Mei Zhiyi dipindahkan ke sebuah dunia kuno oleh sistem setelah mengalami insiden penembakan di markas militer.
Dia diubah menjadi seorang pelayan istana yang akan segera mati karena telah menyinggung seseorang di istana yang dalam.
Untuk mencegah kemusnahan karakter asli, Mei Zhiyi diminta melakukan serangkaian misi penyelamatan diri.
Namun ketika dia bertemu dengan Liu Yan, Kaisar penguasa dinasti yang sangat ditakuti dan sukar diajak kompromi, sistem tiba-tiba berkata: Taklukan dia, cegah dia jadi iblis tiran atau kau akan mati!
***
"Mentang-mentang seorang Kaisar, suka sekali menyuruh-nyuruh bawahan," Mei Zhiyi menggerutu dalam hati.
Kaisar tiba-tiba bertitah, "Pelayan Mei menghina atasan. Hukum cambuk lima kali!"
"Dasar Kaisar jahat. Aku mengutukmu impoten sampai mati!" Mei Zhiyi berseru dalam hatinya.
Tiba-tiba Kaisar menariknya ke tempat tidur dan berkata, "Beraninya kau mengutukku! Akan kubuktikan padamu apakah aku impoten atau tidak!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhuzhu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 3: PINDAHKAN DIA KEMARI
Cukup jauh Mei Zhiyi berjalan dengan langkah terseret. Ternyata dia adalah pelayan dari Dapur Istana, yang bertugas mengantarkan makanan ke setiap istana ketika saatnya tiba.
Dapur Istana juga bukan tempat yang bagus. Koki dan kasim serta pelayan lain yang bertugas di sana kebanyakan masuk atas rekomendasi orang, jadi merasa sombong dan memandang rendah orang lain.
Anggap saja Mei Zhiyi sedang sial. Dia tiba di dunia ketika kekuasaan dapat menentukan hidup dan mati seseorang.
Dia yang asalnya berada di posisi tinggi, membawahi ratusan bahkan ribuan orang, kini menjadi sebatang kara yang hidup pas-pasan dan lemah. Tidak ada bedanya dengan sekarat.
“Dasar gadis sialan! Dari mana saja kau?” tiba-tiba rambut Mei Zhiyi ditarik ke belakang oleh seseorang.
Seorang wanita setengah tua, kisaran umur empat puluhan dengan tubuh gempal menjambak rambut Mei Zhiyi dengan kuat. Wajahnya terlihat garang dan jelas sekali dia bukan orang baik.
Mei Zhiyi menatapnya tajam seakan ingin memakannya. Rambutnya belum kering, rasa sakit dari penganiayaan yang ia dapatkan belum sepenuhnya hilang.
“Aku menyuruhmu mengantarkan makanan ke Istana Shuning. Kenapa kau tidak menurut? Kau ingin membuat para tuan marah? Dasar gadis sialan, pembawa masalah!”
“Lepaskan atau tidak?” tanya Mei Zhiyi dingin.
Wanita itu sempat terkejut. Tapi, hatinya lebih keras dari apapun.
“Sudah berani melawan? Aku lihat kau mau dipukul, ya! Dasar pemalas!”
Saat wanita itu mengambil rotan untuk dipukul ke tubuh Mei Zhiyi, Mei Zhiyi memelintir tangannya dan membuatnya telungkup di meja.
Batang rotan sudah pindah ke tangannya. Jika tidak salah, wanita ini adalah Bibi Rong, pelayan senior yang bertanggung jawab atas pengantaran makanan di Dapur Istana.
Mengandalkan statusnya sebagai pelayan senior, dia suka semena-mena terutama terhadap pelayan baru dan pelayan yang tidak punya dukungan.
Setiap kali ada kesalahan selalu melemparkannya kepada yang lain. Mei Zhiyi seharusnya sering dipukuli olehnya.
“Kau! Kau! Kau! Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!”
Bibi Rong mengaduh karena pergelangan tangannya sakit. Dia tidak menyangka Mei Zhiyi yang asalnya selalu menangis saat ditegur akan berbalik melawan seperti ini.
“Merasa hebat karena sudah jadi pelayan senior? Sama-sama pelayan, tidak tahu diri sekali.”
“Apa yang mau kau lakukan? Berani sekali kau melawanku! Gadis sialan, lepaskan aku!”
Mei Zhiyi memukul Bibi Rong dengan rotan beberapa kali sampai Bibi Rong mengaduh kesakitan. Setelah pukulan ke sekian, Bibi Rong akhirnya memohon ampun. Tapi wajahnya menunjukkan ekspresi tidak terima karena dia dikalahkan oleh seorang gadis.
“Enyah dari hadapanku!”
“Awas saja kau!”
Bibi Rong melarikan diri. Kakinya jadi pincang. Dia sempat terjatuh karena kakinya tersandung ambang pintu.
Hatinya tidak terima. Dia pasti akan membalas gadis sialan itu nanti!
Mei Zhiyi melempar rotan ke tanah, merapikan pakaiannya yang sudah setengah kering. Dia tahu ada beberapa pasang mata yang diam-diam menyaksikan dari kejauhan.
Tapi, dia tidak tertarik untuk menjelaskan. Dia hanya ingin segera kembali ke kamarnya dan mengganti pakaian.
Tapi baru saja dia hendak masuk, seorang pelayan senior lain datang bersama beberapa kasim. Tapi, mereka sepertinya bukan komplotan Bibi Rong. Wajahnya tampak asing.
Namun, dia terlihat ramah. Saat pertama kali melihat Mei Zhiyi saja sudah tersenyum.
“Kau adalah Mei Zhiyi?” tanya pelayan tersebut.
“Ya. Apakah kau datang untuk menghukumku?”
Pelayan senior itu tersenyum lagi. “Nona Mei, saya adalah Bibi Cui. Bertugas di Departemen Rumah Tangga Istana. Saya datang untuk mengantarkan hadiah untukmu.”
Kasim-kasim di belakangnya menaruh beberapa buah kotak kecil di tangan Mei Zhiyi. Dia hampir kewalahan karena kotak-kotak itu terasa berat saat ditumpuk menjadi satu.
“Apakah memukul orang juga dapat hadiah?” tanyanya tanpa sadar.
“Nona, ini adalah hadiah atas keberanianmu. Tuan kami mengapresiasi keberanianmu yang melawan penindasan.”
“Siapa tuanmu?”
“Nona akan bertemu dengannya jika berjodoh. Kalau begitu, saya pergi dulu.”
Bibi Cui pergi begitu saja tanpa menjelaskan siapa tuan yang dimaksud. Mei Zhiyi juga kebingungan karena tiba-tiba saja diberi hadiah sebanyak itu.
Apa yang sudah dia lakukan? Dia tidak melakukan kebajikan besar yang berdampak pada rakyat.
Dia hanya memukul beberapa orang menyebalkan yang suka menindas orang. Apakah itu juga sebuah kebajikan?
“Pemberitahuan: Daya hidup tuan rumah meningkat 3%. Daya hidup saat ini 8%.”
“Xiaotong, apa memukul orang dan dapat hadiah juga meningkatkan peluang hidup?”
“Tidak juga. Memukul orang meningkatkan risiko pengurangan daya hidup. Tidak ada aturan seperti itu di sistem.”
Lalu kenapa daya hidupnya masih bisa bertambah setelah dia menghajar tiga orang yang mengganggunya seperti ini?
Mei Zhiyi tidak peduli lagi. Dia masuk ke dalam kamar tempat para pelayan dan mendapati tempat itu sangat buruk.
Kasurnya hanya terbuat dari kayu, satu tempat tidur diisi beberapa orang. Berjajar seperti ikan kalengan. Selimutnya juga bau apek.
Mei Zhiyi diajarkan untuk bertahan hidup dalam berbagai situasi. Sekalipun cuaca buruk dan pakaian tipis, dia tetap bisa bertahan hidup. Namun, tubuhnya saat ini bukan lagi tubuh aslinya.
Tidak ada tenaga dalam yang bisa melindungi meridian, juga tidak ada penghangat ruangan yang dapat menahan suhu dingin. Apalagi pakaian hangat. Meskipun ada, pasti sudah direbut orang.
Tidak bisa, jika seperti ini Mei Zhiyi bisa segera mati. Ia membersihkan dirinya, menggantinya dengan pakaian kering.
Tak lupa ia mengoleskan minyak angin untuk menghangatkan tubuh. Baru saja dia hendak istirahat, tiba-tiba saja ada Bibi Rong datang lagi.
“Gadis sialan! Jangan malas-malasan! Cepat antarkan makanan ke Istana Zhaoyang!” seru Bibi Rong dengan nada memerintah yang di ujungnya tersimpan rasa takut. Keringatnya bercucuran.
Hari ini entah kenapa suasana hati Kaisar buruk. Dia menghukum semua pengantar makanan yang datang ke istananya dan menyuruh kasimnya membuang semua makanan itu. Sudah ganti orang dan ganti menu pun amarah Kaisar masih saja tidak terbendung.
Para pelayan di Dapur Istana sudah ketakutan. Sebagian besar sudah dikirim ke Biro Hukuman karena tidak bisa mengetahui keinginan Kaisar.
Benar-benar tidak ada orang lagi yang dapat dikirim. Bibi Rong berpikir masih ada gadis sialan itu yang bisa dipilih sebagai pengantar makanan.
Kebetulan, dia bisa sekalian membereskannya. Jika terkena marah Kaisar, gadis sialan itu pasti juga akan kena hukuman!
“Jadwalku hari ini adalah Istana Shuning. Bukan Istana Zhaoyang,” tolak Mei Zhiyi.
“Sebagai pelayan, beraninya kau pilih-pilih? Kalau disuruh pergi ya pergi saja!”
Baru saja Mei Zhiyi mengambil sapu dan mau mengusir Bibi Rong, suara sistem tiba-tiba terdengar.
“Misi sampingan telah aktif! Tuan, silakan antarkan makanan ke Istana Zhaoyang!”
Sistem sialan, pikir Mei Zhiyi. Dia menyimpan kembali sapu tersebut dan terpaksa menyetujui perintah dengan enggan.
Kotak makan dia bawa ke tempat yang disebut Istana Zhaoyang, istana tempat tinggal sang Kaisar Daqi. Mei Zhiyi jadi penasaran, seperti apakah sosok seorang Kaisar asli yang hidup di zaman ini?
Li Dezai agak terkejut saat melihat Mei Zhiyi datang, namun ada semacam kelegaan pula dalam hatinya. Buru-buru dia menghampiri Mei Zhiyi dan langsung mendorongnya masuk ke dalam istana.
“Kasim itu gila, ya? Kenapa harus mendorongku masuk?”
Tiba-tiba sebuah buku melayang hampir mengenai Mei Zhiyi. Setelah berhasil menghindar, ia baru sadar bahwa ruangan ini begitu berantakan.
Ruangannya besar, furnitur di dalamnya begitu bagus dan mewah. Juga didominasi oleh warna emas yang melambangkan keagungan sang pemilik. Tidak salah lagi, ini memang istana tidur Kaisar.
“Sudah kubilang aku tidak mau makan! Sudah tuli ya?”
Mei Zhiyi mengernyit sambil menghentikan langkah. Suaranya begitu khas, seorang pria dewasa yang sudah matang. Bukan berat seperti lelaki tua yang sudah berumur. Nadanya terdengar begitu dingin dan penuh tekanan, penuh dengan ancaman dan intimidasi.
Pantas saja Bibi Rong mengirimnya kemari. Rupanya Bibi Rong ingin dia menanggung hukuman akibat gagal membuat Kaisar senang.
Bibi Rong si wanita tua menyebalkan itu memang benar tidak punya niat baik. Tidak heran dia bersikeras menyuruhku datang kemari. Nada dingin yang mendominasi dan mengancam ini benar-benar menakutkan, Mei Zhiyi berucap dalam hatinya.
Liu Yan yang hendak melempar buku tiba-tiba terdiam. Kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan.
Dia hanya melihat sesosok bayangan gadis muda berdiri diam di balik tirai kertas yang menjadi pembatas antara ruang luar dengan ruang dalam istananya. Tubuhnya begitu kecil sampai mirip dengan anak usia sepuluh tahun.
“Kaisar, pelayan ini datang untuk mengantarkan makanan. Jika Kaisar tidak berselera, pelayan ini akan membawanya kembali.”
Kening Liu Yan mengernyit. Dari mana datangnya pelayan yang satu ini?
Dari puluhan pengantar makanan, semuanya langsung berlutut ketakutan begitu mendengar suaranya. Tapi pelayan ini malah berdiri diam di balik tirai, lalu dengan berani berbicara dengannya tanpa menunjukkan diri.
“Bawa kemari!” tegasnya.
Mei Zhiyi masuk. Tidak seperti pelayan lain yang tampak takut, dia melangkah dengan berani.
Tidak peduli siapa sosok di depannya dan seperti apa dia, Mei Zhiyi tidak boleh menunjukkan diri yang lemah. Mental seorang prajurit yang berani menghadapi musuh sendirian sudah mendarah daging dan menyatu dengan jiwanya.
“Yang Mulia, ini makan siang Anda.”
Mata cakram Liu Yan menyipit. “Angkat kepalamu.”
Mei Zhiyi mengangkat kepalanya. Matanya sedikit melotot begitu melihat sesosok pria mengenakan jubah naga berwarna emas duduk di kursi, matanya menyipit seolah sedang bertanya-tanya. Pria ini memiliki wajah tampan yang langka, seperti ras campuran namun Mei Zhiyi tidak tahu ras manakah yang dimaksud.
Kaisar Daqi ternyata memang seorang pria muda. Bukan pria tua yang sudah berjanggut berkulit keriput yang meski tubuhnya sudah rapuh tapi masih tahu cara menikmati keindahan dunia dan memeluk selir cantik. Yang paling membuat Mei Zhiyi terkesan adalah aura dinginnya yang menguar begitu saja, seperti bawaan dari lahir, seakan sosok ini tidak bisa disentuh sama sekali.
Benar-benar raja sebuah dinasti. Presiden turun temurun ini punya aura luar biasa, bahkan melebihi seorang panglima militer. Menatapnya saja sudah bisa membuat orang mati ketakutan.
Liu Yan mengernyit lagi. Dia kembali menolehkan kepalanya ke kiri dan ke kanan.
Sepertinya seseorang baru saja bicara. Tapi, hanya ada mereka berdua di sini. Pelayan itu juga tidak membuka mulutnya. Apakah ini adalah efek karena dia terlalu banyak meluapkan emosi?
“Kaisar?” Mei Zhiyi dengan berani bertanya saat melihat Liu Yan terlihat tidak fokus.
“Sajikan saja makanannya. Kau boleh keluar.”
“Baik.”
Li Dezai yang menunggu dengan gelisah terkejut melihat Mei Zhiyi keluar tanpa cedera. Bahkan tidak ada teriakan keras yang memerintah untuk menghukum orang.
Dari puluhan banyak pelayan yang dikirim Dapur Istana, ternyata masih ada yang bisa lolos dari amarah Kaisar!
“Kasim Li, makanannya sudah kuantarkan. Nanti akan ada orang yang membereskan bekasnya.”
“Nona Mei sebaiknya menunggu sampai Kaisar selesai makan saja.”
“Kau tahu namaku?”
Li Dezai hanya tersenyum. Dia tidak tahu sebelumnya. Baru beberapa jam yang lalu dia mengetahuinya. Jumlah pelayan di istana ini ada ratusan bahkan ribuan, mana mungkin dia mengingat nama dan wajahnya satu per satu. Hanya beberapa orang yang pantas dikenal saja yang dia ingat.
“Masuk akal juga. Kau kepala kasim, sudah tentu harus mengenal baik bawahan. Tapi, aku tidak bisa menunggu. Aku masih harus kembali ke Dapur Istana untuk melapor.”
Mei Zhiyi pergi begitu saja. Li Dezai tidak sempat menahannya, padahal dia masih ingin Mei Zhiyi menunggu sampai Kaisar benar-benar selesai makan.
“Li Dezai!” seru Liu Yan. Li Dezai bergegas masuk.
“Yang Mulia, apakah ada perintah?”
“Pindahkan dia kemari!”
“Maksud Anda, Nona Mei Zhiyi?”
Jadi, namanya Mei Zhiyi. Liu Yan menatap tajam Li Dezai, tidak ingin menjelaskan dua kali soal perintahnya. Li Dezai segera paham, mengangguk manut dan segera pergi untuk memberi tahu pihak lain.
Takut knp knp sama Liu yan
😁😁😁😁
nebak" aja dulu
Emang enak di ghibahin sama Mei