Berawal dari niat Baik yang berujung pada jatuhnya ia dari lantai dua puluh Gedung Dingfeng.
Jiang Chen, seorang pemuda yang putus asa mencari pekerjaan, secara tidak sengaja mewarisi jutaan pengetahuan rahasia medis dan kekuatan kuno.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Angin malam berhembus sangat kasar di atap Gedung Grup Dingfeng.
Jiang Chen duduk meringkuk di balik bayangan mesin pendingin ruangan raksasa sambil memeluk lututnya yang gemetar kedinginan.
Kemeja putihnya yang murah dan sudah menguning di bagian kerah sama sekali tidak mampu menahan hawa dingin kota metropolis ini.
"Nasib orang miskin memang selalu seperti sampah," batin Jiang Chen sambil menatap kosong ke arah langit malam yang tanpa bintang.
Di tangan kanannya, dia menggenggam erat sebuah map plastik berisi belasan lembar resume yang ujung-ujungnya sudah lecek.
Hari ini saja dia sudah diusir dari lima perusahaan berbeda bahkan sebelum pantatnya menyentuh kursi wawancara.
Drrt drrt.
Ponsel retak di saku celananya bergetar dengan kasar memecah kesunyian.
Jiang Chen menarik napas panjang saat melihat nama Ibu Kos muncul di layar retak itu.
"Halo, Bibi Wang," sapa Jiang Chen dengan nada seramah dan semelas mungkin.
"Jangan memanggilku Bibi seolah kita ini keluarga, dasar gembel!" teriak suara melengking dari seberang telepon.
Suara itu begitu keras sampai Jiang Chen terpaksa menjauhkan ponselnya dari telinga.
"Bibi, tolong beri aku waktu sampai besok pagi saja."
"Aku sedang menunggu jadwal wawancara dari Grup Dingfeng, perusahaan terbesar di kota ini."
"Alasan! Kau sudah menunggak sewa tiga bulan dan terus berbohong soal wawancara kerja!" balas wanita tua itu tanpa ampun.
"Aku berani sumpah, Bibi, kalau aku diterima di sini gajiku pasti cukup untuk melunasi semuanya malam ini juga."
"Aku tidak butuh janji kosongmu itu, Jiang Chen!"
"Kalau sampai jam delapan pagi besok uangnya tidak ada di mejaku, semua barang rongsokanmu akan kubakar di depan gang!"
Tut tut tut.
Sambungan telepon diputus secara sepihak sebelum Jiang Chen sempat memohon lagi.
Dia memandangi layar ponselnya yang perlahan meredup dengan tatapan nanar.
Krucuk krucuk.
Perutnya berbunyi nyaring, mengingatkannya bahwa dia hanya menelan setengah potong roti tawar basi sejak kemarin pagi.
"Bahkan perutku sendiri ikut mengejekku sekarang," gumam Jiang Chen sambil tersenyum pahit.
Dunia ini memang tidak pernah adil bagi orang-orang yang tidak memiliki uang dan kekuasaan.
Namun di tengah lamunannya, ekor mata Jiang Chen menangkap sebuah siluet yang bergerak di ujung atap.
Dia menyipitkan matanya menembus kegelapan malam.
Seorang wanita dengan setelan kerja yang sangat mewah sedang berdiri di sana.
Masalahnya, wanita itu berdiri di luar pagar pembatas atap, hanya berjarak beberapa sentimeter dari jurang kematian.
"Tunggu dulu, apa yang orang gila itu lakukan di sana?" batin Jiang Chen terkejut.
Dia segera berdiri dan menepuk debu dari celana kainnya yang lusuh.
"Hei Nona! Apa yang sedang kau lakukan di luar sana?!" teriak Jiang Chen memecah suara angin malam.
Wanita itu tersentak pelan dan menoleh ke arah sumber suara.
Rambut panjangnya berantakan tertiup angin, memperlihatkan wajah cantik yang sangat pucat dan sepasang mata yang bengkak karena menangis.
"Jangan mendekat," ucap wanita itu dengan nada yang sangat dingin dan hampa.
"Tentu saja aku tidak akan mendekat kalau kau memintanya," balas Jiang Chen sambil mengangkat kedua tangannya ke udara.
Namun kakinya perlahan melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka secara diam-diam.
"Tapi Nona, tolong jangan melompat dari gedung ini sekarang," bujuk Jiang Chen.
"Ini bukan urusanmu, pergilah dan biarkan aku mati dengan tenang," usir wanita itu tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan jauh di bawah sana.
"Tentu saja ini urusanku!" seru Jiang Chen dengan nada jengkel.
"Aku sedang melamar pekerjaan di gedung ini dan kau mau mati di sini?!"
"Kalau kau melompat, polisi akan menutup tempat ini berhari-hari dan wawancaraku akan dibatalkan!"
Wanita itu mengernyitkan dahinya perlahan.
Raut wajahnya yang tadinya kosong kini berubah menjadi tatapan tidak percaya.
"Kau lebih peduli pada wawancara kerjamu daripada nyawa manusia yang mau bunuh diri?" tanya wanita itu pelan.
"Tentu saja! Nyawamu adalah milikmu, tapi pekerjaanku adalah satu-satunya masa depanku!" jawab Jiang Chen tanpa ragu.
"Aku belum makan nasi selama tiga hari, Nona!"
"Jadi tolong, kalau kau memang sangat ingin mati, bisakah kau mencari gedung perusahaan saingan saja?" tawar Jiang Chen dengan senyum konyol.
Wanita itu mendengus sinis, antara marah dan tak habis pikir melihat kelakuan pemuda di depannya.
"Kau benar-benar manusia yang tidak punya hati," gumam wanita itu dengan suara bergetar.
"Yang berdiri di luar pagar pembatas lantai dua puluh itu kau, Nona, bukan aku," balas Jiang Chen santai.
Jarak mereka kini tinggal menyisakan beberapa meter saja.
Jiang Chen bisa melihat dengan jelas betapa cantiknya wanita ini, namun ada keputusasaan yang sangat dalam di matanya.
"Berhenti melangkah atau aku akan benar-benar melompat sekarang," ancam wanita itu saat menyadari Jiang Chen semakin dekat.
Jiang Chen langsung menghentikan langkahnya dan mematung di tempat.
"Baiklah, aku berhenti. Tapi serius, untuk apa wanita kaya sepertimu ingin mengakhiri hidup?" tanya Jiang Chen.
"Sepatumu itu saja mungkin harganya setara dengan biaya hidupku selama setahun penuh."
Wanita itu menunduk menatap sepatunya sejenak lalu tertawa hambar.
"Uang yang banyak tidak akan bisa menyelesaikan pengkhianatan di dunia ini," ucapnya lirih.
"Itu karena uangmu belum cukup banyak untuk membungkam mulut mereka, Nona," sahut Jiang Chen cepat.
"Percayalah padaku, orang yang bilang uang tidak penting adalah orang yang tidak pernah diancam akan dibakar barangnya oleh ibu kos."
Wanita itu menatap Jiang Chen dengan sorot mata yang tiba-tiba menajam.
"Kau tidak tahu apa-apa tentang kehancuran yang aku alami!" desis wanita itu penuh amarah.
"Perusahaan yang kubangun dengan darah dan keringat direbut oleh keluargaku sendiri dari belakang."
"Orang yang paling aku percayai menusukku dari belakang dan membuangku ke jalanan seperti sampah."
Air mata akhirnya kembali menetes membasahi pipi wanita itu.
"Semuanya sudah hancur, aku sudah tidak punya apa-apa lagi untuk dipertahankan di dunia yang busuk ini."