NovelToon NovelToon
Transmigrasi Si Remaja Berisik: Pangeran Dingin Bisa Dengar Suara Hatiku!

Transmigrasi Si Remaja Berisik: Pangeran Dingin Bisa Dengar Suara Hatiku!

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno / Fantasi
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: heldahell

Xie Yufei (17 tahun), remaja Gen-Z yang hobi julid, tewas tersedak boba dan bertransmigrasi ke zaman kuno menjadi Nona Muda yang lemah lembut.

Demi bertahan hidup, Yufei berakting super anggun dan polos. Namun, dia tidak tahu kalau suara hatinya yang sangat berisik dan penuh istilah modern bisa terdengar jelas oleh Pangeran Mo Cheng yang kejam, kakak kandungnya, dan pelayan setianya!

Kekacauan dimulai saat Yufei membungkuk takzim, sementara isi kepalanya sibuk mengomel: (Buset, ini Pangeran mukanya ditekuk mulu kayak belum bayar kontrakan. Ganteng sih spek drakor, tapi auranya psikopat banget!)

Mendengar itu, sang Pangeran dingin seketika tersedak teh. Di saat Yufei merasa akting polosnya sempurna, orang-orang di sekitarnya justru sedang berjuang setengah mati menahan tawa mendengar isi kepalanya yang super kocak!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heldahell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 25: Serangan jantung dadakan dan teori konspirasi istana

Otak Xie Yufei seketika mengalami loading sistem secara massal. Kata 'investasi' yang meluncur mulus dari bibir Mas Jenderal rasanya seperti hantaman godam tepat di ulu hatinya. Jiwanya serasa terbang melayang keluar dari raga, menyisakan tubuhnya yang membatu layaknya patung Liberty versi kearifan lokal.

Di dalam kepalanya, sirine tanda bahaya tingkat satu langsung meraung-raung dengan volume maksimal, lengkap dengan lampu rotator merah yang berputar heboh:

(MAMPUS! FIX INI MAH GUE MATI KONYOL! Kok dia bisa tahu istilah 'investasi kulit indah'?! Seingat gue, dari kemarin gue cuma ngebatin soal investasi emas sama investasi kulit! Nggak pernah sekalipun gue ucapin pakai mulut! Jangan-jangan Mas Jenderal ini aslinya bukan Profesor X, tapi dukun sakti penjelajah waktu?! Aduh Mamaaakkk, ampun! Tolong jangan penggal kepala gue sekarang, gue belum sempat ngerasain krim malam dari bubuk mutiara impor!)

Melihat wajah Yufei yang mendadak berubah dari merah merona menjadi putih pucat seperti kain kafan, Pangeran Mo Cheng langsung tersadar. Sial, dia terlalu terhanyut oleh suara batin Yufei yang kocak sampai-sampai mulutnya keceplosan menggunakan kata yang didengarnya dari pikiran gadis itu.

Sebagai seorang panglima perang yang biasa membalikkan keadaan di medan pertempuran, Pangeran Mo Cheng langsung memasang wajah datar tanpa dosa dengan kecepatan sekejap mata.

"Maksudku... investasi modal bahan-bahan berharga yang kau sebutkan tadi," kilah Pangeran Mo Cheng dengan nada suara yang dibuat sangat tenang dan logis, seolah kata itu adalah hal paling wajar sedunia. "Bukankah bunga lili salju dan bubuk mutiara laut selatan itu adalah 'modal' yang sangat mahal untuk meracik ramuanmu? Di kalangan saudagar ibu kota, mereka sering menyebut modal barang mewah sebagai 'investasi dagang'. Apakah istilah yang kugunakan salah?"

KLEK.

Alarm bahaya di kepala Yufei seketika mati. Logika akuntannya yang sempat konslet kini perlahan terhubung kembali. Dia berkedip beberapa kali, menatap wajah Pangeran Mo Cheng yang tampak sangat meyakinkan dan bebas dari ekspresi mencurigakan.

(Oh... Halah! Jantung gue hampir copot sampai usus dua belas jari rasanya! Ternyata istilah 'investasi' itu udah dipakai sama saudagar kuno di sini toh? Lagian gue parnoan banget sih. Mana mungkin pangeran ganteng berdarah murni dinasti kuno begini bisa punya bakat jadi cenayang pembaca pikiran. Lagian kalau dia bisa denger isi hati gue, dari kemarin-kemarin pas gue ngatain dia 'Mas Jenderal Muka Triplek', pasti gue udah dijadiin umpan babi hutan. Hahaha! Aman, aman, otak gue emang kebanyakan nonton film fiksi ilmiah!)

Pangeran Mo Cheng diam-diam menarik napas lega yang sangat panjang di dalam hatinya. Mas Jenderal Muka Triplek? Dia mencatat julukan baru itu di dalam benaknya. Setidaknya, taktik ngelesnya kali ini berhasil menyelamatkan rahasianya dari kecurigaan Yufei yang mulai menajam.

"Ah... benar sekali, Yang Mulia. Pendengaran dan wawasan Anda sungguh luas," sahut Yufei dengan senyum manis terbaiknya, meski tangannya masih sedikit gemetar karena sisa kaget tadi. "Hamba hanya terkejut karena Yang Mulia begitu memahami pentingnya menjaga kualitas aset kosmetik... maksud hamba, ramuan obat hamba."

"Sudahlah, tidak perlu dibahas lagi," potong Pangeran Mo Cheng, sengaja menghentikan topik sensitif itu sebelum dia keceplosan lagi untuk kedua kalinya. Dia melangkah mundur, memberikan jarak yang aman di antara mereka. "Kembalilah ke tendamu dan bersiaplah. Siang ini juga kita akan membongkar perkemahan dan melanjutkan perjalanan keluar dari Hutan Terlarang. Kita harus tiba di pinggiran ibu kota sebelum gerbang kota ditutup besok malam."

"Baik, Yang Mulia. Hamba mohon pamit untuk bersiap-siap," ujar Yufei sambil memberikan hormat dengan gerakan anggun yang dibuat-buat, lalu buru-buru membalikkan badan dan melangkah keluar dari tenda interogasi.

Begitu tirai tenda tertutup di belakang Yufei, Pangeran Mo Cheng langsung menyandarkan tubuhnya ke pinggiran meja kayu. Dia memijat pelipisnya yang mendadak terasa berdenyut. Mendengarkan dua suara sekaligus, suara asli dan suara batin Yufei yang selalu berteriak dengan istilah-istilah ajaib ternyata jauh lebih menguras tenaga daripada memimpin pasukan bertempur melawan ribuan pemberontak.

Sementara itu, di luar tenda, Yufei berjalan dengan langkah ringan menuju tendanya sendiri sambil bersenandung kecil. Udara pagi yang dingin tidak lagi terasa menusuk karena dia masih mengenakan jubah sutra tebal milik Pangeran Mo Cheng yang tersampir di bahunya.

Xiao Mei yang sedang merapikan barang-barang di dalam tenda darurat langsung terbelalak heboh begitu melihat majikannya kembali dengan pakaian yang tidak biasa.

"Nona! Demi Dewa Langit... itu... bukankah itu jubah luar milik Yang Mulia Pangeran?!" bisik Xiao Mei dengan mata membulat sempurna, wajahnya langsung memerah karena imajinasi romantis yang liar. "Apa yang terjadi semalam di tenda medis, Nona? Apakah... apakah hubungan Anda dan Pangeran sudah mengalami kemajuan yang diberkati?"

Yufei langsung menjentik dahi pelayan setianya itu dengan gemas. "Kemajuan apa palamu peyang! Pikiran lu jangan traveling kemana-mana ya, Xiao Mei! Ini murni pinjaman fasilitas keselamatan kerja karena semalam gue habis jadi pahlawan kesiangan nyelametin tahanan yang mau bunuh diri."

Meskipun mulutnya membantah dengan galak, Yufei tidak bisa menyembunyikan semburat merah muda yang mendadak muncul di kedua pipinya. Dia buru-buru melepas jubah itu dan memeluknya erat, mencium samar aroma wangi kayu cendana yang menenangkan yang masih tertinggal di kain sutra premium tersebut.

(Aduh... tapi kalau dipikir-pikir, Mas Jenderal kalau lagi mode peka gini emang spek jodoh idaman banget sih. Udah ganteng, pangkatnya tinggi, kaya raya, punya pasukan khusus pribadi, terus mau lagi tanggung jawab beliin skincare mahal. Kurangnya cuma satu: hobi banget pasang muka datar mirip tembok semen. Coba kalau dia bisa sering-sering senyum kayak tadi, beuh... bisa meleleh berjamaah cewek-cewek se-kerajaan!)

Di tenda utama yang berjarak beberapa meter, Pangeran Mo Cheng yang baru saja hendak meminum airnya tiba-tiba tersedak cukup keras. Spek jodoh idaman? Meleleh berjamaah?

Sang jenderal agung itu menatap cangkir airnya dengan pandangan kosong, sementara telinganya perlahan-lahan berubah menjadi merah padam untuk kesekian kalinya hari itu.

1
paijo londo
🤣🤣🤣🤣🤣🤦🤦🤦🤦kocak....kocak
paijo londo
🤭🤭🤭yeee pangeran mo Cheng salah tingkah tuh
Siskasuryaningsih
bagus thor, tapi jangan terlalu lebay iya thor, mcam novel mu yg lalu
heldahell: novelku yg mana ya kak? apa udah ku hapus ya?
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!