Demi membeli sebuah kue ulang tahun untuk sang adik, Rio yang baru berusia sepuluh tahun rela tak menebus obat hingga penyakit jantungnya kumat parah dan nyaris merenggut nyawanya. Tak ingin ibunya mati perlahan karena terjerat hutang biaya operasi sebesar lima ratus juta, Rio nekat kabur dari rumah sakit di tengah malam untuk menjemput ajalnya sendiri, meninggalkan ibunya yang hancur dalam tangisan. Namun takdir berkata lain; lima belas tahun berlalu, Rio yang diselamatkan oleh seorang konglomerat kini kembali sebagai Direktur Utama Grup Sentosa yang berkuasa, hanya untuk mendapati kenyataan yang menjijikkan. Rizky, adik kecil yang dulu sangat ia sayangi, kini tumbuh menjadi pria gila harta yang tega mengusir dan tak mengakui ibu kandung mereka yang pincang di tengah kemewahan pesta pernikahannya. Di detik itulah Rio melangkah maju ke tengah pesta, bukan lagi sebagai kakak yang rela berkorban, melainkan sebagai sang penguasa yang akan menghancurkan siapa pun yang berani meneteskan air
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Suasana sore di kediaman utama keluarga Sentosa terasa sangat tenang dan damai.
Matahari mulai condong ke barat menyinari taman belakang dengan cahaya keemasan.
Santi sedang duduk bersantai di gazebo kayu bersama Tuan Besar Bramantyo menikmati teh krisan hangat.
Keduanya tampak akrab mengobrol tentang perkembangan tanaman hias di taman tersebut.
"Saya dengar dari Nadia, Rio sudah menyelesaikan urusan bisnisnya di Surabaya ya Tuan Besar?" tanya Santi ramah.
"Benar Ibu Santi, anak itu bekerja sangat cepat, mungkin malam ini dia sudah sampai di rumah," jawab Bramantyo tersenyum bangga.
"Saya beruntung sekali Rio tumbuh menjadi penerus yang bisa diandalkan memimpin Grup Sentosa."
Santi menundukkan kepalanya sedikit dan tersenyum malu mendengar pujian untuk anaknya.
"Itu semua berkat didikan Tuan Besar, kalau Rio tetap bersama saya mungkin dia cuma bisa jadi buruh pabrik," ucap Santi merendah.
Bramantyo menggelengkan kepalanya pelan menolak pernyataan wanita tua di depannya.
"Rio hebat karena mewarisi ketangguhan ibunya, dia bertahan hidup dari kematian demi tidak membebani Anda."
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang cukup berisik dari arah pintu kaca penghubung rumah dan taman.
Tap tap tap.
Suara hak sepatu tinggi beradu keras dengan lantai marmer terdengar menyebalkan.
Seorang wanita paruh baya dengan pakaian mencolok dan perhiasan emas berlebihan berjalan menghampiri gazebo.
Di belakangnya mengekor seorang pemuda seumuran Rio yang terlihat sangat sombong dengan jas berwarna merah marun.
"Wah wah wah, lihat siapa yang sedang bersantai minum teh di sini," sapa wanita itu dengan nada suara yang sangat melengking.
Bramantyo langsung mengerutkan dahinya tidak suka melihat kedatangan dua tamu tak diundang tersebut.
Wanita itu adalah Tante Rika, adik kandung dari mendiang istri Bramantyo.
Sedangkan pemuda di belakangnya adalah sepupu tiri Rio yang bernama Leo.
"Sedang apa kalian ke mari Rika? Aku tidak ingat mengundang kalian hari ini," tegur Bramantyo dengan suara serak yang dingin.
Rika tertawa sumbang dan langsung duduk di kursi kosong tanpa dipersilakan.
"Kakak ipar ini bagaimana sih, masa saya mau jenguk keluarga sendiri harus pakai undangan," jawab Rika dengan senyum palsu.
Mata Rika lalu beralih menatap tajam ke arah Santi yang duduk kikuk di seberangnya.
Dia memindai penampilan Santi dari atas sampai bawah dengan pandangan merendahkan dan penuh jijik.
"Jadi ini wanita kampung penjual mi ayam yang beruntung bisa masuk ke rumah mewah ini?" ejek Rika tanpa basa-basi.
"Hebat juga ya si Rio itu, anak pungut yang tidak tahu diri malah bawa ibunya yang gembel numpang hidup di sini," tambahnya menusuk perasaan Santi.
Santi langsung menundukkan kepalanya dan menyembunyikan tangannya yang kasar di bawah meja.
Dia merasa sangat minder dan malu berhadapan dengan wanita sosialita yang penampilannya sangat glamor itu.
"Jaga mulutmu Rika! Ibu Santi adalah tamu terhormat di rumah ini!" bentak Bramantyo menggebrak meja teh pelan.
"Kalau kamu ke sini cuma mau menghina tamu kesayanganku, lebih baik kalian berdua keluar sekarang juga!" usir Tuan Besar itu dengan wajah memerah menahan marah.
Leo yang sedari tadi diam langsung melangkah maju dan mencoba menenangkan paman tirinya.
"Paman tenang dulu, Ibu tidak bermaksud menghina Nyonya Santi kok, Ibu kan memang suka bercanda," bujuk Leo dengan senyum penuh kelicikan.
"Kami ke sini cuma mau mengingatkan Paman tentang rapat keluarga besar besok lusa," lanjut Leo menyampaikan tujuan utamanya.
Bramantyo memalingkan wajahnya dan mendengus pelan mendengar alasan tersebut.
"Aku ingat jadwal rapat itu, tidak perlu repot-repot datang kemari mengingatkanku," jawab Bramantyo ketus.
"Tapi Paman, kudengar Paman sudah memberikan lima puluh persen saham pribadi Paman kepada Rio ya?" tanya Leo dengan nada menuntut.
"Rio itu kan cuma anak angkat Paman, masa dia dapat jatah saham lebih besar dari keluarga sedarah seperti kami?" protes Leo mulai berani mengkritik keputusan Bramantyo.
Rika ikut menganggukkan kepalanya dengan cepat mendukung protes anak semata wayangnya itu.
"Benar Kakak ipar, Leo ini kan keponakan kandung almarhumah istrimu, dia yang lebih berhak jadi pewaris utama Sentosa!" tuntut Rika dengan suara melengking.
"Masa perusahaan raksasa ini mau diserahkan ke anak jalanan dan ibunya yang cuma penjual mi ayam?" hina Rika melirik sinis ke arah Santi.
Santi merasa dadanya sangat sesak mendengar hinaan yang bertubi-tubi ditujukan pada dirinya dan anaknya.
Dia merasa kehadirannya di rumah ini justru membawa masalah baru bagi Rio dan Bramantyo.
"Tuan Besar, maafkan saya, sebaiknya saya kembali ke kamar saja," pamit Santi dengan suara bergetar menahan tangis.
Santi buru-buru berdiri dari kursinya dan berjalan tertatih dengan tongkatnya meninggalkan gazebo.
Bramantyo menatap kepergian Santi dengan perasaan bersalah lalu kembali menatap tajam dua benalu keluarganya itu.
"Saham itu adalah milik pribadiku, aku bebas memberikannya pada siapapun yang pantas," desis Bramantyo marah.
"Leo cuma bisa menghamburkan uang perusahaan untuk foya-foya, dia tidak punya otak untuk memimpin Grup Sentosa!" skakmat Bramantyo telak di depan wajah keponakannya.
Wajah Leo langsung memerah padam menahan amarah karena dihina bodoh oleh pamannya sendiri.
"Paman akan menyesal menyerahkan perusahaan ini pada anak pungut itu!" ancam Leo mengepalkan tangannya.
Brak!
Sebuah vas bunga dari tanah liat tiba-tiba terlempar dari arah pintu masuk taman dan hancur berkeping-keping tepat di depan sepatu Leo.
"Siapa yang berani melempar barang ke arahku?!" teriak Leo melompat mundur ketakutan.
"Aku."
Sebuah suara bariton yang sangat dingin dan mematikan terdengar dari arah pintu.
Rio berdiri di sana dengan wajah yang sangat gelap dan menakutkan layaknya iblis yang baru keluar dari neraka.