Pradipta mendirikan divisi PRADA TRACE. Dia menerima klien yang ingin mencari anggota keluarga, teman, atau kerabat yang hilang. Pradipta bekerja sama dengan Gilang dalam menjalankan PRADA TRACE.
Namun setiap kasus yang mereka dapat, selalu menuntun mereka ke sebuah misteri yang harus dipecahkan.
Terkadang, orang yang mereka cari sudah menjadi arwah. Gilang pun harus menggunakan kemampuannya untuk menemukan jejak arwah dibantu oleh Prisa dan Jung Kook.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pencarian Jasad
“Jangan takut. Kita ke sini mau bantuin kalian,” ujar Gilang.
Mendengar itu, ketakutan yang mereka rasakan menghilang. Mereka pun berani mendekati Gilang.
“Apa di sini ada Alma, Anjani, dan Jelita?” tanya Gilang lagi.
Alma dan Jelita langsung mendekati Gilang. Pria itu mengembuskan napas lega saat melihat keadaan kedunya baik-baik saja.
“Syukurlah kalian baik-baik aja. Aku ke sini dikirim ibu kalian untuk mencari kalian,” ujar Gilang. “Kalian tunggu di sini. Aku mau cari Anjani dulu.”
Alma dan Jelita hanya mengangguk. Keduanya merasa lega karena orang suruhan orang tua mereka akhirnya bisa menemukan keberadaan mereka.
Gilang kemudian berpindah ke kamar lain. Di sana sudah ada Pradipta yang juga baru membebaskan para perempuan yang disekap. Sama seperti di kamar sebelumnya, cukup banyak perempuan yang disekap di sana.
“Nggak usah takut! Aku ke sini mau menyelamatkan kalian!” teriak Gilang. “Ayo keluar!” ajak Pradipta.
Semua yang berada di kamar segera keluar. Pradipta memperhatikan satu per satu para gadis itu.
“Anjani!” teriak Gilang.
Mendengar namanya dipanggil, Anjani langsung mendekat. “Kamu Anjani?” tanya Gilang memastikan.
“Iya. Apa kalian orang diminta Ibuku untuk mencariku?” tanya Anjani.
“Iya. Kamu baik-baik aja?” tanya Gilang sambil memperhatikan gadis itu dari atas sampai bawah.
Anjani hanya mengangguk. Sementara itu, Pradipta mencari keberadaan Giana, tetapi dia tidak menemukan gadis itu.
“Giana mana?” tanya Pradipta.
“Giana, apa perempuan yang baru dibawa masuk ke sini?” tanya Anjani. “Dia bilang padaku kalau ke sini untuk mencariku.”
“Iya. Dia di mana?” tanya Pradipta cepat.
“Tadi, ada laki-laki yang bawa dia keluar kamar.”
“Apa? Dia dibawa ke mana?” tanya Pradipta panik.
“Nggak tahu. Dia tadi dibawa pergi,” jawab Anjani dengan perasaan bingung.
Pradipta langsung mencari Giana ke sekeliling rumah. Pada saat yang bersamaan, pintu kamar di bagian belakang terbuka. Leya keluar sambil memapah Giana. Pradipta bergegas mendekati mereka.
“Gi, kamu baik-baik aja?” tanya Pradipta dengan wajah panik.
Giana hanya mengangguk dengan kepala tertutup. Gadis itu masih terlihat syok akibat peristiwa yang menimpanya barusan.
“Anjani bilang kamu dibawa laki-laki keluar kamar. Kamu diapain?”
Giana tidak menjawab. Gadis itu hanya meremat erat ujung kemeja Leya yang dikenakannya. Dia terlalu malu untuk menceritakan kejadian tadi.
“Laki-laki brengsek itu mau menodai Giana. Untung aku bisa menemukannya tepat waktu. Si brengsek itu sudah kuhajar sampai pingsan,” jawab Leya.
“Apa kamu terluka?” Pradipta menarik Giana mendekat. Dia memeriksa dengan saksama untuk memastikan keadaannya baik-baik saja.
Giana mengangguk pelan. Namun, gadis itu tidak bisa menahan air matanya. Dia terharu karena Pradipta sangat mencemaskannya.
Pradipta menarik Giana ke dalam pelukannya. Tangis gadis itu langsung pecah begitu Pradipta memeluknya.
“Maafkan aku, Gi. Harusnya aku nggak menjadikan kamu sebagai umpan,” ujar Pradipta. Giana menggelengkan kepala. Perihal menjadi umpan adalah idenya sendiri.
“Kita ke rumah sakit, ya,” ajak Pradipta.
“Nggak usah. Aku mau pulang aja.”
“Biar aku yang mengantar Giana. Kalian nggak apa-apa kalau aku tinggal?” tanya Leya.
“Nggak. Makasih atas bantuannya.”
Pradipta melepas pelukannya. Dia mengusap puncak kepala Giana dengan lembut. “Kamu istirahat aja. Nggak usah ke kantor dulu. Ambil waktu yang kamu butuhkan untuk istirahat. Kamu boleh kembali ke kantor kalau sudah benar-benar pulih.”
“Iya, Pak,” jawab Giana pelan.
“Aku titip Giana padamu,” ujar Pradipta sambil melihat Leya.
Leya segera membawa Giana keluar. Leya segera menaiki motornya. Pelan-pelan, Giana naik ke jok belakang. Tak lama kemudian, motor trail tersebut melaju.
Gilang mengumpulkan para gadis yang diculik di tengah ruangan. Mereka masih menunggu pihak kepolisian datang untuk menangkap komplotan penculik itu dan menyelamatkan para korban penculikan.
“Bang, kayaknya kita harus ke tempat tadi. Kita kan belum ngikat penjahat itu. takutnya mereka kabur,” usul Gilang.
Karena mengkhawatirkan keselamatan Giana, Pradipta dan Gilang langsung pergi. Mereka belum sempat mengikat orang-orang yang menyerang tadi.
Gilang mengambil terlebih dahulu lakban untuk mengikat orang-orang itu. Mereka kemudian berangkat ke lokasi tadi menggunakan mobil.
Sesampainya di sana, Opan dan empat temannya masih belum sadarkan diri. Dengan cepat, Gilang dan Pradipta langsung mengikat tangan dan kaki mereka.
Saat Gilang sedang mengikat tangan Opan, dia dikejutkan oleh kemunculan sesosok makhluk. “Eh buset! Bikin kaget aja lo!” sembur Gilang begitu melihat sesosok wanita dengan wajah berlumuran darah yang sedang duduk bersimpuh di tanah.
“Tolong aku,” ujar makhluk tersebut.
“Lo siapa? Kenapa ada di sini?” tanya Gilang.
“Ada arwah di sini?” tanya Pradipta.
“Iya, Bang. Tuh dia lagi ngesot ke dekat Abang,” jawab Gilang, ingin menggoda Pradipta. Padahal arwah tersebut masih berada di dekat Gilang.
“Anjir!” maki Pradipta. Pria itu langsung mendekati Gilang. Pria itu tidak menyadari bahwa posisinya sekarang justru berada di dekat arwah tersebut.
“Fitnah aja kamu. Aku dari tadi di sini,” sewot si arwah.
“Dih, jadi hantu baperan. Lo kenapa bisa ada di sini?” tanya Gilang lagi.
“Aku diculik. Terus pas aku coba kabur, aku dibunuh sama dia.” Arwah tersebut menunjuk Opan yang masih dalam keadaan pingsan.
“Aku disiksa di dalam hutan sana sampai meninggal. Tolong temukan mayatku. Aku mau pulang. Orang tuaku pasti mencariku,” lanjut arwah tersebut.
“Ada apa?” tanya Pradipta yang masih bingung.
“Ada perempuan yang diculik dan dibunuh pas coba kabur. Dia minta tolong supaya mayatnya ditemuin.”
“Nanti ajalah tunggu Nino sama Asep. Gelap banget di sini,” jawab Pradipta. Dia memandangi sekelilingnya yang memang cukup gelap.
“Ya udah, Abang tunggu aja di sini. Biar gue yang nyari.”
“Eh … lo jangan tinggalin gue di sini, dong! Gue takut, dudul!”
“Ya kalau gitu ikut gue aja, Bang. Gitu aja kok repot,” jawab Gilang santai.
Ingin rasanya Pradipta menimpuk Gilang dengan batu yang ada di sana. Namun, akhirnya dia tetap mengikuti Gilang yang mulai memasuki hutan.
Dengan bantuan senter dari ponsel, keduanya memasuki hutan yang begitu gelap. Sementara itu, sang arwah yang ingin jasadnya ditemukan mengikuti mereka dengan cara mengesot.
Pradipta menoleh saat telinganya menangkap suara-suara di dekatnya. “Ini suara apaan sih?” tanya Pradipta dengan suara berbisik.
“Tuh arwah ngikutin kita, Bang. Tapi dia jalannya ngesot. Tuh, dia pas di samping Abang.” Kali ini Gilang tidak berbohong. Arwah itu memang berada tepat di samping Pradipta.
“Ah elah, lo nggak usah bilang posisinya di mana. Bikin takut gue aja,” gerutu Pradipta. Gilang hanya terkekeh saja. Dia memang senang sekali menjahili Pradipta yang ketakutannya sudah stadium empat,
Keduanya semakin jauh memasuki hutan. Pradipta terus menempel kepada Gilang. Sambil menarik ujung kaus yang dikenakan Gilang, pria itu terus mengikutinya.
Karena tidak melihat jalan yang dilaluinya, Pradipta terperosok ke dalam lubang kecil di tanah. Dia kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Karena tangannya masing memegang ujung kaus Gilang, Gilang pun ikut terjatuh.
Keduanya berguling di tanah karena kontur tanah yang menurun. Gerakan Pradipta terhenti ketika pria itu membentur sesuatu. Pelan-pelan, Pradipta berusaha bangkit. Telapak tangannya menyentuh sesuatu yang empuk dan dingin.
Karena penasaran, dia mengarahkan senter ke tangannya. Sorot cahaya menerangi wajah seorang perempuan yang dipenuhi darah.
“AAAAA!!!” teriak Pradipta sambil beringsut menjauh.
***
Dipta apes bener😂
secara logika haruse duduk wong adoh seh pelakune
maaf thor jd bertanya² nih
hantu menikah aj rsa nya g kebayang hehehe
yg nikahin sapa ya ✌️✌️
maaf ya thor 🙏🙏