Ervan Noir seorang yang bermimpi menjadi Hunter akan tetapi impianya tidak sesuai kenyataan ketika peluang menjadi Hunter di Depan Mata, kejadian diluar prediksi dimana saat proses pemasanagn CORE progres instalationya 0℅ sejak itu Ervan menjadi bahan olokan sering di bully , hingga suatu Insiden menimpa Ervan dimana ketika Ervan berada di Ambang kematian Instalation yang awalnya 0℅ mulai aktif, hingga akhirnya Takdir Ervan sebagsi seorang Hunter dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LetterFromJusticia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 — Malam Sebelum Seleksi
Satu hari menuju Seleksi Hunter.
Pukul 06.15 pagi.
Cahaya matahari menerobos celah tirai kamar 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 𝗡𝗼𝗶𝗿, menerangi meja belajar yang dipenuhi catatan latihan, buku teori Hunter, dan beberapa lembar dokumen.
Di atas meja tersebut, sebuah kalender memperlihatkan tanggal yang dilingkari tinta merah.
Besok.
Hanya satu hari lagi sebelum Seleksi Hunter dimulai.
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 duduk di tepi tempat tidur sambil memperhatikan kedua tangannya. Ia beberapa kali mengepalkan dan membuka jari, mencoba merasakan apakah masih ada nyeri setelah latihan kemarin.
Tidak ada.
Bahkan rasa pegal yang biasanya muncul setelah sparring sudah hampir menghilang sepenuhnya.
𝘗𝘦𝘮𝘶𝘭𝘪𝘩𝘢𝘯𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘬𝘪𝘯 𝘤𝘦𝘱𝘢𝘵.
Ia teringat perkataan 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 mengenai perkembangan tubuhnya yang tidak wajar.
Ada banyak pertanyaan yang belum terjawab. Namun, setelah mempertimbangkannya semalaman, 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 memutuskan untuk tidak terlalu memikirkan hal tersebut sekarang.
Besok adalah hari penting.
Ia tidak ingin pikirannya dipenuhi sesuatu yang bahkan belum mampu dijelaskannya sendiri.
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 bangkit dan mengambil pakaian olahraga.
Baru saja tangannya menyentuh gagang pintu, ponselnya bergetar.
𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 𝗚𝗿𝗲𝘆𝗮𝗱.
𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻: 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘱𝘢𝘬𝘢𝘪 𝘳𝘰𝘮𝘱𝘪 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘢𝘵.
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 melirik pakaian olahraga di tangannya, lalu kembali menatap layar.
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻: 𝘗𝘢𝘨𝘪 𝘫𝘶𝘨𝘢, 𝘚𝘦𝘣. 𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘢𝘪𝘬-𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘴𝘢𝘫𝘢, 𝘵𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢 𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢.
𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻: 𝘑𝘢𝘸𝘢𝘣 𝘥𝘶𝘭𝘶.
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻: 𝘉𝘢𝘳𝘶 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯. 𝘚𝘢𝘳𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮.
𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻: 𝘉𝘢𝘨𝘶𝘴. 𝘏𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘵. 𝘋𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘫𝘢𝘮 𝘥𝘦𝘭𝘢𝘱𝘢𝘯. 𝘒𝘪𝘵𝘢 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘳𝘦𝘷𝘪𝘦𝘸 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳.
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mengembuskan napas.
Sejujurnya, sebagian dirinya masih ingin berlatih.
Satu hari terasa terlalu berharga untuk dihabiskan tanpa melakukan sesuatu yang berarti.
Namun ia teringat tubuhnya yang hampir hancur karena memaksakan latihan sebelum insiden di gedung terbengkalai.
Dan bagaimana 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 berkali-kali mengingatkannya tentang pentingnya pemulihan.
Akhirnya, 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 membalas pesan tersebut.
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻: 𝘚𝘪𝘢𝘱, 𝘗𝘦𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩 𝘎𝘳𝘦𝘺𝘢𝘥. 𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘵.
𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻: 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘯𝘨𝘨𝘪𝘭 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶. 𝘔𝘦𝘳𝘪𝘯𝘥𝘪𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘤𝘢𝘯𝘺𝘢.
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tertawa kecil sebelum memasukkan ponsel ke saku.
Pukul 08.05 pagi.
Ruang latihan keluarga Greyad terasa jauh lebih tenang dibandingkan hari-hari sebelumnya.
Tidak terdengar benturan sarung tinju.
Tidak ada aba-aba keras ataupun bunyi beban yang diletakkan di lantai.
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 justru sedang melakukan peregangan, sementara 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 berdiri tidak jauh darinya.
"𝘓𝘶𝘳𝘶𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘯𝘨𝘮𝘶. 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘱𝘢𝘬𝘴𝘢 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘵𝘰𝘬 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘣𝘢𝘥𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘱𝘶𝘭𝘪𝘩."
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menyesuaikan posisinya.
"𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘯𝘪, 𝘭𝘢𝘮𝘢-𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘢𝘩𝘭𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘦𝘨𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯, 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘏𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳."
𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 terkekeh.
"𝘓𝘪𝘮𝘢 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘵 𝘴𝘵𝘳𝘦𝘵𝘤𝘩𝘪𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘭𝘶𝘩. 𝘒𝘦𝘮𝘢𝘳𝘪𝘯 𝘥𝘪𝘴𝘶𝘳𝘶𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘦𝘯𝘵𝘪 𝘴𝘱𝘢𝘳𝘳𝘪𝘯𝘨, 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘵𝘢𝘮𝘣𝘢𝘩 𝘳𝘰𝘯𝘥𝘦. 𝘔𝘢𝘶𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘱𝘢?"
"𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘣𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘱𝘪𝘭𝘪𝘩? 𝘚𝘦𝘭𝘦𝘬𝘴𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪𝘮𝘢𝘫𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘯𝘪."
"𝘚𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨𝘯𝘺𝘢, 𝘱𝘢𝘯𝘪𝘵𝘪𝘢 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘬𝘴𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘶𝘴𝘶𝘯 𝘫𝘢𝘥𝘸𝘢𝘭 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘢𝘴𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬𝘴𝘢𝘣𝘢𝘳𝘢𝘯𝘮𝘶."
Setelah peregangan selesai, 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 mengajaknya mengulang teknik dasar.
Stance.
Guard.
Footwork.
Parry.
Slip.
Pivot.
Semuanya dilakukan perlahan, tanpa serangan penuh.
Sesekali 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 memperbaiki posisi kaki 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 atau menunjukkan kesalahan kecil dalam perpindahan berat badan.
"𝘛𝘢𝘩𝘢𝘯."
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 membeku di tengah gerakan.
𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 menunjuk kaki belakangnya.
"𝘞𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘪𝘯𝘥𝘢𝘳 𝘬𝘦 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘪𝘯𝘨, 𝘬𝘢𝘬𝘪 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘬𝘢𝘯𝘨𝘮𝘶 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭𝘢𝘯. 𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘭𝘢𝘸𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘶𝘴𝘶𝘭 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘥𝘶𝘢, 𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘴𝘪𝘣𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘦𝘴𝘦𝘪𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯."
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 memperhatikan posisi kedua kakinya, lalu mengulang gerakan tersebut.
Kali ini lebih rapi.
"𝘉𝘦𝘨𝘪𝘯𝘪?"
"𝘕𝘢𝘩, 𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳. 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘫𝘢𝘳 𝘤𝘦𝘱𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘶𝘭𝘶. 𝘒𝘶𝘢𝘴𝘢𝘪 𝘢𝘳𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢, 𝘬𝘦𝘤𝘦𝘱𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘶𝘴𝘶𝘭 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘬𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯."
Latihan berlangsung sekitar satu jam.
Tidak ada rekor baru.
Tidak ada tambahan beban.
Namun setiap koreksi kecil tetap dicatat 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 di dalam kepalanya.
Ketika sesi berakhir, 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 menyerahkan handuk dan botol minum kepadanya.
"𝘋𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘬𝘴𝘪 𝘣𝘦𝘴𝘰𝘬, 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘮𝘣𝘢𝘩𝘢𝘯. 𝘑𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘯𝘵𝘢𝘪 𝘣𝘰𝘭𝘦𝘩. 𝘉𝘢𝘤𝘢 𝘵𝘦𝘰𝘳𝘪 𝘣𝘰𝘭𝘦𝘩. 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘶𝘴𝘩-𝘶𝘱 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘳𝘢𝘵𝘶𝘴𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘭𝘪, 𝘢𝘱𝘢𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘴𝘱𝘢𝘳𝘳𝘪𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘸𝘢𝘯 𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢."
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mengusap wajahnya dengan handuk.
"𝘒𝘢𝘶 𝘣𝘪𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘴𝘦𝘰𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘢𝘵𝘪 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘴𝘦𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘶𝘴𝘩-𝘶𝘱."
𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 menyilangkan tangan.
"𝘝𝘢𝘯. 𝘉𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘮𝘪𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘬𝘢𝘶 𝘩𝘢𝘮𝘱𝘪𝘳 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵 𝘨𝘢𝘳𝘢-𝘨𝘢𝘳𝘢 𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩𝘢𝘯. 𝘏𝘢𝘣𝘪𝘴 𝘪𝘵𝘶 𝘬𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘬𝘦𝘵𝘦𝘮𝘶 𝘉𝘌𝘛𝘈. 𝘑𝘢𝘥𝘪 𝘮𝘢𝘢𝘧 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘤𝘢𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘶 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘨𝘢 𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪."
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 terdiam sesaat.
Ia tidak punya bantahan yang masuk akal.
"𝘖𝘬𝘦. 𝘏𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘪𝘴𝘵𝘪𝘳𝘢𝘩𝘢𝘵. 𝘗𝘶𝘢𝘴?"
"𝘚𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵." 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 mengangkat satu jari. "𝘚𝘢𝘵𝘶 𝘭𝘢𝘨𝘪."
"𝘔𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘢𝘥𝘢?"
"𝘉𝘦𝘴𝘰𝘬 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘤𝘰𝘣𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘬𝘵𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘶𝘫𝘪𝘢𝘯. 𝘈𝘥𝘢 𝘵𝘶𝘫𝘶𝘩 𝘩𝘢𝘭 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘯𝘪𝘭𝘢𝘪. 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘣𝘪𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘯𝘢𝘨𝘢𝘮𝘶 𝘥𝘪 𝘵𝘦𝘴 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘴𝘶𝘱𝘢𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘩𝘦𝘣𝘢𝘵."
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tersenyum.
"𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘩𝘶. 𝘐𝘯𝘪 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘶 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘮𝘪𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘪𝘯𝘪."
"𝘉𝘦𝘳𝘢𝘳𝘵𝘪 𝘬𝘢𝘶 𝘪𝘯𝘨𝘢𝘵." 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 mengangkat bahu. "𝘈𝘬𝘶 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘦𝘯𝘨𝘶𝘬𝘮𝘶 𝘥𝘪 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵 𝘭𝘢𝘨𝘪. 𝘒𝘶𝘳𝘴𝘪 𝘥𝘪 𝘴𝘢𝘯𝘢 𝘬𝘦𝘳𝘢𝘴, 𝘝𝘢𝘯. 𝘗𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘯𝘨𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘪𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘳𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢."
Senyum 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 perlahan berubah.
Ia mengulurkan tangan.
"𝘚𝘦𝘣... 𝘵𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢 𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩. 𝘜𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪."
𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 memandang tangan tersebut, lalu menyambutnya.
"𝘚𝘪𝘮𝘱𝘢𝘯 𝘥𝘶𝘭𝘶. 𝘒𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘭𝘶𝘭𝘶𝘴." Genggamannya mengerat sesaat. "𝘕𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘭𝘪𝘴𝘦𝘯𝘴𝘪 𝘏𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳-𝘮𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳, 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘨𝘪𝘩 𝘵𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢 𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘭𝘢𝘺𝘢𝘬. 𝘛𝘳𝘢𝘬𝘵𝘪𝘳𝘢𝘯, 𝘮𝘪𝘴𝘢𝘭𝘯𝘺𝘢."
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tertawa.
"𝘋𝘢𝘴𝘢𝘳 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘮𝘢𝘭𝘶."
Sore harinya, 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 kembali ke panti asuhan.
Beberapa anak sedang bermain di halaman, sementara sebagian lainnya membantu membersihkan ruang makan.
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 baru saja melewati pintu ketika sebuah suara memanggilnya.
"𝘒𝘢𝘬 𝘌𝘳𝘷𝘢𝘯!"
Seorang anak laki-laki berlari menghampiri, hampir tersandung sandalnya sendiri.
"𝘒𝘢𝘬, 𝘬𝘢𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘴𝘰𝘬 𝘒𝘢𝘬𝘢𝘬 𝘪𝘬𝘶𝘵 𝘶𝘫𝘪𝘢𝘯 𝘏𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳, 𝘺𝘢? 𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘭𝘶𝘭𝘶𝘴, 𝘒𝘢𝘬𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘭𝘢𝘸𝘢𝘯 𝘮𝘰𝘯𝘴𝘵𝘦𝘳 𝘬𝘢𝘺𝘢𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘛𝘝?"
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 berjongkok agar wajah mereka sejajar.
"𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘒𝘢𝘬𝘢𝘬 𝘭𝘶𝘭𝘶𝘴 𝘱𝘶𝘯, 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘸𝘢𝘯 𝘮𝘰𝘯𝘴𝘵𝘦𝘳. 𝘏𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘩𝘦𝘣𝘢𝘵 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘩𝘢𝘳𝘪. 𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘴𝘦𝘮𝘣𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯, 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘶𝘬𝘢."
Anak itu tampak berpikir keras.
"𝘠𝘢 𝘶𝘥𝘢𝘩, 𝘯𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘢𝘬𝘢𝘬 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘏𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘬𝘶𝘢𝘵 𝘢𝘫𝘢. 𝘉𝘪𝘢𝘳 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘫𝘢𝘨𝘢𝘪𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘪."
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 terdiam sebentar.
Kemudian ia mengusap rambut anak tersebut.
"𝘐𝘵𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘳𝘦𝘯𝘤𝘢𝘯𝘢 𝘒𝘢𝘬𝘢𝘬." Ia menunjuk halaman dengan dagunya. "𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘶𝘨𝘢𝘴. 𝘛𝘶𝘩, 𝘩𝘢𝘭𝘢𝘮𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘣𝘦𝘳𝘦𝘴. 𝘉𝘢𝘯𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯, 𝘺𝘢."
Anak itu mengangguk bersemangat, lalu kembali berlari.
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 memperhatikannya dengan senyum kecil.
𝘔𝘦𝘭𝘪𝘯𝘥𝘶𝘯𝘨𝘪 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢, 𝘺𝘢...
Keinginan itu sudah lama ada.
Hanya saja, dahulu ia bahkan tidak memiliki kesempatan untuk mengejarnya.
Pukul 16.30.
"𝘌𝘳𝘷𝘢𝘯, 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘴 𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘣𝘦𝘴𝘰𝘬 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘪𝘬𝘴𝘢?"
Suara lembut terdengar dari ruang tengah.
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menoleh.
𝗥𝗼𝘀𝗮𝗹𝗶𝗻𝗲 𝗟𝗮𝘂𝗿𝗲𝗻𝘁𝗰𝗶𝗮 sedang duduk di sofa sambil melipat pakaian anak-anak. Di sebelahnya ada 𝗔𝗺𝗺𝘆, yang baru selesai membantu merapikan lemari perlengkapan.
"𝘚𝘶𝘥𝘢𝘩, 𝘕𝘦𝘬. 𝘒𝘢𝘳𝘵𝘶 𝘪𝘥𝘦𝘯𝘵𝘪𝘵𝘢𝘴, 𝘣𝘶𝘬𝘵𝘪 𝘱𝘦𝘯𝘥𝘢𝘧𝘵𝘢𝘳𝘢𝘯, 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘩𝘢𝘴𝘪𝘭 𝘱𝘦𝘮𝘦𝘳𝘪𝘬𝘴𝘢𝘢𝘯 𝘊𝘖𝘙𝘌 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳. 𝘚𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘥𝘪 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘮𝘢𝘱."
𝗥𝗼𝘀𝗮𝗹𝗶𝗻𝗲 mengangguk.
"𝘉𝘦𝘴𝘰𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵 𝘫𝘢𝘮 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢?"
"𝘗𝘢𝘨𝘪 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪, 𝘕𝘦𝘬. 𝘈𝘯𝘵𝘳𝘦𝘢𝘯 𝘳𝘦𝘨𝘪𝘴𝘵𝘳𝘢𝘴𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘱𝘢𝘯𝘫𝘢𝘯𝘨. 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘱𝘦𝘵."
"𝘚𝘢𝘳𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘥𝘶𝘭𝘶 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵." 𝗥𝗼𝘀𝗮𝗹𝗶𝗻𝗲 meletakkan sehelai kaus kecil yang sudah terlipat ke atas tumpukan. "𝘒𝘢𝘶 𝘪𝘵𝘶 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘱𝘪𝘬𝘪𝘳𝘢𝘯, 𝘴𝘶𝘬𝘢 𝘭𝘶𝘱𝘢 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯."
Sebelum 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 sempat menjawab, 𝗔𝗺𝗺𝘆 mengangkat map yang tergeletak di meja.
"𝘓𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘱, 𝘬𝘢𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢. 𝘛𝘦𝘳𝘶𝘴 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘵𝘢𝘥𝘪 𝘮𝘢𝘱 𝘪𝘯𝘪 𝘬𝘢𝘶 𝘣𝘶𝘬𝘢 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘵𝘪𝘨𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘪?"
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menatapnya.
"𝘒𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘪𝘵𝘶𝘯𝘨?"
𝗔𝗺𝗺𝘆 tersenyum kecil.
"𝘚𝘶𝘴𝘢𝘩 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘪𝘵𝘶𝘯𝘨. 𝘒𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘣𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘵, 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘵𝘢𝘬𝘶𝘵 𝘬𝘦𝘳𝘵𝘢𝘴𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘣𝘶𝘳 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪."
"𝘈𝘬𝘶 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘴𝘵𝘪𝘬𝘢𝘯. 𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘢𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭𝘢𝘯, 𝘣𝘦𝘴𝘰𝘬 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘱𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘮𝘣𝘪𝘭𝘯𝘺𝘢."
"𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶, 𝘥𝘰𝘬𝘶𝘮𝘦𝘯𝘮𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘴𝘪𝘢𝘱 𝘪𝘬𝘶𝘵 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘬𝘴𝘪 𝘥𝘢𝘳𝘪𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘱𝘦𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬𝘯𝘺𝘢."
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mendengus.
"𝘏𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘰𝘮𝘱𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘫𝘦𝘬𝘬𝘶."
𝗔𝗺𝗺𝘆 tertawa pelan.
Namun ketika matanya menangkap perban lama dan bekas luka samar di lengan 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻, tawanya berangsur reda.
Ia meletakkan map tersebut dengan hati-hati.
"𝘌𝘳𝘷𝘢𝘯, 𝘣𝘦𝘴𝘰𝘬... 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘬𝘴𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘳𝘪, 𝘺𝘢?"
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 memperhatikannya.
"𝘚𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘪𝘬𝘶𝘵-𝘪𝘬𝘶𝘵𝘢𝘯 𝘚𝘦𝘣𝘢𝘴𝘵𝘪𝘢𝘯?"
"𝘈𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘳𝘪𝘶𝘴."
Nada suara 𝗔𝗺𝗺𝘆 tidak meninggi. Justru karena itulah 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 berhenti bercanda.
"𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘬𝘢𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘳𝘢𝘴. 𝘈𝘬𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘬𝘢𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘶𝘯𝘥𝘶𝘳 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘥𝘪𝘴𝘶𝘳𝘶𝘩 𝘩𝘢𝘵𝘪-𝘩𝘢𝘵𝘪. 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘬𝘦𝘢𝘥𝘢𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘥𝘪 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵. 𝘐𝘵𝘶 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘨𝘢𝘮𝘱𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘭𝘶𝘱𝘢𝘬𝘢𝘯."
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menggaruk belakang kepalanya.
"𝘔𝘢𝘢𝘧. 𝘞𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘪𝘵𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢 𝘣𝘢𝘬𝘢𝘭 𝘬𝘦𝘵𝘦𝘮𝘶 𝘉𝘌𝘛𝘈."
"𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘭𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯𝘮𝘶."
𝗔𝗺𝗺𝘆 merapikan ujung map yang sebenarnya sudah lurus.
"𝘈𝘬𝘶 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘬𝘢𝘶 𝘪𝘯𝘨𝘢𝘵, 𝘭𝘶𝘭𝘶𝘴 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘬𝘴𝘪 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘵𝘶-𝘴𝘢𝘵𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘯𝘵𝘪𝘯𝘨. 𝘒𝘢𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘱𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨."
𝗥𝗼𝘀𝗮𝗹𝗶𝗻𝗲, yang sejak tadi mendengarkan, akhirnya meletakkan pakaian di pangkuannya.
"𝘋𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘢, 𝘌𝘳𝘷𝘢𝘯."
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menoleh kepada wanita tua tersebut.
𝗥𝗼𝘀𝗮𝗹𝗶𝗻𝗲 memandangnya dengan tenang.
"𝘕𝘦𝘯𝘦𝘬 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘬𝘢𝘶 𝘵𝘶𝘮𝘣𝘶𝘩. 𝘋𝘢𝘳𝘪 𝘣𝘰𝘤𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘮𝘱𝘦𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘶𝘬𝘢 𝘬𝘦 𝘭𝘢𝘺𝘢𝘳 𝘵𝘦𝘭𝘦𝘷𝘪𝘴𝘪 𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘢𝘥𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢 𝘏𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳, 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘱𝘦𝘮𝘶𝘥𝘢 𝘬𝘦𝘳𝘢𝘴 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘭𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨."
"𝘕𝘦𝘬, 𝘣𝘢𝘨𝘪𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘳𝘢𝘴 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘭𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘥𝘪𝘭𝘦𝘸𝘢𝘵𝘪, 𝘬𝘢𝘯?"
"𝘑𝘶𝘴𝘵𝘳𝘶 𝘣𝘢𝘨𝘪𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘴𝘶𝘴𝘢𝘩 𝘕𝘦𝘯𝘦𝘬 𝘭𝘶𝘱𝘢𝘬𝘢𝘯."
𝗔𝗺𝗺𝘆 menahan tawa.
𝗥𝗼𝘀𝗮𝗹𝗶𝗻𝗲 melanjutkan, "𝘕𝘦𝘯𝘦𝘬 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨𝘮𝘶. 𝘋𝘢𝘳𝘪 𝘥𝘶𝘭𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩, 𝘬𝘢𝘯? 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘭𝘪𝘴𝘦𝘯𝘴𝘪 𝘪𝘵𝘶 𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘮𝘶, 𝘣𝘢𝘩𝘢𝘺𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢 𝘥𝘪 𝘵𝘦𝘭𝘦𝘷𝘪𝘴𝘪. 𝘈𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘢𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘮𝘶𝘵𝘶𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘤𝘦𝘱𝘢𝘵, 𝘥𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘪𝘣𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪."
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menundukkan pandangan.
Ia teringat pertarungannya melawan BETA.
Bagaimana dirinya terus bergerak tanpa strategi yang matang.
Bagaimana kesalahan kecil hampir mengakhiri hidupnya.
"𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘫𝘢𝘯𝘫𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘶𝘬𝘢, 𝘕𝘦𝘬. 𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶, 𝘕𝘦𝘯𝘦𝘬 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘰𝘩𝘰𝘯𝘨."
Ia mengangkat wajah.
"𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘫𝘢𝘯𝘫𝘪 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘩𝘢𝘭. 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨𝘪 𝘬𝘦𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘮𝘢. 𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘴𝘢𝘭 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘳𝘫𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘬𝘵𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶."
𝗥𝗼𝘀𝗮𝗹𝗶𝗻𝗲 memperhatikan wajahnya beberapa saat.
Kemudian ia mengulurkan tangan, merapikan kerah kaus 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 seperti yang sering dilakukannya ketika 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 masih kecil.
"𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶, 𝘕𝘦𝘯𝘦𝘬 𝘵𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘬𝘢𝘶 𝘱𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨."
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tersenyum.
"𝘐𝘺𝘢, 𝘕𝘦𝘬. 𝘈𝘬𝘶 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘱𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨."
Malam tiba.
Pukul 21.17.
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 duduk sendirian di kamarnya.
Seluruh perlengkapan seleksi telah dipersiapkan. Pakaian olahraga terlipat rapi di ujung tempat tidur, sementara dokumen dan identitasnya tersimpan di dalam tas.
Ia sudah membaca ulang catatan Basic Combat.
Sudah memastikan jadwal dan lokasi seleksi.
Bahkan alarm untuk esok pagi telah dipasang.
Namun rasa kantuk belum juga datang.
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menyandarkan tubuh ke kursi.
Pandangannya tertuju pada selembar hasil pemeriksaan CORE lama yang masih terselip di antara catatannya.
CORE Resonance Compatibility: 99%.
CORE Installation Progress: 0%.
Status: BUG.
Ingatan masa kecil perlahan muncul.
Ia masih ingat bagaimana teman-teman seusianya mulai membicarakan kemampuan yang ingin mereka kembangkan.
Fighter.
Swordman.
Ranger.
Ada yang ingin bergabung dengan Guild ternama. Ada pula yang bermimpi diterima di Southern Genetika Academy.
Sementara dirinya hanya bisa mendengarkan.
Angka 99% sempat memberinya harapan besar.
Namun ketika instalasi CORE-nya tidak pernah menunjukkan kemajuan, harapan itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang menyakitkan.
𝘚𝘦𝘮𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯 𝘱𝘶𝘭𝘶𝘩 𝘴𝘦𝘮𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘴𝘦𝘯 𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘢𝘱𝘢? 𝘊𝘖𝘙𝘌-𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶 𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯.
𝘑𝘢𝘥𝘪 𝘏𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳? 𝘋𝘪𝘢? 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘤𝘢𝘯𝘥𝘢.
𝘋𝘢𝘴𝘢𝘳 𝘡𝘦𝘳𝘰.
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 memejamkan mata.
Dahulu, ucapan semacam itu selalu membuat dadanya sesak. Ia mencoba melawannya dengan belajar lebih keras, berlatih lebih lama, dan membuktikan bahwa dirinya tidak kalah dari siapa pun.
Namun tubuhnya tetap memiliki batas.
Sampai peristiwa penusukan itu terjadi.
Sampai CORE-nya akhirnya aktif.
Dan sampai ia hampir kehilangan nyawa ketika menghadapi BETA untuk pertama kali.
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 membuka mata.
Di hadapannya, dokumen lama itu masih menunjukkan angka nol.
Ia mengambil kertas tersebut, memperhatikannya sebentar, lalu menyimpannya ke dalam laci.
Bukan karena ia ingin melupakan masa lalunya.
Ia hanya tidak ingin angka itu terus menentukan apa yang harus dilakukannya.
Ponselnya tiba-tiba bergetar.
Pesan baru dari 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻.
𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻: 𝘚𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘴𝘪𝘢𝘱? 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘢𝘶 𝘣𝘢𝘤𝘢 𝘵𝘦𝘰𝘳𝘪 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘵𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮.
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mengetik balasan.
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻: 𝘚𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘴𝘪𝘢𝘱 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢. 𝘊𝘶𝘮𝘢 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘯𝘨𝘢𝘯𝘵𝘶𝘬.
𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻: 𝘔𝘢𝘵𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘮𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢, 𝘳𝘦𝘣𝘢𝘩𝘢𝘯, 𝘵𝘶𝘵𝘶𝘱 𝘮𝘢𝘵𝘢. 𝘕𝘨𝘢𝘯𝘵𝘶𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪. 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘶𝘯𝘤𝘶𝘭 𝘥𝘪 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘬𝘴𝘪 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘵𝘢 𝘱𝘢𝘯𝘥𝘢.
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tersenyum.
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻: 𝘐𝘺𝘢, 𝘪𝘺𝘢. 𝘚𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘣𝘦𝘴𝘰𝘬, 𝘚𝘦𝘣.
𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻: 𝘚𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘣𝘦𝘴𝘰𝘬. 𝘋𝘢𝘯 𝘝𝘢𝘯... 𝘢𝘱𝘢 𝘱𝘶𝘯 𝘩𝘢𝘴𝘪𝘭𝘯𝘺𝘢 𝘯𝘢𝘯𝘵𝘪, 𝘪𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘣𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘮𝘪𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘬𝘢𝘶 𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳. 𝘓𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘫𝘢𝘶𝘩 𝘢𝘱𝘢 𝘬𝘢𝘶 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨.
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 memandangi pesan tersebut cukup lama.
Kemudian ia meletakkan ponselnya.
Pukul 21.46.
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 berdiri di depan cermin.
Tubuh yang terpantul di sana masih tubuh seorang pemuda berusia delapan belas tahun.
Tidak ada penampilan luar biasa yang membuatnya terlihat seperti Hunter berpengalaman.
Namun ketika ia memperhatikan bahunya, beberapa bekas luka tipis masih terlihat.
Tangannya bergerak menyentuh salah satunya.
Luka yang menjadi pengingat tentang betapa dekat dirinya dengan kematian.
Ia masih memiliki banyak kekurangan.
Teknik bertarungnya belum matang.
Pengalamannya jauh tertinggal dibandingkan calon Hunter lain.
Bahkan perubahan tubuhnya sendiri masih menyimpan pertanyaan yang belum terjawab.
Tetapi kali ini, 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tidak datang hanya membawa mimpi.
Ia telah menjalani latihan.
Mempelajari kesalahannya.
Dan memahami bahwa keberanian tanpa kemampuan dapat berubah menjadi kebodohan.
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mengambil tas yang telah disiapkan, kemudian meletakkannya di dekat pintu.
Sebelum mematikan lampu, ia kembali memandang kalender.
Tanggal yang dilingkari merah itu kini tinggal menunggu pergantian hari.
Seleksi Hunter.
Sesuatu yang selama bertahun-tahun selalu terasa berada di luar jangkauannya.
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menarik napas perlahan.
"𝘉𝘦𝘴𝘰𝘬..."
Ia tersenyum kecil.
"𝘉𝘦𝘴𝘰𝘬, 𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘥𝘪 𝘴𝘢𝘯𝘢."
Tidak sebagai anak yang hanya menonton orang lain mengejar impian mereka.
Tidak pula sebagai seseorang yang meminta dunia mengasihaninya.
Ia akan datang sebagai peserta, sama seperti yang lain.
Dan apabila besok seseorang kembali memanggilnya dengan julukan yang sudah bertahun-tahun melekat pada dirinya...
Zero.
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 ingin mereka melihat sendiri apakah julukan itu masih pantas menentukan masa depannya.
Ia mematikan lampu.
Dalam kegelapan kamar, alarm sudah terpasang untuk pagi berikutnya.
Besok, impian yang pernah dikubur dunia akan kembali berdiri tepat di depan gerbangnya.
— BAB 22 SELESAI —
mangat nulisnya
mampir juga di karyaku yah😊