Sebuah kisah tentang dua dunia yang berpijak pada bumi yang sama, antara kehidupan moderen dan primitif yang akhirnya akan bersatu karena Cinta dua manusia yang saling bertemu dalam gelombang ketidak sengajaan.
Kisah dengan semua yang bercampur aduk, antara logika, cita-cita, cinta dan perburuan yang seru dan menegangkan, degan bumbu tawa yang tak disengaja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DIFAN2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hutan Hitam
Napas Hera Grahansa berkejaran dengan waktu. Langkah kakinya terasa semakin berat, terseret-seret di atas tanah Alas Purba yang basah dan berakar.
Sepatu bot gunungnya yang biasa terasa kokoh di laboratorium lapangan, kini terasa seperti timah yang mengikat kakinya. Wajah dan tangannya perih, tergores ranting-ranting pohon yang mencuat dari kegelapan seperti cakar yang tak terlihat.
Di sekelilingnya, kegelapan tidak lagi sekadar absennya cahaya. Kegelapan ini terasa tebal, menekan dada, dan bergerak memutar.
Dug-dug-dug-dug!
Suara itu tidak lagi jauh. Suara gemuruh kaki kuda yang menghantam tanah merah bergema dari segala penjuru, memantul di antara batang-batang pohon purba yang masif. Getarannya merayap naik melalui sol sepatunya, membuat jantung Hera berdegup semakin liar.
"Berhenti, wanita kota! Jangan lari lagi!" sebuah teriakan kasar memotong kesunyian malam, disusul oleh ringkikan kuda yang nyaring.
Hera tersentak. Dia membalikkan badan, mencoba mencari celah untuk menghindar, namun berkas cahaya kuning kemerahan dari obor-obor minyak mendadak menusuk matanya.
Sinar itu bergoyang-goyang, memotong kabut tebal yang menyelimuti lantai hutan. Dari balik kabut, siluet-siluet mahluk besar mulai bermunculan.
Sekelompok pria asing berkuda bergerak cepat, membentuk lingkaran yang rapi. Mereka mengunci pergerakan Hera. Kuda-kuda jantan bertubuh kekar dan berbulu hitam legam itu mendengus, mengeluarkan uap panas dari lubang hidung mereka.
Hera melangkah mundur hingga punggungnya menabrak batang pohon raksasa yang dingin dan berlumut. Dia terkepung. Tatapan matanya bergerak panik, menyisir sekeliling. Ada sekitar sepuluh orang penunggang kuda yang kini mengawasinya dengan pandangan lapar dan beringas.
"Lihat ini! Gargan tidak salah dengar!, dia juga sangat cantik" seru seorang pria berkulit legam dengan tato sulur pohon di sepanjang lengannya. Dia mengenakan pakaian dari kulit binatang kasar tanpa lengan. "Benar-benar ada wanita dari dunia luar yang tersesat di wilayah kita!"
"Cantik sekali." bisik pria di sebelahnya, yang rambutnya dikepang kasar. Matanya menatap tajam ke arah pakaian gunung modern yang dikenakan Hera.
"Kulitnya halus, tidak seperti wanita klan kita. Pakaiannya pun aneh. Siapa kamu, Wanita?"
Hera mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberanian profesornya. Dia menegakkan bahu, meskipun seluruh tubuhnya bergetar hebat karena kombinasi rasa dingin dan ketakutan yang murni.
"Siapa kalian?!" suara Hera bergetar, namun dia mencoba menekannya agar terdengar tegas. "Saya Hera Grahansa, seorang peneliti! Saya tidak sengaja melewati pembatas.
Di mana jalan keluar dari sini? Di mana tim saya?!"
Mendengar ucapan Hera, sekelompok pria itu justru saling berpandangan, lalu ledakan gelak tawa yang berat dan kasar bergemuruh memecah malam. Kuda-kuda mereka bergerak gelisah, menghentakkan kaki ke tanah.
"Hahaha! Peneliti katanya? Dia bicara bahasa aneh!" pria bertato lengan tertawa terbahak-bahak, mengayunkan obornya mendekati wajah Hera. "Tidak ada timmu di sini, Perempuan. Di tempat ini, hanya ada hukum Alas Purba. Dan siapa pun yang masuk tanpa izin, adalah buruan!"
"Jangan bergerak!" Hera berteriak panik saat salah satu kuda melangkah maju, mempersempit jarak hingga sisa jarak di antara mereka kurang dari tiga meter.
Hera mengangkat ransel kecilnya ke depan dada, menjadikannya perisai darurat. Di dalam ransel itu, ratusan kantung sampel Dream Flower bergesekan pelan. "Menjauh dari saya! Pengawal saya bersenjata, mereka akan segera menemukan saya!"
"Pengawal?" pria berambut kepang mendengus remeh. Dia menarik tali kekang kudanya, membuat hewan besar itu berdiri tegak dengan dua kaki belakangnya sesaat, memamerkan kedigdayaan.
"Tidak akan ada yang bisa menembus batas ini untuk menyelamatkanmu. Di klan ini, hukumnya mudah. Siapa yang berhasil menangkapmu, kamu menjadi miliknya!"
"Dia sangat cantik! Aku yang melihatnya duluan!" teriak seorang pria bertubuh pendek kekar dari barisan belakang, matanya berkilat birahi menatap Hera. "Wanita! Menyerah lah! Ikut denganku dan kamu tidak akan kelaparan!"
"Tidak! Aku yang mengepung jalurnya dari sisi barat!" sahut yang lain tak mau kalah. Suasana di antara para penunggang kuda itu mendadak menegang.
Mereka mulai saling gertak, berebut hak atas diri Hera seolah-olah wanita itu adalah rusa buruan yang siap dikuliti.
Hera menelan ludah yang terasa kesat di tenggorokan. Watak keras kepalanya berputar menjadi kalkulasi taktis untuk bertahan hidup. Mereka lengah karena sedang berdebat, batin Hera. Matanya melirik ke arah celah sempit di antara dua jaran kuda di sisi kirinya. Di sana ada semak belukar yang cukup lebat.
"Dia milikku!"
Tepat saat pria bertato lengan mengalihkan perhatiannya untuk membentak temannya, Hera mengambil keputusan nekat. Dengan sisa tenaga yang ada di kakinya, dia merunduk dan melesat maju, menerobos tepat di bawah perut salah satu kuda yang sedang bergerak gelisah.
"Hei! Dia kabur!" jerit pria berambut kepang terkejut.
Kuda yang dilewati Hera meringkik keras karena terkejut, membuat formasi lingkaran mereka pecah sesaat. Hera berlari sekuat tenaga, tidak lagi memedulikan arah. Sepatu boots-nya menghantam tanah basah, melompati semak berduri yang merobek bagian bawah celananya.
"Kejar dia! Jangan sampai lepas! Gargan akan memenggal kepala kita kalau wanita ini hilang!"
teriak pemimpin rombongan itu dengan murka.
Suara cambuk yang dihantamkan ke tubuh kuda kembali memotong malam.
Derap langkah kaki kuda kembali bergemuruh di belakang Hera, kali ini dengan ritme yang jauh lebih cepat dan marah. Cahaya obor kembali meliuk-liuk di antara batang pohon, memburu bayangan Hera yang terus berlari menembus kegelapan Alas Purba yang kian mencekam.