Setelah enam bulan wafatnya sang Ibu, Dea memutuskan meninggalkan rumah karena tidak tahan terhadap tekanan dan siksaan dari Paman, Bibi dan sepupunya yang sengaja ingin merebut warisan dari sang ayah yang merupakan seorang CEO sebuah perusahaan Ekspor-Impor bernilai ratusan triluin.
Takdir Pelarian Dea mempertemukannya dengan Tania, seorang gadis desa yang merantau ke kota untuk mencari keluarga dan asal usul jati dirinya.
Dea akhirnya mau kembali ke rumah setelah sang ayah menikahi Tania dan menjadi ibu tiri untuk Dea. Kembalinya Dea ke rumah menimbulkan ketidak sukaan dari paman dan bibi Dea, apalagi sekarang adanya Tania yang menjadi perisai hidup bagi Dea.
Banyak drama dan kejadian yang menguras emosi, banyak plot twist dalam setiap bab kejadiannya, baik dalam kehidupan Dea maupun kehidupan Tania dalam mencari keluarganya di ibukota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misi Pengamanan Kencan
Matahari Sabtu bersinar terik menyinari Kota Bogor, namun suhu di ruang bawah tanah Kediaman Hapsburg terasa sedingin kutub utara.
Xander von Hapsburg duduk bersila di lantai, merakit senapan sniper Barrett M82A1 kaliber 50 dengan gerakan mekanis yang mematikan. Di sampingnya, Dirga sedang mengasah belati tempur, sementara Freya memasukkan magasin peluru bius ke dalam pistol ringkasnya. Wajah ketiga pembunuh bayaran paling ditakuti di Eropa itu tegang, penuh dengan konsentrasi tingkat tinggi.
Pintu ruang bawah tanah tiba-tiba terbuka. Tania turun membawa sekeranjang cucian kering, mengenakan daster motif macan tutul dan rol rambut yang masih menempel di poninya. Langkahnya terhenti saat melihat gudang senjata mini yang digelar suaminya di atas karpet.
"Mas Xander," panggil Tania dengan nada datar. "Bisa tolong jelaskan kenapa ruang TV kita berubah jadi markas persiapan Perang Dunia Ketiga?"
Xander mendongak, matanya berkilat serius. "Ini adalah Operasi Black Swan, Tania. Dea baru saja meminta izin untuk pergi ke mal Botani Square bersama seorang laki-laki bernama Dimas. Mereka menyebutnya 'kerja kelompok fisika', tapi insting Dominus Umbrae-ku mengatakan ini adalah kode untuk sebuah kencan. Laki-laki ini adalah ancaman tingkat satu. Aku akan mengambil posisi penembak runduk di atap mal, Dirga akan memantau dari saluran ventilasi, dan Freya akan menyamar sebagai—"
"Mas," potong Tania sambil melempar sebuah kaus kaki basah yang mendarat tepat di atas laras senapan sniper Xander. "Anak kita itu umurnya enam belas tahun. Wajar kalau dia pergi ke mal sama teman cowoknya. Lagipula, Dimas itu anak klub robotik yang kacamatanya tebalnya setengah senti. Dia itu ngerjain PR, bukan mau nyelundupin plutonium!"
"Kau tidak mengerti isi kepala remaja laki-laki, Sayang," sahut Xander keras kepala, kembali mengelap senapannya. "Hormon mereka lebih berbahaya dari reaktor Olympus. Kalau dia berani menyentuh tangan putriku, aku akan memastikan tangannya hanya tinggal kenangan."
Tania memutar bola matanya, membuang keranjang cucian, lalu berkacak pinggang. "Dengar ya, Rambo. Dea itu butuh privasi. Kalau dia lihat bapaknya bawa-bawa bazooka ke area food court, dia bakal malu seumur hidup. Kita tidak akan pakai senjata api, tidak ada darah, dan tidak ada ancaman pembunuhan."
"Jadi, kita biarkan saja?" Dirga bertanya dengan nada kecewa, perlahan meletakkan belatinya.
Tania menyeringai, sebuah senyuman licik yang membuat bulu kuduk ketiga assassin itu merinding. "Siapa bilang kita biarkan? Kita pakai cara halus. Cara emak-emak intelijen."
Dua jam kemudian, di area Food Court mal Botani Square yang ramai.
Dea duduk berhadapan dengan Dimas, seorang remaja laki-laki berambut belah pinggir yang tampak sangat gugup. Di atas meja mereka berserakan buku catatan, sebuah kalkulator scientific, dan dua piring kentang goreng. Dea tampak tenang, mengunyah kentangnya sambil sesekali mengoreksi rumus Dimas, sama sekali tidak menyadari bahwa area radius lima puluh meter di sekelilingnya telah disabotase sepenuhnya.
Di meja sebelah, duduk seorang "turis mancanegara". Xander von Hapsburg dipaksa mengenakan kemeja Hawaiian bermotif bunga kelapa, topi pancing neon, dan kacamata hitam murahan berbentuk hati. Ia memegang koran harian lokal yang sengaja dilubangi di bagian tengahnya untuk mengintai, persis seperti adegan film mata-mata tahun 80-an yang klise.
Di dekat eskalator, Dirga menyamar sebagai maskot badut promosi provider internet. Ia memakai kostum berbentuk router Wi-Fi raksasa yang sangat panas, membagikan brosur sambil sesekali melapor melalui earpiece tersembunyi.
Sementara itu, ancaman terbesar justru datang dari konter promosi sosis bakar tepat di seberang meja Dea.
Tania berdiri di sana mengenakan seragam SPG (Sales Promotion Girl) berwarna merah menyala lengkap dengan celemek dan topi visor. Tangannya dengan lincah membolak-balik sosis di atas panggangan, namun matanya yang setajam silet mengunci setiap milimeter pergerakan Dimas.
"Alpha Satu, lapor," bisik Xander ke mikrofon yang tersembunyi di kerah kemeja bunga-bunganya. "Target laki-laki mengambil sehelai tisu. Dia mengarahkannya ke wajah Dea. Dia mau mengusap keringat di dahi putri kita. Ini pelanggaran batas zona merah. Izin untuk melumpuhkan target menggunakan garpu siomay."
"Tahan posisi, Bule Gila," balas Tania melalui alat komunikasi mungil di telinganya, sambil tersenyum manis membagikan tusukan sosis ke pengunjung mal. "Itu cuma tisu, bukan sianida. Biarkan saja. Dea bisa jaga diri."
Benar saja, sebelum Dimas sempat menyodorkan tisu itu, Dea sudah lebih dulu bersin dengan sangat kencang, membuat tisu di tangan Dimas terbang tertiup angin dan mendarat di mangkuk kuah bakso orang lain. Dimas langsung pucat dan meminta maaf berkali-kali, sementara Dea hanya tertawa kecil.
Xander menghela napas lega, namun urat lehernya kembali menegang saat segerombolan pemuda pengangguran berjaket kulit sintetis mendekati meja Dea. Mereka adalah komplotan preman mal yang suka memalak anak sekolahan.
"Wuih, ada neng cantik nih," goda salah satu preman berambut pirang jagung, dengan lancang mengambil sepotong kentang goreng dari piring Dimas. "Boleh gabung dong? Cowok lu cupu banget, mending nongkrong sama abang."
Dimas gemetar ketakutan, tangannya meremas ujung meja, tapi ia berusaha memberanikan diri. "M-maaf, Bang. Meja ini sudah p-penuh."
"Oh, berani ngelawan lu?!" Preman itu mencengkeram kerah seragam Dimas, bersiap melayangkan pukulan.
Xander melempar korannya, otot-otot di balik kemeja bunganya menegang siap membantai. Dari arah eskalator, badut router Wi-Fi raksasa berlari menerjang bagaikan banteng mengamuk.
Namun, tidak ada yang lebih cepat dari seorang emak-emak yang melihat anaknya diganggu.
"MISI! Sosis bakar promo buy one get one-nya, Kakaaaak!"
Sebuah teriakan cempreng membelah keributan. Tania meluncur dari konternya menggunakan sepatu roda sneakers (yang entah sejak kapan ia pakai). Ia melesat dengan kecepatan peluru, membawa sebuah nampan besi panas yang baru saja diangkat dari panggangan.
Tanpa mengurangi kecepatan, Tania bermanuver melewati meja, pura-pura tersandung, dan dengan sangat akurat... PLAAAK! Nampan besi panas berisi minyak sosis itu mendarat tepat di wajah preman berambut pirang tersebut.
"ARGHHHH! PANAS! MATA GUE!" jerit preman itu, melepaskan kerah Dimas dan berguling-guling di lantai food court.
"Ya ampun! Maaf, Mas! Aduh, SPG baru nih saya, masih training!" jerit Tania pura-pura panik.
Dua preman lainnya marah besar dan hendak menyerang Tania. "Woi, emak-emak gila! Sengaja lu ya?!"
Tania menunduk sekilas menghindari ayunan tangan preman kedua. Dengan gerakan mulus yang disamarkan sebagai kepanikan, tangan Tania memelintir jari telunjuk preman itu ke belakang hingga terdengar bunyi KRAK yang renyah. Preman itu langsung menjerit melengking, berlutut ke lantai sambil memegangi jarinya yang kini menghadap ke arah yang salah.
Preman ketiga mundur ketakutan, namun sebelum ia bisa kabur, sebuah badut router Wi-Fi raksasa menabraknya dari belakang dengan kekuatan truk tronton, membuatnya terlempar masuk ke dalam kolam bola tempat bermain anak-anak.
Seluruh kejadian itu berlangsung kurang dari sepuluh detik. Pengunjung mal bertepuk tangan, mengira itu adalah bagian dari flashmob atau atraksi promosi sosis bakar.
Xander yang sudah setengah berdiri, kembali duduk perlahan. Ia memperbaiki letak kacamata hatinya, menelan ludah melihat betapa brutal dan efisiennya sang istri. "Catatan untuk diri sendiri," bisik Xander pelan, "jangan pernah membuat Tania marah saat ia sedang memegang alat masak."
Dea, yang sejak tadi hanya diam memperhatikan, memutar bola matanya sambil menghela napas panjang. Gadis jenius itu mengeluarkan ponselnya, lalu menekan sebuah tombol yang meretas langsung ke sistem pengeras suara mal Botani Square.
Sesaat kemudian, suara Dea bergema di seluruh penjuru mal yang luas itu, terdengar datar namun sarat ancaman.
"Panggilan ditujukan kepada Ibu Tania Hapsburg di konter sosis, Bapak Xander von Hapsburg yang pura-pura baca koran bolong, dan Om Dirga di dalam kostum Wi-Fi... Silakan pulang sekarang juga sebelum saya meretas kartu kredit kalian berdua dan menyumbangkan seluruh isinya ke panti asuhan. Sekian dan terima kasih."
Keheningan melanda food court.
Tania yang sedang pura-pura mengipasi preman yang kepanasan, langsung membeku. Xander buru-buru menutup wajahnya dengan koran, pura-pura tidak mendengar. Badut Wi-Fi di kolam bola merangkak keluar dengan panik.
Dimas menatap Dea dengan mulut setengah terbuka, matanya melotot di balik kacamata tebalnya. "D-Dea... barusan itu suara kamu? Dan... orang-orang aneh tadi itu... k-keluarga kamu?"
Dea mengunyah sisa kentang gorengnya dengan santai, menatap Dimas dengan senyum polos tak berdosa. "Bukan. Itu tim sirkus keliling dari Eropa. Ayo lanjut bahas rumus kuantumnya, keburu router Wi-Fi-nya balik lagi."
Di pintu keluar mal, Xander berjalan menunduk lemas diikuti Dirga yang memanggul kostum badutnya. Tania berjalan santai di depan mereka, melepaskan celemek SPG-nya dengan senyum puas.
Misi pengamanan kencan pertama sukses besar, dan yang terpenting, tidak ada satupun peluru yang harus ditembakkan. Dunia bawah tanah mungkin dipenuhi oleh pembunuh berdarah dingin, tapi tidak ada yang lebih protektif, lebih mematikan, dan lebih absurd daripada satuan tugas penjagaan dari seorang ibu.
sejauh ini sy suka ceritanya,sy kasi like thor