NovelToon NovelToon
CELINA: OFFICE GIRL MILIK CEO

CELINA: OFFICE GIRL MILIK CEO

Status: tamat
Genre:Identitas Tersembunyi / CEO / Action / Dark Romance / Mafia / Office Romance / Tamat
Popularitas:92.8k
Nilai: 5
Nama Author: Archiemorarty

SEQUEL ISTRI MANDUL JADI IBU ANAK CEO!


Theodore Morelli, pria cerdas dan berkharisma yang melanjutkan perusahaan teknologi keluarga, hidup dengan prinsip bersih dan profesional. Sosok yang dikenal orang sebagai pria tak kenal ampun dan ditakuti karena kesempurnaannya, harus jungkir balik ketika dia berurusan dengan seorang office girl baru di perusahaannya.

Celina Lorenzo, yang menyamar sebagai Celina Dawson, office girl sederhana, masuk ke perusahaan itu sebagai mata-mata mafia keluarganya untuk menyelidiki sesuatu di perusahaan Theo.

Awalnya mereka hanya dua orang dari dunia berbeda.

Tapi semakin dalam Celina menyelidiki Morelli Corporation, semakin ia sadar:
Theo bukan musuh yang ia cari. Dan Theo yang ditakuti justru memiliki sisi paling lembut untuk Celina.

Lalu bagaimana jadinya jika Theo yang lembut itu tahu identitas asli dari Celina yang sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27. KEBENARAN YANG TERSEMBUNYI

San Francisco menyambut malam dengan dingin yang menggigit tulang. Kabut tipis turun perlahan dari perbukitan, menyelimuti gedung-gedung tinggi dengan selimut kelabu yang sunyi.

Di balik salah satu kawasan industri yang telah lama ditinggalkan, berdiri sebuah kompleks luas yang dari luar tampak seperti gudang tua tak berpenghuni. Cat dindingnya terkelupas, jendelanya buram, dan pagar besinya berkarat seolah siap runtuh kapan saja.

Namun siapa pun yang berani melangkah lebih dekat akan menyadari satu hal:

tempat itu hidup.

Sensor bergerak tersembunyi di balik beton, kamera berlapis teknologi militer tertanam di sudut-sudut yang tak kasat mata, dan sistem keamanan berlapis berdenyut seperti nadi raksasa. Di balik kedok tempat terbengkalai itu, markas besar Phantom dan Nox berdiri, dua pilar bayangan keluarga Lorenzo yang kini bersatu dalam satu pusat kendali.

Sebuah mobil hitam tanpa plat khusus berhenti perlahan di depan gerbang baja raksasa. Mesin dimatikan, dan kesunyian kembali menyelimuti area itu.

Pintu terbuka.

Lucas Lorenzo turun lebih dulu. Posturnya tegap, sorot matanya tajam, wajahnya keras oleh pengalaman yang tak pernah bisa diceritakan pada dunia luar. Mantel gelapnya berkibar tertiup angin malam San Francisco.

Di belakangnya, Zane Lorenzo ikut turun.

Berbeda dengan Lucas, Zane masih membawa aura muda, energi yang belum sepenuhnya ditempa oleh darah dan kegelapan. Namun sejak beberapa bulan terakhir, sorot matanya berubah. Dunia perlahan membuka lapisan-lapisan yang selama ini disembunyikan darinya.

Gerbang terbuka tanpa suara.

Kompleks itu menerima mereka seperti monster raksasa yang menganga, mengenali darah tuannya.

Di dalam, lorong-lorong baja membentang panjang. Cahaya lampu LED dingin memantul di lantai hitam mengilap. Beberapa anggota Phantom dan Nox berdiri berjaga, wajah-wajah tanpa emosi, tangan dekat dengan senjata, namun kepala menunduk hormat ketika Lucas melintas.

Zane menelan ludah.

Ini bukan sekadar markas.

Ini adalah kerajaan bayangan. Lebih tepatnya area militer pribadi milik Lorenzo.

Mereka memasuki lift privat. Pintu menutup. Mesin bergerak turun, lebih dalam ke perut bumi.

Lift berhenti.

Pintu terbuka ke sebuah ruangan luas, pusat komando Nox. Dindingnya dipenuhi layar holografik, peta dunia, grafik pergerakan, data yang terus berubah. Bau logam dan listrik memenuhi udara.

Lucas melangkah masuk ke ruang kerjanya, ruangan pribadi yang terpisah oleh kaca anti-peluru, dengan meja hitam besar di tengah dan jendela yang menghadap ke pusat komando.

Baru saja Lucas meletakkan mantel di sandaran kursi, pintu terbuka.

Zen Dalton masuk tanpa perlu izin. Pria yang menjadi sahabat baik Lucas sejak remaja, orang yang bertarung di sisi Lucas hingga detik ini.

Rambutnya sedikit berantakan, wajahnya serius, terlalu serius untuk sekadar laporan rutin. Di tangannya, sebuah map hitam tebal.

"Lucas?" kata Zen tanpa basa-basi.

Lucas menoleh. Satu pandang sudah cukup untuk tahu, ini bukan kabar baik.

"Apa yang kau temukan?" tanya Lucas tenang.

Zen menutup pintu, lalu melemparkan map itu ke atas meja.

"Ini bukan temuan. Ini ... peringatan," jawab Zen,

Zane yang berdiri agak jauh ikut mendekat, rasa ingin tahunya mengalahkan ketakutan.

Zen membuka map itu, menampilkan foto-foto, grafik, dan daftar panjang nama.

"Kasus orang hilang," ujar Zen. "Dalam lima tahun terakhir. Di seluruh Amerika."

Lucas duduk perlahan, matanya menyapu setiap halaman dengan seksama.

Jumlahnya ... tidak masuk akal.

Anak-anak. Remaja. Orang dewasa.

Beragam latar belakang. Beragam kota.

Namun dengan pola yang terlalu rapi untuk disebut kebetulan.

"Ini bukan sekadar human trafficking biasa," lanjut Zen. "Jumlahnya terlalu besar. Metodenya terlalu bersih. Dan yang paling mencurigakan, semua laporan dihentikan di titik tertentu. Seolah ada tangan yang menutupinya. Kau ingat kasus dan pola seperti ini? Kau pasti mengenali yang serupa dulu."

Nama itu muncul di benak Lucas bahkan sebelum Zen mengucapkannya.

"Black Mantis," gumam Lucas pelan.

Udara di ruangan itu seketika terasa lebih berat.

Nama itu, seperti mimpi buruk yang tak pernah benar-benar berakhir.

Zane mengernyit, putra Lucas itu tidak paham. "Black Mantis? Apa itu, Dad?"

Lucas terdiam.

Zen menutup map perlahan, lalu menatap Lucas seolah meminta izin. Lucas menatap balik, ada keengganan di sana. Luka lama yang dipaksa terbuka.

Namun Lucas tahu.

Zane bukan anak kecil lagi.

Dan suatu hari ... dialah yang akan memikul semua ini.

Lucas menghela napas panjang.

"Black Mantis," katanya akhirnya, suaranya rendah dan berat, "adalah kelompok ilegal yang terbentuk lebih dari dua puluh tahun lalu."

Lucas berdiri, berjalan ke arah jendela kaca, menatap pusat komando di bawah sana, orang-orang yang bekerja tanpa pernah tahu betapa gelapnya fondasi yang mereka pijak.

"Mereka bukan hanya pengedar obat terlarang. Bukan hanya pelaku human trafficking. Mereka adalah ... ilmuwan gila. Orang-orang yang percaya manusia bisa dipecah, dibentuk ulang, dijadikan senjata hidup," jelas Lucas.

Zane membeku. "Senjata hidup?" tanyanya lirih.

Lucas mengangguk. "Eksperimen manusia. Otak. Saraf. Psikologi. Tubuh."

Zen melanjutkan, suaranya lebih dingin.

"Satu tahun sebelum kelahiranmu, Phantom milik kakekmu, Nox yang saat itu masih kecil, Panther milik pamanmu, Leonard, dan beberapa agen pemerintah melakukan penyergapan besar-besaran. Dua lokasi rahasia. Di tanah Amerika," tambah Zen.

Zane menatap mereka bergantian "Aku ... aku tidak pernah mendengar soal ini. Tidak ada berita. Tidak ada artikel soal ini," katanya.

Zen tersenyum pahit. "Karena itu penyergapan rahasia tingkat tinggi. Tidak boleh dipublikasikan. Bahkan hingga hari ini."

"Kenapa?" Zane bertanya cepat. "Jika masyarakat tahu, bukankah akan lebih mudah menghentikan mereka?"

Lucas menoleh. Sorot matanya gelap.

"Karena apa yang kami lihat saat itu adalah neraka," jawab Lucas.

Ruangan itu sunyi.

"Kau tidak bisa membayangkan," lanjut Lucas pelan, "tubuh manusia yang sudah tidak sepenuhnya manusia. Anak-anak yang matanya kosong. Orang dewasa yang menjerit seperti binatang. Eksperimen gagal yang menyerang apa pun yang bergerak."

Zen mengepalkan tangan.

"Beberapa dari kami tewas. Diserang oleh hasil eksperimen tak sempurna. Sebagian lagi mundur dari kelompok setelah penyergapan itu. Trauma. Hingga hari ini beberapa masih rutin menemui psikolog karena mimpi buruk itu tidak pernah pergi," beritahu Zen.

Zane merasa dadanya sesak.

Lucas melanjutkan, suaranya nyaris bergetar meski ia berusaha menahannya. "Kedua kakekmu, Rion dan Dante ... nyaris kehilangan nyawa di penyergapan terakhir. Luka mereka bukan hanya fisik. Beberapa tahun setelah itu mereka mundur. Phantom tidak lagi berada di garis depan, hanya sekedar menjadi pengawas."

Zane terdiam.

Semua ini ... terlalu besar. Terlalu gelap.

"Lorenzo berdiri bersama Phantom dan Nox," kata Lucas, berbalik menatap putranya, "bukan untuk menguasai dunia. Tapi untuk melawan ketika hukum tidak lagi cukup. Dunia ini jauh lebih gelap dari yang kau bayangkan, Nak."

Zane menelan ludah. "Apakah ... Mom tahu soal ini?" tanyanya.

Lucas dan Zen saling pandang.

Keheningan yang menyusul terasa menyesakkan.

Lucas akhirnya berkata, "Penyergapan itu terjadi ... untuk melindungi ibumu."

Zane mengernyit. "Maksudnya?"

Lucas menatap putranya lurus-lurus.

"Ibumu adalah korban eksperimen Black Mantis yang selamat," jawab Lucas.

Dunia Zane seolah runtuh. "Apa?!" suaranya meninggi. "Dad, kau bercanda, kan?!"

Lucas menggeleng perlahan. "Tidak. Ini kebenaran."

Lucas menarik napas, lalu mulai membuka luka lama yang paling ia jaga.

"Ibumu pernah menjadi subjek eksperimen sejak kecil. Dia terlahir buta. Medis tidak bisa menyembuhkannya saat itu. Orang tuanya hampir putus asa, mencari jalan apa pun. Dan mereka dijebak."

Zen menunduk.

"Mereka menyadari ada yang salah," lanjut Lucas. "Dan membawa kabur ibumu dari tempat eksperimen itu."

Zane bertanya cepat, "Lalu Mom?"

"Eksperimen itu setengah jalan," jawab Lucas. "Ibumu tetap buta sampai dia bertemu denganku."

Zane terdiam, mengingat ibunya yang kini bisa melihat, tersenyum hangat setiap pagi.

"Namun eksperimen itu meninggalkan jejak," kata Lucas pelan. "Di otaknya. Mereka mencoba menciptakan pengendali massa. Seperti ratu lebah."

Zane membeku.

"Tapi gagal," lanjut Lucas cepat. "Tidak aktif. Tertidur."

Zane menghela napas lega.

"Jadi Mom baik-baik saja."

Lucas diam.

Keheningan itu menampar Zane lebih keras dari kata apa pun.

"Dad?" suara Zane bergetar. "Mom baik-baik saja, kan?"

Lucas menatapnya, dan berkata dengan suara yang sangat pelan, "Bukan ibumu yang terkena dampak eksperimen itu."

Zane mengerutkan dahi.

"Tapi adikmu," lanjut Lucas.

Zane seolah tidak mengerti maksud sang ayah.

Lucas berkata, "Sisa eksperimen di otak ibumu itu turun melalui gen ke adikmu. Kau pasti paham maksudku."

Zane membeku.

Butuh beberapa detik hingga kata-kata itu menemukan maknanya.

Tangan Zane terangkat menutup mulut. "Photographic memory milik Celina," gumamnya.

Lucas mengangguk.

Zen menambahkan, "Kemampuan Celina terlalu luar biasa. Melebihi siapa pun yang tercatat dengan kemampuan serupa di dunia ini. Dan ia tidak mengalami efek samping apa pun dengan daya ingat super itu."

Zane hampir berteriak. "Dia tidak akan kenapa-kenapa, kan?!"

"Uncle-mu, Roderick .... mengawasi kesehatan Celina," jawab Lucas cepat. "Sejauh ini ... Celina normal."

Lutut Zane melemas. Ia berpegangan pada meja.

Syukurlah, batin Zane.

Namun Lucas melanjutkan, "Masalahnya ... jika kelompok itu tahu. Celina akan menjadi target."

Zane langsung panik. "Aku akan bawa dia pulang!"

Zen menepuk pundaknya. "Dia justru lebih aman di Los Angeles."

Zane bertanya, "Bagaimana bisa dia aman di sana, Uncle? Dia jauh dari rumah dan tanpa pengawasan."

Lucas menjawab, "Karena Kellan, kaki tangan Zen mengatakan kalau dia melihat pergerakan tidak biasa di San Francisco dan itu bukan dari warga lokal. Ada beberapa mobil tak terdaftar dan tidak pernah terlihat di San Francisco yang akhir-akhir ini terlihat. Alasanku membiarkan Celina tetap di Los Angeles bukan sekedar takut keluarga kita panik dia terluka, tapi untuk menjauhkan Celina dari mata asing yang mencari informasi."

Zane kehilangan kata.

Hidupnya, hidup adiknya, hidup keluarganya, ternyata, selalu di tepi jurang.

Zane hanya mampu menggumamkan satu nama dengan penuh doa didalamnya bahwa sang pemilik nama akan baik-baik saja dimana pun ia berada.

"Celina ...."

1
neni espede
thoooor kereeeeen, lanjuuut
Archiemorarty: Silahkan dilanjut bacanya kak 🤭
total 1 replies
vede rumboirusi
karyanya sangat bagus
keren 👍👍
Naya En-lish
/Heart/
Alfia Amira
dari awal bingung "kacamata hitam" ini masak di dalam ruangan pakai kacamata hitam ??? ini bingkai nya warna hitam atau apa ?? 😁😁
Ir
Theo, Zane setelah keluar dari Nevada saran Oma kalian latihan lagi kemampuan kalian, dari segi senjata, bela diri sampai ke strategi, mungkin kedepan nya ga ada black mantis tapi siapa tau kelompok lain, Red velvet mungkin 😁😁
Ir: lahh pantas ko ga update², sesuai prediksi kisah nya kaya Rosetta sama Leonard belum nikah dah tamat 🤣
total 5 replies
Ir
bentar Arthur ini anaknya Dante kan, bukan anak Elias Spencer kan? ko marga nya Spencer agak ngelag dikit aku, ga tau kapan nikah nya tau² udah punya istri aja
Archiemorarty: Hahahaha....tadinya pasti nau ada hubungannya sama Black Mantis lagi ...tapi mikir dulu deh, berat kali itu bakal cerita 🙄
total 3 replies
Ir
kan kan black mantis ini bikin kerjaan aja dah, morelli harus renovasi gedung kan karna plafon nya jebol, nambah²in kerjaan aja
Archiemorarty: Aku juga mikir gitu woyyy....haeus renov 🤣
total 1 replies
Ir
NEVADA lagi muak aku sumpah, sudah ku bilang kan kemarin minjam rudal iran pada kaga percaya ikhhh
Archiemorarty: Hahahaha....sama othor pun dah muak 🤣
total 1 replies
Ir
tapi bener sih anak² pengusaha kaya Theo, Zane apa lagi ortu mereka memiliki kelompok mafia itu harus di latih sejak dini seharusnya, baik dalam bela diri atau memegang senjata, meskipun ga ada kelompok black mantis, tapi dunia bisnis itu selalu ada kecurangan, kalo hukum negara ga bisa adil maka kita bisa menggunakan hukum kita sendiri, intinya untuk melindungi keluarga dan orang² terkasih
Archiemorarty: Nah ini, alasan Phantom dibuat. karena hukum pemerintah banyak cacat, lebih lebih malah yang jadi penjahat berkedok hukum 🙄
total 3 replies
Ir
nah gini lohh maksud nya bikin cerita tuh, meski kisah black mantis udah pernah di tulis di buku sebelum nya ga ada salah nya di cerita kan ulang, selain pembaca lama ga mudah lupa juga membuat pembaca baru itu tau
" owh ini toh kisah black mantis "
kan kadang ada rider baru yg belum nemu buku lama, nemunya langsung buku sekuel buku sebelum nya, mau baca buku lama dulu nanti pasti ketinggalan cerita yg sekarang, jujur aku rider yang begitu, selesai kan cerita baru setelah tamat untuk lebih paham baru cari buku pertama nya, kadang ada penulis yang pembaca baru penasaran kan
" kalo penasaran sama cerita masa lalu baca aja yg judul nya bla bla "
haisss jujur kadang sebel aku 😁😁
Archiemorarty: harus ngulang kan jadinya bacanya lalau gitu 🙄
total 3 replies
Ir
ini Lucas masih masih trauma ga yaa kalo misal ada penyergapan lagi, apa lagi bapak Rion sama Dante udah pada Sepuh, jalan udah pake tongkat pasti, encok, rematik, asam urat, asam lambung, udah pada nemplok semua, megang senjata pun udah pasti geter²
HAHAHAHA 🤣🤣🤣
ketawa dulu sebelum di ajak perang 🥴🥴
Archiemorarty: Masih dia itu..😂
total 1 replies
tuti raniati
Luar biasa
Archiemorarty: Terima kasih udah baca ceritanya kak 🥰
total 1 replies
Jelita S
yeah udah tamat z thor,,, terimakasih thor atas ceritamu yg seru ini
Archiemorarty: Terima kasih kembali udah baca ceritanya daei awal kak 🥰
total 1 replies
Asyatun 1
keren banget thoor
Archiemorarty: Terima kasih udah baca ceritanya dari awal sampai akhir kak 🥰
total 1 replies
Reni Setia
udah tamat pas sesuai judulnya
makasih author untuk karya novelnya
mimief
yah..selesai
Thor eiden belum ketemu jodohnya
apalagi Cedric
piye toh🤣🤣

but anyway
terimakasih atas cerita indah nya 😍
mimief
ga cocok casing kyk gitu tapi kebucinan🤣🤣😜
shinta
sepertinya masih ada extra part, soalnya masih ada permintaan Up.... (ngarep)😍😍
shinta
haaaaahhhhhhh lega!!!!
shinta
ga pernah setegang ini baca sebuah novel, sumpah ga pernah walau sudah di level ini, aku beneran hanyut.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!