NovelToon NovelToon
KEPERCAYAAN YANG BERHARGA

KEPERCAYAAN YANG BERHARGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cinta Terlarang / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Obsesi / Mengubah Takdir / Trauma masa lalu / Chicklit
Popularitas:350
Nilai: 5
Nama Author: Lewier Lisye

Sebuah kisah nyata tentang kehidupan seorang gadis cantik berhati lembut yang dipenuhi dengan beragam kebohongan yang ia buat hanya karena ia takut dengan apa yang akan ia hadapi,
Hingga akhirnya berujung dengan pernikahan yang membuatnya harus mengubur dalam dalam rasa penyesalannya karena harus berusaha untuk mencintai hal yang dicintai oleh suaminya, termasuk agama dan keyakinan pria yang menjadi pemuja hatinya itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lewier Lisye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: Gelang Tasbih di Balik Kemewahan dan Malam yang Merajam

Keheningan di dalam kamar utama Kediaman Ardiansyah malam itu terasa menguliti. Cahaya rembulan menyusup malu-malu dari balik tirai tipis, membiaskan bayangan jeruji imajiner yang kini mengurung Naya. Di atas karpet bulu yang tebal dan dingin, Naya masih terkulai pasrah. Lututnya gemetar, dadanya berdenyut nyeri oleh sisa-sisa tangis yang membelenggu tenggorokannya.

Setiap sudut ruangan berpendingin udara ini seolah menjadi saksi bisu atas kebohongan besar yang akhirnya meledak. Sangkar emas ini—yang dahulu terasa sebagai tempat paling aman dari kejaran Rian dan bayang-bayang trauma masa lalunya—kini bertransformasi menjadi penjara nyata. Naya menyentuh gaun kremnya yang kotor oleh tetesan air mata. Hatinya teriris. Ia bukan hanya telah membohongi Gavin, pria yang memujanya melebihi apa pun, tetapi ia juga telah mengkhianati Dzat yang menciptakan jiwanya.

Secara perlahan, Naya menggeser tubuhnya mendekati sudut tempat tidur. Tangan kirinya meraba-raba area tersembunyi di bawah panel kayu tempat tidur king size tersebut. Di sana, di dalam sebuah celah tersembunyi yang ditutupi oleh lipatan kain pelapis mattress, terdapat sebuah kotak beludru kecil berwarna hitam.

Dengan jemari yang bergetar hebat, Naya membuka kotak itu.

Di dalamnya, terbaring sebuah gelang tasbih sederhana dari kayu kokka berwarna cokelat tua—satu-satunya benda peninggalan almarhumah ibunya yang berhasil ia selamatkan saat ia melarikan diri dari kampung halamannya bertahun-tahun lalu. Benda itu adalah simbol identitas aslinya: Naya Farasya, seorang wanita Muslimah yang kini jiwanya terbelah dan remuk redam.

Naya merengkuh tasbih itu, menempelkannya ke dada, lalu terisak dalam diam.

"Ya Allah... Ya Rabb..." bisiknya lirih, air mata hangatnya menetes membasahi butiran-butiran kayu yang dingin. "Hamba telah memilih jalan yang salah. Hamba mengejar cinta manusia hingga tega mengubur iman hamba sendiri... Hamba takut, ya Allah. Hamba sangat takut..."

Setiap butir tasbih yang ia putar dalam jemarinya terasa seperti duri yang menusuk kesadarannya. Bertahun-tahun ia berpura-pura. Ia menghadiri ibadah bersama keluarga besar Gavin, menundukkan kepala berpura-pura berdoa di depan altar gereja, dan tersenyum manis saat ibu mertuanya memuji kesucian dan ketaatannya. Setiap pujian itu adalah cambukan kasatmata yang merobek jiwanya dari dalam. Dan kini, ketika topeng itu terkelupas secara paksa, yang tersisa hanyalah puing-puing kehancuran.

Sementara itu, di lantai bawah, suasana ruang kerja Gavin diselimuti kegelapan yang pekat. Hanya ada pendar cahaya remang dari layar monitor yang menampilkan data-data finansial serta laporan kepemilikan aset.

Gavin duduk di balik meja kayunya yang megah, menatap kosong pada telapak tangan kanannya. Di sana, luka gores akibat duri mawar merah tadi siang telah mengering, meninggalkan bekas merah kehitaman yang ternoda oleh darahnya sendiri. Namun rasa perih di kulitnya sama sekali tak sebanding dengan rasa hancur yang menghantam dadanya.

Pria yang dikenal di dunia bisnis sebagai sosok yang dingin, terukur, dan tak tersentuh itu kini nampak begitu rapuh. Rambutnya berantakan, dan matanya yang memerah menyimpan badai keputusasaan.

"Palsu..." gumam Gavin dengan suara parau yang nyaris memekik. "Semuanya... palsu?"

Bayangan masa lalu mendadak membanjiri pikirannya. Hari ketika ia pertama kali bertemu Naya di sebuah pameran seni tiga tahun lalu. Naya yang tampak begitu lembut, polos, dan menyimpan duka mendalam di balik senyum tipisnya. Gavin jatuh cinta bukan hanya pada kecantikan fisiknya, tetapi pada jiwa Naya yang ia anggap begitu suci dan menenangkan. Demi Naya, Gavin membangun rumah ini. Demi Naya, Gavin bersedia menjadi benteng pelindung dari pria bajingan bernama Rian yang pernah merusak masa muda wanita itu.

Namun malam ini, seluruh fondasi hidupnya runtuh. Wanita yang ia puja, wanita yang ia sebut dalam setiap doa malamnya, ternyata menyembunyikan identitas hakikinya. Naya berpura-pura seiman darinya. Naya memalsukan seluruh dokumen hidupnya hanya demi bisa berdiri di sampingnya.

"Kenapa kamu tidak jujur dari awal, Naya...?" lirih Gavin, air mata pria itu akhirnya menetes merembesi pipinya. "Kenapa kamu harus membohongiku sejauh ini? Apakah cinta kita hanyalah sebuah panggung sandiwara untukmu?"

Rasa sakit itu beresalaju menjadi amarah yang membolak-balikkan jiwanya. Namun, di atas segala rasa sakit dan pengkhianatan itu, ada satu hal yang membuat Gavin makin membenci dirinya sendiri: ia tidak bisa berhenti mencintai Naya.

Obsesi untuk memiliki dan melindungi wanita itu sudah merasuk terlalu dalam ke dalam aliran darahnya. Kehilangan Naya adalah ketakutan terbesar yang jauh lebih mengerikan daripada fakta bahwa ia telah dibohongi. Rasa memiliki yang terdistorsi itu membakar dadanya. Jika Naya harus membencinya karena dikurung di kamar itu, Gavin rela. Asalkan Naya tetap berada di dalam jangkauannya.

Ponsel di atas meja berdering, memecah keheningan yang mencekam. Gavin mengangkatnya tanpa mengalihkan pandangan dari kegelapan luar jendela.

"Katakan," ucap Gavin dingin.

"Pak Gavin, seluruh tim legal dan detektif telah bergerak," suara asisten pribadinya, Evan, terdengar dari seberang telepon. "Kami telah menemukan beberapa titik lemah pada bisnis Rian. Ada indikasi penggelapan pajak dan pencucian uang pada perusahaan konsultannya. Dalam waktu kurang dari empat puluh delapan jam, pihak berwajib akan memanggilnya."

"Percepat," potong Gavin pendek, suaranya tajam seperti sembilu. "Saya tidak mau melihat pria itu menghirup udara bebas minggu depan. Pastikan seluruh rekeningnya dibekukan dan seluruh akses medianya ditutup rapat. Jangan biarkan dia menyentuh satu pun insan pers."

"Baik, Pak. Tapi... bagaimana dengan ancaman dokumen pemalsuan identitas Ibu Naya? Rian mengklaim memiliki salinan digitalnya."

Mata Gavin memicing pekat. Kegelapan di dalam dirinya kian memuncak. "Beli seluruh server yang menyimpan data itu jika perlu. Atau hancurkan secara fisik. Saya tidak peduli berapa biaya yang harus dikeluarkan, Evan. Tidak boleh ada satu orang pun di dunia ini yang tahu rahasia istri saya. Apakah kamu mengerti?"

"Mengerti, Pak Gavin."

Sambungan terputus. Gavin mengepalkan tangannya rapat-rapat. Ia akan meratakan dunia Rian hingga menjadi abu. Pria itu telah memeras istrinya, mengancam rumah tangganya, dan mengeksploitasi ketakutan Naya. Rian harus membayar harga yang sangat mahal atas setiap tetes air mata yang jatuh dari mata Naya.

Waktu bergerak lambat seperti siksaan yang berkepanjangan. Jarum jam menunjukkan pukul tiga pagi.

Di dalam kamar yang terkunci, Naya masih terjaga. Rasa lelah yang luar biasa menyelimuti tubuhnya, namun pikirannya terus berputar liar. Ia mendengar langkah kaki yang perlahan mendekati pintu kamar dari luar. Langkah tegap itu sangat ia kenali. Gavin.

Suara kunci otomatis berbunyi pelan. Klik.

Pintu terbuka perlahan. Bayangan tubuh Gavin yang tinggi membentang di atas karpet, tersiram cahaya remang dari koridor luar. Naya tersentak, refleks menyembunyikan gelang tasbih kayu di balik lipatan gaunnya, lalu menatap suaminya dengan mata yang sembap dan ketakutan yang membuncah.

Gavin berdiri di ambang pintu selama beberapa saat. Matanya yang pekat menatap Naya yang meringkuk di sudut ruangan. Tak ada lagi amarah meledak-ledak seperti tadi sore. Yang tersisa di wajah pria itu adalah kehampaan yang dingin, berkombinasi dengan keputusasaan yang amat dalam.

Gavin melangkah masuk, membawa nampan berisi segelas air putih dan semangkuk sup hangat yang belum tersentuh. Ia meletakkannya di atas meja samping tempat tidur, lalu berjalan mendekati Naya.

Naya menahan napasnya, menunduk tak berani menatap mata pria yang telah ia lukai itu. "G-Gavin..."

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Gavin berlutut di hadapan Naya. Pria itu mengulurkan tangannya yang terluka, meraba dagu Naya dengan sangat lembut, memandu wajah pias itu agar menatapnya. Sentuhan jemari Gavin begitu hangat, membuat dada Naya kian dihantam rasa bersalah yang luar biasa.

"Kenapa kamu belum tidur, Naya?" tanya Gavin pelan. Suaranya serak, tenang, namun mengintimidasi.

"Aku... aku tidak bisa tidur," jawab Naya terbata, air mata kembali menggenang di pelupuk matanya. "Gavin, tolong... dengarkan aku sekali lagi..."

"Sssttt..." Gavin meletakkan ibu jarinya di atas bibir Naya, menghentikan kalimat wanita itu. Pria itu menatap dalam-dalam ke dalam manik mata Naya yang berair. "Tidak ada lagi yang perlu dijelaskan, Sayang. Kamu sudah menceritakan semuanya."

"Tapi kamu membenciku, kan?" bisik Naya pilu. "Kamu mengurungku di sini karena kamu jijik padaku... karena aku telah membohongimu tentang imanku..."

Gavin terkekeh pelan—sebuah tawa tanpa nada kegembiraan yang terdengar amat memilukan. Ia mendekatkan wajahnya, menempelkan dahinya pada dahi Naya. Respirasi hangat mereka berpadu dalam jarak yang begitu dekat.

"Membencimu?" gumam Gavin dengan mata terpejam. "Aku berharap aku bisa membencimu, Naya. Aku berdoa pada Tuhanku agar Ia mencabut rasa cinta gila ini dari dadaku setelah mengetahui semua penipuanmu... Tapi tahu apa yang terjadi?"

Gavin membuka matanya. Sorot matanya memancarkan obsesi yang begitu pekat dan pekat, sebuah kegelapan yang membuat Naya merinding sekaligus tersentuh oleh besarnya cinta terdistorsi pria itu.

"Setiap kali aku menatapmu, yang terasa hanyalah rasa takut kehilanganmu yang makin membakar," lanjut Gavin, suaranya bergetar hebat. "Kamu memalsukan dokumenmu? Kamu membohongi ibuku? Kamu berpura-pura berdoa bersamaku? Dosa-dosa itu... biar aku yang menanggungnya di hadapan dunia, Naya. Tapi aku tidak akan pernah melepaskanmu."

"Gavin, ini salah!" pekik Naya lirih, air matanya menetes membasahi pipi Gavin. "Pernikahan kita dibangun di atas kebohongan! Kita berada di atas jalur yang berbeda! Aku seorang Muslimah, Gavin... Demi Allah, aku tidak bisa terus-menerus mengubur imanku dan hidup dalam kebohongan ini!"

Pernyataan Naya membuat raut wajah Gavin membeku seketika. Sorot matanya yang hangat perlahan meredup, berganti menjadi ketegangan yang dingin.

"Muslimah...?" ulang Gavin pelan. Matanya bergulir turun ke arah tangan kanan Naya yang terpaku meremas lipatan gaunnya.

Sebelum Naya sempat menarik tangannya, Gavin bergerak cepat mencengkeram pergelangan tangan Naya. Ia menariknya secara paksa, membuka jemari Naya yang terkepal. Di sana, terbaring gelang tasbih kayu kokka milik almarhumah ibu Naya.

Atmosfer di dalam kamar itu seketika menjadi membeku.

Gavin menatap butiran-butiran tasbih cokelat itu dengan raut wajah yang sukar diartikan. Duka, pengkhianatan, dan cemburu yang membara berkecamuk di dalam dadanya. Benda kecil itu adalah bukti fisik dari dunia Naya yang tak pernah bisa ia masuki—sebuah identitas rahasia yang disimpan rapat oleh istrinya dari dirinya.

"Jadi... ini benda yang kamu sembunyikan dariku selama tiga tahun ini?" bisik Gavin, suaranya terdengar sangat berbahaya.

"Gavin, jangan! Aku mohon, jangan ambil itu!" jerit Naya histeris. Ia berusaha merebut tasbih itu dari genggaman Gavin. "Itu milik almarhumah ibuku! Cuma itu peninggalannya untukku!"

Gavin tidak mendengarkan. Ia berdiri tegak, menjauhkan tasbih itu dari jangkauan Naya. Tatapannya tertuju pada tasbih kayu itu, lalu kembali menatap Naya yang kini berlutut di bawah kakinya dengan wajah memelas.

"Benda ini... yang membuat hatimu tidak pernah sepenuhnya milikku?" tanya Gavin dingin, suaranya sarat akan luka batin yang dalam. "Benda ini yang membuatmu menangis saban malam di saat aku tertidur lelap?"

"Tidak, Gavin! Tidak!" Naya menangis meraung-raung, memeluk erat kedua kaki Gavin. "Benda itu imanku... itu kenangan ibuku! Hukum aku atas kebohonganku, tapi jangan amfuri peninggalan ibuku, Gavin!"

Gavin menatap wanita di bawahnya dengan dada yang berguncang hebat. Cinta dan rasa sakit berperang dahsyat di dalam jiwanya. Ia ingin menghancurkan tasbih itu untuk membuang seluruh masa lalu Naya yang tidak melibatkannya, tetapi melihat tangisan pilu istrinya yang begitu menderita, jemari Gavin yang mengepal kuat perlahan melar.

Pria itu merendahkan tubuhnya kembali, berlutut sejajar dengan Naya. Tanpa mengembalikan tasbih itu, Gavin mencengkeram lembut kedua bahu Naya, memaksa istrinya menatapnya.

"Kamu ingin mempertahankan imanmu ini, Naya?" tanya Gavin pelan, teramat lirih.

Naya mengangguk cepat dalam tangisnya yang sesenggukan. "Aku... aku tidak bisa berpura-pura lagi, Gavin... Aku sangat mencintaimu, tapi aku juga sangat merindukan Tuhanku..."

Gavin mengusap air mata di pipi Naya dengan jemarinya yang ternoda bekas darah. Senyum pias yang sangat menyayat hati terukir di bibirnya.

"Kalau begitu... hiduplah dalam penjara ini bersama imanmu," bisik Gavin, suaranya dipenuhi keputusan yang final dan tak terbatalkan. "Aku tidak akan memaksamu ikut ibadah bersamaku lagi. Aku tidak akan membiarkan ibuku menuntutmu berpura-pura lagi. Tapi kamu... tidak akan pernah keluar dari rumah ini, Naya Farasya."

Naya menatap suaminya terpaku. "Gavin..."

"Rumah ini adalah dunia kita," lanjut Gavin dengan mata yang kembali dipenuhi kegelapan obsesi. "Di luar sana, Rian sedang mencari celah untuk menghancurkanmu. Di luar sana, media dan masyarakat akan menghujatmu sebagai penipu jika rahasia ini terbongkar. Aku mengurungmu bukan karena aku membencimu... tapi karena aku adalah satu-satunya dinding yang tersisa untuk melindungimu dari kehancuran."

Gavin meletakkan gelang tasbih kayu itu di atas pangkuan Naya, lalu berdiri tegap.

"Simpan benda itu," kata Gavin tanpa emosi. "Sembah Tuhanmu di dalam kamar ini jika itu yang kamu inginkan. Tapi ingat satu hal, Naya... Jiwa dan ragamu tetap milikku. Kamu adalah istri Gavin Ardiansyah sampai maut menjemput kita."

Gavin membalikkan badan dan melangkah keluar dari kamar. Sebelum menutup pintu, ia menoleh sejenak, menatap Naya yang terduduk lemas merengkuh tasbihnya di atas karpet.

Klik.

Pintu kembali terkunci dari luar.

Di dalam kegelapan kamar yang sepi, Naya memeluk gelang tasbih ibunya erat-erat. Tangisnya pecah memenuhi setiap sudut ruangan mewah yang kini terasa begitu asing dan dingin. Ia telah mendapatkan kebebasannya untuk beribadah secara tersembunyi, tetapi ia telah kehilangan kebebasannya sebagai manusia. Ia terkunci di dalam sangkar emas yang dibangun dari benang-benang cinta yang terdistorsi, trauma masa lalu, dan dosa yang belum sepenuhnya tertebus.

Naya membungkukkan tubuhnya, bersujud di atas lantai dingin itu. Dalam sujudnya yang teramat panjang di sepertiga malam, ia meratapi takdirnya yang kian kusam. Badai Rian mungkin sedang dihalau oleh Gavin di luar sana, namun badai di dalam rumah tangga mereka baru saja dimulai—sebuah pernikahan yang berada di antara pusaran cinta, obsesi, dan air mata yang tak pernah mengering.

#halo guys, jangan lupa like subscribe dan komen, ngasih gift juga dan bintang 5 yah, jadikan novel ini favoritmu, pantengin terus kelanjutan ceritanya yah, ada cerita aku yg lain yg ngga kalah seru juga loh, judulnya AKU TAK SALAH, dan TAKDIR YANG MEMPERMAINKAN KITA, ingat guys, subscribe, like, dan komen, share juga yah 🙏😭😘

1
Renjana
hadir kak😊
Lisye Aisyah Hematang: Makasih kak 🙏
total 1 replies
azza Binury
mudahan pembacanya rame ya kak. Kata-kata nya bagus lho ... aku masih belajar
Lisye Aisyah Hematang: Amin, makasih kak... Semangat yah kak, pasti bisa 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!