Dirga mengira Vara adalah istri polos yang mudah dibohongi. Namun, Vara sudah mengetahui perselingkuhan dan rencana busuk suaminya.
Kini, hanya perlu berpura-pura menjadi wanita yang sama... sebelum semuanya kebalik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pura-pura
Tiga hari telah berlalu. Dirga menjalankan dinas di luar kota, dan hari ini dia akan pulang.
Begitu mendapat pesan dari Dirga, Vara hanya tersenyum miring. Ia sudah tahu pekerjaan Dirga sebenarnya hanya berlangsung selama dua hari. Selebihnya, pria itu sengaja memperpanjang waktu untuk berduan dengan selingkuhannya.
"Sangat menjijikkan."
Vara beranjak dari ranjang, lalu membuka jendela kamar. Pemandangan mansion yang diterpa cahaya sore langsung terlihat di hadapannya.
Selama tiga hari ini, Vara bersikap biasa kepada mertuanya seolah tidak terjadi apa-apa. Padahal, ia sudah mengetahui akal busuk Diana.
Dring!
Ponsel Vara berdering. Ia langsung menerima panggilan itu.
"Bagaimana?" tanyanya tanpa basa-basi.
"Semua masalah restoran sudah saya urus, Nona."
"Bagus. Apa mertua saya curiga?"
"Tidak, Nona. Azka dan Kania menjalankan tugasnya dengan baik."
Vara menghela napas lega.
"Terima kasih, Alaskar. Kamu sudah membantuku."
"Itu sudah tugas saya, Nona."
"Pantau terus. Jangan sampai mertuaku tahu rencana yang sedang aku jalankan."
"Baik, Nona," balas Alaskar.
"Oh, iya. Apa karyawan lainnya sudah diberi tahu?"
"Sudah, Nona. Kania sudah menjelaskan semuanya dan menyuruh mereka bersabar menghadapi mertua Anda," jelas Alaskar.
"Bagus."
Vara mendekati jendela sambil memandang halaman mansion.
"Untuk sementara, biarkan Diana tetap merasa semuanya berjalan sesuai keinginannya."
"Baik, Nona."
"Jangan lakukan sesuatu yang bisa membuatnya curiga. Aku ingin tahu sampai mana dia akan bertindak."
"Dimengerti."
Vara mengakhiri panggilan.
Ia meletakkan ponselnya di atas meja, lalu menatap pantulan dirinya di kaca jendela. Tiga hari sudah cukup untuk membuat banyak hal bergerak tanpa sepengetahuan Diana dan Dirga.
Restorannya mulai kembali seperti sebelumnya. Karyawan juga sudah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Kini tinggal menunggu waktu.
Vara mengambil ponselnya kembali dan melihat pesan dari Dirga.
{Aku sebentar lagi sampai}
Vara tersenyum tipis.
"Selamat datang kembali, Suamiku."
Vara berjalan menuju lemari dan mengambil pakaian terbaik yang akan ia kenakannya. Ia tidak akan menyambut Dirga dengan wajah murung atau menunjukkan bahwa dirinya mengetahui apa yang dilakukan pria itu selama tiga hari terakhir.
Sebaliknya, Vara ingin membuat Dirga percaya bahwa semuanya masih sama.
Bahwa istrinya masih menjadi Vara yang selama ini dianggap bolos dan mudah dipenuhi.
Vara tersenyum kecil. "Aku sudah tidak sabar melihat wajahmu saat berpura-pura tidak terjadi apa-apa."
Brum!
Suara mobil Dirga terdengar memasuki halaman mansion.
Vara yang mendengar itu, segera turun dan menghampiri dengan senyum seperti biasa.
Tak lama kemudian, Dirga turun dari mobil.
Vara menyambutnya dengan hangat. "Akhirnya kamu pulang, Sayang."
"Iya. Maaf bikin kamu menunggu."
"Tidak apa-apa, Sayang. Aku senang menunggumu."
"Kamu gimana selama aku pergi?"
"Baik-baik saja. Kamu sendiri?"
"Lancar."
Dirga kemudian membuka kedua tangannya, menarik Vara ke dalam pelukannya.
Vara membalas pelukan itu, menyandarkan kepalanya sebentar di dada Dirga.
"Cepek?" bisiknya.
"Sedikit."
Dirga mengecup kening Vara dengan lembut.
Vara tersenyum, lalu mendongakkan wajahnya.
Cup!
Dirga mengecup bibir Vara sekilas.
"Selamat datang di rumah," ucap Vara lembut.
"Makasih, Sayang."
Vara kembali tersenyum dan menggandeng tangan Dirga.
"Yuk, masuk. Kamu pasti ingin istirahat."
Dirga mengangguk, mereka berdua menuju kamar.
"Selama di sana kamu makan dengan baik, kan? Jangan sampai terlalu sibuk sampai lupa makan."
Dirga tersenyum tipis. "Aman, Sayang. Aku selalu mengingat pesanmu."
Mereka terus berjalan menuju kamar. Reno yang sejak tadi membantu membawa beberapa barang Dirga berhenti di depan tangga.
"Saya pamit dulu, Pak."
Dirga mengangguk. "Iya, Reno. Besok kita lanjutkan pekerjaan yang tadi."
"Baik, Pak."
Reno kemudian menatap Vara sekilas. Tatapan mereka bertemu.
Vara hanya memberikan anggukan kecil.
Reno membalasnya, lalu pergi meninggalkan mansion.
Vara kembali berjalan bersama Dirga menuju kamar mereka.
Begitu sampai, Vara membantu melepaskan jas yang dikenakan suaminya. Namun, saat tangannya menyentuh bagian depan jas tersebut, matanya menangkap sesuatu.
Ada bekas lipstik samar di bagian kerah kemeja Dirga.
Vara terdiam sesaat. Selain itu, ada aroma parfum wanita yang cukup jelas menempel pada pakaian dan tubuh suaminya.
Dirga yang menyadari tatapan Vara langsung gelagapan. "Kenapa?" tanya gugup.
Vara mengangkat wajah. "Itu..." Ia menunjuk bagian kerah kemeja Dirga. "Bekas lipstik?"
Dirga spontan menyentuh bagian tersebut. "Oh, ini." Ia tertawa kecil, berusaha terlihat santai. "Kemarin ada sedikit insiden saat meeting."
"Insiden?"
"Iya. Aku sempat berdebat dengan salah satu klien wanita. Dia terlalu memaksakan kehendaknya, sampai kami hampir bertengkar." Dirga buru-buru melanjutkan penjelasannya.
"Mungkin waktu aku marah dan berdiri terlalu dekat, parfum dan lipstiknya menempel di bajuku. Aku juga baru sadar sekarang."
Vara memperhatikan wajahnya, jawabannya jelas tidak masuk akal, tetapi Vara memilih untuk pura-pura bodoh dan seolah mempercayainya.
Dirga menelan ludah.
"Sayang, aku nggak selingkuh."
Mata Vara membesar, seolah terkejut. "Kok kamu sampai berpikir aku menuduhmu selingkuh?"
"Aku cuma..." Dirga terdiam.
Vara kemudian tersenyum kecil.
"Sudahlah. Aku percaya sama kamu."
Dirga menghembuskan napas lega. "Benarkah?"
"Iya. Mana mungkin kamu selingkuh, kamu sayang aku, kan?"
"Tentu dong, Sayang. Aku nggak mungkin mengkhianati kamu."
Vara kembali memperhatikan pakaian Dirga, lalu mengalihkan pembicaraan. "Bagaimana dengan perusahaan?"
Pertanyaan itu membuat Dirga sedikit lebih tenang.
"Sudah aman. Masalah dengan klien itu akhirnya selesai. Setelah kami membicarakannya lagi, dia akhirnya menerima kesepakatan yang kami tawarkan."
"Oh, begitu."
"Iya. Jadi nggak ada masalah lagi."
Vara mengangguk polos. "Syukurlah kalau begitu. Aku senang pekerjaan kamu berjalan lancar."
Dirga menghela napas panjang. Untung saja Vara percaya dengan penjelasannya.
Ia sama sekali tidak menyadari bahwa wanita di hadapannya justru sedang menahan senyum.
"Kamu pasti capek setelah perjalanan jauh," ujar Vara lembut. "Mandi dulu. Air hangatnya sudah aku siapkan."
"Iya, Sayang."
Dirga berjalan menuju kamar mandi. Sebelum masuk, ia sempat menoleh kepada Vara.
"Makasih, ya."
Vara tersenyum. "Sama-sama."
Pintu kamar mandi tertutup. Begitu Dirga tidak melihatnya, senyum Vara perlahan menghilang.
Wajahnya berubah datar. Ia menatap pintu kamar mandi beberapa saat. "Klien wanita?"
Vara terkekeh pelan. "Hebat juga alasanmu, Dirga."
Tangannya menyentuh kerah kemeja yang tadi ia lihat. Bekas lipstik itu masih terlihat samar.
"Dia pikir aku bodoh, apa." Ia meletakkan jas Dirga di atas kursi, lalu menyiapkan baju Dirga dan meninggalkan kamar.
Tak lama kemudian, Dirga keluar dari kamar mandi. Pakaiannya sudah disiapkan Vara di atas tempat tidur. Namun, wanita itu sudah tidak ada di kamar.
"Vara?"
Dirga melihat sekeliling. Mungkin Vara sedang menyiapkan makanan untuknya.
Ia mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja. Setelah memastikan Vara tidak ada di kamar, Dirga segera mencari nama Monica dan menghubunginya.
Tak lama, panggilan tersambung.
"Halo, Sayang," sapa Monica dengan nada suara manja.
"Sayang, kamu sudah sampai?"
"Iya, baru saja."
"Capek?"
"Tentu saja, apa lagi kamu sudah menghajarku di ranjang sebelum kita pulang."
Dirga terkekeh. "Maaf, Sayang. Siapa suruh kamu selalu bisa buat aku mabuk kebayang."
Monica terkekeh.
"Ya sudah, aku nggak bisa lama-lama nanti Vara curiga."
"Iya, iya."
"Kita bicara lagi setelah aku punya waktu."
"Iya, Sayang. Aku tunggu."
Dirga hendak melanjutkan pembicaraan, tetapi tiba-tiba terdengar suara Vara dari luar kamar.
"Sayang?"
Dirga langsung tersentak.
"Iya, sebentar." Ia buru-buru mengakhiri panggilan dan memasukkan ponselnya ke saku celana.
Pintu kamar terbuka.
Vara muncul dengan senyum lembut.
"Sayang, ayo makan. Aku sudah menyiapkan makanan untukmu."
"Iya."
Dirga segera menghampiri Vara, lalu berjalan bersamanya menuju meja makan.
Sesampainya di sana, berbagai makanan kesukaan Dirga sudah tersaji dengan rapi.
"Wah, kamu masak semua ini?" tanya Dirga.
"Tentu saja. Kamu pasti kangen makanan rumah, kan?"
Dirga mengangguk setuju. "Aku memang kangen, masakan kamu lebih enak dibanding masakan restoran."
"Kamu bisa aja."
Vara menarik kursi untuk Dirga, lalu duduk di sampingnya.
Dengan telaten, Vara mengambilkan makanan untuk semuanya.
"Ini yang kamu suka."
"Makasih, Sayang."
Dirga mencicipi makanan tersebut.
"Seperti biasa masakan kamu selalu enak."
"Terima kasih, Sayang. Kalau begitu, makan yang banyak."
Dirga mengangguk sambil kembali menyantap makanannya.
Mereka makan dalam suasana yang terlihat hangat. Sesekali Vara menanyakan pekerjaan Dirga, sementara Dirga menjawabnya sambil tersenyum.
Saat mereka masih menikmati makan malam, Vara tiba-tiba meletakkan sendoknya.
"Sayang..."
"Hmm?"
"Aku ingin kembali ke perusahaan."
Deg!