NovelToon NovelToon
THE CAPTAIN'S UNEXPCTED WIFE

THE CAPTAIN'S UNEXPCTED WIFE

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Pernikahan Kilat
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

"Status 'Ayah' itu sudah mati. Mulai hari ini, aku adalah suamimu."
Kehilangan ibu sekaligus kebebasan dalam satu malam membuat dunia Gladies runtuh. Dipaksa menikahi Arkan, pelindung keluarganya yang berubah menjadi sosok asing yang dominan, Gladies terjebak dalam pernikahan tanpa cinta. Ia percaya Arkan hanya menginginkan hartanya, sementara Arkan percaya hanya ketegasan yang bisa menyelamatkan Gladies. Mampukah mereka berlayar di samudra rumah tangga yang penuh amarah, ataukah mereka akan hancur sebelum mencapai dermaga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Dua jam berlalu seperti selamanya bagi Arkan. Ia tetap bergeming di kursi samping ranjang, matanya yang merah karena kurang tidur terus mengawasi setiap gerak napas Gladis.

Keheningan kabin itu hanya dipecah oleh bunyi detak jam dinding dan tetesan cairan infus.

"A-arkan..."

Arkan yang terkejut langsung mencondongkan tubuhnya ke arah Gladis, menggenggam tangannya dengan erat namun hati-hati.

"Aku di sini, Gladis. Aku di sini," bisik Arkan lega.

Gladis menatap Arkan dengan mata yang masih sayu, namun ada kilatan kekecewaan di sana.

"Kenapa kamu menyembunyikan semuanya? Kenapa kamu tidak pernah jujur soal siapa dirimu? Dan bukankah selama ini kamu ayah tiriku? Kenapa kamu bisa melakukan ini padaku?"

Arkan menghela napas panjang, sebuah beban berat seolah menekan pundaknya.

Ia tahu saat ini adalah waktunya untuk membuka semua tabir yang selama ini ia simpan rapat.

"Dengarkan aku baik-baik, Gladis. Setelah ayah kandungmu meninggal dunia sepuluh tahun lalu, aku memang menikah dengan Widya, ibumu. Tapi pernikahan itu dilakukan hanya di atas kertas."

Gladis tertegun, tangisnya tertahan di tenggorokan.

"Pernikahan itu hanyalah cara untuk melindungimu dan ibumu dari kerabat ayahmu yang rakus—termasuk Dayu. Aku butuh status legal sebagai suaminya agar aku bisa menjaga aset keluargamu dan memastikan masa depanmu terjamin. Selama sepuluh tahun, aku dan Widya tidak pernah melakukan hubungan suami istri. Kami tetaplah sahabat karib. Aku menghormati ibumu, dan dia sangat menyayangimu, Gladis."

Arkan mengusap air mata yang mulai jatuh di pipi istrinya.

"Saat di rumah sakit, ibumu tahu waktunya sudah tidak lama lagi. Dia memintaku menikahimu karena dia tahu hanya aku yang bisa berdiri di depanmu saat dunia mencoba menghancurkanmu. Dia ingin kamu aman di bawah perlindunganku yang mutlak, bukan lagi sebagai wali, tapi sebagai pendamping hidupmu."

"Jadi, Mama melakukan ini demi aku?" tanya Gladis dengan suara yang pecah.

"Semuanya demi kamu. Ibmu menyerahkanmu kepadaku karena dia tahu aku tidak akan pernah membiarkan siapapun menyakitimu, termasuk diriku sendiri jika aku bisa mencegahnya."

Mendengar pengakuan jujur itu, pertahanan Gladis benar-benar runtuh.

Segala rasa benci, prasangka buruk, dan ketakutan yang ia pendam sejak hari kematian ibunya seolah meledak menjadi rasa bersalah yang amat dalam.

Ia menyadari bahwa pria yang ia sebut kejam ini sebenarnya adalah tameng yang selama ini menahan semua badai tanpa pernah mengeluh.

Gladis menangis sesenggukan, tubuhnya yang lemas berguncang hebat di atas ranjang.

Ia menutupi wajahnya dengan tangan yang bebas dari infus.

"Maafkan aku, Arkan. Aku sudah jahat padamu," isak Gladis.

Arkan tidak menjawab dengan kata-kata. Ia langsung naik ke atas ranjang, membawa tubuh mungil Gladis ke dalam pelukannya yang hangat dan kokoh.

Ia membiarkan Gladis menangis di dadanya, membasahi kaus yang ia kenakan.

"Menangislah, Gladis. Keluarkan semuanya," bisik Arkan sambil mengecup puncak kepala Gladis dengan penuh kasih.

"Aku tidak pernah menyalahkanmu. Mulai detik ini, tidak ada lagi rahasia. Hanya ada aku dan kamu di tengah laut ini."

Gladis mengatur napasnya yang masih sedikit sesak, ia mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kabin yang kini terasa lebih hangat setelah kejujuran Arkan. Namun, ia menyadari satu sosok yang tadi menemaninya sudah tidak ada.

"Di mana Vita?" tanya Gladis pelan, matanya menatap Arkan dengan penuh selidik.

Wajah Arkan kembali mengeras sesaat, ego sang nakhoda sedikit terusik.

"Aku sudah mengusirnya. Dia tidak becus menjagamu dan malah membuatmu shock dengan informasi yang tidak seharusnya dia bicarakan sekarang."

Gladis menggelengkan kepalanya lemah. Ia meraih tangan Arkan yang besar.

"Arkan, jangan begitu. Dia tidak salah, aku yang bertanya padanya. Panggil dia kembali, dan minta maaf."

Arkan terkejut ketika mendengar perkataan dari istrinya.

Di atas kapal ini, tidak ada yang berani memerintahnya, apalagi menyuruhnya meminta maaf kepada seorang bawahan. Namun, melihat tatapan memohon dari mata Gladis yang masih sembap, pertahanannya runtuh.

Arkan mengambil HT yang terletak di nakas, menekan tombol bicara dengan gerakan kaku.

"Gerald, bawa Perawat Vita kembali ke kabinku sekarang juga."

Beberapa menit kemudian, pintu kabin diketuk dengan ragu.

Gerald masuk mengantar Vita yang wajahnya masih pucat dan gemetar karena ketakutan.

Vita berdiri menunduk, tidak berani menatap mata sang Kapten yang tadi membentaknya.

"Vita..." panggil Arkan.

Arkan melangkah mendekat, lalu dengan suara yang jauh lebih rendah dan terkontrol, ia berbicara.

"Vita, maafkan aku atas sikapku tadi. Aku terlalu khawatir dengan keadaan istriku sampai kehilangan kendali."

Mata Vita membelalak sempurna. Ia mendongak, menatap Arkan lalu beralih ke Gladis dengan ekspresi tidak percaya.

"I-istri? Jadi, Nona Gladis adalah istri Kapten?"

"Sssshhh..." Arkan meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya, memberikan isyarat rahasia yang mutlak.

"Hanya kamu yang tahu hal ini di atas kapal ini, Vita. Aku memercayaimu untuk menjaga rahasia ini demi keamanan Gladis."

Vita menelan ludah, rasa takutnya perlahan berganti dengan rasa hormat yang luar biasa.

Ia menyadari betapa besarnya kepercayaan yang baru saja diletakkan di pundaknya.

"Si-siap, Kapten. Saya berjanji tidak akan membocorkannya pada siapapun. Saya akan menjaga Nona—maksud saya, Nyonya Gladis dengan segenap kemampuan saya."

Gladis tersenyum tipis ke arah Vita. "Terima kasih, Vita. Maaf ya sudah membuatmu kena marah."

Arkan kemudian menoleh pada istrinya, lalu pada Gerald yang berdiri di pintu.

"Gerald, siapkan makanan paling bergizi dari dapur khusus. Gladis harus makan sekarang. Dan pastikan tidak ada satu pun orang asing yang mendekati area ini."

Setelah Vita dan Gerald keluar, suasana kembali sunyi.

Gladis menatap Arkan yang kini duduk kembali di sisi tempat tidur.

Ada sesuatu yang berbeda dari cara Arkan menatapnya sekarang. Dan tidak ada lagi dinding otoritas yang kaku, yang ada hanyalah seorang pria yang rela merendahkan egonya demi wanita yang dicintainya.

"Kamu baru saja memberi tahu rahasia besar pada perawat itu," bisik Gladis.

"Aku tidak peduli," sahut Arkan sambil mengelus jemari Gladis.

"Jika itu bisa membuatmu merasa lebih tenang dan aman, aku akan memberi tahu seluruh dunia. Tapi untuk saat ini, biarlah ini menjadi rahasia kita di tengah samudra."

Namun di balik kehangatan itu, Arkan tahu bahwa badai yang sebenarnya masih mengintai di luar sana.

Alex dan Dayu belum menyerah, dan Arkan harus memastikan bahwa pengakuannya tadi tidak akan menjadi celah yang bisa dimanfaatkan musuh-musuhnya.

"Apakah kamu mau ke anjungan lagi?" tanya Gladis lirih, suaranya masih terdengar agak serak.

Ia menatap Arkan yang tampak begitu lelah, dengan gurat hitam di bawah matanya yang tidak bisa disembunyikan lagi.

Arkan menggelengkan kepalanya pelan. "Gerald dan Mualim Satu bisa menanganinya sampai pagi. Tugasku yang paling penting ada di sini," jawabnya dengan nada rendah yang menggetarkan udara di sekitar mereka.

Tanpa canggung, Arkan mulai membuka kancing kemejanya satu per satu.

Gladis refleks menelan salivanya saat kain itu terlepas, menampakkan bahu lebar yang kokoh dan perut sixpack suaminya yang terbentuk sempurna.

Ada beberapa bekas luka kecil di kulit kecokelatannya, menambah kesan maskulin yang sangat dominan.

"Aku sangat lelah dan mengantuk," gumam Arkan.

Ia mematikan lampu utama hingga kamar itu hanya diterangi cahaya remang dari lampu nakas yang keemasan.

Arkan naik ke atas tempat tidur yang luas itu. Kasur empuk itu sedikit tenggelam saat menopang tubuh besarnya.

Ia mengatur posisi bantal, lalu menoleh ke arah Gladis yang masih mematung dengan jantung yang berdebar tak karuan.

"Mau aku peluk? Atau kamu yang memelukku?" tanya Arkan dengan senyum tipis yang menggoda, suaranya terdengar sangat dalam dan intim di keheningan malam.

Gladis membuka mulutnya, hendak menjawab dengan sedikit protes untuk menutupi rasa malunya. Namun, belum sempat satu kata pun keluar, Arkan sudah bergerak cepat.

Ia menarik tubuh Gladis ke dalam dekapannya, memposisikan gadis itu membelakanginya.

Deg!

Gladis terkesiap saat merasakan dada bidang Arkan yang hangat menempel sempurna di punggungnya.

Lengan Arkan yang besar dan berotot melingkar posesif di pinggang Gladis, menariknya semakin rapat hingga tidak ada lagi jarak di antara mereka.

"A-arkan..." bisik Gladis, tubuhnya menegang sesaat.

"Diamlah, Gladis. Jangan bergerak," gumam Arkan di ceruk leher Gladis.

Napas hangat pria itu menggelitik kulitnya, mengirimkan sensasi aneh yang menjalar ke seluruh tubuhnya.

"Biarkan seperti ini sebentar saja. Aku butuh jangkarku agar bisa tidur tenang."

Gladis perlahan-lahan merilekskan tubuhnya. Rasa aman yang aneh mulai menyelimutinya.

Aroma maskulin Arkan campuran antara wangi kayu cendana dan sedikit aroma laut seolah menjadi obat penenang yang paling ampuh.

Di luar sana, Ocean Empress membelah samudera dengan tenang, namun di dalam kabin itu, Gladis menyadari bahwa predator yang paling ia takuti kini justru menjadi pelindung yang paling ia inginkan.

"Selamat tidur, Kapten," bisik Gladis akhirnya, sambil membiarkan tangannya menyentuh lengan Arkan yang melingkar di perutnya.

"Selamat tidur, Istriku," sahut Arkan sebelum akhirnya mereka berdua tenggelam dalam tidur yang lelap, terjaga oleh degup jantung satu sama lain di tengah lautan yang tak berujung.

1
Ariany Sudjana
wah mantap ini Gladys 😄 cocok jadi pasangan hidup Arkan
Ita Putri
seruuuu
lanjut💪💪
Ariany Sudjana
bagus Gladys kamu harus tegas, jangan biarkan pelakor murahan seperti Angela merusak rumah tangga kamu dengan Arkan
Ariany Sudjana
sedih lihat perjuangan Gladys sampai segitunya demi menyelamatkan suami tercinta
Ariany Sudjana
ini kenap sih ada pelakor datang? Gladys yang berjuang menyelamatkan Arkan di pulau, malah dipeluk pelakor, dan orang tua Arkan juga diam, jangan-jangan Arkan sudah dijodohkan dengan perempuan ga jelas itu
Ariany Sudjana
Suka dengan karakter Gladys, tidak peduli dengan semua halangan, dia hadapi demi menyelamatkan suami tercinta, walaupun awalnya mereka berdua menikah karena terpaksa
Ariany Sudjana
Alex harus dihukum berat, jangan biarkan dia lolos
Ariany Sudjana
semoga Arkan dan Gladys lekas ditemukan dengan kondisi selamat dan sehat. semangat juang Gladys luar biasa, tidak ada sosok manja, semua dilakukan demi keselamatan suami tercinta
Ariany Sudjana
semoga Arkan bisa diselamatkan dan bisa sadar kembali dan kembali sehat, jangan tinggalkan Gladys
Ariany Sudjana
bagus Arkan, jangan biarkan Gladys hancur karena omongan julid dari orang yang ingin menghancurkan rumah tangga kalian
Ariany Sudjana
tetap waspada yah Arkan dan Gladys, jangan biarkan Alex atau siapapun menghancurkan rumah tangga kamu kalian
Ita Putri
sweet banget gk sih mereka berdua 🥰
Ariany Sudjana
puji Tuhan, Gladys sudah tahu kejadian sebenarnya, dan jangan pernah meragukan suami kamu untuk melindungi kamu Gladys
my name is pho: terima kasih kak🥰
total 1 replies
Ariany Sudjana
Gladys kamu jangan bodoh, jangan mudah emosi, Arkan itu kapten kapal, dan dia harus menjaga wibawanya di depan seluruh penumpang. dan lagi, jangan karena kamu istrinya, Arkan harus percaya begitu saja, tidak seperti itu. bukti paling kuat CCTV, dan jika bukti itu keluar, nama kamu bisa dibersihkan. ingat Gladys, Alex dan antek-anteknya ada di sekeliling kamu, segala cara akan dilakukan untuk menjatuhkan kamu dan Arkan
Ariany Sudjana
bukannya seram Gladys, tapi itu cara Arkan untuk melindungi kamu selaku istrinya
Ita Putri
alur cerita seru gk bertele tele
karakter tokohnya sama sama menonjol
ceritanya bagus banget
my name is pho: terima kasih kak🥰
total 1 replies
Ita Putri
semangatnya outhor 💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!