NovelToon NovelToon
Suamiku Dokter Dingin Dan Posesif

Suamiku Dokter Dingin Dan Posesif

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Intan Wiwi

Valen Adisty, seorang gadis yatim yang gigih dan penuh semangat, baru saja menyelesaikan pendidikan kedokterannya dan bersiap memulai karier sebagai dokter muda. Namun, kehidupannya berubah drastis ketika takdir membawanya masuk ke dalam pernikahan tak terduga dengan Kevin Axelle Rayyan, seorang dokter spesialis tampan, dingin, dan sangat disegani di rumah sakit tempat Valen bekerja.
Di mata orang lain, Kevin adalah sosok dokter hebat yang perfeksionis, pendiam, dan sulit didekati. Namun di balik jubah putih dan tatapan matanya yang tajam, Kevin menyimpan kehangatan—sekaligus sifat posesif yang luar biasa tajam hanya untuk Valen seorang.
Sebagai dokter baru sekaligus istri rahasia dari dokter senior papan atas, Valen harus berjuang menyeimbangkan profesionalitas kerjanya dengan dinamika rumah tangganya yang penuh intrik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Intan Wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perhatian Kevin

Bunga-bunga kamboja gugur yang berserakan di atas pasir tersapu angin pagi, bergulingan mendekati teras tempat Valen terduduk. Udara pantai yang biasanya membuat rasa kantuk betah bertahan, pagi ini mendadak terasa begitu menyegarkan di dada gadis itu. Kertas memo krem di genggamannya masih menyebarkan aroma khas kertas baru bertinta gel tebal, bercampur jejak samar wewangian kayu cedar yang kemarin malam ditinggalkan pemiliknya.

Valen menunduk, membaca ulang baris kalimat di memo itu sampai tiga kali. Tulisan tangannya tegas, dengan garis-garis huruf yang tajam tapi anehnya sangat rapi untuk ukuran seorang dokter yang biasanya dicap punya tulisan mirip cakar ayam.

— Kevin (Dokter Tengil Loe)

"Dokter tengil..." bisik Valen pelan, berusaha menahan sudut bibirnya yang terus melengkung naik. Ia memutar otak, mencari celah gengsi agar tidak kelihatan terlalu senang, tapi nihil. Hatinya sudah telanjur berkhianat. "Bisa-bisanya dia nulis begini. Berasa paling paham gue aja."

Ia melipat kertas itu rapi-rapi, mengembalikannya ke dalam amplop putih, lalu menyelipkannya ke bawah bantal sofa tempat paling aman dari jangkauan mata-mata tajam Bunda dan Nenek. Tepat saat itu, langkah kaki Bunda terdengar mendekat dari arah koridor dalam, membawa aroma gurih nasi uduk dan bawang goreng yang menyeruak ke udara.

"Lho, Len, itu apa di meja?" Bunda meletakkan nampan berisi tiga piring nasi uduk lengkap dengan telur balado di atas meja teras. Matanya yang jeli langsung menangkap keberadaan sepasang tongkat ketiak kayu yang masih mengilap terkena sinar matahari pagi. "Punya siapa itu?"

"Dari... dari klinik, Bun," jawab Valen cepat, sedikit salah tingkah seraya membetulkan letak selimutnya. "Tadi ada staf resort yang anterin. Katanya suruh dipakai kalau mau ke mana-mana, biar kaki Valen enggak menumpu beban."

Bunda memegang tongkat kayu itu, mengelusnya sebentar, lalu menyunggingkan senyum penuh arti yang membuat Valen mendadak gelisah. "Dikirim sama Dokter Kevin, kan?"

"Stafnya yang nganter, Bun..."

"Tapi yang menyuruh pasti Dokter Kevin," potong Bunda mantap, menepuk pelan bahu Valen. "Bunda bilang juga apa. Perhatian banget kan dia? Mana ada fasilitas resort biasa yang sampai memikirkan tongkat kayu begini kalau dokternya sendiri enggak pesan secara khusus? Kamu itu beruntung, Len. Coba kalau dapat dokter yang cuek, paling cuma dikasih obat minum lalu disuruh tidur seminggu."

Nenek menyusul keluar membawa tiga gelas teh hangat, matanya menyipit gembira melihat sepasang tongkat tersebut. "Wah, pantesan tadi Nenek lihat ada petugas klinik jalan ke sini. Perhatiannya ndak tanggung-tanggung, ya. Ganteng, sopan, teliti pula. Kalau Nenek masih umur belasan tahun, sudah Nenek taksir itu dokter."

"Nenek!" Valen berseru gusar, wajahnya merona merah. "Nenek apaan sih! Dia itu cuma menjalankan tugas, tau! Kan kemarin dia sendiri yang bilang, 'sesuai standar pelayanan'. Oh ya Bun kemana adik? Kok dari kemarin nggak keliatan"

"Pelayanan standar klinik resort ndak sampai segitunya, Cucu Nenek yang cantik," goda Nenek renyah sembari duduk di kursi kayu. "Muka kamu itu lho, sudah merah kayak udang rebus. Jangan dibohongi hati sendiri. Nenek ini sudah makan asam garam kehidupan, tau mana orang yang cuma 'kerja' mana orang yang 'ada rasa'. Tenang saja adikmu sedang menginap dirumah pamanmu"

Valen menepuk jidatnya sendiri, memilih menarik piring nasi uduknya dan mulai makan tanpa bersuara lagi. Percuma membantah dua wanita dari dua generasi berbeda ini; gabungan intuisi Bunda dan pengalaman Nenek adalah benteng pertahanan yang tak mungkin ditembus oleh alibi dangkal seorang Valen.

Siang harinya, cuaca pantai berubah agak menyengat. Gelombang laut memantulkan silau matahari tropis, membakar garis pantai menjadi warna putih keemasan yang menyilaukan mata. Valen mulai merasa bosan setengah mati. Rebahan selama pertiga belas jam berturut-turut di sofa teras membuat punggungnya pegal dan otot kakinya kaku.

Sesuai instruksi di memo, Valen meraih sepasang tongkat kayu buatan Kevin. Dengan hati-hati, ia berdiri menyangga bobot tubuhnya. Kayu pemegangnya dipasangi bantalan busa empuk yang dilapisi kain kain sintetis lembut detail kecil yang lagi-lagi membuktikan betapa cermatnya dokter tengil itu memikirkan kenyamanan pasiennya.

Ia mencoba berjalan beberapa langkah di teras. Meski agak canggung di awal, tongkat itu sangat membantu menopang kaki kirinya yang terbungkus kain kassa tebal.

"Oke, enggak buruk juga," gumam Valen, tersenyum tipis seraya melangkah perlahan menuju pembatas teras kayu untuk menikmati angin laut.

Namun, rasa penasaran dasar wanita menyuruhnya melakukan hal lain. Ia berjalan menyusuri selasar samping cottage yang dinaungi pohon-pohon kamboja rindang, mengintip ke arah area lalu lalang resort. Dari kejauhan, bangunan klinik utama resort beratap alang-alang terlihat cukup jelas.

Beberapa kali Valen melihat lalu lalang staf berseragam putih-biru. Pikiran Valen melayang pada kalimat staf tadi pagi: ada wisatawan yang tersengat ubur-ubur sejak subuh.

"Tersengat ubur-ubur aja sampai sibuk dari subuh?" gumam Valen cemberut, menyandarkan tubuhnya pada tongkat. "Lebay banget. Padahal kan tinggal dikasih cuka atau alkohol... Eh, ngapain juga gue mikirin dia sibuk apa enggak?!"

Valen cepat-cepat menggelengkan kepala, menyumpahi pikirannya sendiri yang mendadak hilang kendali. Tapi bagaimanapun ia berusaha mengelak, memori tentang aroma maskulin lembut berpadu antiseptik itu terus membayangi. Senyum miring yang menyebalkan, tatapan mata yang tajam di balik rahang tegas, hingga cara jemari dingin itu menyentuh pergelangan kakinya kemarin sore... semuanya mendadak berputar dalam lingkaran ingatan yang menolak padam.

"Gila. Gue fix gila," gumamnya frustrasi seraya berbalik arah kembali ke sofa.

Matahari mulai condong ke barat, melukis awan-awan sore dengan sapuan warna jingga kekuningan dan ungu pastel. Angin laut kembali berembus pelan membawa hawa sejuk yang menentramkan. Jam di pergelangan tangan Valen menunjukkan pukul lima sore lewat sepuluh menit.

Setiap kali mendengar suara langkah kaki dari arah jalan setapak pasir, dada Valen berdesir hebat. Namun tiga kali ia mendongak, yang lewat hanya pasangan turis asing yang sedang berjalan santai menyusuri pantai.

"Dia bilang nanti sore mau datang..." bisik Valen pada diri sendiri. Tatapannya menatap lurus ke belokan jalan setapak yang ditutupi rindangnya dedaunan kelapa. "Katanya mau cek perban. Bohong banget kalau cuma gertak doang."

Rasa gelisah perlahan menjalar. "Apakah penanganan darurat di klinik begitu parahnya sampai Kevin tidak bisa keluar? Atau jangan-jangan pesan di memo tadi pagi cuma sekadar gurauan tanpa niat sungguhan?" lirih Valen gelisah.

Pukul setengah enam. Sinar matahari makin meredup, menyisakan keremangan senja yang eksotis di atas samudra.

Valen menghela napas panjang, memeluk lutut kanannya yang sehat dengan perasaan campur aduk. Ada rasa kecewa yang menusuk halus di relung dadanya, sesuatu yang tidak ingin ia akui tetapi teramat nyata terasa. Ia meraih bungkus bekas permen cokelat yang masih disimpannya di dalam saku celana, meremasnya pelan.

"Dasar penipu," cibir Valen pelan pada angin sore. "Sok-sokan ngancem mau sita ingatan. Dirinya sendiri aja lupa sama janji."

Tepat saat kalimat itu selesai diucapkan, suara derap langkah kaki berirama cepat dan konstan terdengar mendekati teras dari arah jalur pintas samping cottage jalur yang menembus kebun kamboja, bukan jalan setapak utama.

Valen dengan cepat memalingkan wajah, berpura-pura sangat sibuk menatap ombak di kejauhan dengan raut seraut datar.

"Sorry telat," sebuah suara berat yang familiar terdengar agak terengah-engah dari arah tangga teras.

Valen menahan napasnya, jantungnya mendadak berdegup kencang bak ditabuh genderang perang, namun ia memaksakan diri menoleh dengan tatapan paling dingin yang bisa ia produksi.

Kevin berdiri di sana. Kemeja flanel longgarnya kali ini dilepas, menyisakan kaos polos hitam yang agak basah oleh keringat di bagian dada dan leher. Rambut hitamnya yang biasa tersisir rapi kini sedikit berantakan, beberapa helai jatuh menutupi dahinya. Ia memegang tas medis di tangan kanan, sementara di tangan kirinya... ada sebuah kantong kertas kecil berlogo toko roti lokal ternama di area resort.

"Gue pikir pahlawan kesiangan udah berubah jadi pahlawan keluyuran," celetuk Valen pedas, meski matanya tak bisa menyembunyikan kelegaan yang tiba-tiba membuncah di dadanya.

Kevin terkekeh pelan, tawa renyah yang seketika mencairkan ketegangan udara sore itu. Ia mengusap keringat di pelipisnya dengan punggung tangan, lalu melangkah naik ke teras dan langsung mendudukkan dirinya di kursi kayu tepat di samping sofa Valen.

"Pasien ubur-uburnya reaksi alergi parah, kena anaphylactic shock. Gue baru bisa lepas penanganan jam lima tadi," jelas Kevin tanpa diminta, suaranya terdengar agak serak tapi tetap tenang. Ia menatap Valen tajam, menyipitkan mata. "Loe nungguin gue, ya?"

"Dih! Pede banget!" sembur Valen cepat, pipinya mulai memanas lagi. "Gue cuma lagi menikmati pemandangan sore! Lagian siapa juga yang nungguin dokter tengil?"

"Masa?" Kevin menaikkan sebelah alisnya, mengukir senyum miringnya yang khas. Ia meletakkan kantong kertas di meja. "Terus kenapa dari tadi mata loe bolak-balik ngeliatin belokan jalan setapak? Bunda loe yang cerita ke gue waktu gue lewat depan klinik tadi, katanya dari siang anak gadisnya celingukan terus di teras."

Valen melotot sempurna. "Bunda benar-benar pengkhianat..." batinnya menjerit murka.

"Bunda loe cuma jujur, Cewek garang," kekeh Kevin seraya membuka tas medisnya. Ia mengeluarkan sarung tangan steril dan larutan antiseptik baru. "Mana tongkatnya? Dipakai enggak?"

"Dipakai lah! Kan tertulis di instruksi dinas dokter yang terhormat," sahut Valen ketus, tapi ada nada bercanda di balik suaranya.

"Bagus. Berarti loe masih bisa mendengarkan instruksi dengan benar," ujar Kevin. Tanpa aba-aba, ia memajukan posisinya, berlutut dengan satu kaki di lantai teras kayu tepat di hadapan sofa Valen, menyegarkan kembali posisi sejajar untuk memeriksa kaki kiri gadis itu.

Jarak mereka kini begitu dekat. Valen bisa menghirup aroma tubuh Kevin yang hangat perpaduan antara aroma sabun maskulin, kesegaran angin sore, dan jejak tipis antiseptik.

Jari-jemari Kevin yang panjang dengan sigap mulai melepas lilitan perban lama Valen. Gerakannya sangat terampil, penuh kehati-hatian seolah pergelangan kaki Valen adalah porselen mahal yang mudah retak.

"Sakit enggak kalau gue tekan di sini?" tanya Kevin pelan, menekan lembut area di sekitar bekas jahitan.

"Enggak... cuma agak kaku dikit," bisik Valen, matanya tak bisa lepas dari wajah Kevin yang berada hanya selengan darinya.

Dari jarak sedekat ini, Valen bisa melihat detail profil wajah dokter muda itu: garis alisnya yang tebal beratur, bulu matanya yang ternyata cukup lentik untuk ukuran laki-laki, serta rahang tegas yang dilapisi bayangan tipis stubble halus yang makin menambah kesan maskulin. Ketika fokus bekerja seperti ini, raut muka Kevin tampak sangat matang, berwibawa, dan memancarkan aura perlindungan yang luar biasa kuat.

"Bagus. Jahitannya rapat, enggak ada infeksi," gumam Kevin lega. Ia mendongak secara mendadak, membuat pandangan mata mereka beradu tepat di titik tengah.

Valen terlambat untuk memalingkan wajah. Ia tertangkap basah sedang memandangi wajah Kevin tanpa berkedip.

Kevin tidak langsung melepaskan pandangannya. Senyum miring menyebalkannya perlahan memudar, berganti menjadi sebuah tatapan dalam yang membuat napas Valen mendadak tertahan di tenggorokan. Udara sore di sekitar mereka seolah berhenti berembus, menyisakan hanya deru ombak jauh di belakang sana dan detak jantung Valen yang bergemuruh kencang.

"Loe tahu enggak, Valen?" bisik Kevin pelan, suaranya dalam dan pelan, menggetarkan saraf pendengaran Valen.

"A-apa?" gagap Valen, kehilangan koordinasi kata-katanya.

"Loe kalau lagi diam dan enggak galak gini... manis juga," ujar Kevin santai, lalu mengedipkan sebelah matanya seraya kembali mengoleskan salep antibiotik ke luka Valen.

Pipi Valen meledak seketika dalam rona merah padam. "Kevin! Loe bener-bener...!" Valen mengepalkan tangannya di atas pangkuan, bingung antara mau memukul bahu dokter ini atau menutup wajahnya sendiri karena malu setengah mati.

Kevin cuma terkekeh puas, menikmati reaksi berlebihan dari pasiennya. Dengan gerakan lihai, ia merapikan balutan perban baru yang bersih dan rapi di kaki Valen, lalu melepas sarung tangannya.

"Obatnya habis kapan?" tanya Kevin seraya berdiri kembali tegak.

"Masih ada buat dua hari lagi," jawab Valen dengan suara kecil, memalingkan wajahnya ke arah laut untuk menyembunyikan pipinya yang masih membara.

Kevin mengambil kantong kertas dari meja dan meletakkannya di atas pangkuan Valen. "Ini croisant cokelat hangat dari bakery depan resort. Makan buat ganti bubur yang tadi siang."

Valen menatap kantong kertas itu, lalu mendongak menatap Kevin dengan alis bertaut. "Ngapain beliin gue ini lagi? Kan gue enggak minta."

" Reward lanjutan," jawab Kevin santai, menyampirkan tas medisnya ke bahu. "Karena hari ini loe penurut, pakai tongkat kayu dan enggak nekat jalan di atas pasir."

Valen menggigit bibir bawahnya, menatap roti hangat di pangkuannya lalu beralih menatap Kevin yang kini sedang melipat lengan kemejanya yang kembali ia pakai. Ada perasaan hangat yang luar biasa menjalar di dadanya, perasaan yang kini tak bisa lagi ia pungkiri keikutsertaannya dalam mengubah cara pandangnya terhadap pria di depannya ini.

"Kevin..." panggil Valen pelan, menahan dokter itu sebelum berbalik pergi.

Kevin menoleh, menaikkan alisnya. "Ya?"

Valen menelan ludah, menahan gengsinya erat-erat sebelum akhirnya mengucapkannya dengan jujur. "Makasih... buat tongkatnya. Dan... makasih udah datang."

Kevin terdiam sejenak. Raut terkejut melintas kilat di matanya, sebelum akhirnya luntur menjadi sebuah senyuman hangat, senyum tulus tanpa nada mengejek atau tengil yang baru pertama kali ini ia perlihatkan secara penuh pada Valen.

"Sama-sama, Cewek garang," sahut Kevin lembut. Ia melangkah satu tapak mendekat, mengacak pelan rambut bagian atas Valen dengan gerakan yang begitu alami hingga membuat dada Valen makin ser-seran. "Besok sore gue datang lagi. Dan ingat... jangan coba-coba keluyuran tanpa tongkat."

Sebelum Valen sempat membalas atau memprotes aksi usap kepala tadi, Kevin sudah berbalik melangkah turun dari tangga teras. Pria jangkung itu berjalan santai menembus remang senja yang mulai pekat, menyisakan Valen yang terpaku di sofanya, memegang kepalanya yang baru saja disentuh dengan jantung yang berdegup gila-gilaan.

"Gila," gumam Valen pelan, memeluk kantong kertas roti hangat itu erat-erat di dadanya seraya menatap punggung Kevin yang perlahan menghilang di balik pepohonan kamboja. "Bener-bener pahlawan kesiangan yang bikin gila."

1
Intan Wiwi
sangat cocok untuk pembaca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!