Selama 5 tahun Maya mengorbankan seluruh hidup dan cita-citanya demi merawat bagas, Suaminya yang koma dan lumpuh akibat akibat kecelakaan.
Maya harus bekerja keras banting tulang untuk biaya ruah sakit dan selalu setia menemani sang suami dengan air mata dan doa.
Akhirnya membuahkan hasil, Bagas perlahan-lahan sembuh.
Tapi apa yang Maya dapat, Setelah sembuh, Bagas mendapatan pekerjaan bagus dan ia malah menjalin hubungan dengan teman kantornya yang bernama Rania, Karena ia malu memiliki istri seperti Maya yang terlibat kusam akibat penderitaan selama bertahun-tahun.
Perceraian itu akhirnya terungkap saat Maya menemukan surat cerai di saat hari pernikahan mereka yang ke-7 tahun.
Maya pun harus bangkit dari kehidupan, pengorbanannya selama ini ternyata sia-sia, iya akan menunjukkan ketulusannya akan menjadi penyesalan terbesar Bagas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SulSya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 13
Sinar matahari sore menerobos gorden koridor ruang rehabilitasi, membias warna keemasan di atas lantai semen yang licin. Hari itu, suasana di lorong terasa berbeda.
Mas Rian, sang fisioterapis, berdiri di ujung lintasan dengan sebuah tongkat ketiak di tangannya, sementara Maya berdiri tiga langkah tepat di depan Bagas.
Bagas mengepalkan tangannya rapat-rapat. Napasnya memburu, membasahi bibirnya yang kering.
Kedua kakinya—yang selama bertahun-tahun tak mampu menopang bobot tubuhnya—kini gemetar hebat di balik celana kain yang agak melonggar.
"Ayo, Pak Bagas," panggil Mas Rian lembut, memberikan komando. "Fokus pada titik di depan Bapak. Jangan lihat ke bawah. Ingat ritme latihan kita kemarin."
Bagas menatap Maya. Matanya memancarkan keraguan yang amat dalam. "May... aku takut roboh. Kaki aku masih kerasa berat banget kaya diikat rantai besi."
Maya melangkah satu tapak lebih dekat. Ia mengulurkan kedua tangannya ke depan, bersiap menyambut suaminya kapan saja. Senyum manisnya yang hangat terukir jujur di wajah tirusnya.
"Mas Bagas lihat aku," bisik Maya penuh keyakinan. "Jangan takut roboh. Kalau Mas jatuh, Maya udah siap tangkap Mas dari depan. Satu langkah aja dulu, Mas. Buat Maya."
Bagas menelan ludah. Ia memejamkan mata sejenak, mengumpulkan seluruh sisa keberanian di dalam jiwanya.
Perlahan, ia menyalurkan sinyal dari otaknya menuju paha kanannya. Otot-otot di kakinya berkontraksi, lalu... srett.
Kaki kanan Bagas terangkat beberapa sentimeter dari lantai dan memijak ke depan.
"Bagus sekali, Pak! Tarik napas!" seru Mas Rian.
"May... aku... aku bisa gerakin kaki aku!" seru Bagas gembira, matanya membelalak tak percaya.
"Iya, Mas! Kamu bisa!" jerit Maya, air mata haru seketika menumpuk di sudut matanya. "Satu langkah lagi, Mas! Kaki kiri!"
Bagas menggertakkan giginya. Rasa nyeri yang menusuk tajam di persendian pinggulnya menyengat tanpa ampun,
namun dorongan dari tatapan mata Maya membakar semangatnya.
Ia menyeret kaki kirinya, menapakkannya dengan penuh perjuangan di samping kaki kanannya.
Tap.
Satu langkah utuh berhasil tercipta.
Bagas terpana. Ia menatap kakinya sendiri, lalu menatap Maya yang kini menahan tangis bahagia.
Tanpa membuang waktu, Bagas memaksakan langkah kedua, lalu langkah ketiga. Meski jalannya masih terhuyung-huyung dan tidak stabil, tubuhnya tidak lagi roboh.
Pada langkah kelima, tubuh Bagas hilang keseimbangan dan condong ke depan. Sebelum Mas Rian sempat maju, Maya sudah lebih dulu melangkah cepat dan menangkap tubuh Bagas.
Pria itu jatuh tepat di pelukan Maya, melingkarkan kedua tangannya di leher sang istri dengan erat.
"Aku bisa jalan, May... Aku bisa jalan lagi!" jerit Bagas histeris di pundak Maya. Tangis bahagianya pecah memenuhi lorong rumah sakit yang sepi. "Aku nggak lumpuh lagi, May! Aku bisa berdiri!"
Maya memeluk punggung Bagas rapat-rapat, mengusap bahu suaminya yang berguncang hebat. "Iya, Mas... Kamu bisa! Keajaiban itu datang, Mas! Perjuangan kita nggak sia-sia!"
Mas Rian bertepuk tangan pelan di belakang mereka, tersenyum haru menyaksikan momen berharga itu. "Luar biasa, Pak Bagas. Ini kemajuan yang sangat pesat. Mulai minggu depan, kita bisa fokus latihan jalan mandiri tanpa bantuan penuh."
Malam harinya, di taman kecil belakang rumah sakit yang sepi, Bagas duduk di kursi roda sembari menikmati hembusan angin malam yang sejuk.
Maya duduk di sampingnya, menyandarkan kepalanya di bahu Bagas yang kini terasa hangat.
Bagas meraih jemari tangan kanan Maya, menggenggamnya rapat-rapat. Ditatapnya telapak tangan istrinya yang kasar, melingkar luka bekas goresan detergen dan kapalan yang tak kunjung hilang. Air mata Bagas kembali menetes tanpa bisa ditahan.
"May..." panggil Bagas serak.
Maya mendongak, menatap wajah suaminya. "Iya, Mas? Ada yang sakit?"
"Nggak ada yang sakit," jawab Bagas menggeleng pelan. Ia mengangkat tangan Maya, lalu mencium punggung tangan itu berulang kali dengan penuh penghayatan.
"Aku cuma... baru benar-benar sadar betapa besarnya pengorbanan kamu buat aku."
"Mas..."
"Tiga tahun, May," potong Bagas cepat, suaranya bergetar menahan kepedihan di dada. "Tiga tahun kamu menderita sendirian.
Kamu lepas beasiswa kamu, kamu kerja di tiga tempat sehari, kamu dihina tetangga, bahkan kamu kehilangan Ibu kamu... Semua gara-gara ngurusin aku yang cuma bisa terlentang kaya bangkai."
"Jangan bicara begitu, Mas," bisik Maya lembut, mengusap air mata di pipi Bagas. "Maya ikhlas. Maya lakukan semuanya karena Maya sayang sama Mas Bagas."
Bagas membawa tubuh Maya ke dalam pelukannya. Didekapnya wanita itu erat-erat, seolah takut kehilangan dirinya.
"Dengar janji aku malam ini, May," tutur Bagas tepat di telinga Maya dengan nada tegas dan penuh kepastian.
"Begitu aku pulih total dan bisa kerja lagi, aku bakal ganti semua air mata yang pernah kamu keluarkan. Aku bakal cari uang yang banyak, aku beli rumah yang indah buat kamu, dan aku janji nggak bakal biarkan kamu menyentuh pekerjaan kasar lagi seumur hidupmu."
Maya tersenyum haru, membalas dekapan suaminya dengan penuh kehangatan. "Maya nggak butuh harta mewah, Mas. Maya cuma butuh Mas Bagas tetap ada di samping Maya, setia sama Maya."
Bagas melepaskan pelukannya sejenak, menatap langsung ke dalam manik mata Maya dengan binar kesungguhan yang amat terang.
"Aku janji, May. Di atas langit malam ini, aku bersumpah... cuma kamu satu-satunya wanita di hidup aku.
Kalau sampai suatu hari nanti aku menyakiti atau mengkhianati kamu setelah semua yang kamu korbankan... aku bukan manusia, May. Aku bakal membahagiakan kamu selamanya."
Maya menyandarkan dadanya di bahu Bagas dengan perasaan membuncah penuh rasa syukur, tanpa pernah menyangka bahwa janji terindah yang diucapkan Bagas malam itu kelak akan berubah menjadi belati paling beracun yang mengoyak hatinya.