Dalam setiap imaji tentang masa depan, Summer tidak menemukan gambaran selain Denver dan mata cokelat gelapnya yang hangat. Hidupnya dijejali dengan fantasi manis bahwa kehidupan tentram, jauh dari carut-marut dan kutukan, hanya bisa ia dapatkan jika Denver bersamanya.
Namun, Summer lupa satu hal: Obsesi selalu berkelindan erat dengan kemuakan. Denver akhirnya menemukan cara untuk lepas dari tali kekang Summer, mengesampingkan harga yang harus perempuan itu tanggung agar Denver bisa bernapas dengan leluasa.
Sayangnya, kalkulasi Denver agak meleset kali ini. Summer memang terperosok ke penjara lembap dan dingin, namun di tempat itu pula ia menjelma menjadi iblis yang melafalkan syair pembalasan dendam setiap malam. Dan agar bisa berdiri di podium pemenang, tersenyum congkak layaknya mimpi buruk, Summer harus bisa memenangkan hati Archilles Meridian, sang wali kota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wen Cassia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17 | TAMU TAK DIUNDANG
“Aku tidak tahu banyak soal mitologi Yunani, tapi aku pernah mendengar nama Archilles. Sepertinya dia … dewa?”
Pertanyaan penuh keraguan Summer itu membuat Archilles yang duduk di seberangnya tersenyum tipis. “Bukan Archilles, tapi Achilles. Dan dia adalah seorang prajurit—ya, setengah dewa jika dirunut dari garis ibunya yang seorang nymph. Dia dianggap sebagai salah satu ikon paling berpengaruh dalam Perang Troya, selain kuda kayunya Odysseus tentu.”
Summer ber-oh panjang. “Meskipun berbeda pada huruf ‘r’, tapi sepertinya kalian sama saja. Kau juga menjadi pahlawan di kota ini.” Summer tersenyum simpul, lantas kembali menyuapkan spaghetti.
Lewat tengah malam ini mereka masih berada di dapur, menikmati spaghetti bolognese hasil kerja sama mereka. Namun, alih-alih makan di meja pelanggan, mereka memilih meja kecil di dapur. Kali ini, Summer bergabung dengan sepiring spaghetti dan segelas air putih—sama seperti Archilles.
“Meskipun dikenal sebagai prajurit tangguh, pada akhirnya dia mati karena kelemahannya,” sambung Archilles setelah menyesap air putihnya.
“Eh, bahkan prajurit setengah dewa pun punya kelemahan?”
“Tentu saja, yang murni dewa saja memiliki kelemahan melalui sikap tidak terpujinya.” Jemari Archilles memutar halus garpu pada spaghetti, lantas kembali melemparkan tatapannya pada Summer. “Tumit. Titik lemah Achilles ada pada tumit. Bagian ini tidak kebal seperti anggota tubuhnya yang lain. Dengan bantuan Apollo, Paris kemudian memanfaatkan titik lemah ini untuk membunuhnya dengan melesatkan anak panah.”
Mata Summer sedikit melebar. “Bagaimana kau bisa tahu kisahnya dengan baik?”
“Kisah Achilles ini populer, sudah ada banyak versi dan adaptasi. Kurasa mengetahui kisahnya bukan prestasi yang luar biasa.”
Summer tersenyum lebar yang dibuat-buat. “Anda tidak berniat mengatakan jika saya adalah makhluk antah-berantah menyedihkan karena tidak tahu kisah itu, kan, Pak Wali Kota?”
Archilles tertawa kecil, masih dalam gestur yang tenang. “Tentu tidak. Anda lebih cocok mengetahui resep masakan daripada mitologi Yunani, Nona Summer. Ini spaghetti bolognese paling lezat yang pernah kumakan. Kali ini aku sungguh-sungguh.”
Summer menyibak rambutnya pelan seolah ingin menunjukkan jika Archilles memang sudah seharusnya berkata begitu. “Aku sudah bekerja sangat keras demi restoran ini. Merekrut chef-chef terbaik, para koki yang sebentar lagi akan bersinar, bahkan detail paling kecil desain dan interior ruangan aku pikirkan matang-matang. Lebih dari itu, aku mencoba meningkatkan kualitas dan kemampuan memasakku melalui pelatihan kuliner dan eksperimen mandiri.” Dalam sekejap, senyum Summer melembut. “Kurasa kau benar, tidak ada salahnya menerima pujian dengan senang hati karena aku sudah bekerja sekeras itu. Aku akan menggunakan pujian ini dengan baik, terima kasih.”
Meskipun awalnya terasa canggung dan aneh, Summer mendapati jika perubahan cara berbicara memberikan pengaruh yang terasa begitu signifikan. Berbicara santai dengan Archilles seperti ini, Summer merasa jarak yang terbentang di antara mereka menyusut banyak.
Cara pria itu yang menarik salah satu sudut bibirnya seperti sekarang, jemari yang memutar garpu, dan mata hitamnya yang tertuju pada spaghetti yang berpilin di garpu, merentangkan kesadaran Summer bahwa pria bak angan-angan itu benar-benar sudah berada tepat di depan matanya. Setelah ini, Summer tidak akan mau lagi memusingkan soal kemungkinan jika Archilles sudah memiliki wanita simpanan. Memangnya kenapa? Kalau memang benar begitu, Summer hanya perlu menyingkirkan mereka.
“Bagaimana dengan ‘Summer’? Kau lahir saat musim panas? Atau orangtuamu berharap kau seperti musim panas yang penuh keceriaan dan kebebasan?” tanya Archilles setelah menelan spaghetti.
“Oh, bagaimana kau tahu?” Mata Summer terbelalak. Ia lantas meletakkan garpunya dan menautkan jemarinya di atas meja. “Mamaku berasal dari Las Vegas dan sangat menyukai segala kebebasan di sana. Kasino, alkohol, pesta … masa mudanya banyak dihabiskan untuk hal-hal ini, bersenang-senang sepanjang waktu. Setelah menikah pun, dia masih berkeinginan untuk melahirkan di kampung halamannya, selain karena orangtuanya juga masih tinggal sana.
“Mimpinya terwujud, aku lahir di sana. ‘Summer’ dipilih sebagai namaku karena Mama berharap aku tidak terkungkung ‘kekolotan’ menurut versinya dan menikmati hidup lebih dari siapa pun layaknya dara laut arktik yang terbang bebas melintasi benua dan samudra.”
Kendati menceritakannya dengan nada yang coba ia buat bersemangat, sekelebat sorot muram tidak bisa Summer enyahkan sepenuhnya dari matanya.
Dalam dunia Summer, waktu tidak bisa menyembuhkan luka. Potret mamanya dalam sudut pikirannya dikungkung oleh bingkai kusam dan reyot, tercabik di sana-sini. Tidak ada warna yang muncul dalam wajah yang seharusnya selalu penuh senyum dan kelembutan itu, bergeming bahkan saat Summer mencoba menumpahkan sebotol cairan pewarna. Tidak ada keindahan di dalamnya, dan baru-baru ini Summer mengerti alasannya: Mamanya datang sebagai mimpi buruk, bukan sebagai figur seorang ibu penyayang seperti yang Summer ingat.
“Sangat menyegarkan.”
Fokus yang nyaris terbang, Summer tarik kembali dengan paksa demi mendengar dua kata yang diucapkan Archilles itu. Kernyitan muncul di dahinya. “Apanya?”
“Namamu dan juga makna di baliknya … sangat menyegarkan.” Archilles tersenyum kecil. “Dara laut arktik, ya? Kecil, tapi bisa menempuh jarak hingga lebih dari 40 ribu kilometer untuk bermigrasi setiap tahunnya. Kurasa kau terlihat sepertinya.”
“Eh, aku begitu? Kau tidak berniat bilang jika tampilanku terlihat seaneh burung itu, bukan? Tiap kali melihatnya, aku merasa jengkel karena bulu hitamnya yang hanya ada di area setengah kepala. Mereka seperti baru saja tercelup tinta atau terbakar di bagian itu.”
Tawa renyah Archilles mengalun di dapur, bersamaan dengan Summer yang memasang tampang masam.
...****...
Sabtu malam. Itu jadwal kunjungan tak terlisan Archilles ke Ethereal Blue. Summer tidak perlu repot menunggunya di luar dari itu karena Archilles bisa dipastikan tidak akan datang. Terhitung sejak kunjungan pertamanya, sudah empat kali sejauh ini. Mereka akan memasak di dapur sambil mengobrol. Summer mengajarinya beberapa resep dan teknik memasak sederhana.
Kalau boleh jujur, mengesampingkan tujuan utamanya mendekati pria itu, waktu yang mereka habiskan mulai dari tengah malam hingga dini hari itu terasa menyenangkan bagi Summer.
Jauh dari kesan pertama yang Summer tangkap, Archilles ternyata bukan orang yang kaku dan angkuh. Ia berpikiran sangat terbuka dan melihat segala sesuatu bukan hanya dari satu sudut pandang. Lebih dari itu, ia bisa menempatkan diri dan obrolan dengan sangat baik.
Ada kalanya Summer merasa sedang berbicara dengan orang yang memiliki kedewasaan berpikir yang mengesankan; pemilihan kata Archilles terdengar bijak, dalam, dan penuh arti. Namun, sosok penuh wibawa itu juga bisa berubah dalam sekejap ketika membicarakan hal ringan, hingga Summer merasa sedang mengobrol dengan teman seumuran.
Summer keluar dari dapur dengan wajah semringah. Malam ini adalah Sabtu malam, sudah sedikit melewati tengah malam. Sebentar lagi Archilles pasti akan datang, melakukan kunjungan kelimanya. Summer memutuskan untuk menunggunya di salah satu kursi pengunjung.
Tepat saat ia duduk, ponselnya bergetar. Nama yang tertera di layar membuat Summer spontan mendengus.
“Apa? Sudah kubilang berhenti meneleponku!” Summer langsung menyambar dengan nada jengkel tepat setelah telepon tersambung.
“Hei, bagaimana aku bisa berhenti menelepon kalau kau bertingkah mencurigakan? Setiap Sabtu kau selalu pulang terlambat!” Suara di seberang sana tidak kalah terdengar dongkol, dersik selimut menandakan orang itu baru merebahkan diri di tempat tidur. “Sebaiknya kau berhenti berbohong—oh! Jangan bilang kau … menjual satai pesugihan—”
“Tentu, dan kau yang akan menjadi tumbal pertama—kurang ajar! Tutup mulutmu!” bentak Summer. “Sudah kubilang aku perlu meditasi seminggu sekali.”
“Meditasi macam apa yang buka—”
“Ah, cerewet sekali. Kututup!”
Tanpa perlu menunggu reaksi Kian, Summer memutus sambungan telepon sepihak. Bibirnya lincah memaki-maki kakak tirinya. Kendati hanya percakapan singkat, napas Summer sudah memburu akibat kekesalan yang melambung. Ia harus menepuk-nepuk pipi untuk melemaskan otot karena perlu segera memasang tampang ceria.
Ponselnya yang kembali bergetar dengan nama Kian yang kembali muncul, membuat Summer buru-buru mematikan ponselnya. Kalau sampai Archilles melihatnya yang sedang seperti iblis ini, bisa-bisa ia kabur.
Summer terperanjat saat melihat siluet seseorang berpostur tinggi dalam keremangan di luar restoran, tengah berjalan ke pintu masuk. Buru-buru ia membenahi rambutnya sekilas, pun cepat-cepat mengubah raut wajahnya menjadi jauh lebih bersahabat.
Ketika beranjak berdiri, Summer sudah memasang senyum cerah dan lebar, bersiap menyambut.
Pintu kaca Ethereal Blue didorong perlahan, menciptakan celah yang melebar dalam tempo pelan. Senyum Summer sedikit mengendur saat ujung chunky sneakers yang terlihat, bukan oxford, pantofel, atau monkstrap seperti yang sering dipakai Archilles.
Saat akhirnya separuh tubuh orang itu terlihat, Summer baru menyadari jika ia tidak sedang memakai setelan jas seperti yang sering Archilles kenakan, melainkan celana training abu-abu gelap dan hoodie hitam.
Rambut pirang keemasan, mata biru seperti langit pada hari paling cerah, garis wajah familiar—senyum Summer sepenuhnya sirna saat melihat wajah pria itu.
Orang itu bukan Archilles.
Pria itu menatap lurus ke arah Summer, tersenyum lebar, dan mengangkat tangan. “Hai, lama tidak bertemu, Summer.”
Summer mengatupkan giginya rapat-rapat, tatapannya menajam dalam sekejap. Dalam hati dia menyebutkan sebaris nama yang terlarang untuk lidahnya.
Alkaios Leander.
...****...