NovelToon NovelToon
Sistem Kasino Realitas

Sistem Kasino Realitas

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: ViNZ idk

Jarinya dipotong. Adiknya mati. Tabungannya dirampas.

Dibuang seperti bangkai oleh bos kasino tempatnya mengabdi selama lima tahun, mantan bandar bernama Sora membangkitkan satu-satunya senjata yang tersisa yakni sistem yang memanipulasi probabilitas kenyataan.

Pisau yang harusnya menancap di dada? 0,01% peluang kena. Brankas yang harusnya terkunci rapat? 99,99% terbuka. Sekarang, meja taruhan sudah terbalik. Dan rumah kasino yang selalu menang akan ia beli sendiri.


Peringatan Konten: Cerita ini mengandung kekerasan fisik ekstrem, adegan penyiksaan berdarah, tema kriminalitas (judi, pemerasan, pencucian uang), trauma psikologis gelap, serta bahasa kasar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Erangan sakit hampir saja meluncur dari tenggorokan Sora, mengancam merobek keheningan ruangan.

Dalam tekanan yang mencekik, Sora membuka mulutnya dan menggigit bibir bawahnya sendiri sekuat tenaga.

Cras.

Giginya menembus kulit bibir, merobek daging hingga cairan asin hangat darah segar mengalir deras memenuhi rongga mulutnya. Rasa pedih gigitan itu ia gunakan sebagai penahan kesadaran untuk menenggelamkan rasa sakit kejang di tangannya. Peluh dingin merembes membasahi punggungnya, menempelkan pakaian basah ke kulitnya yang menggigil.

Di luar tumpukan kain, sepatu bot Rusli berhenti.

Lingkaran cahaya senter putih tepat menyinari lipatan taplak meja yang menutupi bahu Sora. Rusli terdiam mematung selama beberapa detik, hidungnya kembang kempis membaui udara berdebu lantai dua.

Telinga algojo itu terbiasa menangkap desah napas mangsanya.

Di bawah kain, dada Sora membeku. Ia mengunci napasnya rapat-rapat, membiarkan darah dari bibirnya menetes lambat ke kain beludru di bawah dagu. Tangan kirinya yang lumpuh terus bergetar di luar kendali, mengirimkan gelombang ngilu saraf yang membuat pandangan matanya berkunang-kunang keabuan.

Tik.

Tetesan air kondensasi pipa pendingin ruangan jatuh di atas plat seng ventilasi di ujung lain ruangan. Bunyi logam itu memecah kesunyian lantai dua.

Kepala Rusli menoleh ke arah sumber bunyi di dekat jendela darurat. Matanya memicing menatap daun jendela kaca yang sedikit renggang tertiup angin malam.

“Kucing got sialan,” geram Rusli pelan. Suaranya serak dan berat.

Pria itu mengalihkan sorot senternya dari tumpukan taplak meja, melangkah menuju jendela darurat, lalu membanting daun jendela kayu itu hingga menutup rapat dengan bunyi gedebuk keras. Setelah mengunci slot jendela dan memeriksa gembok pintu kantor Jerry di lantai tiga, Rusli berbalik menuruni tangga kayu dengan langkah berdentum santai.

Derap sepatunya perlahan memudar, ditelan dentum mesin slot di lantai dasar.

Hening kembali menguasai lantai dua.

Sora baru melepaskan napasnya. Udara pengap berdebu terhirup masuk ke paru-parunya dengan tarikan pendek yang pedih. Ia menyingkirkan tumpukan taplak meja kotor dengan tangan kanan, lalu merangkak keluar ke lantai karpet.

Tangan kirinya masih terkulai kaku dan dingin, jemarinya membeku ke dalam seperti cakar kaku. Tidak ada rasa di ujung jarinya; hanya kebas yang berat dan nyeri berdenyut di pangkal jahitan.

Di sudut mata kirinya, penghitung mundur penalti sistem kasino berkedip merah: Durasi Penalti Tersisa: 12 Menit 40 Detik.

Sora menatap tangannya yang lumpuh sementara, lalu menyeka darah di bibirnya dengan punggung pergelangan tangan kanan.

“Bodoh…” bisik Sora pada dirinya sendiri, suaranya sarat amarah yang ditujukan pada arogansinya sendiri. “Kalkulasi lima tahun… kamu pikir kebiasaan manusia gak pernah bergeser, hah?”

Ia telah melakukan kekeliruan fatal bagi seorang bandar: berasumsi bahwa pola masa lalu adalah jaminan kepastian masa depan. Keyakinan buta pada kebiasaan ronda Rusli nyaris membuatnya tertangkap basah di bawah todongan parang, dan denda empat keping cip telah memangkas saldo berharganya di saat genting.

Sembari merendahkan tubuh di bawah bayangan partisi, Sora merayap menuju jendela ventilasi kecil di samping kamar mandi pelayan.

Melalui celah sempit itu, ia menyelinap keluar ke talang air seng di luar dinding ruko. Hujan gerimis menyapu wajahnya, membasuh darah di bibirnya saat ia meluncur turun melalui pipa pembuangan air menuju gang gelap di bawah.

Malam ini ia membayar harga kecerobohannya dengan darah dan rasa sakit. Namun modul pengacau telah terpasang di meja rolet nomor tiga, dan hitung mundur menuju malam audit kian mendekati akhir.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!