan saat ini. Sambil mengunyah, matanya tetap tertuju pada Penyihir Petir, menyimak setiap kata yang keluar dari mulut sang penasehat yang masih mencoba membela teorinya.
Layla tidak membiarkan suasana menjadi santai. Sambil mengiris dagingnya dengan pisau perak, ia terus melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkan. "Berapa lama waktu yang kau butuhkan untuk meramu api itu? Bagaimana jika Naga Api kita tidak cukup kuat menembus pertahanan naga kayu mereka? Apa kau menjamin petir mu bisa merontokkan armada udara faramis?"
Penyihir Petir terdiam. Setiap pertanyaan Layla adalah sebuah jerat yang sulit ia hindari. Ia meletakkan garpunya, nafsu makannya hilang seketika di bawah tatapan mengintimidasi sang Ratu. Setelah makanan selesai dibersihkan oleh para pelayan, Penyihir Petir berdiri dan membungkuk hormat.
"Yang Mulia," bisiknya dengan suara yang hanya bisa didengar Layla. "Ada hal yang harus kita bicarakan secara pribadi. Sesuatu yang tidak boleh didengar oleh telinga-telinga di aula ini."
Layla berdiri tanpa suara, memberi isyarat kepada Delta untuk tetap di tempat, lalu melangkah menuju Menara Petir diikuti oleh sang penasehat.
Dari puncak menara, mereka menatap ke arah wilayah musuh. Melalui teleskop sihir, pemandangan itu terlihat jelas ,makhluk-makhluk kayu raksasa—naga kayu buatan Penyihir Hutan—mulai mengepakkan sayap-sayap mereka yang kaku di kejauhan. Pemandangan itu begitu ganjil dan mengerikan.
"Aku masih belum menemukan solusi yang pasti, Yang Mulia," ujar Penyihir Petir dengan suara yang jujur namun penuh keputusasaan. "Makhluk-makhluk itu... mereka bukan makhluk hidup, tapi mereka juga bukan benda mati. Mereka adalah perpanjangan nyawa dari ribuan roh yang dikurung oleh Gris."
Mereka terus berbicara di sana, beradu teori dan strategi hingga matahari mulai condong ke barat. Langit berubah menjadi jingga kemerahan, mencerminkan darah yang akan segera tumpah. Saat itulah, Delta muncul di puncak menara dengan langkah terburu-buru. Wajahnya yang biasanya garang kini tampak pucat. Begitu ia melihat naga-naga kayu yang sedang terbang rendah di garis cakrawala, ia terkesiap.
"Dewa-dewa..." gumam Delta. "Jadi itu yang kau lihat semalam?"
"Bukan itu saja alasanku kemari, Panglima," Layla menimpali dengan dingin.
"Yang Mulia!" Delta segera teringat tujuannya. "Salah satu pelayan pribadi Anda... dia jatuh pingsan di dapur. Tubuhnya membiru dan ada akar kecil yang mulai tumbuh dari pori-pori kulitnya. Penyihir Hutan telah meracuni kita melalui pasokan makanan atau udara!"
Layla dan Penyihir Petir langsung bergegas turun dari menara menuju ruang pelayan. Di sana, seorang wanita tua yang tadi pagi melayani mereka terbaring di atas dipan batu. Wajahnya mengerikan, pembuluh darahnya terlihat menghitam dan matanya membelalak ketakutan. Penyihir Petir segera mengeluarkan berbagai jenis ramuan dari balik jubahnya. Ia menuangkan cairan demi cairan, merapal mantra pembersihan, namun setiap kali sihirnya menyentuh tubuh pelayan itu, akar di kulitnya justru tumbuh semakin cepat.
Dalam hitungan detik, pelayan itu mengejang hebat dan akhirnya tewas, tubuhnya sepenuhnya tertutup oleh lumut hitam yang berbau busuk.
Layla menatap mayat itu dengan pandangan yang kosong namun penuh kebencian. Ia berbalik, matanya berkilat dengan amarah yang tidak lagi bisa dibendung. "Cukup," desisnya. "Aku tidak akan menunggu sampai kita semua berubah menjadi pupuk bagi tanaman Gris."
"Siapkan seluruh pasukan!" teriak Layla yang suaranya bergema ke seluruh koridor istana. "Minotaur, Centaur, Griffon, dan lepaskan seluruh Naga Api. Besok, saat fajar menyingsing, kita akan meratakan faramis!"
Penyihir Petir mencoba mengejar Layla yang berjalan cepat menuju kamarnya. "Yang Mulia, tunggu! Ini terlalu berisiko! Kita belum tahu pasti kekuatan armada udara mereka secara utuh! Serangan fajar tanpa persiapan sihir penangkal adalah bunuh diri!"
Penyihir itu terus berjalan di samping Layla, mencoba menghalangi langkahnya dengan rentetan argumen logis. Namun, Layla berhenti mendadak dan menatapnya dengan pandangan yang bisa membekukan darah. "Satu kata bantahan lagi, dan kau akan menjadi orang pertama yang aku lemparkan ke arah naga kayu itu. Perang diadakan besok. Titik!"
Penyihir Petir terdiam, menyadari bahwa Ratu tidak ingin lagi mendengar suara akal sehat. Layla kemudian masuk ke dalam kamarnya dan membanting pintu. Di dalam kesunyian kamar yang mewah, ia terdiam sejenak di depan cermin, merenungkan bayangannya sendiri. Ia tahu taruhannya adalah segalanya. Dengan napas yang berat, ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, mencoba memejamkan mata di tengah bayang-bayang kehancuran yang kian nyata, hingga akhirnya ia jatuh ke dalam tidur yang gelisah.