NovelToon NovelToon
Breeze Of Youth: Aturan Cinta Sang Ketua Kelas

Breeze Of Youth: Aturan Cinta Sang Ketua Kelas

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Enemy to Lovers / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:72
Nilai: 5
Nama Author: Arya Setya

Bagi Lu Feng, cowok pindahan yang hobinya tidur di kelas dan telat masuk sekolah, aturan diciptakan untuk dilanggar. Tapi hari pertamanya di SMA Mingde mengubah segalanya. Ia bertemu dengan Lin Xiao, ketua kelas teladan yang super disiplin, dingin, namun diam-diam memiliki senyum termanis yang pernah Lu Feng lihat. Lin Xiao diberi tugas oleh wali kelas untuk "menjinakkan" Lu Feng agar tidak menjadi siswa bermasalah. Dari interaksi yang dipenuhi adu mulut, hukuman membersihkan papan tulis, hingga berbagi payung di bawah hujan deras, benih-benih cinta pertama mulai tumbuh. Namun, perbedaan sifat, tekanan ujian akhir (GaoKao), dan saingan dari masa lalu menguji apakah cinta masa muda ini bisa bertahan melewati rintangan yang ada.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arya Setya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pesta Perusahaan, Concealer Nona Pengacara, dan Dansa di Ujung Malam

Akhir pekan di pertengahan bulan Agustus seharusnya menjadi waktu untuk bersantai, namun bagi para eksekutif PT Campus Relay, hari ini adalah hari yang sangat krusial. Perusahaan mereka mengadakan "Gala Dinner" perayaan ulang tahun pertama sekaligus malam penggalangan dana investasi seri B.

Ratusan tamu penting, mulai dari pimpinan bank, pemodal ventura, hingga rektor universitas diundang ke sebuah "ballroom" hotel bintang lima di distrik Chaoyang.

Namun, dua jam sebelum acara dimulai, kekacauan kecil sedang terjadi di dalam apartemen Lu Feng.

"Jangan bergerak, Lu Feng! Kalau kamu terus menghindar, cairan ini bisa masuk ke matamu!" omel Lin Xiao, tangannya sibuk memegang sebuah spons kecil dan sebotol "concealer" cair.

Lu Feng yang sudah rapi mengenakan kemeja putih dan celana bahan hitam, duduk pasrah di tepi kasur. Ia meringis pelan saat spons dingin itu menekan tulang pipinya yang masih menyisakan memar kebiruan akibat pertarungan dengan preman gudang beberapa hari lalu.

"Baunya aneh, Xiao. Gue berasa kayak badut," gerutu Lu Feng, mencoba menjauhkan wajahnya dari tangan Lin Xiao. "Lagian biarin aja sih kelihatan memarnya dikit. Biar investor tau kalau CEO mereka ini pekerja keras yang berani turun ke lapangan."

Lin Xiao mendengus sinis, menahan dagu Lu Feng dengan tangan kirinya agar pria itu tidak bisa bergerak.

"Pekerja keras dan preman pasar itu beda tipis, Presiden Kang," balas Lin Xiao tajam. "Malam ini ada puluhan media bisnis yang datang. Kalau fotomu dengan wajah babak belur ini masuk ke majalah ekonomi besok pagi, saham kita bisa anjlok karena investor mengira kamu punya masalah utang piutang dengan rentenir bawah tanah."

Lu Feng menghela napas panjang, akhirnya menyerah dan membiarkan pacarnya itu memoles wajahnya.

Ia memejamkan mata, menikmati jarak mereka yang sangat dekat. Ia bisa mencium aroma parfum Lin Xiao yang sangat elegan malam ini. Lin Xiao sudah selesai bersiap sejak setengah jam yang lalu. Wanita itu mengenakan gaun malam berwarna hitam pekat dengan potongan "halter neck" yang mengekspos bahu mulusnya. Rambutnya disanggul modern, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajahnya dengan sempurna.

"Selesai," ucap Lin Xiao setelah membaurkan bedak tabur di pipi Lu Feng. "Sekarang lihat ke cermin. Memarnya sudah tertutup sembilan puluh persen."

Lu Feng membuka matanya, berjalan menuju cermin besar di sudut ruangan. Ia meraba pipinya sendiri. Benar saja, luka memar yang tadinya terlihat mengerikan kini tersamar dengan sangat halus, menyatu dengan warna kulit aslinya.

"Gila, ini sihir jenis apa?" gumam Lu Feng takjub. Ia berbalik, menatap Lin Xiao yang sedang merapikan peralatan riasnya. "Gue baru tau Kepala Legal gue ternyata punya sertifikat "makeup artist" profesional."

"Itu hanya trik dasar bertahan hidup wanita, Lu Feng," jawab Lin Xiao santai, mengambil jas hitam milik Lu Feng dari gantungan dan menyerahkannya pada pria itu. "Pakai jasmu. Kita sudah terlambat lima belas menit."

Lu Feng memakai jasnya, lalu merapikan dasi kupu-kupunya. Ia berjalan mendekati Lin Xiao, menatap wanita itu dari ujung rambut hingga ujung sepatu hak tingginya. Sorot mata Lu Feng berubah menjadi sangat dalam dan memuja.

"Lo cantik banget malam ini, Yang," bisik Lu Feng tulus. Ia mengulurkan tangannya. "Siap mendampingi gue ngehadepin buaya-buaya ibu kota?"

Lin Xiao tersenyum, meletakkan tangannya di atas telapak tangan Lu Feng yang besar dan hangat. "Selama kamu tidak memukul siapa pun malam ini, aku siap."

***

Suasana "ballroom" hotel bintang lima itu sangat mewah. Lampu gantung kristal raksasa memancarkan cahaya keemasan. Alunan musik klasik dari "live orchestra" memenuhi ruangan. Pelayan berlalu-lalang membawa nampan berisi sampanye.

Ketika Lu Feng dan Lin Xiao melangkah masuk melalui pintu utama, hampir seluruh mata tertuju pada mereka.

Lu Feng berjalan dengan postur tegak, memancarkan aura dominasi dan kepercayaan diri yang absolut. Di sebelahnya, Lin Xiao melangkah dengan anggun, auranya yang dingin namun elegan membuat semua orang bertanya-tanya siapa wanita menawan yang berhasil mendampingi CEO muda yang terkenal tertutup itu.

Beberapa investor tua langsung menghampiri mereka, menawarkan jabat tangan dan basa-basi bisnis. Lu Feng meladeni mereka dengan sangat luwes, tersenyum dan berbicara tentang proyeksi keuntungan kuartal depan seolah ia sudah melakukan ini seumur hidupnya.

Lin Xiao berdiri di sebelahnya, sesekali menimpali dengan argumen hukum yang sangat cerdas ketika ada investor yang mencoba mencari celah regulasi dari model bisnis mereka. Kombinasi antara insting bisnis Lu Feng dan ketajaman hukum Lin Xiao membuat para investor itu mengangguk kagum. Mereka benar-benar "power couple" yang tidak bisa diremehkan.

Tepat pukul sembilan malam, MC acara mempersilakan Lu Feng naik ke atas panggung untuk memberikan pidato singkat.

Tepuk tangan riuh menyambut langkah Lu Feng. Pria itu berdiri di depan mikrofon, menyapu pandangannya ke seluruh penjuru ruangan.

"Selamat malam, rekan-rekan bisnis, investor, dan seluruh keluarga besar Campus Relay," suara bariton Lu Feng menggema, tenang namun penuh wibawa. "Satu tahun yang lalu, perusahaan ini hanya berupa ide gila dari seorang mahasiswa yang malas berjalan ke gerbang kampus untuk mengambil paketnya."

Tawa pelan terdengar dari bangku tamu.

"Hari ini, kita telah melayani lebih dari dua ratus ribu mahasiswa di seluruh Beijing," lanjut Lu Feng, matanya memancarkan kebanggaan. "Ini semua tidak akan terjadi tanpa kerja keras tim operasional kita, kepercayaan dari para pemodal, dan tentu saja... perlindungan tanpa henti dari tim legal kita yang memastikan perusahaan ini tidak pernah melanggar satu pun aturan negara."

Mata Lu Feng dengan sengaja mencari sosok Lin Xiao di tengah kerumunan. Saat pandangan mereka bertemu, Lu Feng tersenyum tipis.

"Ada seseorang yang pernah bilang pada saya, bahwa dunia ini kejam, dan orang jujur akan sering dipersulit," ucap Lu Feng, suaranya sedikit merendah, menembus kebisingan "ballroom". "Karena itulah perusahaan ini dibangun. Bukan hanya untuk mencari keuntungan, tapi untuk menjadi benteng pelindung bagi mimpi-mimpi orang yang ada di dalamnya. Malam ini, saya berdiri di sini bukan hanya sebagai CEO, tapi sebagai pria yang berhutang nyawa dan masa depannya pada satu orang yang mengajari saya bahwa tidak ada batas untuk apa yang bisa kita capai, asalkan kita mau belajar."

Seisi ruangan bertepuk tangan dengan gemuruh. Banyak yang mengira itu adalah pidato motivasi yang brilian, namun Lin Xiao tahu persis, setiap kata dalam pidato itu ditujukan khusus untuknya. Hatinya terasa begitu penuh hingga ia harus menggigit bibir bawahnya agar tidak menangis haru di depan umum.

Acara resmi selesai satu jam kemudian, berganti dengan sesi ramah tamah dan musik santai.

Lu Feng berhasil melepaskan diri dari kerumunan investor. Ia berjalan menghampiri Lin Xiao yang sedang berdiri di dekat pilar kaca besar yang menghadap langsung ke pemandangan kelap-kelip lampu kota Beijing di malam hari.

"Nih," Lu Feng menyodorkan segelas jus jeruk pada Lin Xiao. "Gue perhatiin dari tadi lo minum sampanye terus. Nanti mabuk, Ibu Pengacara."

Lin Xiao menerima gelas itu sambil terkekeh pelan. "Aku hanya minum dua gelas, Lu Feng. Dan pidatomu tadi... lumayan juga untuk ukuran orang yang dulu mendapat nilai merah di pelajaran Bahasa."

"Pidato itu keluar dari hati, bukan dari buku cetak," balas Lu Feng santai. Ia meletakkan gelas minumannya sendiri ke meja kecil di dekat mereka.

Alunan musik "jazz" yang pelan mulai mengudara, menggantikan musik klasik yang kaku. Beberapa pasangan eksekutif yang lebih tua mulai turun ke lantai dansa kecil di tengah ruangan.

Lu Feng mencondongkan tubuhnya ke arah Lin Xiao, mengulurkan tangan kanannya dengan gaya "gentleman" yang sedikit kaku namun sangat tulus.

"Gue emang nggak jago dansa. Dulu di Jiangcheng, kalau ada musik yang muter, orang-orang malah pada tawuran," ucap Lu Feng dengan senyum miring. "Tapi malam ini... maukah Kepala Legal gue memberikan kehormatan buat nemenin bosnya dansa satu lagu aja?"

Lin Xiao tersenyum lebar. Ia meletakkan gelas jusnya, lalu menyambut uluran tangan Lu Feng. "Jangan injak kakiku, Presiden Kang."

Lu Feng menarik pinggang Lin Xiao dengan lembut, membimbing wanita itu ke sudut lantai dansa yang tidak terlalu ramai. Tangan kiri Lin Xiao beristirahat di bahu Lu Feng, sementara tangan kanan mereka saling bertaut erat.

Mereka bergerak pelan, mengikuti irama musik. Jarak mereka sangat dekat, mengabaikan tatapan beberapa karyawan yang berbisik-bisik kagum melihat interaksi intim bos besar mereka.

"Lo tau nggak, Xiao," bisik Lu Feng, menundukkan wajahnya di dekat telinga Lin Xiao. "Dari semua investor kaya dan wanita-wanita sosialita di ruangan ini... nggak ada satu pun yang bisa ngalahin pesona lo malam ini. Lo bener-bener nyuri semua perhatian."

"Itu karena gaun ini mahal, Lu Feng," balas Lin Xiao setengah bercanda, menyembunyikan wajahnya yang merona di dada bidang pria itu.

"Bukan karena gaunnya," Lu Feng mengeratkan pelukannya di pinggang Lin Xiao, membimbing mereka berputar pelan. "Itu karena lo adalah Lin Xiao. Ketua kelas gue. Benteng gue. Dan satu-satunya wanita yang punya kuasa penuh buat ngubah hidup gue."

Di bawah cahaya lampu kristal yang temaram, di tengah hiruk-pikuk ibu kota yang tidak pernah tidur, mereka berdansa dengan langkah yang tenang. Mereka telah melewati ujian nasional, ujian jarak, dan kerasnya dunia bisnis. Malam ini, mereka merayakan bukan hanya kesuksesan sebuah perusahaan, melainkan kemenangan dari cinta masa muda yang tumbuh menjadi kedewasaan yang sangat indah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!