Real cerita asli
No Jiplak!!!!
Yang jiplak gue gaplak
Ivana, wanita berusia 26 tahun harus merasakan pahit yang lebih dalam setelah kakaknya meninggal. Ia di haruskan menggantikan sang kakak untuk menikahi Saga, calon kakak iparnya setelah Olivia meninggal. Namun rupanya, Saga pun tak melepaskan Ivana, karena tahu bahwa jantung yang ada di dalam dirinya adalah milik Olivia.
"Tolong, izinkan aku pergi!" Rintihan itu terus Ivana ucapkan dari balik pintu kamar berinterior mewah.
Di depan kamar itu, terdapat beberapa orang yang mengawasinya.
"Kau mau kemana Ivana? Kau harus tetap di sini, Olivia tidak akan pernah membangkang padaku. Kau harus menurut, atau aku akan mengambil jantungmu dan memberikannya pada wanita lain sebagai Olivia" ucap Saga dari balik pintu kamar Ivana.
"Kau sudah gila Saga, lepaskan aku! Aku tidak ingin di sini! Aku ingin pergi! "
Ivana, apakah kamu benar-benar akan bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon An_cin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12
Ivana kini tengah duduk di atas ranjangnya, ia tengah membaca surat yang diberikan oleh Jane.
Surat itu adalah milik Olivia yang ia pernah berikan kepada bibi Agnes untuk Ivana.
Isi dari surat itu adalah :
“Dear Ivana, ini adalah kakakmu, jika kamu baca surat ini. Mungkin aku telah tiada, kamu mungkin akan membenciku, menyalahkan semua hal yang terjadi kepada dirimu sendiri, namun aku berharap kamu akan mengerti maksudku. Ivana, tolong jangan terkejut saat kau sadar nanti!, kau boleh menangis Ivana, namun kau berhak, atas kebahagiaanmu sendiri. Ivana, aku sudah cacat. Kaki kananku telah hilang, aku di amputasi dan mataku menjadi buta. Aku tak bisa lagi menulis, berlari, semuanya aku tak bisa, itulah mengapa aku menyerahkan jantungku kepadamu. Aku tak pernah menyalahkanmu Ivana, semua yang terjadi padaku adalah takdir, aku mau kau sehat, aku ingin adikku bisa tersenyum kembali dan ceria. Aku ingin kau selalu tahu Ivana, aku selalu berada di sampingmu, meskipun aku telah tiada. Aku akan selalu mendukung langkahmu, lakukanlah apa pun yang kau inginkan. Wujudkanlah impianmu itu Ivana!, kau yang sekarang adalah satu-satunya penerus keluarga wingston. Kau adalah sinar cahaya itu, kaulah yang paling berarti bagiku. Jika kau ingin aku bahagia, maka mulailah dengan dirimu sendiri. Bahagiakan dirimu agar pengorbananku tak sia-sia."
Olivia menuliskan semua itu, dengan bantuan dari suster yang selalu mendampinginya.
Ivana yang membaca itu sontak menangis, ia tak bisa percaya dengan apa yang ia tengah baca ini. Tangannya gemetaran hebat, ia bahkan menjatuhkan lembaran kertas itu dari tangannya. Ia menatap ke segala arah, mencoba mengontrol emosinya sebisa mungkin. Namun hal itu percuma, ia memeluk dirinya sendiri. Berteriak sekencang yang ia bisa.
"AAAAARRRRGGGGGGHHHHHHH," teriak Ivana dari balkon kamarnya.
Ia kemudian luruh kembali, duduk di lantai dan memeluk kedua kakinya. "Kak Oliv, maafkan aku. Maaf karena aku tak pernah bisa menjadi adik yang baik untukmu"
"Aku selalu menyusahkan, membuatmu berada dalam situasi yang rumit. Aku telah merenggut nyawa papa, kini aku bahkan merenggut nyawamu."
Ivana mendongakkan wajahnya, ia kemudian terpikirkan sesuatu di otaknya. Mengapa ia tak menemui bibi Agnes dan menanyakan semua soal Olivia kepadanya. Jika benar Olivia yang memberikan surat ini, lantas mengapa ia, membiarkan Olivia mendonorkan jantungnya.
Ivana pergi menuju pintu, ia terus mengetuk pintu kamarnya dan berteriak. "HAI, KAU DENGAR AKU. TOLONG PANGGIL KAN JANE UNTUKKU!."
"Nona diamlah. Kau jangan berteriak seperti itu atau nyonya akan marah padamu."
"Pak, bisakah Anda menolongku, tolong carikan Jane untukku."
"Untuk apa kau mencari pelayan Jane?" Pengawal itu seperti tak percaya kepada Ivana.
"Jika aku tak boleh mencari Jane, untuk apa dia di suruh menjadi pelayan di sini jika bukan untuk mengawasiku. Aku tahu tujuan mama memberiku pengasuh baru agar aku tak bisa kabur dari rumah. Agar aku tetap di sini, namun apa gunanya Jane jika aku bahkan tidak bisa menemuinya."
"Bukan tidak boleh bertemu dengannya, saat ini Jane sedang bersama dengan nyonya besar. Jadi dia sedang tak bisa di ganggu," ujar pengawal itu, kepada Ivana dari balik pintu.
"Jika kalian tak membiarkanku bertemu dengan Jane, maka biarkanlah aku untuk keluar ke dapur, sebentar saja. Aku mohon padamu"
"Aku hanya akan ingin makan, aku sangat lapar. Apakah kalian benar-benar akan membiarkanku mati di sini? Benarkah begitu?."
Pengawal itu merasa Ivana kali benar, bagaimana mungkin ia tega membiarkan anak majikannya mati kelaparan. Meskipun pengawal itu mengurung Ivana, namun mereka juga manusia. Mereka masih mempunyai hati nurani.
Pengawal itu pun membukakan pintu kamar Ivana, hal yang di lakukan oleh pengawal itu membuat yang lainnya terkejut.
"Hai, apa yang kau lakukan? Mengapa kau membuka pintu itu. Apa kau sudah gila?" tanya temannya.
Ivana pun keluar, ia kemudian pergi ke dapur yang berada di lantai 2 tak jauh dari kamarnya.
"Kau mau ke mana?," pengawal yang lain rupanya tak membiarkan Ivana pergi, mereka menghalangi jalan Ivana. Menyuruhnya untuk kembali ke kamarnya.
"Kembalilah ke kamarmu nona Ivana!, sebelum kami benar-benar berlaku kasar kepadamu," ucap pengawal itu, sebari mendorong tubuh Ivana kembali.
Namun Ivana tak ingin kalah, ia pun pada akhirnya memohon belas kasihan dari para pengawal itu. "Kau benar-benar tak kasihan padaku? Aku sudah sangat kelaparan di sini. dan kalian masih bisa menghentikan aku di sini, wah. Kalian pasti sudah gila ya."
Ivana lalu menunjuk ke arah pengawal yang tadi sempat membukakan pintu. "Kau lihat, pengawal yang itu bahkan biasa saja. Ia hanya diam tak seperti kalian yang ribut." Mendengar perkataan Ivana, mereka pun melihat ke arah pria yang membukakan pintu untuk Ivana.
Pria itu pun mengangguk, para pengawal yang lain pun membiarkan Ivana pergi. Mereka tak lagi bertanya apa pun kepada Ivana.
Wanita itu kini sudah bisa ke dapur dengan tenang sekarang.
Di sisi lain, Jane kini tengah berada di kamar Emalia, ia memijat bahu Ema dan membuat wanita itu merasa jauh lebih tenang setelah beradu mulut dengan putrinya.
"Nyonya, maaf sebelumnya."
"Ada apa Jane?,"
"Nyonya, mengapa Anda memilihku?" tanya Jane sebari memijat Emalia.
"Astaga tubuh tua ini, benar-benar merepotkan"
"Nyonya?"
"O, maaf Jane. Kau tadi bilang apa? Aku belum mendengar ucapanmu."
"Nyonya, kemarin ada banyak sekali wanita yang kau seleksi. Namun mengapa kau memilihku untuk mengawasi Nona Ivana,"
Mendengar hal itu Emalia pun tersenyum tipis, "Kamu itu cantik, dan juga pintar. Aku suka dirimu karena kau masih muda, aku ingin membuat Ivana merasa insecure dengan dirimu yang ada di sisinya. Tak hanya itu, di antara semuanya, kau yang paling menurut padaku. Itulah mengapa aku memilihmu, aku sempat mempunyai seseorang sebelumnya. Namun wanita tua menyebalkan bahkan terus memihak Ivana."
"Ternyata semua benar tentang nyonya Emalia, gambaran bibi benar-benar sangat pas. Akan wanita ini, dia benar-benar memiliki mental yang buruk." ujar Jane dalam hati.
"Bahkan dia rela merekrut pelayan baru, padahal hampir semua pelayan yang ada di sini memihaknya. Sepertinya mentalnya benar-benar kacau. Dia seperti benar-benar tak percaya pada orang lain, selain dirinya sendiri." ujar Jane dalam hati, lagi dan lagi.
*****
Di dapur Ivana benar-benar sangat lapar, ia memakan apa pun yang ada di dapur hanya dengan beberapa suap. Seorang pelayan mendengar suara dari arah dapur, ia melihat banyak piring berceceran di sana.
"Apa ini, mengapa berantakan sekali?" ucap pelayan itu.
Pelayan itu seperti ketakutan setelah mendengar suara kunyahan. "Apakah itu kucing, tapi mana ada kucing makan sebanyak ini?"
"Tenanglah Rei, tenangkan dirimu." Pelayan yang bernama Rei itu mengambil sebuah sapu yang berada tak jauh dari tempat ia berdiri.
Rei mencoba memberanikan diri, ia mendekat ke arah meja. Saat ia mengayunkan sapu itu ke atas, ia pun melihat sosok itu. Itu bukanlah kucing, melainkan manusia.
"Nona Ivana?" Rei menghampiri Ivana yang tengah makan dengan lahap.
"Nona, ini sungguh Anda. Benar-benar Anda" Rei memeluk Ivana, namun Ivana tak menunjukkan respons apa pun, ia lanjut memakan roti di tangannya. Tatapannya bahkan kosong seperti sudah tak ada kehidupan di dirinya.
"Nona, kau baik-baik saja?" mendengar itu, Ivana hanya mengangguk.
Rei merasa kasihan pada gadis itu, bagaimana dia bisa berakhir seperti itu. Rei pun memeluknya dengan hangat. "Nona, tak semua pelayan di rumah ini jahat. Ada aku di sini? Kau tahu nona, aku benar-benar tak suka pada pelayan baru itu. Dia sepertinya membencimu dan lebih mendukung nyonya Ema." Ivana pun menoleh ke arah Rei, ia masih sempat tersenyum.
"Rei, bisakah kau bantu aku! Sekali ini saja. Aku mohon padamu"
Rei pun dengan senang hati, "siap nona, aku akan membantumu."
"Namun, aku bisa membantu apa nona?"
Ivana pun mengeluarkan sebuah kertas yang ia simpan di sakunya. "Tolong berikan ini pada Jane, dan tolong. Jangan beri tahu hal ini kepada siapa pun, ini hanya antara kita bertiga, kau, aku, dan Jane." Rei seperti tak percaya dengan apa yang ia dengar. Ia pun menggenggam bahu Ivana dan mencoba menyadarkannya.
"Nona, sadarlah, dia adalah orang jahat. Dia sangat jahat padamu, huh, kau tahu. Padahal dia adalah anak baru di sini, namun dia sudah banyak tingkah mentang-mentang dekat dengan nyonya Ema." Rei berkata dengan mengerutkan kening.
"Rei, aku mohon padamu. Tolong aku, dia tak seperti apa yang kau bayangkan, dia adalah orang yang baik. Tolong aku Rei, hanya kau yang bisa aku percaya di sini selain Jane. Bibi Agnes kini sudah pergi, tak ada lagi yang bisa membantuku dengan tulus selain kau." Mendengar ucapan Ivana yang seperti itu membuat Rei terharu dan memeluknya.
"Nona, mengapa Anda begitu sangat baik hati. Aku benar-benar bahagia mendengarnya,"
Ivana tersenyum, ia membalas pelukan Rei. "Terima kasih Rei, karena tak menghakimiku seperti yang lain. Aku tahu letak kesalahanku dan aku tak pernah berharap akan di maafkan. Aku selalu menganggapmu bagian dariku Rei, kau sudah seperti adik bagiku." Rei yang mendengarnya pun semakin menangis, dan karena tangisan itulah, Ivana harus menghentikan tangisannya.
"Rei, jangan keras-keras!. Jika yang lain tahu bisa gawat," Ivana membungkam mulut Rei dengan tangannya.
Rei pun kemudian mengangguk, Ivana pun melepaskan tangannya dari mulur Rei.
"Rei, apa kau bisa menolongku jauh lebih dari ini!?"
Mendengar pertanyaan itu, Rei pun terdiam. "Menolongmu lebih jauh? Maksudnya?"
"Bantu aku kabur dari sini bersama dengan Jane, aku perlu bertemu dengan seseorang dan ini penting"
"Nona, kau ingin pergi meninggalkanku?" Ivana pun menggeleng.
"Aku tak meninggalkanmu Rei, namun aku mengajakmu"
"Jadi bagaimana? Kau setuju atau tidak?"
"Aku........"
Thor