Jangan lewatkan juga "DITAKDIRKAN MENCINTAIMU" dan "NGUMBARA CINTA"
Mengandung adegan dewasa 21+ jadi bijaklah dalam membaca.
Seorang dokter cantik bernama Ziya Almahiyra yang harus membayar hutang ayahnya dengan menjadi pembantu dirumah Aditya Dewa Bagaskoro tanpa gaji sedikitpun selama satu tahun.
Lalu bagaimana dengan cita citanya yang ingin mendirikan klinik sendiri,untuk menolong sesama, meringankan rasa sakit yang diderita pasien?
Ayahnya yang bangkrut karna hutang menggunung.Membuat sang ayah mengidap sakit jantung.Sang kakak bernama Nabila Sahara yang selalu pergi ke klub bersama teman temannya seperti tidak mau tau akan keadaan yang menimpa keluarga, adalah persoalan rumit bagaikan benang kusut yang tak mampu Ziya uraikan.
Aditya Dewa Bagaskoro menikahi Ziya. Kebahagiaan pun menghampiri keduanya. Namun apa jadinya jika ternyata ibunya tidak menyetujui pernikahan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nafi', isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kakak Winda
Ziya melangkahkan kakinya lebih cepat dari Aditya agar bisa segera duduk. Tapi dia malah merasakan tarikan tangan dari seseorang.
"Kau...
"Ya, ini aku, jauhi Aditya, atau." Telunjuknya menggantung.
"Marina, jika kau masih mengganggu Ziya, kupastikan kau akan menyesal seumur hidup." Menghempaskan tangan Marina dengan kasar. Siapa lagi kalau bukan Aditya.
Aditya sudah muak dengan kelakuan Marina yang mengklaim bahwa Aditya kekasihnya. Marina juga mengaploud di medsos foto Aditya saat masih pacaran dulu. Untungnya, para netizen banyak yang berpikir kritis, waktu itu Aditya masih senang memanjangkan rambutnya sepundak. Jadi sangat jauh berbeda dari yang sekarang.
"Aditya, aku masih mencintaimu, aku mohon, terimalah aku kembali." Memegang tangan Aditya erat.
"Minggir kau."
Menatap dengan mata elangnya, langsung saja Marina melepas pegangannya.
Dari samping ada Raisa dan Raka bergandengan mesra, menyapa Ziya dan Aditya.
"Hai tuan Aditya hai nona Ziya, apa kabar?"
"Kami baik?" Jawaban singkat dari Ziya.
"Kapan nikah, kayaknya udah cocok banget lho." Raisa nerocos lagi, sedang Marina mengepalkan tangannya.
Dasar sepupu sialan, dia malah mendukung orang lain. batin Marina.
"Nanti kalau sudah waktunya, kami pasti akan menikah, ini kado sederhana dari kami, selamat ulang tahun pernikahan, semoga langgeng ya." Ziya
"Terima kasih atas doa dan kadonyan, selamat menikmati pestanya tuan Aditya dan nona Ziya. Terima kasih, karna sudah meluangkan waktunya menghadiri pesta kecil kami, semoga menikmati acaranya." Ucap Raka berbasa basi.
"Sama sama tuan." Hanya Ziya yang menjawab.
"Kami kesana dulu ya."
"Oh silahkan tuan, nona."
"Jangan kau rusak pestaku Marina."
Raisa memperingatkan Marina agar tidak membuat ulah dengan berbisik. Marina hanya diam tak menanggapi. Aditya menarik tangan Ziya lembut, dan duduk berdampingan.
Acara annyversary berjalan dengan lancar, mulai dari acara pembukaan, pemutaran video awal mula Raisa dan Raka sejak SMA sampai masa kuliah dan kini mereka memiliki anak perempuan usia 3 tahun.
"Kak Winda, kakak tadi kemana saja."
Ziya bertanya pada Winda yang baru muncul sekitar lima menit lalu, padahal mereka tadi pergi bareng, entah kenapa Winda terlambat.
"Aku ada urusan sebentar di lantai 11"Winda menjawab santai.
Dipusat pesta sedang berlangsung acara potong kue, semua tamu diminta untuk berdiri. Nampak semuanya bahagia, Raisa dan Raka terlihat serasi, dan kebahagiaan terpancar dari wajah masing masing. Putri mereka begitu antusias menggigit kue yang mereka suapkan.
Ziya mengusap air mata yang hampir terjatuh. Mendongakkan kepalanya berulang kali. Winda yang melihatnya menyenggol lengan Ziya pelan.
"Kenapa." Ucapnya berkata tanpa suara.
"Aku terharu, mereka keluarga yang harmonis."
Winda menepuk pundak Ziya berulang kali. Winda mengerti, Ziya pasti teringat akan keluarganya yang sudah tidak utuh. Ingin sekali dia memeluk Ziya saat ini.
Aditya mengambil tangan Ziya dibawah meja dan menggenggamnya erat. Saat Ziya menoleh, semakin erat dia menggenggam dengan kedua tangannya, sambil menggelengkan kepala.
"Jangan bersedih, aku akan selalu bersamamu." Mengusap air mata dipipi Ziya.
Tidak akan ada air mata lagi Ziya, aku berjanji.
"Ah apa apaan seh, aku hanya kelilipan." Ziya canggung dan menarik tangannya.
"Iya aku tahu, sini aku tiupin matanya." Menarik tengkuk kepala Ziya, namun belum sampai pada tujuannya, Winda mencubit tangan Aditya.
"Jangan modus luh."
"Auww, sakit tangan gue."
"Biarin, Ziya luh kudu hati hati ama cowok yang suka modus macam dia."
"Hai, gue modus sama calon istri sendiri."
Aditya cemberut. Benar seh, dia tahu Ziya bohong kalau kelilipan, kesempatan itu mau digunakannya untuk mencium Ziya, tapi sepertinya harus gagal karena ulah Winda.
Sepertinya aku harus cepat cepat menghalalkan Ziya. Otak cerdasnya memprovokasi.
Acara demi acara pun berjalan dengan khidmat dan meriah. Apalagi saat pasangan Raisa dan Raka berdansa, lalu diteruskan oleh pemberian hadiah kejutan oleh kedua pasangan.
Aditya mengetuk ngetukkan jarinya diatas meja. Pikiran nya berada ditempat lain. Tak lama handphone miliknya berdering. Dia berdiri, lalu menjauh sedikit dari tempat duduknya.
"Halo, bagaimana?"
"Beres tuan."
"Oke, kalau sudah aku akan kesana."
menutup panggilan.
Aditya berbalik lagi menghampiri Ziya yang sibuk membersihkan bajunya dengan tisu.
"Kenapa dengan baju kamu."
"Ketumpahan minuman tadi." Wajahnya sendu.
"Aku ke toilet sebentar ya, bersihkan ini. Takutnya nanti nodanya sulit hilang kalau kering."
Aditya hanya mengangguk.
Ziya melangkahkan kaki lebar menuju toilet. Dia membilas bajunya dengan air bersih, lalu mengelapnya dengan tissu, dia juga memperbaiki penampilannya.
Untung hanya sedikit yang kena.
Ziya keluar dari toilet, betapa terkejutnya saat bersamaan Marina disana, sedang santai bersandar pada dinding.
"Hai babu, ini baru permulaan, karna kau tidak mendengarkan peringatanku. Apa kau lupa dengan luka itu?" Menunjuk lengan Ziya yang ada bekas goresan kuku. Spontan Ziya mengembalikan lengan bajunya yang dia bekuk tadi.
Saat di mall bersama Winda, Ziya juga tak sengaja bertemu Marina, Ziya menunggu Winda yang ke toilet, ditarik paksa oleh Marina. Dicengkeram dengan kuku begitu kuat lengannya hingga berdarah, padahal terlapisi oleh kain. Marina senang sekali melihat Ziya meringis menahan sakit. Hingga darah itu merembes mengenai baju. Inilah gunanya memiliki kuku panjang yang tajam Marina tertawa dalam hati.
Ziya bergidik ngeri membayangkannya, entah mengapa dia juga tidak sanggup membalas. Kelembutan hatinya menolak untuk bertindak kasar terhadap sesama.
"Bukankah anda dan tuan Aditya sudah tidak memiliki hubungan apa apa?"
"Hai lihatlah dirimu dan berkacalah."
Membalikkan tubuh Ziya kasar hingga terlihat wajahnya dengan jelas di cermin.
"Pantaskah pembantu seperti dirimu menjadi kekasih majikan." Marina mencengkeram kembali bekas luka Ziya.
"Sakit kak." nafas Ziya terasa sesak karena himpitan tubuh Marina.
"Aku bisa berbuat lebih dari ini. Argggh"
Marina berteriak saat rambutnya ditarik kebelakang. Ziya bernafas lega, Tuhan mengirimkan bantuan di saat yang tepat.
"Berani sekali kau menyakiti adikku." Winda menarik lebih kuat rambut Marina dan menggulungnya. Matanya memerah menahan amarah yang membuncah.
Winda menyeret rambut Marina hingga keluar dari toilet. Aditya dan orang yang melihatnya bengong melihat tindakan Winda.
"Aku akan membalas kalian nanti." Marina bengun lalu pergi dari sana.
Aditya langsung paham saat melihat kondisi Ziya yang pucat dan gemetar.
Marina, kau akan menyesal telah melakukan ini pada Ziya.
"Kau tidak apa apa?"
Menangkup kedua pipi Ziya. Ziya hanya menggelengkan kepalanya, air matanya merembes tanpa dia sadari. Aditya mengusapnya dengan jempol, lalu saat hendak memeluk lagi lagi dicegah oleh Winda.
"Kau selalu ingin memanfaatkan situasi, dasar modus." Winda melotot sambil menginjak kaki Aditya.
"Auwhhh, woiii, kau ya..." Mengibas ngibaskan kakinya yang terasa ngilu. Winda menggidikkan bahu acuh.
"Kau tidak apa apa kan Ziya?" mengelus pipi Ziya lalu menenggelamkan dalam pelukan.
"Kita pulang saja yuk, kau minta izin sama tuan rumah sana." Menarik tangan Ziya lembut, dan menyuruh Aditya dengan garang.
"Winda tega banget sehh." bergumam saat dilihatnya Winda dan Ziya berlalu menuju parkiran.
"Hai Winda jangan bawa pulang Ziya!" Mengejar saat sadar bahwa rencananya akan gagal kalau Ziya pulang.
Bagaimana ini, ahh sial
ending yang membanggongkan