Sedikit tentang Arderos, geng motor dengan 172 kepala di dalamnya. Geng yang menjunjung tinggi solidaritas, pertemanan, dan persaudaraan di atas segalanya. Sama seperti slogan mereka yang berbunyi "Life in solidarity, solidarity for life." Kuat dan tangguh itulah mereka. Selain itu makna logo Arderos juga tak kalah keren dari slogannya.
• Sayap, yang memiliki simbol kebebasan, kekuatan, dan kecepatan. Bisa juga mewakili perlindungan atau penjagaan.
• Pedang, simbol kekuatan, keberanian, dan ketegasan.
Semua elemen itu saling melengkapi, dan tak akan lengkap jika salah satunya hilang. Sama halnya dengan Arderos yang tidak akan lengkap jika tak bersama.
"Solidaritas tanpa syarat, persaudaraan tanpa batas!"
"Riding bebas, tapi jangan kebablasan!"
Dengan lima pilar utama yang menjadikan pondasi itu kokoh. Guna mempertahankan rumah mereka dari segala macam badai.
Akankah lima pilar itu bisa bertahan hingga akhir tanpa luka atau kehilangan?.
~novel yang ku pindah dari wp ke sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Im Astiyy_12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Drama pagi hari
THE ETERNALLY:our home
Happy reading...
...Bagian paling menyakitkan adalah mengikhlaskan....
.......
........
.........
...⭐🎻🎻⭐...
Suasana malam yang hening, biasanya banyak di gunakan sebagian orang orang untuk memikirkan hal negatif. Hal hal yang seharusnya tak mereka pikirkan, hal yang akan membuat dada terasa semakin sesak.
Netra hitam legam miliknya menatap langit malam dengan datar, tak ada satupun bintang di langit. Hanya suara jangkrik yang menjadi lagu indahnya malam ini.
Suasana malam yang dingin di balkon markas Arderos semakin menusuk kulitnya, namun samasekali tak ada keinginan untuknya beranjak dari sana.
Astra, pemuda tampan dengan sejuta rahasia dalam hidupnya. Matanya terus menatap kertas yang berada di genggamannya, tulisan yang mampu membuatnya lupa dengan masalahnya sejenak.
Astra tersenyum membacanya tulisan itu, dia merasa ada sesuatu yang menggelitik hatinya. Rasa yang selama ini dia kubur muncul kembali. Kembali dengan rasa yang lebih besar dari sebelumnya.
"Renjana putri sandyakala, nama yang sangat indah," gumamnya dengan senyum manis yang tak pernah ia perlihatkan kepada siapapun. Namun dibalik senyuman manis itu terdapat luka yang terlihat begitu menyakitkan.
...♡♡♡...
Parkiran SMAAB di ramaikan dengan kelima inti Arderos, banyak tatapan memuja serta bisik bisik yang entah mengatakan apa.
''Kak Astra makin cakep aja.''
''Kak Bumi aura pinter nya mengular banget!.''
''Arka, kamu makin manis aja.''
''Kak jaya bener bener tobat."
''Senyuman kak Satya bikin jantung gue melorot ke lambung!."
Jaya menabok bahu Satya yang sedang sibuk menatap ponselnya, "Parah Sat, masa ada yang jantungnya melorot ke lambung gara gara lo,"
"Biasa orang cakep, diem aja berdmge. Makanya jadi cakep biar tau euforia nya kayak apa," katanya sedikit songong dengan menyugar rambutnya kebelakang.
Arka menatap Satya dengan tatapan menghujat nya, "Cih, yang cekep aja diem, lo yang nggak seberapa sombongnya nauzubillah."
"Lah gue mah ganteng, jadi jangan heran kalo fans sama pacar gue bejibun?" sergahnya dengan penuh percaya diri.
"Playboy gagal move on aja bangga!" celtuk Bumi membuat Satya tak bisa membalas ucapan temannya itu.
"Kalian tau lagu yang lagi viral itu nggak?" Jaya berkata dengan berpura pura mengingat.
"Yang mana?" balas Bumi yang kurang paham dengan maksud pertanyaan sahabatnya.
"Gini nih lagunya," Jaya berdehem untuk mengatur suaranya, "Kau di sana aku di seberangmu, cerita kita sulit di cerna, tak lagi sama, cara berdoa" Jaya menyanyikan sedikit bait lagu berjudul 'Mangu' yang dia hafal.
Satya hanya bisa menatap datar mereka yang sedang menertawai nya, "Diem bangke! Dasar temen nggak ada akhlak kalian," gerutunya, tapi mau kesal pun memang lagu itu sangat realted dengan kisah cintanya.
"Udah lah bro ayo move on," kata Astra menepuk pundak Satya, cukup miris dengan kisah cintanya sahabatnya.
Satya menatap Astra malas, "Sesama gamon, harusnya saling menguatkan." celtuk Satya, perkataannya barusan mampu membuat Astra mengatupkan bibirnya rapat, jujur dia tak memiliki jawaban sama sekali untuk melanjutkan pembicaraan ini.
"Bang Sat! Minta duit dong," seru Kirana yang baru memarkirkan motornya di parkiran bersama Calya.
Mereka berlima menatap kearah sumber suara, "Nih anak lagi, dateng dateng minta duit," Satya menatap malas adiknya.
"Hehe, uang jajan gue udah menipis bang," cengirnya menunjukkan gigi rapinya.
Meskipun agak sebal, tapi Satya tetap mengeluarkan sejumlah uang untuk adiknya, "Cukup nggak?,"
Kirana mengangguk dengan semangat, "Makasih Bang sat, cukup banget." katanya lalu pergi dari parkiran bersama Calya.
"Si Vio nggak berangkat?" tanya Arka menatap gerbang yang hampir di tutup.
"Nggak," balas Astra singkat.
Bumi mengangkat alisnya kearah Astra, seolah mengatakan 'kenapa?.'
"Ada acara keluarga,"
Tak terlalu banyak bertanya, mereka menganggukan kepalanya. "Bolos yukk," satu kalimat keramat keluar dari mulut Satya.
Mereka berempat menatap Satya dengan sudut bibir yang terangkat, seolah paham Satya juga ikut tersenyum bak evil.
Sebagian para murid mulai memenuhi lapangan SMAAB untuk melaksanakan upacara. Pak Nurdin selaku guru BK mengawasi setiap muridnya untuk memastikan pakaian mereka rapih.
Arka berjalan dengan lemas ke arah lapangan, dia berusaha menarik perhatian pak Nurdin. Tak lupa Satya dan Jaya yang berpura pura memapah Arka.
"Ka lebih lemes lagi," bisik Satya karena wajah Arka seperti orang yang tengah menahan berak.
Arka berdecak malas, "Ini acting terbaik gue jir! " desis nya.
"Diem, diem, pak Nurdin lihat kesini," potong Jaya memperingatkan mereka.
Pak Nurdin memicingkan matanya menatap ke-tiga pemuda yang di kenal sebagai brandal nya SMAAB, "Satya, Jaya, kamu kenapa Arka?" tanyanya.
"Aduhhh pak, lihat wajah temen saya udah mah jelek tambah jelek lagi." kata Satya tak masuk akal, dengan ekspresi yang di buat buat.
"Satya, saya bertanya kenapa dengan teman Kalian ini?" ulang pak Nurdin menatap malas Satya.
Jaya menatap Satya untuk tidak berbicara lagi, "E-emm, itu Pak, dia pusing karena kepanasan belum lagi dia lupa makan." jelas Jaya sembari menunjukkan wajah Arka yang terlihat pucat.
Pak Nurdin tak percaya begitu saja dengan dua orang itu, lalu menatap Arka. "Arka, kamu beneran sakit?"
Arka hampir menggelengkan kepalanya," ngga-"
"Iya pak, biasa kalo dia sakit jadi halusinasi," potong Satya dengan cepat.
"Oh, ya sudah. Bawa dia ke Uks," putusnya membiarkan Arka ke UKS.
Dengan segera Satya dan Jaya meninggalkan lapangan upacara, namun baru beberapa langkah mereka di hentikan lagi oleh pak Nurdin, "Tunggu!, dimana Astra?" ucap pak Nurdin tak melihat eksistensi satu teman mereka yang lain.
"Biar saya yang mencarinya," ujar seseorang tiba tiba.
Pak Nurdin menganggukan kepalanya, "Baiklah Bumi, bapak serahkan tugas ini ke kamu."
Mereka berempat langsung pergi dari sana, ber tos kecil sembari berjalan, "Mission completed," gumam mereka saat rencananya berhasil.
Mereka bergegas menuju ke gudang belakang karena Astra sudah menunggu Mereka di sana. "Hahaha, sumpah kalo lo liat muka si Arka, Tra. Lo pasti ngakak, udah acting nya jelek kayak nahan berak lagi," jelas Satya dengan semangat menceritakan kejadian tadi kepada Astra.
Pemuda tampan itu tak bisa untuk tidak tertawa, "Harusnya Lo tinggalin aja dia di sana,"
"Pwarah banwgttt lo trwa," kesalnya dengan mulut menggembung penuh dengan gorengan yang sebelumnya sudah mereka beli di kantin.
Jaya memberikan Arka minum, "Minum, minum. Kayak ikan buntal lo," dengan buru buru Arka menerima minuman dari Jaya.
"Parah banget lo Tra sama gue," rajuknya.
"Sory Cill, jangan ngambek." katanya mengacak rambut Arka.
Dari yang lain Arka lah yang paling bontot, dengan selisih umur yang cukup jauh, jika yang lain hampir 18 tahun, Arka masih 16 tahun hampir menginjak 17 tahun beberapa bulan lagi.
Kalo kata Satya, si Arka ini terlalu cepat masuk TK jadi tak salah meski usianya masih dibilang bocil sudah masuk SMA. Dan dia juga nggak goblok goblok amat hanya malas berfikir saja.
Bumi menyodorkan satu kotak yang berisi nasi goreng di hadapan Arka, "Nih, buat lo."
"Lah kok di kasih gue?," kata Arka menatap Bumi meminta penjelasan.
"Dah kenyang gue makan gorengan,"
"Oke, dengan senang hati gue makan ... WOY Bangsat lo mau?," tawarnya pada Satya yang sedang mojok karena di telfon pacarnya, entah pacar yang keberapa.
"Nggak, buat lo aja. Biar anak nya bunda Aisyah makin gemoy," seru Satya dari tempatnya duduk.
Semuanya fokus dengan kegiatannya masing-masing, sampai tak menyadari seseorang yang sedang berkacak pinggang menatap garang mereka berlima.
"Arka anak baik, bukanya tadi kamu sakit?" tanya orang tersebut pada Arka yang sedang melahap nasi goreng itu.
Arka menggeleng tanpa menengok kebelakang, "Nggak, tadi cuma sandiwara buat bolos."
"Siapa yang bikin ide?" tanyanya lagi.
"Ide kita semua lah, males tau liat muka pak Nurdin yang ngeselin terus galak lagi, udah gitu nggak laku." katanya lagi, masih dengan santai menikmati nasi goreng.
"KALIAN DI HUKUMM!" seruan dari seseorang yang begitu menggelegar, membuat kelima pemuda tanpa itu terjengat kaget.
"ANJ- juseyooo, ndugu?" Satya hampir mengumpat, jika
tak melihat wajah pak Nurdin yang sudah memerah karena kesal.
"KALIAN KELAPANGAN SEKARANG!." serunya lagi sembari menggiring mereka berlima kelapangan.
"Bjir, kok pak Nurdin bisa tau kita di sana?" bisik Satya pada Jaya yang berada di sampingnya.
Jaya menggeleng kesal, "Kaga tau sumpah, mungkin pak Nurdin punya Indra ke sembilan," seloroh nya.
"Indra ke sembilan plale lo, yang ada cuma sampe Indra ke enam jir!" timpal Arka.
"Nah itu maksud gue."
Sedangkan kedua kutub es itu dengan malas mengikuti pak Nurdin dari belakang. Meski ketua OSIS Bumi tak terlalu ambil pusing, palingan kena ceramah beberapa jam nanti.
Upacara telah berakhir, menyisakan kelima pemuda tampan yang merupakan inti dari Arderos. Mereka di hukum hormat ke bendera hingga jam istirahat.
"Ya tuhann, panas bangett," keluh Jaya dengan keringat yang bercucuran di wajah tampannya.
"Ini matahari kaga ada niat mau minggir dulu apa," imbuh Satya, dia merasa matahari hanya berjarak satu jengkal dari kepalanya.
Sungguh malang nasib kelima pemuda tampan itu, udah kena omel habis habisan di depan seluruh siswa saat upacara tadi. Sekarang di jemur bak ikan asin, huhhh sungguh malang nasibmu nak :'(
"Kalian bisa diem nggak si, kuping gue tambah panas dengernya jir!,"
"Ya elah Tra, lo kaga liat nih muke gue dah merah semua. Kek mana coba gue nggak ngeluh," sahut Satya, wajahnya sudah merah karena terpapar sinar matahari secara langsung.
"Tuhan juga males kali dengerin curhatan Lo yang nggak berfaedah itu," lontar Bumi yang masih berdiri tegak di tempatnya, meski dia juga kepanasan.
"Iya, dah iya pak ustadz Sagara." seloroh Satya, pandangannya beralih pada sosok yang bersembunyi di balik bayangan Astra.
"Tra lo miara tuyul ya?"
Astra menatap Satya, "Tuyul?" kayanya bingung.
Jaya menunjuk sesuatu yang dia lihat, "Noh di belakang lo."
"Ka, kata mereka berdua Lo mirip tuyul," Adu Bumi pada Arka yang sedari tadi matanya terpejam bersembunyi di balik bayangan Astra dan Bumi.
Arka langsung membulatkan matanya menatap garang mereka berdua, "Woy! Bangsat, Bajay, sini lo! Berani beraninya ngatain gue tuyul," serunya mengejar Satya dan Jaya yang sedang berusaha menghindari kejaran Arka.
"Sumpah ka, tadi yang bilang itu si Jaya," Satya berteriak sembari berlari.
Jaya menabok kepala Satya dari belakang, "Hehh! Bangsat! Jangan percaya Ka, tadi Satya yang ngatain lo. Suerr," protes Jaya.
Astra dan Bumi hanya menikmati pertunjukan itu dari pinggir lapangan, sesekali menyemangati Arka. Tentunya Pemandangan ini tak luput dari perhatian para siswa siswi yang menonton dari kaca jendela kelas mereka.
...⭐🎻TBC🎻⭐...
.......
........
.........
...Semoga selalu bahagia di manapun kalian berada. ...